Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Saat mataku tidak ada di buku
Hari itu, Dio akhirnya masuk ke kelas setelah berjam-jam menjalani hukuman bersama Azmi.
Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.
Saat hendak duduk, pandangannya tanpa sadar tertuju ke arah meja Rahmalia. Namun yang duduk di sana justru Siva, yang langsung menangkap tatapan Dio.
“Apa?” tanya Siva dengan tatapan sinis.
Dio langsung memalingkan wajah, membalas dengan ekspresi tak kalah datar, lalu duduk di bangkunya sendiri.
Meski begitu, pikirannya tidak benar-benar kembali ke kelas.
“Kenapa?” Gina menoleh dari samping.
“Kok ngelamun?”
“Enggak,” jawab Dio singkat.
Gina diam sebentar, lalu bertanya lagi, seolah pura-pura santai.
“Emm… tadi Azmi udah beres ngumpulin sampahnya, kan? Sekarang udah masuk kelas?”
Dio mendengus pelan.
“Cih. Tau nggak, dia tuh curang. Dibantuin sama fans-fansnya yang caper, trash bag-nya langsung penuh.”
“Oh ya?,dia di bantu para cewe?” Gina langsung memasang wajah cemberut, terlalu cepat untuk sekadar penasaran.
Dio meliriknya sekilas. Ada sesuatu di ekspresi Gina yang membuatnya berhenti sejenak.
“Kenapa kamu nanyain dia?” tanya Dio pelan.
Sekejap, ekspresi Gina berubah. Wajahnya kembali datar, nyaris terlalu rapi.
“Eh… enggak kok,” jawabnya cepat.
“Cuma penasaran aja.”
Dio tidak membalas. Ia kembali menatap ke depan, sementara di sampingnya, Gina terdiam—menyimpan sesuatu yang belum siap ia ucapkan.
Beberapa menit kemudian, Rahmalia masuk ke kelas sambil membawa tumpukan buku PR yang sudah selesai diperiksa. Tanpa berpikir panjang, Dio langsung berdiri dari bangkunya.
“Sini, aku bantu,” ucapnya spontan.
Tangannya langsung mengambil sebagian besar buku, menyisakan satu buku paling bawah untuk Rahmalia.
“Eh, nggak perlu,” kata Rahmalia sedikit kaget.
“Nggak apa-apa,” jawab Dio santai.
Rahmalia melangkah ke depan kelas.
“Teman-teman, ini buku PR kalian yang sudah diperiksa dan diberi nilai oleh Bu Advena. Silakan dicek masing-masing.”
Sementara Rahmalia berbicara, Dio mulai membagikan buku-buku itu ke pemiliknya satu per satu.
“Nih bukumu,” katanya sambil tersenyum.
“Eh… yang ini punya kamu?” Dio tertawa kecil.
“Waduh, nilainya jeblok.”
Beberapa siswa tertawa, ada juga yang protes setengah bercanda. Suasana kelas mendadak lebih hidup.
Rahmalia memperhatikan dari tempatnya berdiri.
Bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.
Ia melihat bagaimana Dio mudah akrab dengan siapa pun—tidak dibuat-buat, tidak berlebihan.
Cara Dio membantu tanpa diminta, bercanda tanpa menjatuhkan, membuat suasana terasa lebih ringan.
Dan entah kenapa, hal-hal kecil seperti itu selalu berhasil mencuri perhatiannya.
...----------------...
Jam istirahat pun tiba. Siva, Gina, dan Rahmalia berjalan menuju perpustakaan yang berada di bagian belakang sekolah.
Beberapa langkah di belakang mereka, Dio ikut menyusul tanpa banyak bicara.
“Serius lu mau ikut ke perpus?” tanya Siva sambil melirik ke belakang.
“Lah, masih nanya,” jawab Dio santai.
“Bagus dong kalau Dio ikut belajar,” kata Rahmalia sambil tersenyum.
“Siapa tahu nilainya naik.”
Gina melirik sekilas. “Aku sih nggak berharap nilai dia naik.”
“Lah, kok lu gitu sih, Gin?” protes Dio.
Gina tertawa kecil.
“Hahaha, bercanda.”
Mereka terus berjalan, sampai tiba-tiba langkah Gina melambat. Pandangannya tertuju ke arah sebuah ruangan di sisi koridor.
Di dalamnya, Azmi terlihat duduk sambil memainkan gitar. Petikan nadanya terdengar pelan, nyaris tenggelam di antara suara langkah siswa lain.
“Emm…” Gina berhenti.
“Kalian duluan aja. Aku ada urusan bentar.”
“Oke,” jawab Siva.
“Kita tunggu di perpus.”
“Iya, jangan lama-lama ya,” tambah Rahmalia.
“Iya,” balas Gina singkat.
Mereka pun berpisah di koridor.
Siva, Rahmalia, dan Dio melanjutkan langkah ke arah perpustakaan, sementara Gina berhenti sejenak—lalu berbelok menuju ruang gitar.
...----------------...
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di perpustakaan.
Ruangan itu terasa lebih sunyi dibanding lorong sekolah. Pendingin udara menyala pelan, membuat hawa di dalam terasa sejuk. Deretan rak buku menjulang di kiri dan kanan, Dipenuhi buku-buku dengan punggung usang yang menyimpan bau khas kertas lama.
Dio dan Siva langsung sibuk menyusuri rak, jari-jari mereka bergerak dari satu judul ke judul lain, sementara Rahmalia berjalan lebih pelan, matanya fokus membaca label di setiap rak.
“Lu serius mau baca?” Siva melirik sinis sambil menarik satu buku tebal dari rak.
“Nanya mulu, capek gue jawabnya,” kata Dio kesal.
“Sekali-sekali jadi manusia yang beradab, napa.”
Siva mendengus, lalu kembali fokus memilih buku.
Sementara itu, Dio berhenti di satu rak. Tangannya menyentuh punggung buku tanpa benar-benar membaca judulnya. Pandangannya justru beralih ke arah lain.
Rahmalia sudah duduk di salah satu meja dekat jendela.
Ia membaca dengan tenang, tubuhnya sedikit condong ke depan. Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela dan jatuh tepat di wajahnya, membuat kulit putihnya tampak lebih terang dari biasanya.
Bibirnya bergerak pelan, seolah tanpa sadar membacakan kalimat demi kalimat yang ia baca.
Ada kilau tipis di sana—bukan karena lipstik, tapi karena cahaya yang menyentuhnya dengan lembut.
Dio tidak berkedip.
Ada sesuatu yang selalu sama setiap kali ia melihat Rahmalia seperti itu. Tenang. Tidak tergesa. Seolah dunia di sekitarnya boleh ribut, tapi Rahmalia selalu punya ruang sendiri untuk diam.
“Heh,” suara Siva memecah lamunannya.
“Lu nemu buku apa belum?”
Dio tersentak kecil.
“Hah?”
“Buku,” ulang Siva datar.
“Lu dari tadi berdiri doang.”
“Oh,” Dio cepat-cepat menarik satu buku dari rak.
“Ini.”
Siva melirik sekilas.“Itu buku sejarah.”
“Bagus,” jawab Dio cepat.
“Biar gue keliatan pinter.”
Siva menghela napas panjang.
Dio melangkah ke salah satu meja baca, lalu duduk tidak terlalu jauh dari Rahmalia. Jaraknya pas—tidak mencolok, tapi cukup dekat untuk merasa hadir.
Ia membuka buku, lalu menunduk seolah tenggelam dalam bacaan.
Seolah.
Karena sejak awal, perhatiannya tidak pernah benar-benar ada di halaman itu.
Matanya lebih sering terangkat, berhenti pada satu pemandangan yang sama—cara Rahmalia membalik halaman dengan pelan, ekspresi wajahnya yang tenang, fokus yang tidak terganggu oleh apa pun di sekitarnya.
Ada sesuatu yang membuat Dio betah diam di tempat itu.
Sunyi perpustakaan terasa berbeda saat Rahmalia ada di sana. Tidak menekan. Tidak canggung.
Justru terasa… aman.
Tanpa ia sadari, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Senyum yang bertahan terlalu lama.
Beberapa detik kemudian, Rahmalia berhenti
membalik halaman. Tangannya diam di atas buku. Ia menggeser posisi duduknya sedikit, lalu melirik sekilas ke arah Dio.
Hanya sekilas.
Namun cukup membuat Dio menegakkan punggung tanpa sadar, seolah baru tersadar sedang diperhatikan.
Rahmalia kembali menunduk ke bukunya.
Tidak berkata apa-apa.
Dio menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri, meski senyum kecil tetap lolos di ujung bibirnya.
Karena saat itu ia sadar—melihat Rahmalia dari balik buku ternyata jauh lebih berbahaya dari pada yang ia kira.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔