NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP10

Menjelang subuh, Pulau Darasila masih setengah hidup. Nyiur melambai-lambai di pinggiran pantai, dan di ujung dermaga — seseorang tengah berjaga dengan tatapan waspada.

Pria bertubuh tambun yang merupakan salah satu anggota sindikat, menatap laut sambil menguap kecil. Sesekali ia melenggang santai, sampai matanya menangkap gerakan di kejauhan. Sebuah speedboat melaju cepat ke arah pulau.

Ia melirik arloji emas di pergelangan tangan, lalu bergumam, “Belum waktunya para tamu elit tiba. Penyusup kah?”

Refleks, pria itu mengangkat senjata api, bersiaga. Dari lensa scope, ia memastikan siapa yang datang. Cukup lama karena minim cahaya, namun beberapa detik kemudian, pria itu terkesiap lalu cepat-cepat menurunkan senjata. Ternyata, salah satu tamu elit tiba lebih awal menggunakan kendaraan pribadi.

Ketika speedboat merapat dan mesin dimatikan, si penjaga dermaga sempat merinding sesaat. Jantungnya berdebar ketika sang tamu elit berkulit pucat berjalan mendekat. Sepasang mata ambernya yang tajam berkilat seperti elang mengintai mangsa.

Dari sekian banyak tamu elit yang pernah ia kawal saat memburu dan membunuh mangsa, hanya sosok di hadapannya inilah yang memberi kesan berbeda—begitu sadis menurutnya, membuatnya tak sanggup menatap terlalu lama dan terpaksa memalingkan pandangan.

Namanya Edwin. Di berkas lama, ia tercatat sebagai narapidana kasus pembunuhan keji di sebuah kota terpencil di Indonesia, belasan tahun silam. Dalam laporan resmi, Edwin dinyatakan tewas kecelakaan. Namun kematian itu hanyalah rekayasa. Sang nenek memalsukannya, lalu mengirim cucunya ke Amerika untuk membangun hidup baru dengan identitas lain — Keenan.

“Mr.Kee,” sapa penjaga dermaga itu. “Anda tiba lebih awal. Sepertinya sudah tak sabar untuk bersenang-senang, ya?”

Pria tambun itu berusaha tersenyum ramah, tanpa menyadari bahwa di balik tubuh pria di hadapannya, sebuah benda tajam telah digenggam mantap.

“Kau benar.” Edwin menyeringai lebar, raut dingin berubah seram. “Aku memang sudah tak sabar.”

Edwin menoleh sekilas ke arah penginapan di kejauhan. Lalu matanya mengedar cepat menyapu sekitar dermaga, memastikan hanya pria di hadapannya yang berjaga — tak ada orang lain yang perlu disingkirkan.

Edwin menoleh ke belakang lalu mengangguk. Di atas speedboat, sang nakhoda langsung menangkap isyarat itu. Sebuah anggukan singkat dibalas, mesin dinyalakan, lalu perahu motor meluncur menjauh, meninggalkan riak tipis di permukaan air.

Kejadian singkat itu membuat raut ramah sang penjaga mendadak berubah gusar.

“Mr.Kee, apa maksud Anda?! Anda jelas tau, tak ada yang boleh keluar dari Pulau Darasila kecuali dengan syarat. Aturan itu jelas dan mutlak. Kalau ketua sampai tau—”

SLASH!

Pisau dalam genggaman Edwin melesat cepat bagaikan kilat.

Penjaga dermaga itu tersentak, matanya membeliak. Kedua tangannya refleks meraba kulit dagu hingga kening yang sudah terkoyak, aroma darah yang menguar amat menyengat. Pria tambun itu sontak terhuyung satu langkah ke belakang, lututnya goyah.

Dengan wajah minim ekspresi, Edwin menerjangnya. Tubuh si penjaga terhempas ke papan dermaga. Tapak sepatu Edwin menekan wajah yang sudah koyak itu, membuat tubuh di bawahnya menegang, disertai jeritan pilu yang teredam oleh deru ombak.

Setelah cukup lama menginjak wajah, Edwin berpindah ke bawah kaki. Ia membungkuk, lalu dengan keji menancapkan ujung pisau ke pangkalan paha, kemudian menyeret benda tajam itu hingga ke tulang kering — pisaunya berputar-putar di titik itu, mencungkil daging melekat di tulang.

Jeritan si penjaga membahana, bibir yang terbelah bergetar, tubuh pun menggelepar.

“T-tolong ... jangan bunuh aku,” ringisnya parau. “Aku cuma anjing penjaga pulau. Biarkan aku hidup ....”

Permohonan itu meluncur pada sosok yang bahkan tak mengenal arti belas kasihan. Edwin menghela napas panjang, berjongkok dengan kepala miring — dipandanginya kaki berlubang.

“Padahal aku sedang sangat sangat jengkel,” ujarnya santai. “Aku cuma ingin menghibur diri dengan bermain sebentar denganmu. Tapi kau sudah lebih dulu mengeluh.”

Edwin berdiri, memandangi pria itu lama. Kemudian ia mengitari tubuh si penjaga hingga langkahnya berhenti tepat di belakangnya.

“Baiklah,” ucapnya sembari membantu pria itu bangkit duduk.

Si penjaga sempat menghembus napas lega. Namun ketika tiba-tiba tangan Edwin menjambak rambut kusutnya hingga kepalanya mendongak ke belakang, tubuhnya kembali menegang.

“Karena aku sedang bermurah hati,” sambung Edwin sambil tersenyum miring. “Aku akan mempermudah kematianmu.”

Edwin mengarahkan benda tajam dalam genggaman ke arah leher sang penjaga dermaga, lalu menusuk dan menggorok berulang-ulang.

Brugh!

Ketika leher terputus, tubuh sang penjaga pun tumbang.

Sambil menghindar area terpantau cctv, ia pun berjalan santai menuju penginapan satu-satunya di pulau itu sambil menenteng kepala.

Dari jarak 50 meter, ia dapat menangkap sosok pria berdiri di depan bangunan penginapan. Meskipun wajah tak tampak jelas, tetapi dari postur hingga gerak-gerik, Edwin sudah bisa menebak siapa gerangan sosok tersebut.

“Ck, si kompeng itu,” cibirnya.

Edwin dan Abirama memang sudah saling mengenal sejak lama—sejak masa ketika Abirama masih gemar mengalungkan kompeng di leher dan membawanya ke mana pun pergi. Persahabatan mereka terbilang aneh, yang satu seorang detektif, sementara satunya lagi psikopat gila.

Ketika lampu penginapan mendadak padam, Edwin refleks menyingkir dan bersembunyi di balik deretan semak tinggi di sisi bangunan. Ia mengamati sekitar, menunggu hingga keadaan kembali aman.

Tak lama kemudian, lampu menyala kembali.

Edwin bersiap melangkah, berniat menyusul Abirama setelah dua pria bertubuh besar keluar dari penginapan sambil mendorong troli. Namun niat itu urung. Dari sudut pengamatannya, seorang gadis muda tampak berjalan mengendap-endap di halaman, langkahnya hati-hati sebelum menyelinap masuk ke dalam bangunan.

Beberapa detik setelah gadis itu menghilang di balik pintu kaca penginapan, Edwin bergerak. Langkahnya cepat, lalu melambat saat memasuki lobi. Ia berhenti di meja resepsionis, tatapannya jatuh pada buku catatan tamu yang terbuka.

“Lantai tiga rupanya,” gumamnya pelan.

Ia kembali berjalan menuju tangga darurat membawa kepala penjaga dermaga yang masih tertenteng dalam genggaman.

“Din, to-long buka tali pinggang ku dong.”

Plak!

Edwin yang bersembunyi di balik dinding ikut meringis saat mendengar betapa renyahnya suara tamparan itu.

“Jangan kurang ajar, ya, Mas! Ini pelecehan namanya!”

Mendengar itu, bibir Edwin mengangak lebar, tertawa tanpa suara. Lalu, ia kembali fokus menguping.

“Udah tugasku mengayomi masyarakat, yang penting ... kamu pulang dengan selamat. Sekarang, ayo kita pergi. Kita cari Bu Niken, dia akan bantu kamu pulang.”

Pffftt!

Edwin benar-benar tak tahan lagi, tawanya menyembur begitu saja. Lalu, ia berdiri di ambang pintu.

“Romantis juga ya kalian,” ledeknya lalu melempar kepala penjaga hingga bergelinding ke kaki Abirama. “Itu hadiah pernikahan dari ku. Ku beri lebih awal sebelum hubungan kalian berlanjut ke jenjang yang serius.”

Melihat kepala tanpa badan, berlumur darah dengan mata terbelalak lebar, sontak Dinda menjerit, “AAAAAAAAAA~~~!”

Abirama cepat membungkam mulut Dinda dengan telapak tangan, Dinda pingsan.

Abirama memapah dan membaringkan Dinda di atas ranjang. Lalu menatap sinis ke arah Edwin. Ia berjalan cepat mendekati sahabatnya, menarik kerah baju sambil mendesis.

“Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini, Ed?! Apa kau memang salah satu dari mereka?!”

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!