NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 SABDA UNTUK YANG TAK BERHENTI

Matahari telah mencapai puncaknya, namun sinarnya terasa dingin di ketinggian ini. Abimanyu berdiri di atas sebuah tebing batu yang menjorok keluar, sebuah balkon alami yang menghadap kembali ke arah lembah yang ditinggalkannya. Dari sini, kota dan universitas tampak seperti miniatur yang tidak berarti—garis-garis lurus yang membosankan dan kotak-kotak beton yang mencoba merapikan keliaran bumi.

Napasnya memburu, uap tipis keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. Jantungnya berdegup kencang, sebuah genderang perang yang ditabuh di dalam dadanya. Ia merasakan setiap otot di paha dan betisnya berdenyut protes, menuntut kenyamanan yang telah ia buang.

Ia duduk di tepi batu, membiarkan kakinya menggantung di atas jurang. Ia mengambil botol abu dari tasnya, menatapnya sejenak, lalu mulai berbicara. Bukan kepada siapa-siapa, melainkan kepada kesunyian yang luas, kepada angin yang menderu, dan kepada dirinya sendiri yang masih sering merindukan kursi empuk di perpustakaan.

"Dengarlah, wahai jiwaku yang letih," bisiknya, suaranya segera ditelan oleh angin gunung. "Kau merindukan tempat duduk? Kau merindukan kepastian dari lantai yang rata? Kau merindukan kematian yang dibungkus dengan nama 'istirahat'?"

Ia menunjuk ke bawah, ke arah titik-titik kecil di lembah.

"Di sana, mereka menetap. Mereka membangun tembok agar tidak perlu melihat cakrawala. Mereka memasang atap agar tidak perlu gemetar di bawah badai. Mereka menyebutnya rumah, tempat tinggal, kediaman. Tapi aku memberitahumu: setiap tempat yang membuatmu berhenti adalah peti mati yang belum ditutup."

Abimanyu memejamkan mata, membayangkan wajah-wajah koleganya—Profesor Danu, Dr. Hardi, dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang bangga karena telah mencapai "tujuan". Mereka memiliki kursi tetap, gaji tetap, dan pemikiran yang tetap.

"Menetap adalah kematian yang paling lambat dan paling menyakitkan," lanjutnya, suaranya kini lebih lantang, menantang gema di tebing-tebing. "Apa yang menetap akan membusuk. Air yang tidak mengalir akan menjadi sarang penyakit. Kayu yang tidak pernah bergoyang akan dimakan rayap. Dan manusia yang berhenti bergerak akan kehilangan rohnya, hanya menyisakan tumpukan daging yang menunggu giliran untuk dikubur."

Ia berdiri kembali, meskipun kakinya masih terasa berat. Ia merasakan angin kencang mencoba mendorongnya jatuh dari tebing, namun ia justru melebarkan tangannya, menyambut hambatan itu.

"Lihatlah alam ini! Apakah ada yang benar-benar menetap? Planet-planet terus berputar dalam tarian yang gila. Angin tidak pernah memiliki rumah permanen. Bahkan gunung ini, dalam keheningannya yang megah, terus bergeser dan bertumbuh. Alam adalah sebuah gerakan abadi yang tidak mengenal titik henti. Hanya manusia—makhluk yang paling sombong—yang berpikir bahwa mereka bisa menghentikan waktu dengan cara duduk diam di atas tumpukan kertas."

Ia melangkah menjauh dari tepi tebing, kembali ke jalan setapak yang menanjak. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti sebuah penolakan terhadap gravitasi batinnya yang mencoba menariknya kembali ke kenyamanan lembah.

"Mereka bertanya padaku, di mana tempat ibadahmu? Apa agamamu?" Ia tertawa, sebuah tawa yang membelah keheningan hutan. "Mereka mencari Tuhan di dalam bangunan yang tidak bergerak, di bawah atap yang membatasi pandangan mereka ke langit. Mereka menganggap doa adalah kata-kata yang diulang-ulang tanpa langkah kaki."

Ia menghentakkan kakinya ke tanah yang berbatu, merasakan benturan itu menjalar hingga ke tulang punggungnya.

"Ibadah yang sesungguhnya bukan tentang berlutut di tempat yang aman. Ibadah adalah setiap langkah kaki yang gemetar namun tetap melangkah maju. Ibadah adalah keringat yang menetes saat kau menanjak bukit yang tidak menjanjikan apa pun selain keletihan. Bergerak adalah doa yang paling murni, karena di dalam gerakan, kau mengakui bahwa kau belum selesai. Di dalam gerakan, kau mengakui bahwa kau adalah sebuah proses, bukan sebuah produk."

Ia teringat akan sabda lama yang sering ia kutip dalam kuliahnya dulu, namun baru sekarang ia memahaminya dengan darah dan dagingnya sendiri.

"Celakalah mereka yang merasa sudah sampai! Celakalah mereka yang sudah menemukan jawaban akhir! Karena pada saat kau berhenti mencari, kau berhenti hidup. Kebenaran bukanlah sebuah dermaga tempatmu menyandarkan kapal. Kebenaran adalah lautan itu sendiri, dan kau harus terus mendayung agar tidak tenggelam."

Abimanyu menatap ke atas, ke arah puncak gunung yang kini tertutup kabut tebal. Jalan di depannya semakin curam, dipenuhi oleh akar-akar pohon yang melintang dan bebatuan yang licin oleh lumut. Tidak ada peta yang bisa membantunya di sini. Tidak ada asisten yang akan membawakannya perbekalan.

"Jangan takut pada ketidakpastian," katanya pada bayangannya yang memanjang di tanah. "Takutlah pada kepastian yang mematikan. Jangan takut pada jalan yang berliku. Takutlah pada garis lurus yang tidak membawamu ke mana-mana selain ke pemakaman. Manusia Kertas menginginkan jaminan keselamatan sebelum mereka melangkah. Tapi Sang Pendaki... Sang Pendaki tahu bahwa satu-satunya keselamatan adalah dengan terus mendaki."

Ia mengambil botol abunya lagi dan menaburkan sedikit isinya ke atas tanah yang ia pijak.

"Abu ini adalah sisa dari mereka yang menetap. Biarlah ia menjadi saksi bahwa aku telah memilih gerakan. Biarlah debu-debu teori ini menjadi pelumas bagi persendianku yang mulai kaku."

Ia mulai mendaki lagi. Kali ini dengan ritme yang lebih cepat, seolah-olah setiap langkahnya adalah sebuah kata dalam sebuah mantra yang panjang. Ia tidak lagi peduli pada rasa sakit. Rasa sakit adalah bukti bahwa ia masih memiliki tubuh yang hidup. Ia tidak lagi peduli pada rasa lelah. Rasa lelah adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah cakrawala baru.

"Wahai kalian yang masih berada di Lembah Nama!" teriaknya ke arah bawah, meskipun ia tahu suaranya tidak akan sampai. "Teruskanlah duduk di kursi-kursi kalian yang megah! Teruskanlah menghitung sitasi dan memuja gelar kalian! Aku akan terus bergerak, bukan karena aku tahu ke mana aku pergi, tapi karena aku tahu aku tidak bisa lagi tinggal bersama mayat-mayat yang menganggap diri mereka hidup!"

Ia menghilang di balik rimbunnya pepohonan hutan lereng gunung. Langkah kakinya meninggalkan jejak yang tidak rata di atas tanah yang basah—sebuah prasasti gerakan yang lebih abadi daripada tulisan apa pun yang pernah ia torehkan di atas kertas.

Di dalam kesunyian hutan, hanya terdengar suara napasnya yang teratur dan gesekan sepatu kulitnya dengan dedaunan kering. Itulah simfoni ibadah Abimanyu. Sebuah sabda bagi mereka yang tidak pernah berhenti. Sebuah lagu bagi jiwa yang menyadari bahwa menetap adalah pengkhianatan terbesar terhadap eksistensi.

Malam mulai turun, namun Abimanyu tidak mencari tempat berteduh. Ia mencari langkah berikutnya. Karena baginya, kegelapan hanyalah sebuah tirai yang harus disibakkan dengan gerakan, dan cahaya sejati hanya akan ditemukan oleh mereka yang kakinya tidak pernah berhenti mencari matahari.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!