Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. SISI GELAP DIPTA MAHENDRA
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai beludru merah yang berat, menciptakan garis-garis emas di atas sprei sutra hitam yang kini tampak berantakan. Kamar itu masih hening, hanya terdengar suara napas yang teratur. Keyla perlahan membuka matanya, merasakan berat yang posesif di pinggangnya. Lengan kekar Dipta melingkar erat di sana, menarik punggungnya menempel sempurna pada dada bidang suaminya.
Keyla mencoba bergerak sedikit, namun seketika rasa nyeri yang tajam berdenyut di bagian intinya, sisa dari pergulatan panas mereka semalam yang terjadi berulang kali hingga menjelang fajar. Wajahnya memerah saat memori tentang bagaimana Dipta mencumbunya di tengah kegelapan kamar "mafia" ini kembali terlintas.
"Mau ke mana?" suara bariton yang serak khas bangun tidur terdengar di telinganya, disusul dengan kecupan basah di bahunya yang polos.
"Dipta... lepaskan dulu. Aku mau mandi, ini sudah siang," bisik Keyla, suaranya masih parau.
"Tidak boleh. Tetap di sini," gumam Dipta, justru semakin mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Keyla seolah ingin kembali tidur dalam aroma tubuh istrinya.
"Tapi tubuhku... terasa lengket. Dan ini terasa nyeri, Dipta," keluh Keyla jujur, sedikit merintih saat mencoba menggeser kakinya.
Dipta membuka matanya, menatap Keyla dengan tatapan yang kini lebih lembut namun tetap intens. "Maafkan aku. Aku mungkin terlalu berlebihan semalam. Tapi kau sangat menggiurkan dengan kuncir kuda dan baju ketat itu."
Baru saja Keyla hendak membalas, tiba-tiba sebuah suara nyaring terdengar dari balik selimut. Kruyuuk... Perut Keyla berbunyi dengan sangat tidak sopan, memecah suasana romantis yang sedang dibangun Dipta.
Keyla segera menutupi wajahnya dengan bantal, merasa malu setengah mati. Dipta terdiam sejenak sebelum akhirnya tawa rendah yang maskulin meledak dari dadanya. Ia tertawa hingga bahunya berguncang.
"Ternyata istri kecilku ini lapar, hm?" goda Dipta sambil menyingkirkan bantal dari wajah Keyla.
"Diamlah! Itu karena kau tidak membiarkanku makan malam dengan benar semalam!" gerutu Keyla dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
Dipta tersenyum geli, ia kemudian bangkit dari posisi berbaringnya. Tanpa peringatan, ia menyibakkan selimut dan kembali mengangkat Keyla dalam gendongan bridal style.
"Dipta! Aku bisa jalan sendiri!"
"Tidak, kau tadi bilang sakit, kan? Biar aku yang memandikanmu," ujar Dipta dengan nada otoriter yang tak bisa dibantah.
Di dalam kamar mandi mewah yang dilapisi marmer hitam, Dipta benar-benar menepati ucapannya. Ia membantu Keyla membersihkan diri dengan sangat telaten, menyeka tubuh istrinya dengan air hangat seolah Keyla adalah porselen yang sangat rapuh. Tidak ada gairah yang meledak kali ini, hanya perhatian murni yang membuat hati Keyla sedikit bergetar.
***
Setelah selesai bersiap dan mengenakan pakaian santai yang disediakan para pelayan, Dipta membawa Keyla turun ke ruang makan. Ruangan itu luas, dengan meja kayu ek panjang yang bisa menampung dua puluh orang, namun pagi ini hanya ada mereka berdua. Berbagai hidangan mewah—mulai dari steak wagyu pagi hari hingga bubur ayam khas—sudah tersaji hangat.
Keyla makan dengan lahap, sementara Dipta hanya menyesap kopi hitamnya sambil terus memperhatikan istrinya. Suasana mansion yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk kota, membuat Keyla akhirnya memberanikan diri untuk menyuarakan rasa penasarannya yang sudah di ujung lidah.
Keyla meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah Dipta. "Dipta, bisakah kita bicara jujur sekarang?"
Dipta meletakkan cangkir kopinya. "Tentang apa?"
"Tempat ini. Orang-orang berpakaian hitam itu. Dan... gudang senjata di bawah tanah," Keyla menarik napas panjang. "Sebenarnya apa pekerjaanmu? Kau bilang kau pengusaha, tapi pengusaha mana yang punya pabrik perakitan senjata ilegal di balik hutan?"
Dipta menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Keyla dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca. "Aku tidak pernah membohongimu soal menjadi pengusaha, Keyla. Mahendra Group adalah kerajaan bisnis legal yang menguasai properti dan perbankan di negeri ini. Itulah wajah yang dilihat dunia, termasuk orang tuaku."
"Lalu ini?" Keyla menunjuk ke arah jendela yang menampilkan para pengawal sedang berpatroli.
"Ini adalah sisi lain yang tidak boleh diketahui siapa pun. Mansion ini adalah tempat pribadiku, bentengku. Bahkan ayahku tidak tahu tempat ini ada," Dipta memulai penjelasannya dengan suara rendah. "Pekerjaan 'sampingan' yang kau lihat di gudang itu... kami memproduksi dan mendistribusikan persenjataan kelas atas. Memang, secara hukum formal ini bisa dibilang ilegal karena melangkahi birokrasi negara yang lambat."
Keyla ternganga. "Kau tidak takut ditangkap?"
Dipta terkekeh, namun kali ini senyumnya terasa dingin dan penuh kuasa. "Siapa yang akan menangkapku, Keyla? Instansi negara? Sebagian besar dari mereka menggunakan jasaku untuk misi-misi yang tidak bisa mereka catat di buku resmi. Di tempat ini, akulah hukumnya. Aku lebih berkuasa dibanding mereka karena aku memegang apa yang mereka butuhkan: kekuatan senjata dan informasi."
"Jadi kau benar-benar seorang... mafia?" tanya Keyla dengan suara bergetar.
"Sebut sesukamu. Tapi di sini, aku bebas. Di sini aku tidak perlu berpura-pura menjadi putra Haris Mahendra yang patuh. Di sini, aku adalah Dipta yang sesungguhnya. Dan sekarang, kau adalah bagian dari rahasia ini," Dipta meraih tangan Keyla di atas meja, menggenggamnya erat. "Apa kau takut padaku sekarang?"
Keyla menatap mata Dipta. Anehnya, meskipun ia tahu suaminya adalah pria yang sangat berbahaya, rasa takut itu tidak sebesar rasa ingin tahunya. Ia teringat bagaimana Dipta merawat ibunya yang depresi, dan bagaimana Dipta memperlakukannya dengan lembut di tempat tidur semalam.
"Aku tidak tahu harus merasa apa," jawab Keyla jujur. "Tapi kau membawaku ke sini... artinya kau mempercayaiku, kan?"
"Lebih dari siapa pun di dunia ini, Keyla. Kau adalah satu-satunya orang yang aku izinkan masuk ke sisi gelapku. Karena aku ingin kau tahu, bahwa kekuatanku ini bukan hanya untuk bisnis, tapi untuk memastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu atau menyakitimu."
Keyla terdiam, meresapi pengakuan itu. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi sekadar mahasiswa HI yang berambisi, ia adalah istri dari pria paling berkuasa yang hidup di balik bayang-bayang.
"Makanlah yang banyak, istriku," ujar Dipta kembali melembutkan suaranya. "Setelah ini, aku akan menunjukkanmu danau buatan di belakang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu di sana."
***
Bersambung...
mahasiswa normal, apakah kau pernah jadi mahasiswa normal, Dipta ? melihat sikapmu yakin kau tak pernah jadi mahasiswa normal atau bahkan lbh parah, tak pernah kuliah
Dipta, gunakan hati & otakmu, bisa kan ? kalau kau ingin Keyla menurut, perlakukan dia dg baik, dg pendekatan hati pasti timbal baliknya juga baik
ayo Dipta buktikan, dirimu manusia baik" atau kakek moyangnya iblis dg perilakumu