NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FARHAN BERHASIL PULANG, TAPI AKU...

Aku langsung terasa tak bisa bergerak. Berdiri diam. Mataku bertatapan dengan sepasang mata merah menyala itu. Meskipun selendang Dayang Putri memancarkan sinarnya, namun tak bisa menembus gelapnya keseluruhan lorong ini.

"Gggrrrrr... Gggrrrrr..." suara geraman itu terdengar lagi.

Dan secara perlahan, kedua mata itu bergerak, lebih tinggi. Seolah sosok yang memiliki mata itu berdiri di ujung lorong sana.

Kemudian tampak mata itu berjalan mendekat perlahan...

Bak... Bak... Bak...

Terdengar suara langkah kakinya yang berat menapak lantai.

Namun tiba-tiba, belum sempat sosok itu semakin mendekat kepadaku, Dayang Putri muncul dari belakangku. Berjalan melewatiku, dan berdiri tepat di hadapanku.

Seolah Dayang Putri menjadi dinding penghalang antara aku dan sosok mata merah menyala itu.

"Jika kau berani menyentuhnya, maka kau berhadapan denganku..."

Ucap Dayang Putri dengan suara pelan namun terdengar sebagai sebuah ancaman yang kokoh bagi sosok mata merah itu.

Lalu, Dayang Putri berkata padaku masih dengan posisi berdiri tegak menghadap kepada sosok itu...

"Jangan terkecoh Nisa... Anak yang sedang kau cari ada dalam kamar di belakangmu... Cepatlah!"

Aku pun segera berjalan mundur beberapa langkah, dan membalikkan badanku, menatap ke arah lorong sebelah kanan dari tangga tadi.

Dan kini... Aku melihat ada sebuah cahaya temaram dari bawah sela-sela pintu di ujung sana. Padahal tadi tak ada cahaya itu sama sekali.

Aku berjalan mendekat, semakin dekat. Dan terdengar suara tawa Farhan dan sosok Gilang dari dalam kamar itu.

"Hahahaha... Seru banget main sama kamu..." suara Farhan terdengar agak redam.

"Fa-Farhan...?" aku mencoba memanggilnya saat sudah berdiri tepat di depan pintu kamar yang masih tertutup itu.

Aku menoleh sesaat ke arah di mana tadi Dayang Putri menghadang sosok mata merah itu. Dan... Sudah menghilang mereka berdua. Hanya ada lorong gelap dan hening.

Ketika aku menoleh lagi ke kamar, tiba-tiba sudah terbuka pintunya...

Tampak Farhan dan sosok Gilang sedang duduk dan mereka berdua sedang memainkan permainan papan. Entah papan apa itu.

Dan ada sebuah lilin berwarna merah yang menjadi penerangnya. Farhan tak menatapku. Bahkan ia tampak tak menyadari kehadiranku.

Namun, sosok Gilang menatapku. Memiringkan kepalanya, dan berkata,

"Ayok, sini, ikut main sama aku..."

"Tidak Gilang. Aku ke sini bukan mau main sama kamu di sini. Tapi aku mau ajak Farhan pulang."

"Tapi dia gak akan aku suruh pulang..."

"Kalau begitu, aku akan paksa dia ikut pulang."

Meski aku dan sosok Gilang berbicara, namun Farhan tampak tak bergeming. Dan masih saja terus memainkan permainan papan di hadapannya.

Lalu, aku mencoba memanggilnya...

"Farhan..."

Akhirnya, Farhan mendengar panggilanku. Dan segera menoleh kepadaku yang masih berdiri di depan pintu.

"Eh, Bu Nisa... Sini Bu, ikut main, seru tau!"

"Enggak Farhan... Ibu ke sini bukan buat main..."

"Terus ngapain Ibu ke sini?"

"Ibu mau ajak kamu pulang Han... Ini bukan rumah kamu... Ayok, ikut Ibu pulang sekarang ya..."

"Gak mau ah Bu, di sini seru! Aku mau di sini aja sama Gilang!"

Aku yang sedikit bingung bagaimana caranya supaya bisa membujuk Farhan, tiba-tiba mendengar suara Mas Iko...

"Mbak, ajak Farhan pulang pakai mainannya."

Aku seperti merasa ada seseorang yang hadir di sampingku. Namun tak ada wujudnya. Dan seketika itu juga, aku sudah melihat sebuah mainan milik Farhan. Sebuah mainan kayu berbentuk mobil-mobilan di atas lantai.

Aku ambil mainan itu. Dan menunjukkannya pada Farhan.

"Farhan... Ayok pulang... Kita main aja di rumahmu ya. Bareng sama Ibu dan Bapakmu." ucapku.

Ketika ia melihat mainan miliknya itu, Farhan langsung beranjak berdiri...

"Waaah... Itu mobil-mobilan punya aku Bu!"

"Iya Han... Ini punya kamu. Ayok ikut Ibu pulang ya..."

Farhan berjalan mendekatiku. Namun...

"Hiks hiks hiks... Huuu..." sosok Gilang tampak menangis.

Farhan menoleh ke arahnya...

"Gilang, ikut sama aku yuk..." ucap Farhan.

Aku langsung memegang pundak Farhan, dan berkata, "Farhan! Jangan ajak dia ikut sama kamu."

"Kenapa Bu? Gilang kesepian loh Bu. Dia gak punya temen main."

"Iya, Ibu tau itu. Tapi dia gak boleh ikut sama siapapun."

"Emang kenapa Bu?"

"Kita beda dimensi sama Gilang Han..."

"Aku gak ngerti Bu." jawab Farhan dengan polosnya sambil menatapku.

"Kakak gak bolehin aku ikut sama Kakak. Sekarang temanku juga gak boleh main sama aku... Hiks hiks..." ucapan Gilang tersedu.

Aku kembali sedikit merasa kasihan pada sosok makhluk ghoib kecil itu. Tapi aku tak akan terkecoh lagi. Dimensiku dan dimensinya berbeda. Dan tak seharusnya Farhan menjadi teman baiknya.

"Gilang... Izinkan Kakak buat ajak Farhan Pulang ya..." kataku sambil merangkul pundak Farhan di depan pintu.

Lalu, sosok Gilang menatap ke arah kami berdua, dengan tatapan kosong yang kali ini terasa berbeda bagiku.

Tatapan kosong itu... Terasa ada rasa marah padaku...

Aku menyadari kemarahannya dan perlahan menutup pintu kamar itu. Dan bergegas mengajak Farhan untuk segera keluar dari rumah dimensi ghoib ini.

"Ayok Han, ikut Ibu! Jangan lepas tanganmu!" kataku sambil bergegas jalan meninggalkan kamar itu. Dengan menggenggam tangan Farhan.

Kami berdua segera menuruni anak tangga. Menuju ke pintu depan yang masih tertutup itu. Ditemani cahaya selendang Dayang Putri yang menyala keemasan di leherku.

Namun ketika kucoba membuka pintu itu, kembali tak bergerak sedikitpun pintunya. Keras dan berat.

Lalu, suara Mas Iko kembali terdengar di telingaku...

"Mbak Nisa, mundur!"

Aku langsung berjalan mundur masih menggenggam tangan Farhan. Dan terdengar suara yang lebih dari satu orang.

Suara Ustadz Furqon, Mas Ahmad, dan juga Mas Iko yang sedang membaca surat Al Fatihah.

Kemudian beberapa saat, pintu itu terbuka dengan sendirinya...

Krieeeeettttt....

Aku segera bergegas menarik tangan Farhan, mengajaknya keluar tanpa banyak bicara. Melangkahkan kaki kami berdua dengan tergesa melewati terasnya.

Ketika kami berdua sudah sampai di depan rumah itu, nampak sebuah pemandangan yang amat aneh sekaligus membuatku merasa lega. Nampak di depan sana, kamar Farhan dalam rumahnya di dimensi dunia nyata. Dan aku pun melihat sosok Mas Iko yang sedang duduk bersila di sebuah ruangan, tepat di sebelah kamar Farhan itu.

"Farhan, cepet lari, masuk ke kamarmu sana!" perintahku.

"Bu, aku takut Bu, ayok sama Ibu." jawab Farhan yang justru memegang erat tanganku.

"Farhan, Ibu juga pasti pulang! Tapi Ibu gak pulang ke kamarmu!"

"Aku takut Bu!"

"Farhan, ayok cepet lari ke sana!" perintahku sambil menegaskan dan menunjuk ke arah kamarnya itu.

Akhirnya Farhan, dengan ketakutan yang terlihat jelas di wajahnya, berlari sekuat tenaga menuju kamarnya yang sudah nampak itu.

Aku yang melihatnya sudah sampai dalam kamarnya, merasa lega... Meski aku masih di dimensi ghoib ini.

Ketika aku hendak mengucap kalimat Hamdallah...

Tiba-tiba... Terasa kaku lidahku... Seolah seperti terkunci meskipun mampu kubuka mulutku!

Dan aku melihat Mas Iko di ujung sana, berteriak ke arahku...

"Mbak!! Awas!!"

Seketika itu juga... Tubuhku terasa terhempas oleh sesuatu dari arah depanku.

Dan terlempar kembali tubuhku ke dalam rumah itu.

GUBRAK!!! Tubuhku terjatuh dihempaskan ke lantai dalam rumah itu lagi.

"Akh!!!" aku menjerit merasakan sakit.

Dan, tiiba-tiba pintu depan itu tertutup dengan keras...

BRAKKK!!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!