Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rebutan
Pagi-pagi sekali Tama sudah berdiri di depan rumah Kara. Ia sudah bertekad mengejar Lengkara secara ugal-ugalan, tak peduli kakak dan adik dari gadis itu semua bermasalah dengan dirinya.
"Pagi calon pacar." sapanya pada Kara yang baru saja keluar dari rumah beriringan dengan Dirga.
“Gue chat dari semalem kagak di bales, Ra?” tanya Tama basa-basi, masa bodoh dengan calon kakak ipar yang memperlihatkan ekspresi tak suka padanya.
“Emang ada chat yah? Sorry gue nggak pegang HP semalem. Sibuk.” Balas Kara, semalam ia memang benar-benar sibuk. Sibuk memeluk Dirdiran barunya dan berusaha memejamkan mata supaya malam cepat berlalu.
“Emang semalem lo ngapain, sampe nggak pegang HP? Sibuk banget yah? Padahal kan sekolah belum ada tugas.”
“Nggak usah ngepoin adek gue! So perhatian banget lo jadi cowok.” Ketus Dirga, dia benar-benar tak suka Kara dekat dengan Tama. Dirga tau betul jika Kara bukan tipe perempuan yang mudah didekati tapi sayangnya laki-laki tipe buaya di depannya ini sama sekali tak mundur meski setiap ucapannya hanya di tanggapi seperluanya oleh Kara.
“Masih galak aja sama gue, bang? Salah gue apa sih?” tanya Tama, bagaimana pun ia harus bersikap sebaik mungkin pada saudaranya Kara, meskipun ia belum tau apakah keduanya benar-benar kakak adik kandung atau sekedar kakak adik sepupu mengingat usianya yang seumuran. Dan lagi mamanya yang tetap teguh mengatakan jika Kara adalah anak pertama dan memiliki satu orang adik laki-laki. Tapi bodo amat lah, yang penting harus bisa diterima keluarga Kara dengan baik lebih dulu.
“Lagian kan cewek emang senengnya diperhatiin. Ya kan, Ra?” lanjutnya seraya melirik Lengkara sekilas.
“Tau tuh, Tam. Abang gue emang sukanya marah-marah nggak jelas.” Balas Kara.
“Yang sabar...” Tama menepuk bahu Kara pelan. Tangannya langsung di tepis jauh-jauh oleh Dirga.
“Selow selow bang. Cuma tepukan buat penguat hati.” Ucap Tama dengan santai, meski jauh dalam hatinya sudah ingin sekali mencaci sosok yang bagi Tama terlalu over protektif pada Kara. Please, di zaman modern seperti ini bagi Tama jika hanya sekedar menepuk bahu, pegangan tangan atau sedikit rangkulan masih termasuk hal wajar bahkan sangat-sangat wajar.
“Bang Dirga kayak gitu pasti karena sayang banget sama adeknya.” Timpal Tama. “tapi percaya deh sama gue bang, gue tuh nggak bakal ngapa-ngapain adek lo kok. Cuma bakal gue jaga sepenuh hati dengan taburan kasih sayang yang berlimpah.” Lanjutnya sambil mengedipkan mata pada Kara.
“Uh so sweet Tamarin...” Kara menyatukan kedua tangannya dan menempelkannya di dagu seraya tersenyum pada Tama, “auto melehoy ati gue dengernya.” Lanjutnya seraya tertawa karena Dirga menyikutnya cukup keras disusul dengan tatapan tajam.
“Nggak usah kecentilan lo, Ra! Kata-kata buaya kayak gitu lo bilang so sweet cih!” cibir Dirga.
“Nggak apa-apa deh Bang kalo adek kecentilan toh adek kan cewek. Kalo Abang kecentilan baru nggak boleh.” Ejek Kara. “Abang coba deh belajar kata-kata manis kayak Tamarin biar calon istri Abang tambah lope lope ke abang.” Lanjutnya.
“Wah jadi Bang Dirga udah punya calon istri? Keren banget dah, belum lulus sekolah udah punya calon pendamping aja.” puji Tama.
“Ngomong-ngomong gue manggil lo pake nama aja boleh nggak sih? Rasanya aneh aja, kayaknya kita seumuran.” Ucapnya pada Dirga.
“Bodo amat, gue juga nggak mau di panggil abang sama lo.” Ketus Dirga.
“Oke berarti gue panggil Dirga aja mulai sekarang.” Ucap Tama.
“Terserah.” Balas Dirga seperlunya.
“Dirga cuek banget yah, Ra... Btw itu kalo ke calon istrinya kayak gitu juga?” tanya Tama.
“Ya gitu lah. sama calon istrinya dia mah galak, cuek, kang marah-marah pokoknya.” Jelas Kara.
“Tapi itu calon istrinya nggak protes atau auto langsung mengundurkan diri jadi calon istri gitu?”
“Nggak, calon istri Dirga tuh sabar banget. Dicuekin, dimarahin, nggak dipeduliin juga tetep nggak mundur. Gila kan?” Kara menepuk bahu Dirga berulang kali, “hebat calon istri lo, bang!” lanjutnya.
“Wih beruntung banget lo, Ga. Apalagi kalo orang cantik udah deh plus plus.” Balas Tama.
“Cantik banget orangnya, Tam. Gue rasa kalo lo liat calon istri Dirga juga bakalan demen deh. Imut.” Ucap Kara.
“Wih jadi penasaran gue.” keduanya jadi asik sendiri membahas calon istri Dirga yang sama sekali tak Tama ketahui jika orang itu tepat berada di sampingnya.
“Jodoh dia mah deket, cuma beberapa langkah depan rumah.” Ucap Kara.
Tama reflek menunjuk rumah Dirga yang tepat berada di depan rumah Kara, “yang itu?” dan Kara mengangguk sambil menahan tawa.
“Udah nggak usah banyak omong, yang penting lo buruan cabut deh! Gue sama Kara mau berangkat.” Usir Dirga.
“Loh kok gitu? Gue kan kesini khusus mau jemput calon pacar.” Tama tentu tak mau menurut begitu saja.
“Tapi Kara mau berangkat bareng gue. Udah lo berangkat aja duluan, lo kan bawa mobil ntar kena macet terus telat sampe sekolah.” Ucap Dirga, “lo berangkat bareng gue kan, Ra?” tanyanya pada Kara.
“Bareng gue aja, Ra. Kemaren juga nggak telat kan kita? Kalau pun telat nggak apa-apa deh, kayaknya nyapuin daun di bawah pohon mangga menyenangkan toh ke kelas juga belum mulai pembelajaran. Gimana?” tawar Tama.
“Nggak usah ngajarin yang nggak bener deh!” ucap Dirga, “lo berangkat bareng gue, Ra!” Dirga menarik tangan kiri Kara supaya merapatkan diri padanya.
“Nggak bisa gitu dong, Ga. Meskipun lo kakaknya, tapi gue jauh-jauh datang kesini buat jemput Kara. So, biarin Lengkara berangkat bareng gue lah. Gue pastiin Lengkara selamat tanpa lecet sedikit pun sampe sekolah.” Tama ikut menarik tangan kanan Kara hingga Lengkara yang ditarik kesana kemari hanya meniup poninya berulang.
“Kalian masih di sini? Papi kira sudah berangkat.” Melihat kedatangan papi Rama, Dirga langsung melepaskan tangan Kara. Dia tak mau sampai dikira berbuat yang tidak-tidak pada Kara mengingat kemarin sore mereka tertangkap basah sedang cubit-cubitan saja dikira berbuat yang macam-macam.
“Ini baru mau berangkat, Pi.” Ucap Dirga “Yuk berangkat, Ra!” Ajak Dirga , dia menarik tangan Kara supaya meningkutinya ke motor.
“Nggak bisa gitu dong, Ra. Lo berangkat bareng gue. Kan kemaren gue udah bilang mau jemput lo.” Lagi-lagi Tama menarik tangan Kara supaya tak mengikuti Dirga. “boleh kan Om? Lengkara berangkat bareng saya?” lanjutnya meminta ijin pada Rama.
“Ya ampun, Pi... anak papi laris banget yah jadi rebutan kayak gini.” Celetuk Kara.
Huh!! Rama menghela nafas panjang. Kemarin pulang kerja disuguhi pemandangan putrinya yang begitu dekat dengan Dirga, eh sekarang masih pagi sudah kembali melihat pemandangan tak menyenangkan. Putri kesayangannya ditarik kesana kemari dan sialnya gadis itu justru tersenyum tanpa dosa dan menikmati jadi rebutan.
“Kara berangkat bareng papi aja.” Ucap Rama tak terbantahkan, Kara langsung cemberut mendengarnya.
“Bukannya papi ada rapat? Ntar telat ke kantor.” Ucap Kara.
“Nggak bakal telat. Dirga, papi pinjem motor kamu. Sini kuncinya!” Dirga dengan pasrah memberikan kunci motornya.
“Terus Dirga berangkatnya gimana kalo motornya dipake papi?” tanya Kara, pokoknya sebisa mungkin dia harus berangkat bareng Dirga. Percuma dong kalo sampe gagal dari semalaman dia sampai sulit tidur karena teringat ajakan Dirga untuk berangkat bersama.
“Kalian berdua berangkat bareng aja!” ucap papi Rama pada Dirga dan Tama kemudian berlalu meninggalkan rumah.
“Jadi kita berangkat bareng calon kakak ipar?” tanya Tama, “nggak jadi nganterin Lengkara yah nganterin kakaknya aja nggak apa-apa deh. Dengan senang hati.” Lanjutnya.
“Nggak usah banyak omong, buruan berangkat. Jangan sampe gue telat.” Jawab Dirga, dia berjalan meninggalkan Tama dan langsung duduk di samping kursi kemudi. Andai papi Rama tak menyuruhnya berangkat dengan Tama, malas sekali. Tapi di sisi lain tak ada pilihan lagi, masa iya dia harus pulang ke rumah dan berangkat bersama daddy Ardi itu tidak mungkin, tempat yang jadi tujuan meraka tidak searah.
“Hih!! Kalo bukan kakaknya Lengkara males banget dah gue satu mobil sama orang kayak dia.” Umpat Tama dalam hati. Dia mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah Kara, namun sebelum menginjak pedal gas lebih dalam lagi ia melihat gadis berseragam putih biru keluar dari rumah yang berada tepat di depan rumah Kara.
"An jir si kacang ijo." batin Tama. Sekali lagi ia memperhatikan gadis itu. Benar, itu Sasa si kacang ijo yang ia tinggal tempo hari. Kini ia paham kenapa kemarin saat vidio call Kara berkata gadis itu adiknya. Padahal meskipun usianya dibawah Kara harusnya disebut kakak nggak sih? soalnya kan calon istri dari Dirga. kakaknya.
“Calon istri lo, Ga?” tanyanya pada Dirga. Tama masih ingat betul ucapan Kara tadi tentang jodoh Dirga yang hanya sebatas tetangga depan rumah. “mau sekalian dibawa nggak itu bocah putih biru?” lanjutnya.
“Nggak usah. Tinggalin aja!”
Tama menginjak pedal gasnya pelan seraya terus melihat dari spion, gadis yang tak kalah cantik dengan Lengkara itu berjalan riang masuk ke gerbang rumah Kara. Jika dibandingkan dengan Kara yang yang cantik-cantik imut, gadis berseragam putih biru itu cantiknya manis. Bahkan hanya dari spion saja Tama sudah bisa menyimpulkan tingkat kecantikan seorang gadis, seahli itu memang dia soal perempuan.
“Kata Kara tadi calon istri lo imut, tapi kalo gue lihat dia lebih ke manis sih.” Tama memberi komentar.
“Gue nggak nanya!”
“Sayangnya masih anak SMP, tapi kalo udah gede gue jamin cakep tuh bocah.” Puji Tama, “kok bisa sih lo udah punya calon istri aja, Ga? Dijodohin? Tebaknya kemudian.
Tama akhirnya memilih bungkam karena Dirga benar-benar tak bisa diajak bicara. Lelaki itu tak menggubrisnya sama sekali bahkan seolah menganggap keberadaannya tak ada. "Cocok deh lo sama si kacang ijo, sama-sama ngeselin." batin Tama.
.
.
.
Like komennya jangan lupa guys
Aku udah pengen buru-buru ke part sasa nih tapi harus sabar karena setting waktunya sama dengan Always loving u jadi mau nggak mau ada beberapa part yang ngga boleh dilewatin.
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣