Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawaran yang tak meminta jawaban
Dan setelah acaranya benar-benar selesai, aku dan keluargaku dihampiri seseorang.
Pria itu berpakaian rapi, jasnya gelap dan sederhana, namun dari cara berdirinya aku tahu ia bukan orang sembarangan. Ia menunduk sopan kepada ayah dan ibuku sebelum berbicara.
“Mohon ikut saya.”
Tidak ada nada memaksa. Tidak pula penjelasan panjang. Namun entah mengapa, kata-katanya terasa seperti sesuatu yang memang harus kami lakukan.
Ayah mengangguk pelan. Ibu menggenggam tanganku sebentar, seolah memberi isyarat agar aku tetap tenang. Aku mengangguk kecil, meski dadaku terasa semakin sesak.
Kami dibawa menuju area khusus di luar gedung utama.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Schevenko.
Ia duduk, bukan berdiri.
Duduk di kursi utama sebuah meja panjang, dikelilingi beberapa pemimpin negara yang juga duduk berhadapan dengannya. Posisinya tenang, punggungnya tegak namun tidak kaku. Ia berbicara dengan suara pelan, disertai gerakan tangan yang minimal—tidak berlebihan, tidak pula mendominasi.
Aku tidak mendengar apa pun yang mereka bicarakan.
Namun aku melihat dengan jelas satu hal:
mereka mendengarkannya.
Orang-orang yang usianya jauh lebih tua, yang kekuasaannya tak perlu diragukan, menunggu ia selesai berbicara sebelum menanggapi. Beberapa mengangguk pelan, yang lain hanya diam dengan ekspresi serius.
Schevenko tidak terlihat seperti seseorang yang ingin diperhatikan.
Ia terlihat seperti seseorang yang sudah terbiasa didengarkan.
Lalu pandangannya bergeser.
Mengarah pada ayahku.
Ia mengatakan sesuatu dengan suara sangat pelan—aku bahkan tidak bisa membaca gerak bibirnya dengan jelas. Namun setelah itu, para pemimpin negara itu berdiri lebih dulu.
Satu per satu.
Memberikan penghormatan.
Bukan sekadar formalitas.
Ada rasa hormat yang nyata di sana.
Setelah mereka pergi, barulah Schevenko berdiri dari kursinya.
Dua pengawal tetap berdiri di belakangnya, menjaga jarak dengan sikap profesional.
Ia melangkah mendekati kami.
Langkahnya tidak cepat. Tidak pula ragu.
Saat jaraknya cukup dekat, ia berhenti di hadapan ayahku, sedikit menunduk, lalu berkata dengan suara tenang,
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab ayah.
Schevenko tersenyum tipis—sangat tipis—lalu memberi isyarat ke kursi di sekitarnya.
“Silakan duduk.”
Nada suaranya membuatku terdiam.
Terlalu sopan.
Terlalu rendah hati.
Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang baru saja membuat para pemimpin dunia berdiri dan memberi hormat.
Ayah duduk terlebih dahulu. Ibu menyusul di sampingnya. Aku duduk terakhir, sedikit menunduk, tanganku masih menggenggam bunga yang tadi ia berikan di atas panggung.
Schevenko kembali duduk di hadapan kami.
Ia tidak langsung berbicara.
Ia menunggu.
Menunggu sampai semua posisi benar-benar tenang, sampai tidak ada lagi suara langkah atau bisikan di sekitar kami.
Barulah ia membuka percakapan.
“Terima kasih,” katanya pelan, “sudah meluangkan waktu setelah acara yang panjang.”
Ayah mengangguk singkat. Tidak berkata apa-apa.
Schevenko melirik ayahku sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke ibuku.
Dan di situlah aku menyadari sesuatu.
Ayahku…
sudah tahu.
Dari cara ia duduk.
Dari caranya tidak bertanya.
Dari ketenangan yang terlalu siap.
Schevenko kembali berbicara, suaranya tetap rendah dan sangat sopan.
“Saya tidak akan berbicara panjang lebar,” katanya. “Dan saya tidak akan menyampaikan apa pun tanpa izin.”
Ia menatap ayahku sejenak.
Ayah mengangguk pelan.
Isyarat itu cukup.
Schevenko lalu menatap ibuku.
“Saya ingin menyampaikan penawaran,” katanya. “Namun saya ingin mendengarnya… dari seorang ibu.”
Ibu terdiam beberapa detik. Tangannya sedikit mengencang di pangkuannya, namun wajahnya tetap tenang.
“Penawaran seperti apa?” tanya ibu akhirnya.
Schevenko menarik napas pelan.
“Kesempatan,” jawabnya. “Untuk masa depan putri Anda.”
Aku tetap diam.
Tidak menatapnya.
Tidak pula menunduk sepenuhnya.
Aku hanya mendengarkan.
“Saya tidak datang membawa paksaan,” lanjutnya. “Dan saya tidak datang untuk mengambil.”
Ia berhenti sejenak, seolah memastikan setiap kata dipahami.
“Saya datang untuk menawarkan,” katanya lagi, “dan untuk meminta izin.”
Ibu menatap ayah. Ayah tetap diam.
“Kami ingin tahu,” kata ibu pelan, “izin untuk apa?”
Schevenko menoleh ke arahku.
Tidak lama.
Tidak membuatku terpojok.
Namun cukup untuk membuat jantungku berdetak lebih cepat.
“Izin,” katanya, “untuk membuka jalan yang mungkin belum pernah ia bayangkan.”
Aku menggenggam bunga itu lebih erat.
Ayah tetap tidak berbicara.
Seolah sejak awal…
perannya bukan untuk menjawab.
Ibu menarik napas pelan, lalu berkata, “Lanjutkan.”
Schevenko mengangguk.
Gerakannya tenang. Tidak tergesa. Tidak ragu. Seolah ia sudah menyiapkan semua yang akan dikatakannya sejak lama. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam sederhana, disusul beberapa lembar kertas yang ia pegang rapi di tangannya.
Ia meletakkannya di atas meja, satu per satu.
“Ini untuk Anda,” katanya kepada ayah dan ibu, lalu sedikit menggeser kartu itu ke arahku, “dan juga untuk Zahra.”
Aku tidak bergerak.
Hanya menatap benda-benda itu tanpa benar-benar melihatnya.
Schevenko melanjutkan dengan suara rendah namun jelas,
“Di sini ada sejumlah uang. Bukan pinjaman. Bukan titipan.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada yang sama tenangnya,
“Untuk biaya kuliah ke depan.”
Ayah dan ibu tetap diam.
“Jika hanya sekadar bertanya apakah cukup,” lanjutnya, “saya jamin—lebih dari cukup.”
Dadaku terasa semakin sesak.
Lalu Schevenko mengangkat salah satu kertas.
“Dan ini,” katanya sambil menunjukkannya, “tiket ke Arab Saudi.”
Aku langsung mengenali bentuknya.
Mataku refleks membesar.
Ia tidak perlu menjelaskan lebih jauh.
Tujuannya terlalu jelas untuk diucapkan.
Haji.
Atau umrah.
Ia melanjutkan,
“Ada sepuluh tiket.”
Sepuluh.
“Untuk keluarga Anda,” katanya, “dan kerabat yang Anda pilih.”
Aku menoleh ke ibu tanpa sadar.
Wajah ibu benar-benar kosong. Bukan karena tidak paham, tetapi karena terlalu paham hingga kata-kata tak lagi menemukan jalannya keluar.
Ayah pun sama.
Schevenko tidak terlihat puas, tidak pula menunggu reaksi. Ia hanya menyampaikan, seolah semua ini hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
“Ini bukan transaksi,” katanya kemudian.
Nada suaranya berubah sedikit. Lebih dalam. Lebih serius.
“Ini hadiah,” lanjutnya, “dari saya.”
Ia diam.
Beberapa detik.
Detik-detik yang terasa lebih panjang dari menit.
Lalu Schevenko mengangkat kepalanya, menatap ayah dan ibu secara bergantian, sebelum akhirnya menundukkan pandangannya dengan sikap yang sangat sopan.
“Saya meminta izin,” katanya pelan, “kepada Ayah dan Ibu… untuk menikahi putri Anda.”
Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang berat ke dalam ruang sunyi.
Aku membeku.
Ibu… tidak bergerak sama sekali. Tangannya yang tadi terlipat di pangkuan kini menggenggam kainnya sendiri. Ayah menatap meja, seolah kata-kata itu sedang diproses satu per satu, sangat perlahan.
Aku?
Aku bahkan tidak tahu harus bernapas bagaimana.
Schevenko kembali berbicara,
“Saya tidak memaksa.”
Nada suaranya jujur. Tidak ada tekanan. Tidak ada tuntutan.
“Jika diperbolehkan,” lanjutnya, “saya akan datang ke rumah untuk bersilaturahmi.”
Ia meraih sebuah kertas kosong, lalu menulis cepat dengan tulisan yang rapi. Setelah itu, ia mendorong kertas tersebut ke arah ayah.
“Ini nomor saya,” katanya.
“Jika Anda memberikan izin, saya akan datang.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah,
“Jika tidak…”
Aku merasakan jantungku berhenti sesaat.
“…saya hanya akan mengantarkan Anda ke Arab Saudi,” katanya pelan.
“Itu saja yang bisa saya berikan.”
Tidak ada ancaman.
Tidak ada nada kecewa.
Hanya pernyataan.
Schevenko berdiri.
Gerakannya tetap sama—tenang dan terkendali.
“Saya izin pamit dulu,” katanya sambil sedikit menunduk.
“Assalamu’alaikum.”
Kami menjawab hampir bersamaan, meski suara kami terdengar kaku.
“Wa’alaikumussalam.”
Aku dan ibu masih membeku.
Bukan karena dingin.
Melainkan karena kenyataan baru saja jatuh terlalu dekat.
Schevenko melangkah pergi bersama dua pengawalnya. Aku mengikuti langkahnya dengan pandangan tanpa sadar. Salah satu pengawal menyodorkan sebatang rokok. Schevenko menerimanya tanpa bicara. Pengawal itu menyalakannya untuknya.
Ia mengisap pelan.
Asap tipis melayang di udara sore itu.
Dari kejauhan kami melihat dua mobil sport terparkir. Mengilap. Mahal. Terlalu mencolok untuk suasana yang begitu sunyi.
Dua pengawal masuk ke mobil yang sama.
Schevenko menuju mobil lainnya—sendirian.
Dan tepat sebelum ia masuk, ia berhenti.
Ia membungkukkan badannya sedikit ke arah kami—ke arah ayah, ibu… dan aku.
Sebuah gestur yang sederhana.
Namun entah kenapa, membuat dadaku kembali bergetar.
Mobil itu lalu melaju perlahan, meninggalkan kami di tempat duduk yang terasa jauh lebih sepi dari sebelumnya.
Aku menunduk.
Bunga itu masih ada di tanganku.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu dimulai, aku menyadari satu hal dengan sangat jelas—
Hari kelulusanku…
ternyata bukan penutup.
Melainkan awal dari sesuatu
yang bahkan belum berani kupikirkan.
Aku pun pulang ke rumahku. Sepanjang perjalanan, bunga yang.....
Bersambung.....