Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APES
Syailendra beberapa kali bertemu Salsa di kantin, ekspresi gadis itu saat melihat Syailendra sama, langsung melengos seperti tak pernah kenal dengannya. Tentu saja sebagai seorang laki-laki cakep dan terkenal di Fakultas MIPA, gengsinya tersentil. Sikap Salsa bisa dibilang menolak pesona Syailendra kan. Wah gak bisa dibiarkan nih, baru kali ini ada gadis yang tak tertarik dengannya. Syailendra pun mengamati gerak-gerik Salsa di kantin, dia bersama dua teman perempuannya sedang mencari bangku untuk makan. Syailendra yakin, Salsa tahu kalau sedang ia tatap.
Begitu Salsa beranjak ke kedai jus, Syailendra sengaja mendekatinya. "Bu, saya pesan jus alpukat 1, jambu biji 1 dan sirsak 1, yang sirsak gak pakai kremer ya, Bu."
"Iya, Mbak!"
"Totalnya 30ribu," ucap Ibu kantin, karena kedai di kantin ini menggunakan sistem bayar dulu baru diantar.
"Mas Syailendra pesan apa?" tanya Bu Kantin yang mengenal Syailendra, Salsa hanya diam dan pura-pura tak kenal sembari menunggu kembalian.
"Saya pesan jeruk, Bu!" ucap Syailendra.
"Ini kembaliannya, Mbak!" ucap Bu Kantin menyerahkan kembalian Salsa. Sedangkan Syailendra sudah bayar, dan saat Salsa akan balik tiba-tiba pemuda itu berceletuk.
"Gak usah pura-pura gak kenal gitu, biasa saja!" barulah Salsa menatap Syailendra namun tak menggubris dan segera kembali ke meja. Syailendra tersenyum, interaksi mereka dilihat Bu Kantin.
"Wah, siapa juga yang gak kenal Mas Syailendra," ucap Bu Kantin dan pemuda itu hanya tersenyum saja, lalu kembali ke mejanya. Tatapan masih terfokus pada Salsa karena gadis itu sama sekali tak menggubrisnya.
"Syailendra kayaknya sengaja mau deketin kamu ya, Sal?" tanya Rindu yang sempat melihat interaksi singkat di kedai jus tadi. Salsa hanya mengedikkan bahu, ia tak mau membahas Syailendra lagi, lebih baik menikmati mie ayam yang ia pesan tadi.
"Kemarin aku sempat tanya Mbak Kos jurusan itu, siapa Sandrina," cerita Rindu yang masih jengkel melihat mahasiswi tua itu main labrak Salsa kemarin.
"Siapa, Ndu?" tanya Devita yang penasaran. Melihat tingkahnya yang berpower Devita yakin, sepertinya Sandrina merupakan mahasiswi terkenal di jurusannya.
"Dia pernah menjadi mahasiswi berprestasi, sekertaris BEM Pusat, dan sudah lama mengejar Syailendra!" jelas Rindu sesuai dengan cerita Mbak Kos yang menjadi teman seangkatan Sandrina.
"Pintar, cantik, tapi mengejar," sindir Salsa, tidak sesuai dengan karakternya, gak pantes banget cewek yang punya kelebihan harus sampai mengejar dan terkesan mengemis perhatian seorang laki-laki. Bukan Salsa banget.
"Masalahnya Syailendra yang dikejar, Sal. Berarti dia punya kriteria cowok yang tinggi. Kata Mbak Kosku, Syailendra ini cowok cakep se fakultas ini," Salsa langsung pura-pura muntah, Rindu dan Devita langsung tertawa. Terlihat Salsa tak tertarik dengan pemuda itu. Apalagi dituduh caper lagi, makin tak respect meski Syailendra dianggap paling ganteng di sini.
"Jangan terlalu benci, Sal. Nanti jilat ludah sendiri lo malah nikah si doi!" ledek Devita, dan Salsa langsung tersedak. Kedua temannya langsung tertawa ngakak.
"Aku lanjutin ya, dan dia satu-satunya mahasiswi yang mendapat nilai A di mata kuliah Pak Amar, dosen yang kamu cari di angkatannya bersama Syailendra!" ujar Rindu dengan menaik turunkan alis, sembari menatap serius pada Salsa.
Devita dan Salsa langsung mendelik, pikiranq mereka sama meski hanya lewat mata. "Pernah dipakai berarti?" tebak Devita tapi langsung menutup mulutnya, ya mungkin saja apalagi dosen tersebut dikenal pelit nilai A, dan kalau pun suka sama mahasiswi harus sesuai kriteria Pak Dosen.
"Hey jangan suudzon, siapa tahu memang dia pintar," ucap Salsa dengan melipat bibir, namun lengannya ditabok Devita. Dari mata saja mereka punya pikiran sama.
"Gitu janjiannya gimana ya?" tanya Devita penasaran. Rindu pun menceritakan sesuai dengan rumor yang beredar di kalangan Mbak Kos di jurusan itu, Pak Amar tak pernah menyalahi aturan kampus, beliau tak pernah pelecehan atau bertindak kurang ajar pada mahasiswi. Kalau pun ada yang menarik perhatian beliau, beliau memanggil ketua kelas dan meminta nomor ponsel perempuan yang dituju, nah ajakan beliau berada di luar kampus," ujar Rindu, tapi dia menggaris bawahi ini hanya rumor, dan belum tentu benar. Terlebih pihak jurusan juga tak menyelediki. Selagi belum ada laporan dari korban, itu semua hanya rumor.
"Tapi rumor itu kan fakta tertunda kan," ujar Salsa menekankan bahwa dosen itu memang bermasalah.
"Kamu nanti hati-hati Sal, kalau bertemu sama beliau. Usahakan bicaranya di tempat umum saja, jangan di ruangannya," Rindu memberi nasehat, Salsa menghela nafas sebentar.
"Sebenarnya aku juga gak mau terlibat urusan beginian sumpah. Bukan aku sok menjadi pahlawan, tapi kalau gak dibantu kasihan juga!" Salsa lebih mengutamakan kepentingannya untuk segera terlepas dari Karin. Gak enak, dan ia hanya ingin hidup normal.
"Memangnya si teman kamu itu di mana? Takut bertemu atau bagaimana?" tanya Devita berusaha mengulik teman Salsa, karena menyangkut keselamatan serta nama Salsa juga. Bisa jadi saat Salsa getol mencari dosen tersebut, dikira dia yang meminta tanggung jawab. Malah berabe nanti, sehingga Devita dan Rindu perlu tahu juga.
Mumpung tak ada Karin, ia pun berani cerita kepada kedua sahabatnya. "Dia sudah meninggal!" Devita dan Rindu langsung melongo, Rindu malah spontan memegang kening Salsa.
"Aku gak panas atau sinting kali, Ndu!" protes Salsa sembari menyingkirkan tangan Rindu. Kemudian Salsa terpaksa menceritakan siapa yang ingin dibantunya, intinya Salsa menjadi perantara si hantu dengan Pak Amar agar dosen tersebut bertanggung jawab dan meminta maaf pada ibu Karin.
Devita langsung merinding, Rindu masih belum percaya. "Yakin kamu bisa lihat hantu, Sal?" tanya Rindu memastikan.
"Hanya dia doang yang bisa aku lihat, yang lain jangan. Bisa melihat satu penampakan saja, rasanya tenagaku terkuras habis, sumpah gak nyaman diikuti makhluk beda alam," ujar Salsa membuat Rindu menelan ludah kasar. Sebenarnya mereka masih belum percaya 100%, tapi tak menuduh Salsa mengarang juga, karena dilihat dari cara cerita Salsa juga merasa lelah diikuti si hantu.
"Makanya jangan heran kalau aku kadang spontan ceplos omongan dengan emosi, karena dia sedang mengajak aku ngomong," ujar Salsa.
"OTW gila, hati-hati," ujar Devita menakuti. Salsa langsung mengetuk meja tiga kali sembari mengucap amit-amit.
Sebenarnya yang ditakutkan Salsa bukan menjadi gila, tapi dia harus bertemu dengan Pak Amar itu. Bagaimana dia memulai, dan apa gak aneh langsung membahas Karin. Berada dalam kebimbangan bertemu Pak Amar, justru Salsa harus menghadapi Syailendra terlebih dulu. Gak ada angin gak ada hujan, saat Salsa mau mengambil motor di parkiran, Syailendra malah sudah duduk di atas motornya, dan menatap Salsa, bedanya dengan tadi pagi, kali ini Syailendra sendiri, dan feeling Salsa mengatakan sepertinya pemuda ini menunggu Salsa.
"Salsa, jurusan Kimia?" sapa Syailendra saat Salsa sudah berada di motornya, dan sengaja sekali motor Syailendra berada di dekat motor gadis itu.
Masalah baru nih. Apes. Batin Salsa.