“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04. Ciuman & Tamparan
Jantung Ragnar seolah bergetar tak karuan. Itu dia. Bukan ratunya yang dulu, bukan permaisuri dengan mahkota darah dan gaun malam. Namun jiwanya… jiwanya tak mungkin salah. Dunia boleh berubah, waktu boleh mengikis segalanya, tetapi jiwa itu tetap sama.
Tidak nyaman berada di sana, Ivory berniat pergi untuk mencari tempat yang lebih membuatnya nyaman. Namun, tiba-tiba langkahnya goyang, sebab dia tidak terbiasa mengenakan high heels. Ivory hampir saja terjatuh, jika saja sebuah tangan tidak merengkuh pinggangnya dan menopang tubuhnya.
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu,” ujar pria itu yang tidak lain adalah Ragnar Rowan Agharon.
Aula itu meledak dalam keheningan total. Puluhan pasang mata membelalak. Beberapa gelas jatuh. HRD hampir pingsan.
Sementara Elena, menatap tidak suka adiknya berada dalam pelukan pria itu… lagi. Ya, kini Elena semakin yakin bahwa selama ini mimpinya bukan sekadar bunga tidur belaka. Itu nyata. Atau mungkin itu adalah kehidupan masa lalu mereka yang kembali muncul dalam bentuk mimpi yang panjang.
“A—APA?!”
Ivory menegang, otaknya kosong. Bau pria asing, dingin tapi menenangkan… dan seolah kerinduan yang selama ini ia rasakan secara misterius perlahan menghilang dalam tatapan pria yang kini masih memeluk tubuhnya.
“Tunggu? Ini bosnya, bukan? CEO IE ROWAN Group. Orang nomor satu di perusahaan ini?”
Detik berikutnya Ivory segera teringat dengan Boss yang sempat dilihatnya kemarin. Wajahnya, postur tubuhnya sama persis dengan… pria yang saat ini masih memeluknya. Dan jangan lupakan tatapan semua orang yang kini tertuju pada mereka semua. Tatapan yang penuh rasa iri, terkejut, penasaran dan juga tatapan penuh kebencian kini bercampur jadi satu ia rasakan.
“Tuan! Tolong lepaskan saya!” bisiknya panik, suaranya seakan tenggelam di dada Ragnar.
Bukannya langsung melepaskan pelukan tersebut.
Ragnar malah memejamkan mata, menghirup aroma yang begitu ia rindukan selama ratusan tahun. “Kau masih sama. Bahkan tanpa ingatan, jiwamu tetap memanggilku. Dan aku tahu… ini memang kau, Ratuku!”
Bagi Ivory, itu bukan romantis. Itu menyeramkan, apalagi ditambah dengan tatapan semua orang yang terus tertuju padanya. Dengan seluruh tenaga, ia mendorong dada pria itu, melepaskan diri dari pelukan yang terlalu intim untuk ruang public atau ruang mana pun. Aula bergemuruh oleh bisikan panik.
“Te-terima kasih, sudah menolongku,” ucap Ivory tergagap, ia masih sadar berkat pria itu dirinya tidak jadi mencium lantai marmer dihadapan semua orang.
Namun, siapa sangka Ragnar kembali membawa tubuh Ivory dalam dekapannya. Tidak hanya itu, ia bahkan tanpa ijin langsung mencium bibirnya tanpa memperdulikan sekitarnya. Jelas Ivory semakin membulatkan kedua bola matanya… tak percaya. Lagi, Ivory kembali mendorong tubuh pria itu untuk melepaskan pelukan mereka.
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” katanya, wajahnya merah padam antara marah, malu, dan takut.
Tamparan keras menggema di seluruh ruangan. Ragnar terhuyung setengah langkah. Kepala keamanan langsung bergerak, para manajer menjerit tertahan, dan seseorang di belakang berbisik, “Itu… CEO ditampar?”
“Woah, berani sekali anak baru menampar boss!”
“Cihh, seharusnya dia merasa beruntung mendapat ciuman dari boss tampan sepertinya. Bukannya malah ditampar? Kalau aku pasti langsung menariknya ke dalam kamar.”
Ivory gemetar, menatap tangannya sendiri. “Saya—saya akan lapor HRD. Ini pelecehan!”
Namun alih-alih marah… Ragnar malah tersenyum. Senyum yang begitu lembut, begitu penuh cinta, hingga membuat semua orang semakin bingung. Terutama Ivory, dia bahkan sudah ketakutan setengah mati akan langsung dipecat. Padahal ini pekerjaan pertamanya yang berhasil dia dapatkan dengan susah payah, tapi pria itu tidak menunjukan raut wajah marah sedikitpun.
“Ah…” katanya pelan, menyentuh pipinya yang memerah. “Bahkan kemarahanmu pun terasa sama. Seperti dulu, saat aku mengabaikan keberadaan mu sebagai ratuku.”
Ivory hanya bisa melongo. “Hah?!”
Ragnar melangkah maju lagi, tapi kali ini berhenti satu langkah di depan Ivory, menunduk sedikit agar sejajar dengannya. Suaranya kini cukup keras untuk didengar semua orang. “Maafkan aku jika aku terlalu bersemangat dipertemuan pertama kita kembali. Aku hanya… merindukanmu. Sangat.”
Suasana menegang, absurd, dan anehnya cukup manis. Para karyawan saling berpandangan. Ada yang mulai merekam. Ada yang menahan tawa.
Ada pula yang berbisik, “Ini drama kantor atau serial fantasi?”
“Atau jangan-jangan anak baru itu kekasih Boss yang sedang magang di sini. Oleh karena itu, Boss mengatakan pesta penyambutan untuk para karyawan baru. Padahal sebelumnya tidak pernah, bukan?” celetuk yang lainnya.
Ivory menelan ludah, jantungnya berdebar kacau. Ia tak mengerti satu pun kata-kata pria ini. Tapi entah kenapa… ada perasaan aneh di dadanya. Hangat. Familiar dan juga… kerinduan. Padahal jelas Ivory merasa bahwa ini pertemuan mereka secara langsung. Ditambah kini orang-orang mulai mengira bahwa dirinya memiliki hubungan special dengan pria itu.
“Tuan CEO,” katanya tegas, menunjuk dadanya sendiri. “Saya tidak tahu siapa yang anda maksud sebagai ‘ratumu’ itu. Tapi saya Ivory Asteria, hanya karyawan baru di perusahaan anda. Dan saya harap kejadian ini… tidak terulang lagi di masa depan.”
Ragnar tertawa kecil. Tawa rendah yang membuat bulu kuduk merinding, namun juga menggelitik. “Baik, tapi aku juga tidak janji,” katanya sembari berjalan pergi dari aula pesta.
Sementara, Ivory hanya menatap kesal kepergian bosnya itu. Apalagi dengan ucapan terakhir yang pria itu berikan. “Apa katanya barusan? Tidak janji? Jadi, dia berniat mencium aku lagi begitu?”
“Rupanya benar apa yang peri masa depan itu katakan. Ivory tidak mengingat kehidupan masa lalunya sama sekali. Namun, tidak masalah! Dengan begini juga sudah cukup baik, kita bisa memulai semuanya dari awal lagi.” ucapnya dalam hati.
“Denzel, suruh dia datang ke ruanganku!” perintahnya kepada sang Sekertaris.
“Baik, Yang mulia!” sahut Denzel yang semakin tidak habis pikir dengan kelakuan rajanya.
Sebenarnya tidak hanya para karyawan yang terkejut dengan kejadian barusan. Baik Denzel, Dorian maupun Theron sama terkejutnya dengan mereka. Ketiga juga turut bahagia melihat Rajanya telah berhasil menemukan reinkarnasi dari sang Ratu. Akan tetapi, mereka masih menyimpan sedikit keraguan.
Sebab rupa, nama dan penampilan memang bisa sama persis, tetapi belum tentu bahwa wanita itu yang sedang mereka cari. Mereka harus memastikan apakah wanita bernama Ivory Asteria itu memiliki tanda khusus ditubuhnya seperti yang peri Holly katakan.
Theron dan Dorian segera menyusul Rajanya, sementara Denzel tetap tinggal untuk menyampaikan perintahnya.
...****************...
Sesampainya di dalam ruangan khusus Ceo, terlihat Ragnar yang masih tersenyum bahagia karena pencariannya akhirnya akan segera berakhir. Sebab kini dirinya telah berhasil menemukan reinkarnasi Ivory.
Sampai pertanyaan Dorian membuat senyuman tersebut luntur seketika. “Yang mulia, apakah anda yakin bahwa wanita tadi adalah reinkarnasi Ratu Ivory yang sebenarnya. Bukankah kita harus memastikan lebih dulu dengan tanda khusus yang pernah peri Holly katakan?”
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔