NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Levis ke Desa Sumberjati

Pak Lurah tersenyum tipis. “Tentang pria itu.”

Keheningan jatuh.

“Katanya, mobil meledak di jalan kabupaten,” lanjutnya. “Katanya, ada satu orang yang selamat.”

Mika merasakan dingin merambat di punggungnya.

“Aku hanya ingin memastikan,” ujar Pak Lurah, nada suaranya tetap tenang, “keluargamu tidak terseret urusan orang kota.”

Saat itu Jovan muncul di ambang pintu.

Tatapan Pak Lurah beralih. Untuk sepersekian detik, senyumnya kaku.

“Selamat sore,” sapa Jovan sopan.

Pak Lurah mengangguk. “Sore.”

Ia menatap Jovan lama. Bukan tatapan orang desa yang penasaran, melainkan tatapan orang yang sedang mengukur risiko.

“Aku hanya mengingatkan,” katanya akhirnya, kembali ke Mika. “Desa Sumberjati kecil. Kalau ada api, cepat merambat.”

Mika menelan ludah. “Kami mengerti.”

Pak Lurah tersenyum lagi. “Bagus.” Ia melangkah pergi, menyalakan motornya, lalu menghilang di tikungan jalan.

Beberapa detik setelahnya, Mika tidak bergerak. Jovan mendekat. “Apa yang dia katakan?”

Mika menoleh padanya. “ Ada orang kota yang bertanya soal kecelakaan mobil.”

Jovan mengangguk pelan. Tidak terkejut. “Itu ancaman.”

“Dia tidak mengancam,” sanggah Mika lirih.

“Justru itu,” jawab Jovan. “Ancaman paling berbahaya tidak pernah diucapkan.”

Mika memandang jalan kosong itu. Untuk pertama kalinya, desa yang ia kenal seumur hidup terasa berbeda. Lebih sempit. Lebih rapuh.

.

Suatu hari, Levis berdiri di tepi jalan tanah yang membelah Desa Sumberjati. Debu tipis menempel di sepatu botnya. Ia berhenti di bawah pohon, pura-pura menyalakan rokok, padahal matanya bekerja. Ia menghitung jarak, arah angin, dan kebiasaan orang-orang yang lewat pagi itu. Desa kecil selalu memberi ilusi aman. Baginya, ilusi adalah pintu.

Sampai hari ke 2, ia berada ditempat itu.

Di ujung jalan, seorang perempuan melintas dengan keranjang buah. Langkahnya mantap, tidak tergesa. Rambutnya diikat seadanya. Levis tidak perlu nama untuk mengenalinya. Perempuan itu telah ia tandai sejak kemarin. Ada cara ia menoleh tanpa benar-benar menoleh, seperti orang yang terbiasa hidup sendiri dan tahu kapan harus waspada.

Levis menghisap rokoknya pelan. Ia tidak mendekat. Ia menunggu. Di desa, menunggu adalah bahasa paling sopan.

Mika menata buah di lapak kecil pasar. Pisang kepok disusun rapi, pepaya diletakkan di sudut yang teduh. Uang kertas hasil jualan ia hitung dua kali, lalu dilipat dan diselipkan ke saku kain. Ia mengangkat kepala, merasakan sesuatu yang tak berbunyi. Pasar ramai, tapi ada ruang kosong di punggungnya.

Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa yang menatap terlalu lama. Orang-orang sibuk menawar. Mika kembali menunduk, namun rasa itu tinggal. Seperti bekas sentuhan yang tidak meninggalkan jejak.

Siang di Sumberjati datang tanpa drama. Panas naik perlahan. Mika pulang dengan langkah yang sama seperti berangkatnya. Di jalan, ia berhenti sebentar, membenahi letak keranjang yang agak oleng. Di balik rumpun bambu, angin bergerak.

Jovan duduk di beranda ketika Mika tiba. Bahunya dibalut perban baru. Ia menatap halaman, seolah sedang mempelajari sesuatu yang sederhana. Ketika Mika melintas, Jovan berdiri setengah, lalu mengurungkan niatnya.

“Keranjangmu pasti berat,” katanya.

“Tidak juga,” Mika menjawab cepat. “Bahumu masih terluka. Ini hal biasa.”

Jovan mengangguk. Mika melewati tangga, masuk ke rumah. Di dalam, ia menyimpan uang, lalu kembali dengan kain lap. Ia berhenti ketika melihat perban Jovan.

Ada noda kecil yang merembes.

“Lukamu,” katanya.

Jovan melihat ke bahunya. “Sedikit.”

Mika mengambil air dan kain bersih. Tangannya tidak gemetar. Ia membersihkan dengan hati-hati. Jovan membiarkannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak menahan jarak.

“Aku kurang rapi tadi,” Mika berkata, lebih pada dirinya sendiri. “Sehingga terbuka.”

Jovan menggeleng. “Aku yang bergerak terlalu banyak.”

Mika mengikat perban baru. Simpulnya sederhana. Ia menarik ujung kain, memastikan tidak terlalu kencang. Jovan menahan napas sesaat, lalu mengembuskannya. Mereka tidak saling menatap. Di antara mereka, ada kesepakatan kecil yang tidak diucapkan.

Sore turun dengan cepat. Desa menutup hari seperti menutup pintu yang sudah sering dibuka. Mika melipat baju di ruang tengah. Setiap lipatan rapi, berulang. Jovan duduk di kursi, memperhatikan tanpa terlihat memperhatikan.

“Kau sering merasa diawasi?” Jovan bertanya tiba-tiba.

Mika berhenti melipat. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Mika melanjutkan. “Kadang,” katanya. “Tapi di desa, orang sering lewat.”

Jovan tidak menimpali. Ia menyimpan pertanyaan itu di tempat yang aman.

.

Levis berdiri di balik pepohonan mengintai rumah pak Raka, cukup jauh untuk tidak terlihat. Ia tidak mendekat malam ini. Ancaman yang baik tidak perlu hadir. Ia hanya perlu terasa.

Ia mengambil batu kecil, melemparkannya ke jalan. Batu itu menggelinding, berhenti. Levis tersenyum tipis. Tidak ada yang keluar rumah. Bagus. Desa ini masih tidur.

Besok, ia akan bicara dengan kepala dusun. Bukan tentang apa-apa yang penting. Tentang kebun, tentang panen, tentang orang asing yang singgah. Pertanyaan sederhana. Jawaban akan datang sendiri.

Levis mematikan rokoknya di tanah. Bara mati tanpa suara. Ia melangkah pergi.

Pagi berikutnya, dimulai lebih lambat. Mika bangun ketika cahaya sudah merambat di lantai. Ia menyiapkan air, menata meja. Jovan membantu sebisanya. Mereka bekerja tanpa banyak kata. Di sela-sela itu, Mika menoleh ke luar. Jalan desa kosong.

“Kalau hari ini kau ke kebun,” kata Jovan, “aku ikut.”

Mika menimbang. Ia melihat bahu Jovan, lalu halaman. “Baiklah,” katanya akhirnya.

Mereka berjalan berdampingan. Keranjang diangkat bergantian. Daun pisang dipotong rapi. Ketika mereka pulang, perban Jovan kembali bernoda. Mika berhenti.

“Setiba di rumah, aku akan memperbaiki perbanmu,” katanya.

Jovan mengangguk. Ia menerima.

Setiba di rumah.

Mika mengikat simpul terakhir pada perban itu, lalu tangannya berhenti. Jarak mereka terlalu dekat untuk ukuran orang yang baru saling mengenal, terlalu tenang untuk dua orang yang seharusnya canggung.

“Kalau sakit, bilang,” katanya pelan.

Jovan menunduk sedikit, matanya mengikuti gerakan jari Mika. “Kalau aku bilang, kau akan berhenti?”

Mika ragu sepersekian detik. “Tidak.”

Jawaban itu keluar begitu saja. Mika sendiri terkejut. Ia menarik tangannya, hendak merapikan kain lap, tapi Jovan lebih cepat. Tangannya menangkap pergelangan Mika, ringan, seolah hanya ingin memastikan sesuatu masih nyata.

“Kalau begitu,” kata Jovan. “Terima kasih.”

Pegangannya dilepas. Mika berdiri, punggungnya terasa hangat. Ia melangkah ke jendela, membuka sedikit. Angin sore masuk, membawa bau tanah dan daun pisang.

Mika menutup jendela. Senyumnya tidak terlihat, tapi ada jeda di napasnya. Ia kembali ke meja, menuang air ke dua gelas. Satu didorong ke arah Jovan.

Mereka duduk berdampingan. Tidak bersentuhan, tapi cukup dekat untuk saling merasakan keberadaan.

Di luar, ayam berkokok lebih awal. Sore belum habis, tapi desa seperti ingin cepat masuk malam.

“Kalau kau mau,” kata Jovan pelan, “aku bisa pergi setelah lukaku membaik.”

Mika menatap gelasnya. Air di dalamnya bergetar kecil. “Belum perlu,” katanya. “Di desa, orang asing tidak langsung pergi.”

Jovan menoleh. “Lalu?”

“Lalu mereka menjadi cerita.”

Jovan tidak tertawa. Ia menatap wajah Mika, lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di sana yang membuatnya diam, bukan cantik yang mencolok, tapi ketenangan yang seperti tanah setelah hujan.

“Aku tidak ingin jadi cerita buruk,” katanya.

Mika mengangkat kepala. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Tidak ada janji. Tidak ada kata besar. Hanya kesadaran bahwa mereka sedang berdiri di tepi sesuatu yang belum diberi nama.

Di luar rumah, daun randu bergerak tanpa angin.

Mika berdiri lebih dulu. “Makan malam hampir siap.”

Jovan mengangguk. Ketika Mika melangkah pergi, ia memperhatikan punggung itu sejenak. Ada dorongan untuk mengatakan sesuatu, tapi ia menahannya.

Beberapa hal, jika diucapkan terlalu cepat, justru mengundang bahaya.

...****************...

Sampai disini para reader belum ada yang komentar....

Yuk....komen yuk...!!

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!