"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pemenang yang Tak Terjangkau
Aula utama St. Jude’s Academy kembali dipenuhi ketegangan. Cahaya lampu gantung kristal memantul di lantai kayu yang mengkilap. Victor duduk di barisan depan, namun pikirannya tidak lagi pada acara tersebut. Ia terus melirik ke arah samping, tempat Achell duduk di antara Julian dan Sophie. Mereka bertiga tampak asyik berbisik dan sesekali tertawa kecil, mengabaikan keberadaannya sepenuhnya.
"Victor, kenapa kau gelisah sekali?" bisik Clara sembari mencoba meraih tangan Victor kembali.
Victor hanya menarik napas panjang tanpa menjawab. Matanya tertuju pada tangan Julian yang sesekali menyentuh pundak Achell untuk memberikan semangat. Ada denyut kemarahan yang tidak masuk akal di pelipis Victor.
"Dan pemenang utama The Grand Laureate tahun ini, yang akan mendapatkan beasiswa penuh serta medali kehormatan adalah..." Kepala Sekolah berhenti sejenak untuk membangun drama. "...Gabriella Rachel!"
Tepuk tangan pecah. Sophie berteriak histeris kegirangan, sementara Julian berdiri dan memberikan pelukan singkat yang hangat kepada Achell sebelum gadis itu melangkah ke panggung.
Victor berdiri, hendak bertepuk tangan dengan bangga—sebuah insting alami karena merasa Achell adalah "miliknya". Namun, langkahnya terhenti saat melihat Achell naik ke panggung dengan dagu tegak. Gadis itu menerima medali dan piagam, lalu berdiri di depan mikrofon untuk memberikan pidato singkat.
"Terima kasih," suara Achell terdengar jernih dan stabil melalui pengeras suara. "Penghargaan ini saya dedikasikan untuk dua orang yang selalu ada di samping saya saat dunia terasa sepi. Sophie dan Julian... terima kasih telah menjadi rumah bagiku."
Hening sejenak bagi Victor. Namanya tidak disebut. Bahkan sekadar "keluarga" pun tidak.
Achell melanjutkan, matanya menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat di mata Victor, namun tanpa binar pemujaan yang dulu selalu ada. "Pencapaian ini membuktikan padaku bahwa aku tidak butuh pengakuan dari orang yang hanya menganggapku sebagai beban atau lelucon. Aku adalah tuan bagi diriku sendiri."
Setelah turun dari panggung, bukannya menghampiri Victor untuk memamerkan medali itu—seperti yang dulu selalu ia lakukan saat mendapat nilai bagus—Achell justru berjalan lurus ke arah Sophie dan Julian. Mereka bertiga berpelukan di tengah aula.
Victor yang sudah tidak tahan lagi, melangkah mendekat dengan langkah lebar. Clara terseok-seok mengekor di belakangnya.
"Achell," panggil Victor. Suaranya berat, menghentikan keriuhan kecil di lingkaran sahabat itu.
Achell berbalik, wajahnya tenang. "Ya, Uncle? Ada apa? Bukankah kau harus segera pergi ke restoran Prancis itu?"
"Selamat atas kemenanganmu," ucap Victor, matanya melirik tajam ke arah Julian. "Sebagai wali, aku merasa kita perlu merayakan ini secara pribadi. Ikutlah dengan kami makan malam."
Sophie langsung mendengus keras. "Maaf, Tuan Edward yang Terhormat. Tapi kami sudah punya rencana sendiri. Kami akan merayakannya di kedai cokelat dekat asrama. Tanpa... tamu tambahan."
Victor menatap Sophie dengan tatapan mengintimidasi, namun Sophie tidak bergeming sedikit pun. "Aku bicara dengan Achell, bukan denganmu," desis Victor.
Achell meletakkan tangannya di lengan Sophie, menenangkannya, lalu menatap Victor dengan senyum sopan. "Maaf sekali, Uncle. Tapi Sophie benar. Aku sudah berjanji pada mereka. Mereka adalah orang-orang yang mendukungku setiap malam saat aku merasa tidak berharga. Jadi, rasanya tidak adil jika aku meninggalkan mereka sekarang."
"Achell, jangan keras kepala. Aku sudah meluangkan waktu—"
"Dan aku sangat menghargainya, Uncle Victor," potong Achell halus. "Tapi seperti yang Uncle bilang dulu... waktu adalah uang. Jangan buang uangmu hanya untuk merayakan sesuatu dengan 'anak kecil yang berbau susu'. Nikmatilah malammu dengan Nona Clara."
Achell berbalik arah. "Ayo, Soph. Julian. Aku sudah lapar."
"Achell!" panggil Victor lagi, namun kali ini suaranya mengandung nada putus asa yang jarang terdengar.
Achell berhenti sejenak tanpa menoleh. "Oh, satu lagi, Uncle. Besok aku tidak perlu dijemput supir untuk liburan semester. Aku akan tinggal di asrama untuk mengambil kelas tambahan. Jadi, Uncle bisa fokus pada bisnis dan... kehidupan pribadi Uncle."
Achell, Sophie, dan Julian berjalan keluar dari aula, meninggalkan Victor yang berdiri mematung di tengah kerumunan. Clara mencoba menyentuh lengan Victor, namun pria itu menepisnya dengan kasar.
"Kau benar-benar tumbuh besar, Achell," bisiknya pahit. "Dan kau melakukannya tanpa aku."