"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29
Setelah malam panjang yang memulihkan segala keraguan, pagi di London terasa jauh lebih cerah. Alkan terbangun dengan perasaan ringan yang belum pernah ia rasakan selama sepuluh tahun terakhir. Di sampingnya, Sasya masih tertidur pulas dengan rona merah yang masih tersisa di pipinya—jejak dari hubungan intens semalam.
Alkan mengecup dahi istrinya, lalu bangkit dengan perlahan agar tidak mengusik tidur lelap Aidan. Hari ini adalah hari besar. Hari di mana gelar Profesor Kehormatan akan dikukuhkan secara resmi di aula agung Imperial College London.
Suasana apartemen menjadi sibuk sejak pukul delapan pagi. Sasya, yang sudah pulih total, tampak anggun mengenakan kebaya modern berwarna navy yang ia bawa dari Jakarta, dipadukan dengan kain batik tulis. Sementara itu, Aidan kecil tampak menggemaskan dengan setelan jas bayi mungil berwarna abu-abu.
"Mas, kancingnya miring," tegur Sasya lembut sambil merapikan kemeja Alkan.
Alkan menunduk, menatap Sasya dengan tatapan yang masih penuh gairah sisa semalam. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Sasya, menariknya mendekat hingga tak ada jarak. "Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Prof. Sasya."
"Eh, aku kan belum Profesor," canda Sasya.
"Bagi saya, kamu adalah Profesor dalam urusan menaklukkan hati saya yang paling kaku," bisik Alkan, mencuri satu kecupan singkat di bibir Sasya sebelum Aidan mulai merengek minta digendong.
Aula Great Hall dipenuhi oleh para akademisi ternama dunia, jajaran petinggi universitas, dan perwakilan kedutaan besar. Alkan berdiri di atas podium, mengenakan jubah akademik berwarna merah marun dengan medali emas yang melingkar di lehernya.
Saat gilirannya berpidato, Alkan tidak memulai dengan deretan rumus atau data siber. Ia mengarahkan pandangannya ke barisan terdepan, tempat Sasya duduk sambil memangku Aidan yang tenang dalam tidurnya.
"Banyak orang bertanya, apa kunci dari keamanan sistem yang paling kuat?" suara Alkan menggema mantap melalui pengeras suara. "Dulu, saya akan menjawab: Enkripsi berlapis. Namun hari ini, saya sadar bahwa sistem terkuat di dunia adalah Keluarga. Karena di sanalah ada kejujuran yang tidak bisa diretas, dan kasih sayang yang tidak memiliki celah keamanan."
Sasya merasakan matanya memanas. Ia melihat pria yang dulu sangat ia takuti di ruang sidang skripsi, kini berdiri dengan gagah mengakui kekuatannya di hadapan dunia.
"Gelar ini saya dedikasikan untuk istri saya, Sasya Kirana, yang telah mengajarkan saya bahwa logika tanpa rasa adalah algoritma yang cacat. Dan untuk putra saya, Aidan, masa depan yang akan meneruskan setiap baris doa yang kami panjatkan."
Tepuk tangan membahana memenuhi aula. Alkan turun dari podium dan hal pertama yang ia lakukan adalah menghampiri Sasya, lalu mencium keningnya di hadapan seluruh hadirin.
Setelah acara formal selesai dan banyak kolega yang memberikan selamat, Alkan membawa keluarganya kembali ke apartemen. Ia mematikan semua notifikasi di ponselnya.
"Mas, hari ini Mas jadi bintang dunia," ujar Sasya sembari meletakkan Aidan di tempat tidurnya.
Alkan melepas jubah kebesarannya, lalu mendekati Sasya dari belakang, memeluknya erat. "Bintang dunia itu tidak ada artinya kalau tidak punya rumah untuk pulang, Sya."
Meski lelah setelah acara panjang, kehadiran Sasya yang tampak begitu cantik dalam balutan kebaya membuat Alkan kembali merasakan getaran yang sama seperti semalam. Ia mulai menciumi bahu Sasya yang terbuka sedikit, tangannya bergerak posesif.
"Mas... bukannya harusnya istirahat?" Sasya berbalik, meski tangannya sudah mulai bermain di kerah baju Alkan.
"Ini adalah cara istirahat terbaik seorang Profesor," jawab Alkan dengan suara rendah.
Malam itu, di bawah langit London yang bertabur bintang, mereka kembali merayakan keberhasilan tersebut dengan keintiman yang penuh rasa syukur. Penyatuan mereka kali ini terasa lebih tenang namun tetap panas, sebuah perayaan atas gelar baru Alkan dan peran baru mereka sebagai orang tua yang tangguh.
Keesokan paginya, sebuah panggilan video masuk dari Rektor Universitas di Jakarta.
"Selamat, Prof. Alkan! Kami bangga sekali. Namun, negara membutuhkan Anda kembali. Ada posisi Menteri Muda di bidang Teknologi dan Keamanan Siber yang sedang disiapkan untuk Anda di kabinet baru tahun depan. Apakah Anda siap pulang?"
Alkan menatap Sasya. Tantangan baru telah muncul. Dari ruang kelas, ke laboratorium London, dan kini menuju kursi kekuasaan di tanah air.