NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Saat mataku tidak ada di buku

Hari itu, Dio akhirnya masuk ke kelas setelah berjam-jam menjalani hukuman bersama Azmi.

Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.

Saat hendak duduk, pandangannya tanpa sadar tertuju ke arah meja Rahmalia. Namun yang duduk di sana justru Siva, yang langsung menangkap tatapan Dio.

“Apa?” tanya Siva dengan tatapan sinis.

Dio langsung memalingkan wajah, membalas dengan ekspresi tak kalah datar, lalu duduk di bangkunya sendiri.

Meski begitu, pikirannya tidak benar-benar kembali ke kelas.

“Kenapa?” Gina menoleh dari samping.

“Kok ngelamun?”

“Enggak,” jawab Dio singkat.

Gina diam sebentar, lalu bertanya lagi, seolah pura-pura santai.

“Emm… tadi Azmi udah beres ngumpulin sampahnya, kan? Sekarang udah masuk kelas?”

Dio mendengus pelan.

“Cih. Tau nggak, dia tuh curang. Dibantuin sama fans-fansnya yang caper, trash bag-nya langsung penuh.”

“Oh ya?,dia di bantu para cewe?” Gina langsung memasang wajah cemberut, terlalu cepat untuk sekadar penasaran.

Dio meliriknya sekilas. Ada sesuatu di ekspresi Gina yang membuatnya berhenti sejenak.

“Kenapa kamu nanyain dia?” tanya Dio pelan.

Sekejap, ekspresi Gina berubah. Wajahnya kembali datar, nyaris terlalu rapi.

“Eh… enggak kok,” jawabnya cepat.

“Cuma penasaran aja.”

Dio tidak membalas. Ia kembali menatap ke depan, sementara di sampingnya, Gina terdiam—menyimpan sesuatu yang belum siap ia ucapkan.

Beberapa menit kemudian, Rahmalia masuk ke kelas sambil membawa tumpukan buku PR yang sudah selesai diperiksa. Tanpa berpikir panjang, Dio langsung berdiri dari bangkunya.

“Sini, aku bantu,” ucapnya spontan.

Tangannya langsung mengambil sebagian besar buku, menyisakan satu buku paling bawah untuk Rahmalia.

“Eh, nggak perlu,” kata Rahmalia sedikit kaget.

“Nggak apa-apa,” jawab Dio santai.

Rahmalia melangkah ke depan kelas.

“Teman-teman, ini buku PR kalian yang sudah diperiksa dan diberi nilai oleh Bu Advena. Silakan dicek masing-masing.”

Sementara Rahmalia berbicara, Dio mulai membagikan buku-buku itu ke pemiliknya satu per satu.

“Nih bukumu,” katanya sambil tersenyum.

“Eh… yang ini punya kamu?” Dio tertawa kecil.

“Waduh, nilainya jeblok.”

Beberapa siswa tertawa, ada juga yang protes setengah bercanda. Suasana kelas mendadak lebih hidup.

Rahmalia memperhatikan dari tempatnya berdiri.

Bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

Ia melihat bagaimana Dio mudah akrab dengan siapa pun—tidak dibuat-buat, tidak berlebihan.

Cara Dio membantu tanpa diminta, bercanda tanpa menjatuhkan, membuat suasana terasa lebih ringan.

Dan entah kenapa, hal-hal kecil seperti itu selalu berhasil mencuri perhatiannya.

...----------------...

Jam istirahat pun tiba. Siva, Gina, dan Rahmalia berjalan menuju perpustakaan yang berada di bagian belakang sekolah.

Beberapa langkah di belakang mereka, Dio ikut menyusul tanpa banyak bicara.

“Serius lu mau ikut ke perpus?” tanya Siva sambil melirik ke belakang.

“Lah, masih nanya,” jawab Dio santai.

“Bagus dong kalau Dio ikut belajar,” kata Rahmalia sambil tersenyum.

“Siapa tahu nilainya naik.”

Gina melirik sekilas. “Aku sih nggak berharap nilai dia naik.”

“Lah, kok lu gitu sih, Gin?” protes Dio.

Gina tertawa kecil.

“Hahaha, bercanda.”

Mereka terus berjalan, sampai tiba-tiba langkah Gina melambat. Pandangannya tertuju ke arah sebuah ruangan di sisi koridor.

Di dalamnya, Azmi terlihat duduk sambil memainkan gitar. Petikan nadanya terdengar pelan, nyaris tenggelam di antara suara langkah siswa lain.

“Emm…” Gina berhenti.

“Kalian duluan aja. Aku ada urusan bentar.”

“Oke,” jawab Siva.

“Kita tunggu di perpus.”

“Iya, jangan lama-lama ya,” tambah Rahmalia.

“Iya,” balas Gina singkat.

Mereka pun berpisah di koridor.

Siva, Rahmalia, dan Dio melanjutkan langkah ke arah perpustakaan, sementara Gina berhenti sejenak—lalu berbelok menuju ruang gitar.

...----------------...

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di perpustakaan.

Ruangan itu terasa lebih sunyi dibanding lorong sekolah. Pendingin udara menyala pelan, membuat hawa di dalam terasa sejuk. Deretan rak buku menjulang di kiri dan kanan, Dipenuhi buku-buku dengan punggung usang yang menyimpan bau khas kertas lama.

Dio dan Siva langsung sibuk menyusuri rak, jari-jari mereka bergerak dari satu judul ke judul lain, sementara Rahmalia berjalan lebih pelan, matanya fokus membaca label di setiap rak.

“Lu serius mau baca?” Siva melirik sinis sambil menarik satu buku tebal dari rak.

“Nanya mulu, capek gue jawabnya,” kata Dio kesal.

“Sekali-sekali jadi manusia yang beradab, napa.”

Siva mendengus, lalu kembali fokus memilih buku.

Sementara itu, Dio berhenti di satu rak. Tangannya menyentuh punggung buku tanpa benar-benar membaca judulnya. Pandangannya justru beralih ke arah lain.

Rahmalia sudah duduk di salah satu meja dekat jendela.

Ia membaca dengan tenang, tubuhnya sedikit condong ke depan. Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela dan jatuh tepat di wajahnya, membuat kulit putihnya tampak lebih terang dari biasanya.

Bibirnya bergerak pelan, seolah tanpa sadar membacakan kalimat demi kalimat yang ia baca.

Ada kilau tipis di sana—bukan karena lipstik, tapi karena cahaya yang menyentuhnya dengan lembut.

Dio tidak berkedip.

Ada sesuatu yang selalu sama setiap kali ia melihat Rahmalia seperti itu. Tenang. Tidak tergesa. Seolah dunia di sekitarnya boleh ribut, tapi Rahmalia selalu punya ruang sendiri untuk diam.

“Heh,” suara Siva memecah lamunannya.

“Lu nemu buku apa belum?”

Dio tersentak kecil.

“Hah?”

“Buku,” ulang Siva datar.

“Lu dari tadi berdiri doang.”

“Oh,” Dio cepat-cepat menarik satu buku dari rak.

“Ini.”

Siva melirik sekilas.“Itu buku sejarah.”

“Bagus,” jawab Dio cepat.

“Biar gue keliatan pinter.”

Siva menghela napas panjang.

Dio melangkah ke salah satu meja baca, lalu duduk tidak terlalu jauh dari Rahmalia. Jaraknya pas—tidak mencolok, tapi cukup dekat untuk merasa hadir.

Ia membuka buku, lalu menunduk seolah tenggelam dalam bacaan.

Seolah.

Karena sejak awal, perhatiannya tidak pernah benar-benar ada di halaman itu.

Matanya lebih sering terangkat, berhenti pada satu pemandangan yang sama—cara Rahmalia membalik halaman dengan pelan, ekspresi wajahnya yang tenang, fokus yang tidak terganggu oleh apa pun di sekitarnya.

Ada sesuatu yang membuat Dio betah diam di tempat itu.

Sunyi perpustakaan terasa berbeda saat Rahmalia ada di sana. Tidak menekan. Tidak canggung.

Justru terasa… aman.

Tanpa ia sadari, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

Senyum yang bertahan terlalu lama.

Beberapa detik kemudian, Rahmalia berhenti

membalik halaman. Tangannya diam di atas buku. Ia menggeser posisi duduknya sedikit, lalu melirik sekilas ke arah Dio.

Hanya sekilas.

Namun cukup membuat Dio menegakkan punggung tanpa sadar, seolah baru tersadar sedang diperhatikan.

Rahmalia kembali menunduk ke bukunya.

Tidak berkata apa-apa.

Dio menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri, meski senyum kecil tetap lolos di ujung bibirnya.

Karena saat itu ia sadar—melihat Rahmalia dari balik buku ternyata jauh lebih berbahaya dari pada yang ia kira.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!