NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Kegelapan yang menyelimuti ruang rapat lantai teratas hotel itu tidak berlangsung lama. Beberapa detik setelah lampu utama padam, lampu darurat berwarna kemerahan mulai menyala di setiap sudut langit-langit. Arlan tetap berdiri tegak di posisinya, meskipun ia melihat beberapa pria di seberang meja mulai bergerak dengan gelisah.

[Peringatan: Pemicu Aktif di Tangan Kanan Pak Wiratama]

Arlan melihat sebuah benda kecil berbentuk persegi di bawah meja yang digenggam erat oleh pria itu. Ia segera melangkah mendekat sebelum Pak Wiratama sempat menekan tombol apa pun.

"Jangan lakukan itu, Pak Wiratama," ucap Arlan dengan nada yang sangat rendah namun terdengar jelas di seluruh ruangan.

Pak Wiratama mendongak dengan wajah yang penuh dengan amarah yang tertahan. Tangannya bergetar hebat di bawah meja.

"Kamu pikir kamu siapa, anak muda? Kamu hanya seorang analis yang beruntung mendapatkan kartu itu!" teriak Pak Wiratama sambil mencoba menekan tombol di tangannya.

Arlan bergerak lebih cepat. Ia menekan pergelangan tangan Pak Wiratama ke permukaan meja kayu yang keras. Suara benda plastik yang jatuh ke lantai terdengar nyaring di tengah kesunyian ruangan tersebut.

"Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Wiratama?" tanya pria tua yang tadi memeriksa kartu emas Arlan.

"Dia mencoba mengaktifkan pengacak sinyal untuk menghancurkan data di dalam USB ini, Pak Ketua," jawab Arlan sambil mengambil benda plastik yang jatuh tadi.

Siska melangkah maju ke samping Arlan dan menatap Pak Wiratama dengan tatapan yang sangat tajam.

"Anda sudah tidak punya jalan keluar lagi, Pak Wiratama. Seluruh anggota dewan di sini sudah melihat siapa Anda sebenarnya," ucap Siska dengan suara yang mantap.

Ibu Sari yang sejak tadi diam mulai membuka kembali laptop yang ia bawa. Ia menghubungkan kabel data ke layar besar di dinding ruangan yang kini sudah menyala kembali.

"Lihatlah ke layar itu, Bapak-bapak sekalian. Ini adalah alur dana dari kas aliansi yang masuk ke rekening pribadi Pak Wiratama setiap bulan," jelas Ibu Sari sambil menunjukkan grafik transaksi yang sangat detail.

Para anggota aliansi yang duduk di meja bundar itu mulai riuh. Mereka saling berbisik dan menunjuk ke arah layar yang menampilkan bukti-bukti penggelapan dana tersebut.

"Ini fitnah! Sari, kamu hanya sakit hati karena diberhentikan sepuluh tahun lalu!" teriak Pak Wiratama dengan wajah yang semakin memerah.

"Saya memiliki bukti tanda tangan digital Anda pada setiap transaksi ini, Wiratama," sahut Ibu Sari tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

Pria tua yang dipanggil Pak Ketua tadi berdiri dari kursinya. Ia membetulkan letak kacamata bacanya dan menatap Pak Wiratama dengan kekecewaan yang mendalam.

"Cukup, Wiratama. Penjaga, bawa dia keluar dari ruangan ini sekarang juga. Kita akan menyerahkan masalah ini kepada pihak berwenang setelah rapat ini selesai," perintah Pak Ketua dengan nada yang sangat otoritas.

Dua orang pria berseragam keamanan hotel masuk ke dalam ruangan. Mereka memegang lengan Pak Wiratama dan menyeretnya keluar dari ruang rapat. Pak Wiratama terus berteriak dan mengeluarkan ancaman, namun tidak ada satu pun anggota aliansi yang berani membelanya.

Setelah pintu tertutup kembali, ruangan itu kembali hening. Pak Ketua menoleh ke arah Arlan dan Siska.

"Sekarang, mari kita bicara soal masa depan aliansi ini. Arlan Dirgantara, kamu membawa kartu emas itu. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Pak Ketua sambil duduk kembali di kursinya.

Arlan meletakkan kartu emas itu di atas meja. Ia menatap setiap anggota dewan yang hadir dengan penuh wibawa.

"Saya tidak menginginkan posisi Pak Wiratama. Saya hanya ingin Aliansi Logistik Nasional berhenti menjadi kartel yang mematikan pengusaha kecil," jawab Arlan dengan suara yang tenang.

"Lalu bagaimana menurutmu cara yang benar untuk mengelola industri ini?" tanya anggota dewan lainnya yang duduk di sebelah kiri Arlan.

"Transparansi. Arlan Corp memiliki teknologi enkripsi yang bisa digunakan oleh semua anggota aliansi untuk memantau jalur distribusi secara real-time. Tidak ada lagi pungutan liar, tidak ada lagi monopoli jalur," jelas Arlan sambil menunjukkan presentasi singkat dari tabletnya.

Siska menambahkan penjelasan teknis mengenai integrasi sistem tersebut dengan regulasi nasional yang baru.

"Dengan sistem ini, efisiensi operasional akan meningkat hingga tiga puluh persen. Itu jauh lebih menguntungkan daripada memeras perusahaan baru," ucap Siska dengan penuh keyakinan.

Pak Ketua tampak mengangguk-angguk setuju. Ia melihat ke arah anggota dewan lainnya yang juga menunjukkan ekspresi yang sama.

"Usulan yang sangat menarik. Tapi bagaimana kami bisa menjamin bahwa Arlan Corp tidak akan menggunakan teknologi ini untuk menguasai pasar sendirian?" tanya Pak Ketua dengan nada menyelidik.

"Arlan Corp akan menjadi penyedia infrastruktur. Kendali operasional tetap ada pada masing-masing perusahaan. Kami hanya memastikan permainannya adil," jawab Arlan.

Rapat tersebut berlanjut selama tiga jam berikutnya. Arlan dan Siska berhasil meyakinkan sebagian besar anggota dewan untuk melakukan reformasi total pada tubuh aliansi. Ibu Sari memberikan dukungan data yang membuat argumen Arlan semakin tidak terbantahkan.

Tepat saat matahari mulai terbit di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, rapat itu akhirnya ditutup dengan keputusan besar.

"Mulai hari ini, Aliansi Logistik Nasional akan berganti nama menjadi Federasi Logistik Terbuka. Dan Arlan Corp akan menjadi mitra teknologi utama kami," ucap Pak Ketua sambil menjabat tangan Arlan dengan sangat erat.

Arlan keluar dari ruang rapat dengan perasaan yang sangat lega. Siska dan Ibu Sari berjalan di sampingnya dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.

"Kita berhasil, Arlan. Ayahku pasti bangga melihat ini," bisik Siska sambil mengusap air mata di sudut matanya.

"Ini baru awal, Mbak Siska. Membangun sistem yang bersih jauh lebih sulit daripada menjatuhkan penjahat," jawab Arlan sambil menekan tombol lift.

Di lobi hotel, Tegar sudah menunggu dengan mobil yang masih menyala. Ia tampak sangat cemas sampai akhirnya melihat Arlan keluar dari pintu kaca.

"Mas Arlan! Bagaimana hasilnya?" tanya Tegar sambil berlari mendekat.

"Berhasil, Gar. Pak Wiratama sudah diamankan," jawab Arlan sambil menepuk pundak Tegar.

"Alhamdulillah. Tapi Mas, ada satu hal yang aneh di luar tadi," ucap Tegar dengan nada suara yang sedikit ragu.

"Apa itu?" tanya Arlan sambil masuk ke dalam mobil.

"Tadi ada seorang pria dengan setelan jas hitam yang menitipkan pesan ini untuk Mas Arlan. Dia bilang, jangan senang dulu karena dewan direksi global Megantara Group tidak akan tinggal diam melihat aliansi ini hancur," jelas Tegar sambil menyerahkan sebuah kartu nama berwarna hitam pekat.

Arlan menerima kartu nama itu. Tidak ada nama di sana, hanya sebuah logo berbentuk burung rajawali yang sedang mencengkeram bola dunia.

[Analisis Entitas: Megantara Global Division] [Status: Ancaman Tingkat Internasional]

Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. Ia menyadari bahwa kemenangan hari ini hanyalah sebuah langkah kecil menuju perang yang jauh lebih besar di kancah internasional.

"Sopir, antar kami kembali ke kantor Arlan Corp. Kita punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan pagi ini," perintah Arlan dengan nada suara yang tetap tenang.

Mobil itu melesat membelah kemacetan pagi Jakarta. Arlan menatap kartu nama hitam itu sekali lagi sebelum akhirnya ia meremasnya hingga hancur. Perjalanan menuju puncak industri ternyata masih memiliki banyak lapisan yang harus ia tembus.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!