Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Tukang angkut
Kesunyian di kedai itu hanya dipecahkan oleh suara denting koin saat Jian Feng dengan sangat efisien merogoh setiap kantong baju para preman yang terkapar.
Ia mengumpulkan belasan kantong uang, beberapa belati berkarat, dan satu pedang yang lumayan mengkilap.
"Lumayan... cukup untuk biaya hidup sepekan tanpa harus merampok makam." gumam Jian Feng sambil menimbang-nimbang sebuah kantong emas di tangannya.
Ia kemudian menoleh ke arah wanita cantik yang tadi merayunya. Wanita itu tampak ingin menghilang ke dalam lantai.
Jian Feng melemparkan seutas tali tambang yang ia temukan di pojok kedai tepat ke arah wajah wanita itu.
"Tangkap." perintah Jian Feng datar.
"A-apa yang harus kulakukan dengan tali ini, Tuan?" tanya wanita itu dengan tangan gemetar.
"Ikat semua sampah ini menjadi satu barisan. Kau akan menyeret mereka ke kantor gubernur dan menyerahkan mereka sebagai buronan," Jian Feng berdiri sambil merapikan jubahnya. "Jangan lupa bilang kalau pahlawan yang menangkap mereka adalah 'Kakek Tampan Bertudung'. Jika kau berani kabur atau mengambil uang hadiahnya... Petir Kecil akan tahu."
Petir Kecil mengeluarkan percikan listrik dari matanya sambil menyeringai seram. "Akan kupastikan jantungmu bergetar lebih kencang dari saat kau jatuh cinta, Nona Manis!"
Beberapa menit kemudian, sebuah pemandangan absurd tercipta di jalanan kota yang ramai.
Seorang wanita cantik dengan gaun sutra mahal, kini berkeringat dingin sambil menarik tali tambang panjang.
Di ujung tali itu, enam preman bertubuh besar terikat seperti sosis, diseret di atas aspal jalanan dengan wajah babak belur.
"T-tolong... ini berat sekali..." rintih wanita itu sambil terengah-engah.
Jian Feng yang berjalan dua meter di depannya bahkan tidak menoleh. "Anggap saja itu olahraga untuk membakar lemak di hatimu yang penuh tipu daya. Ayo, lebih cepat!"
Tiba-tiba, mata Jian Feng berbinar. Di sudut jalan, seorang kakek tua sedang berdiri di samping gerobak merah yang sangat ia kenali.
"Tanghulu!" seru Jian Feng pelan, namun nadanya penuh dengan kegembiraan yang tidak cocok dengan auranya yang dingin.
Jian Feng menghampiri gerobak itu. "Paman, beri aku lima tusuk yang paling merah dan berkilau!"
Petir Kecil yang berada di atas tudungnya langsung protes. "Tuan, kau baru saja menghajar enam orang dan sekarang kau bertingkah seperti anak kecil yang baru mendapat uang jajan? Ingat martabatmu sebagai penguasa elemen petir!"
"Diam kau, Laba-laba Tak Berlidah," balas Jian Feng sambil menggigit satu buah hawthorn berlapis gula itu dengan nikmat. "Manis adalah obat bagi jiwa yang terluka. Kau mau?"
"Aku tidak punya gigi untuk mengunyah gula keras itu, Bodoh! Beri aku satu yang sudah kau kupas gulanya!"
Jian Feng dengan malas mengupas lapisan gula dan memberikan buahnya pada Petir Kecil. "Kau ini benar-benar peliharaan yang merepotkan. Sudah numpang di kepalaku, minta makan pula."
"Hmp! Setidaknya aku tidak narsis dan mengaku-ngaku sebagai kakek tampan!" sahut Petir Kecil sambil mengunyah buah dengan rakus.
Wanita di belakang mereka hampir pingsan karena kelelahan, namun ia tertegun melihat Jian Feng.
Pria yang baru saja mematahkan tulang orang dengan wajah datar, kini sedang berjalan santai sambil memegang tiga tusuk Tanghulu di tangan kiri dan satu tusuk lagi di mulutnya.
"Kenapa diam? Cepat tarik!" perintah Jian Feng tanpa menoleh, mulutnya penuh dengan gula.
"T-tapi Tuan... orang-orang melihat kita..."
Memang benar, seluruh warga kota berhenti beraktivitas. Mereka melihat seorang wanita cantik menyeret tumpukan preman, sementara di depannya ada pria bertudung misterius yang sedang asyik menjilati Tanghulu seolah dunia sedang baik-baik saja.
"Biarkan mereka melihat," ucap Jian Feng cuek. "Ini adalah iklan gratis bagi siapa pun yang ingin mengganggu makanku. Petir Kecil, lihat itu! Ada penjual bakpao daging di depan. Kita beli juga?"
"Beli semuanya, Tuan Perjaka! Habiskan uang preman-preman itu sampai tidak tersisa!" seru Petir Kecil penuh semangat.
Jian Feng tertawa kecil, melangkah dengan ringan melewati kerumunan.
thor lu kaya Jiang Feng