NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 - ujian yang tidak terlihat

Udara pagi di Sekte Batu Awan terasa lebih tegang dari biasanya.

Desas-desus tentang Qing Lin telah menyebar di kalangan murid luar. Mereka berbicara di sudut-sudut asrama, di belakang peti kayu, di celah-celah lorong batu. Tidak ada yang berani menatapnya langsung, namun mata mereka selalu mengikuti gerakannya—entah karena takut, penasaran, atau iri.

Qing Lin sendiri tidak tahu bahwa ia sudah menjadi topik pembicaraan. Ia bangun lebih awal, seperti biasa, dan berjalan ke lapangan latihan dengan langkah ringan. Kabut tipis pagi masih menyelimuti seluruh area, membuat lapangan terlihat seperti mengambang antara bumi dan langit.

Ia menyiapkan peralatan latihan—pedang kayu yang telah dipoles hingga licin, dan kapak kecil yang selalu ia bawa. Tidak ada senjata khusus, tidak ada mantra, hanya kemampuan fisik yang ia latih sejak kecil, dan Qi tipis yang mulai menetap di dalam tubuhnya.

“Ah… ini dia,” terdengar suara ejekan dari arah pintu masuk lapangan.

Qing Lin menoleh sekilas. Seorang murid luar yang lebih tua, bernama Wei Zhan, melangkah maju dengan senyum sinis di wajahnya. Dua rekannya mengikuti di belakang, tubuhnya tegap dan mata menyala dengan niat menantang.

“Kau benar-benar murid luar yang mereka bicarakan?” tanya Wei Zhan, suaranya sinis. “Katanya kau berhasil menahan Zhao Ming sendirian… tapi lihatmu, kau tetap… biasa saja.”

Qing Lin menunduk. “Aku hanya ingin menyelesaikan tugasku,” jawabnya pelan, suara hampir tenggelam di kabut pagi.

Wei Zhan mengerutkan dahi. “Hah… menyelesaikan tugas? Itu tidak cukup! Kita semua murid luar harus menonjol agar bisa naik level. Kau, yang tidak punya akar spiritual, tapi masih bisa bertahan… hmm…” Ia melangkah lebih dekat, matanya tajam. “Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa pergi.”

Pertarungan dimulai.

Tidak ada pedang di tangan Qing Lin kali ini, hanya kepalan tangan dan kaki yang telah terlatih. Wei Zhan melompat dengan kecepatan mengejutkan, serangan pertama mengarah ke kepala Qing Lin. Ia menunduk, menghindar.

Qi tipis yang berputar di tubuhnya memberi keseimbangan, tapi tidak membuatnya lebih cepat atau lebih kuat dari manusia biasa. Ia hanya mengatur jarak dan napas, mengikuti ritme lawan.

Serangan kedua datang dari samping, kaki Wei Zhan menendang ke arah perutnya. Qing Lin menggeser tubuh, menyentuh tanah lembap dengan ujung kaki, dan mendorong diri menjauh.

Setiap gerakan terlihat sederhana, namun di baliknya, Sutra Darah Sunyi bergerak. Ia menyerap sedikit energi dari kelemahan lawan, memperkuat sendi dan otot—tanpa darah menetes, tanpa aura terlihat. Hanya tubuhnya yang terasa lebih stabil dan tangannya lebih kuat dari sebelumnya.

Wei Zhan tersentak. “Bagaimana kau…?” gumamnya.

Qing Lin menunduk, menahan napasnya. “Aku tidak ingin melukaimu.”

Kalimat itu membuat Wei Zhan berhenti sejenak. Namun kesombongannya lebih besar daripada rasa takut. Ia menyerang lagi, kali ini lebih agresif. Tangan mengepal, kaki menendang, seluruh tubuhnya menumpahkan niat membunuh ringan, tapi cukup untuk memicu reaksi sutra dalam tubuh Qing Lin.

Pertempuran berlangsung setengah jam.

Murid luar lain berkumpul di tepi lapangan, menonton. Beberapa mencoba memberi komentar, namun tidak ada yang berani mendekat. Qing Lin tidak menyerang balik secara agresif, hanya bergerak untuk bertahan. Namun setiap kali Wei Zhan menekan, sedikit energi darah lawan terserap oleh Sutra Darah Sunyi.

Qing Lin merasakan perubahan. Tubuhnya lebih cepat pulih dari benturan. Ototnya tidak pegal seperti sebelumnya. Napasnya lebih stabil. Bahkan gerakan kecilnya mulai terasa lebih presisi.

Pada akhirnya, Wei Zhan berhenti. Nafasnya tersengal, keringat mengalir di wajahnya. “Apa… apa yang kau lakukan padaku?” Ia menatap Qing Lin dengan mata melebar.

Qing Lin menunduk. “Aku tidak melakukan apa-apa yang kau tidak berikan.”

Sunyi menyelimuti lapangan. Murid luar menatap, beberapa bergumam. Ada rasa takut, ada rasa kagum, tapi yang paling jelas—Qing Lin berbeda.

Setelah pertempuran, Liang He datang. Wajahnya tetap dingin, namun matanya tidak bisa menutupi sedikit rasa penasaran.

“Kalian selesai?” tanyanya.

Wei Zhan mengangguk, meski masih terlihat cemas. “Ya, tapi…”

Liang He menatap Qing Lin. “Kau sehat?”

Qing Lin hanya mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja.”

Liang He mengerutkan kening. Ia menyadari ada yang aneh dengan murid luar ini. Tidak ada aura, tidak ada akar spiritual, tapi tetap bertahan. Bahkan, lawannya seharusnya lebih unggul secara fisik dan pengalaman, namun Qing Lin mampu mempertahankan diri.

Malam itu, Qing Lin kembali ke asrama.

Ia duduk bersila, seperti biasa. Bibirnya sedikit berdarah karena benturan ringan, namun tidak serius. Sutra Darah Sunyi berputar dalam tubuhnya dengan ritme lebih cepat dari sebelumnya. Ia menekan aliran itu, menahan agar tidak keluar.

Tubuhnya terasa lebih padat. Otot terasa lebih kuat. Sendi terasa lebih lentur. Napasnya lebih stabil. Ia bisa merasakan batas baru dalam tubuhnya.

Namun yang paling jelas, Qing Lin sadar: Sutra Darah Sunyi menuntut sesuatu.

“Aku tidak ingin membunuh… tapi kau… ingin aku tumbuh,” gumamnya.

Ia menutup mata.

Di dalam gelap, Sutra Darah Sunyi berputar. Qi mulai memadat, membentuk lapisan pertama yang jelas.

Hanya sedikit—tidak terlihat oleh dunia. Namun bagi Qing Lin, itu sudah cukup untuk merasakan perubahan nyata.

Beberapa hari berikutnya, Qing Lin menghadapi murid luar lain yang iri.

Beberapa mencoba menantangnya secara langsung.

Beberapa mencoba memojokkan atau menjebaknya.

Bahkan Zhao Ming sesekali muncul untuk menguji batasnya.

Namun pola selalu sama: Qing Lin tidak menyerang lebih dulu, hanya menahan. Setiap kali ada kontak fisik atau ancaman, Sutra Darah Sunyi menyerap energi sedikit demi sedikit, meningkatkan kekuatannya tanpa menimbulkan ledakan.

Dengan metode ini, Qing Lin mulai terlihat sebagai murid luar yang “tidak normal”. Murid lain mulai mengukur jarak, beberapa bahkan mulai menghindar. Tidak ada yang benar-benar menyerang tanpa alasan. Sekte mulai mencatatnya.

Suatu malam, saat kabut menebal, Qing Lin duduk bersila di atas batu kecil di pinggir lapangan.

Tangannya gemetar sedikit, bukan karena lelah, tapi karena Sutra Darah Sunyi kini “lapar”.

“Aku tidak ingin… aku tidak ingin membunuh tanpa alasan,” bisiknya.

Namun di dalam tubuhnya, Sutra Darah Sunyi berdenyut semakin cepat. Qi mulai memadat menjadi inti kecil, tanda pertumbuhan pertama.

Ia menelan ludah. Sensasi ini berbeda dari latihan biasa. Tubuhnya terasa berat, seperti ada garis yang baru ditarik di dalamnya—batas yang harus ia hargai dan kontrol.

Malam itu, Qing Lin menatap langit gelap. Bintang-bintang tertutup kabut, namun ia merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar malam dingin.

Satu hal jelas:

Dunia mulai memperhatikannya.

Dan jalan seorang murid polos, tanpa akar spiritual, namun memiliki Sutra Darah Sunyi, telah memasuki fase baru.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!