Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Elia mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak dan menutup laptopnya. Saat pintu dibuka, Dave sudah berdiri di hadapannya dengan setelan rapi namun tetap terkesan kasual. Pemandangan itu sontak memunculkan tanda tanya di benak Elia.
“Dave, kau mau ke mana malam-malam begini?” tanyanya.
“Aku mau bertemu dengan teman-temanku,” jawab Dave datar sambil mengenakan sepatu.
“Ke mana? Bolehkah aku ikut?” tanya Elia.
Dave melirik ke arah Elia dengan tatapan sinis. “Tidak.”
“Memangnya siapa teman yang kau maksud itu, Dave? James, Erik, atau Albert?” Elia mencoba menebak, karena hanya ketiga pria itu yang ia kenal dekat dengan Dave.
“Bukan urusanmu. Lagi pula, sekarang kau semakin ingin tahu urusanku, ya?” ucap Dave dingin. “Oh, satu hal lagi. Besok pagi kau tidak perlu datang ke kantor. Kau bisa mengerjakannya secara online.”
Usai mengatakan itu, Dave langsung pergi begitu saja, tanpa pamit dan tanpa menjelaskan ke mana tujuan langkahnya malam itu.
“Kenapa perasaanku mendadak tidak enak, ya?” gumam Elia pada dirinya sendiri.
Ia sempat terpikir untuk membuntuti Dave, namun niat itu urung ketika teringat mobilnya masih berada di bengkel.
“Ah! Kenapa aku tidak bertanya saja pada Erik? Aku kan punya kontaknya,” ucapnya pelan.
Elia kembali masuk ke kamar, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja nakas. Namun saat ia mencoba menghubungi dokter bedah itu, yang terdengar hanyalah suara operator telepon.
Mobil Dave berhenti tepat di area parkir apartemen Bianca. Tak lama kemudian, wanita itu muncul mengenakan dress merah dengan potongan lengan rendah yang menonjolkan pesonanya.
“Uh! Kau harum sekali, sayangku,” puji Dave saat Bianca masuk ke dalam mobil. Keduanya sejenak saling menyatukan bibir.
“Sayang, kita bisa lanjutkan ini setelah pulang,” ujar Bianca sambil menahan tubuh bidang Dave yang kembali ingin menciumnya.
Dave terkekeh pelan. “Baiklah, sayang. Sekarang katakan padaku, kau ingin ke mana malam ini?”
“Aku ingin dinner romantis bersamamu di restoran yang elit dan mewah,” jawab Bianca terus terang.
Dave mengecup punggung tangan Bianca. “Apapun untukmu, sayang.”
Mobil melaju meninggalkan halaman apartemen. Keduanya sesekali saling berpegangan tangan sambil menyanyikan lagu-lagu romantis yang diputar dari pemutar musik. Namun, saat terdengar sebuah lagu yang pernah dinyanyikan Elia kala itu, Dave dengan cepat memindahkan ke lagu berikutnya.
“Sayang, kenapa diganti? Lagu tadi enak,” ucap Bianca, lalu mengembalikan pemutar musik ke lagu sebelumnya.
Dave menarik napas pelan. “Aku tidak suka lagu ini.”
“Kenapa? Apa kau punya kenangan dengan mantan kekasihmu dulu, atau—”
“Aku jadi teringat mendiang ibuku,” potong Dave dengan suara rendah.
Ia terpaksa berbohong dengan menjual nama ibunya. Jika mengatakan yang sebenarnya, Bianca pasti akan marah, dan suasana malam itu akan berubah menjadi tidak menyenangkan.
Bianca mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak dan menatap Dave lekat-lekat. “Maaf, sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ya sudah, aku ganti lagunya,” ucapnya lembut. Dave membalas nya sambil menyandarkan kepala Bianca di pundak nya dan mengecup puncak kepala wanita itu.
“Kita sudah sampai, sayang,” ucap Dave sambil menarik rem tangan.
Bianca membuka kaca jendela mobil dan menatap bangunan restoran itu. Dari luar, tempat tersebut tampak begitu mewah dan berkelas. “Wah! Aku jadi tidak sabar ingin segera mencicipi setiap menunya,” ucapnya dengan antusias.
“Kau bisa memesan apa pun yang kau mau di dalam, sayang. Ayo, sekarang kita turun,” ujar Dave.
Dave keluar lebih dulu, lalu berlari kecil mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Bianca.
“Silakan, Tuan Putri,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Bianca menyambutnya dengan senyum.
Tanpa mereka sadari, tepat di belakang mobil, ada seseorang yang tengah mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
Seorang pria dengan senyum mematikan. Wajahnya ditumbuhi helaian bulu, sengaja dibiarkan untuk menyamarkan penampilannya.
“Joe ayo kita ikuti mereka. Pastikan mereka tidak curiga,” ucapnya pelan.
“Baik, Tuan,” sahut seseorang di sampingnya.
Keduanya turun dari mobil dengan penyamaran masing-masing.
Di depan pintu masuk, seorang pelayan wanita menyambut mereka dengan ramah, lalu mengantarkan ke meja yang cocok untuk pasangan.
Lokasi itu berada tepat di lantai delapan, dengan pemandangan kota Bangkok yang membentang indah di malam hari. Di atas meja telah tersedia lilin aromaterapi, menciptakan suasana hangat. Lampu-lampu temaram menambah kesan nyaman, sementara keheningan terasa karena tidak banyak pengunjung malam itu.
Seorang pelayan yang berjaga segera menghampiri dan menyerahkan buku menu. Dave memilih paket spesial untuk berdua, lengkap dengan sebotol wine. Setelah mencatat pesanan Dave, pelayan itu pun berlalu.
Pandangan Bianca tak lepas dari indahnya suasana restoran tersebut. Ia bangkit dari kursinya dan merekam momen itu menggunakan kamera ponsel.
“Dave,” serunya sambil melambaikan tangan.
Dave yang melihatnya hanya tertunduk malu. Ia memang tidak begitu senang jika wajahnya terekspos.
Tak lama kemudian, terdengar langkah sepatu memasuki ruangan yang sama. Bianca melirik sekilas ke arah sumber suara itu. Ia memperhatikan dua pria bertubuh tinggi, hampir setara dengan Dave. Namun, kedua pria itu sama sekali tidak memperhatikan Bianca.
“Kita duduk di sini saja. Tidak terlalu dekat, tapi tetap bisa diawasi,” ucap salah satu dari mereka.
“Baik, Tuan,” jawab yang lain singkat.
....
Sementara itu, di tempat lain, jantung Elia berdegup tak karuan. Ia kembali mencoba menghubungi Erik, namun hasilnya tetap sama—ponsel pria itu tidak aktif. Elia juga sempat mengirim pesan kepada Dave, tetapi tak kunjung mendapat balasan.
Kenapa firasatku mendadak tidak enak begini, ya? gumamnya dalam hati.
Tatapan Elia terus mengarah ke luar, berharap mobil Dave segera memasuki halaman. Namun kenyataannya nihil, tak ada satu pun kendaraan yang datang.
Lisa, yang masih terjaga, melihat Elia duduk gelisah di ruang depan.
“Nyonya, sedang apa di sini?” tanyanya lembut.
“Aku sedang menunggu Dave pulang,” jawab Elia dengan pandangan yang tampak kosong.
“Memangnya Tuan Dave ke mana, Nyonya?”
“Dia bilang ingin menemui teman-temannya. Tapi setahuku, teman-teman Dave itu tiga dokter yang pernah kutemui saat makan siang bersama,” jelas Elia.
Lisa mengangguk pelan. “Mungkin sebentar lagi Tuan Dave pulang. Lebih baik Nyonya beristirahat sekarang, atau mau saya buatkan susu hangat?”
Elia terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil.
“Boleh, tolong buatkan aku susu hangat ya, Lis,” pintanya.
“Siap, Nyonya,” jawab Lisa, lalu melangkah pergi.
....
Pesanan untuk Dave dan Bianca pun akhirnya dihidangkan. Irisan daging wagyu yang tebal dengan tingkat kematangan medium tampak menggoda. Aromanya begitu menguar, membuat siapa pun tak sabar untuk segera menyantapnya.
“Uh!” Bianca sampai memejamkan mata saat mengunyah daging yang kenyal, hampir selembut jelly. “Ini enak sekali, sayang,” ujarnya puas.
Dave tersenyum sambil mengangguk pelan. “Tentu. Ini restoran favorit keluargaku. Kami sering berkunjung ke sini, tapi baru kali ini aku kembali makan di sini.”
“Wah, keluargamu memang punya selera yang tinggi,” ucap Bianca dengan nada penuh arti.
Ucapan itu membuat Bianca semakin tak sabar untuk segera menyingkirkan Elia. Mengingat Sarah sudah tidak ada, ia merasa tak ada lagi penghalang untuk sepenuhnya menguasai Dave.
Iringan musik yang merdu kian menambah suasana romantis malam itu. Dentingan gelas berisi anggur mahal menjadi pelengkap kebahagiaan Dave dan Bianca.
Keduanya pun tak segan menunjukkan kemesraan. Bibir mereka saling menaut, seolah menyesap anggur dari mulut satu sama lain.
“Sialan!” gumam Alex sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Joe, selaku asistennya, berusaha menenangkannya agar tetap bersabar.
Ya, Alex memang sempat ditahan atas tuduhan pelecehan dan tindakan tidak menyenangkan. Namun kini ia telah bebas. Dengan kuasa dan jaringan yang dimilikinya, tak butuh waktu lama baginya untuk keluar dari jeruji besi.
Puas menghabiskan waktu berdua dengan dinner romantis, Dave dan Bianca memutuskan untuk pulang. Dave bahkan telah berjanji akan bermalam di tempat Bianca malam ini, tanpa memedulikan Elia yang mungkin masih menunggunya di rumah hingga terkantuk-kantuk.
Tak lama setelah Dave dan Bianca meninggalkan restoran, Alex dan Joe pun bangkit dari tempat duduk mereka. Keduanya tak boleh kehilangan jejak.
“Malam ini juga pria itu akan habis di tanganku,” ujar Alex sambil tertawa puas. Ia tak sabar membayangkan Bianca berlutut di hadapannya, saat tak ada lagi yang melindunginya.
Mobil Dave dan Bianca melaju keluar dari area parkir restoran. Keduanya sama sekali belum menyadari bahwa mereka sedang diikuti dari belakang.
Beberapa saat setelah meninggalkan restoran, ponsel Dave berdering, menandakan panggilan masuk. Ia melirik layar, nama Elia tertera di sana. Dave memilih mengabaikan nya dan membiarkan layar ponsel itu redup dengan sendirinya.
“Siapa?” tanya Bianca sambil melirik sekilas.
“Elia,” jawab Dave singkat.
“Kenapa? Dia curiga karena kau pergi keluar malam-malam?” tanya Bianca.
“Tentunya. Tapi aku tidak peduli,” jawab Dave dingin.
Bianca tersenyum puas mendengar jawaban itu. “Sayang, jadi kapan kau akan menceraikan istrimu itu?”
“Sabar, sayang. Semua butuh waktu. Aku ingin dia benar-benar merasa jenuh dengan sikapku. Sampai akhirnya, dia sendiri yang mengajukan gugatan cerai,” ucap Dave tenang.
Bip! Bip! Bip!
Suara peringatan menandakan bahan bakar mobil Dave hampir habis. Ia segera berbelok ke kiri menuju stasiun pengisian bahan bakar.
“Sayang, kau tunggu di sini sebentar, ya,” ucapnya sebelum turun dari mobil.
“Eh, sayang, sepertinya aku juga ingin buang air kecil,” ujar Bianca.
“Mau kuantar?” tanya Dave.
“Tidak perlu, aku sendiri saja,” jawab Bianca.
Tak lama setelah Bianca melangkah menuju toilet, sebuah mobil berwarna merah berhenti di area parkir pengisian bahan bakar. Salah satu pria turun dan berjalan cepat ke arah bangunan. Dave yang tengah fokus mengisi bahan bakar sama sekali tidak menyadari hal itu.
“Ah, leganya,” gumam Bianca setelah selesai.
“Selamat malam, Nona Bianca,” sapa sebuah suara yang membuat bulu kuduknya meremang. Pria yang sebelumnya ia lihat di restoran kini berdiri di hadapannya.
Bianca berjalan mundur perlahan saat pria itu semakin mendekat.
“S-siapa kau?” tanyanya terbata, jelas diliputi ketakutan.
“Kau bahkan tidak mengingatku sama sekali, sayang? Kita pernah menghabiskan malam bersama,” ujar pria itu dingin.
Bianca tersentak kaget. “A-alex? Bukankah kau seharusnya membusuk di dalam penjara?”
Alex tertawa puas. “Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, Bianca. Bahkan kekasihmu itu tidak akan bisa berbuat apa-apa.”
Bianca hendak berteriak, namun gerakan Alex lebih cepat. Sebuah sapu tangan yang telah disiapkan dan diolesi obat bius langsung menutup mulut dan hidungnya.
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...