NovelToon NovelToon
ASTRALAKSANA

ASTRALAKSANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: Im Astiyy_12

Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.

• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.

Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.

"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"

"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"

Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.

Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.

~novel yang ku pindah dari wp ke sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arena balap

THE ETERNALLY : our home

Happy reading...

...Hidup itu seperti cerita dongeng, yang tidak tau bagaimana akhir cerita itu. ...

...Yang kita kira kitalah pemeran utamanya....

...Nyatanya hanya figuran dalam cerita orang lain. ...

...[THE ETERNALLY:our home]...

.......

........

.........

...⭐🎻🎻⭐...

Astra mulai mengerjapkan matanya, tidurnya terganggu karena ponselnya sedari tadi berdering.

Dengan mata yang masih setengah tertutup pemuda tampan itu meraba raba mencari dimana dirinya tadi menyimpan ponsel.

Setelah mendapatkan ponsel nya dia lantas menekan icon hijau pada layar.

"Haloo," ucapnya khas bangun tidur.

"...." balas seorang dari sebrang telfon.

Astra loading sebentar sembari mengingat ingat apa kegiatannya hari ini. "Hmm, gue kesana," balasnya setelah berhasil mengingat agendanya.

" .... "

Sambungan di tutup, dan Astra langsung bersiap siap untuk berangkat ke markas Arderos. Dia baru sadar sudah tertidur cukup lama, dari kejadian di rumahnya hingga pukul 8 malam.

Tak memerlukan waktu lama di kamar mandi, pemuda tampan tersebut sudah berdiri di depan cermin menelisik penampilannya.

Hoodie hitam dengan celana jeans menjadi outfit nya hari ini, "Ck, Perfect," narsis nya, dia melihat pantulan dirinya di cermin, setelahnya dia langsung menyambar jaket Arderos yang tergeletak di kasurnya. Eittt, jangan salah dingin dingin cool kayak tembok Astra juga manusia ygy, jadi ngga usah heran kalo agak narsis dikit, manusiawi hehe.

Dengan menaiki motor kesayangannya Astra meninggalkan area kontrakan. Jalanan sedikit basah karena hujan yang baru saja reda, udara malam ini juga terasa lebih sejuk dari biasanya.

Suasana basecamp Arderos ramai dengan anggotanya yang sedang berkumpul, sedangkan keempat inti Arderos tengah duduk dengan anteng di sofa memperhatikan Bumi yang entah sedang menjelaskan apa.

Mereka bertiga menatap Astra dengan tatapan memohon, seolah mengatakan, 'Tolongin gueee!' itulah tebakan Astra.

Astra ikut bergabung duduk di sofa, memperhatikan teman temannya yang sedang di cekoki berbagai rumus serta pelajaran lainnya oleh Bumi.

Satya mengangkat tangannya, membuat Bumi menggantikan sejenak penjelasannya, "Ada yang mau Lo tanyain?."

" Cukup Bum, otak gue rasanya mau meledak," katanya dengan wajah memelas. Kedua temannya juga ikut mengangguk kalau mereka juga sudah tak kuat lagi menampung rumus rumus itu, "Huhh ... Gue rasanya kayak mau muntah liat ntu rumus," timpal Jaya.

Bumi mengangguk, mau menjelaskan sampai ayam jago bertelur pun mereka tak akan paham jika terus di paksa,

"Oke, kita lanjut minggu depan." ujarnya lalu Bumi duduk di sofa sebelah Astra, ikut berbincang santai dengan mereka.

"Tangan lo kenapa Tra?," tanya Arka yang tak sengaja melihat tangan Astra di balut perban.

"Gak sengaja, nonjok kaca," balasnya santai.

Mereka berempat menganga menatap Astra cengo, "Gila, nojok kaca kayak nonjok kacang," bisik Satya pada Bumi yang ada si sampingnya.

Bumi hanya menatap datar Satya, membuatnya berdecak kesal, "Gak asik banget lo, dasar batu es."

"Jadi ke arena balap?," ujar Jaya mengingatkan apa tujuan mereka hari ini.

Mereka berempat mengangguk lalu keluar dari markas, untuk pergi ke area balapan liar.

"Siapa yang turun?," tanya Astra menatap mereka berempat.

"Gue."

Mereka semua menatap Satya yang mengangkat tangannya. Astra mengangguk, "Hmm, siap siap."

Satya menaiki kembali kuda besinya menuju area start. Sedangkan teman temannya melihat dari pinggir jalan, "Tumben tu anak mau turun," ujar Arka, matanya terus menatap Satya yang sedang menstater motornya.

"Mungkin dia lagi stres, kayak nggak tau aja lo. Kalo tu anak stres gimana," kata Jaya, membuat Arka mengangguk, "Iya juga."

Satya memang menyukai balapan, dia gunakan itu untuk meluapkan emosi atau apapun yang membuatnya kesal. 'balapan itu udah jadi bagian dari hidup gue.' begitulah katanya.

Setelah menunggu cukup lama, satu persatu motor peserta balap liar melintas di garis finish. Di urutan pertama ada Satya dan di susul beberapa motor lainnya.

"SATYAA WOOO."

"AZEKKK! DAPAT TRAKTIRAN KITAA."

"MANTAP BANGSAT!." seru Arka dan Jaya dengan heboh.

Satya berjalan kearah teman temannya, "Gimana, keren kan gue?" ucapnya dengan sombong.

"Cihh, pede banget lo." cibir Bumi yang cukup kesal melihat wajah songong Satya.

"Emang kenyataan nya gue keren, iya nggak Tra."

Astra menatap jengah teman temannya yang sedari tadi tak berhenti berbicara, "Serah, cabut." Katanya lalu menaiki motornya meninggalkan arena balap.

Setelah selesai makan-makan seperti yang di janjikan Satya sebelumnya, mereka kembali ke rumahnya masing-masing.

Astra melajukan motornya kembali ke kosannya, untuk beberapa hari ini dia akan tinggal di sana.

Tinn..Tiinn

Suara klalakson dari motor sampingnya membuat Astra menengok kan kepalanya ke samping, "Kenapa Lo ke arah sini?" ucapnya sedikit keras.

"Gue mau tidur si sana," balasnya, tak ada perbincangan lagi setelahnya, mereka hanya fokus dengan jalan yang mereka lewati.

Setibanya di depan kontrakan, ke dua pemuda tampan itu memarkirkan motornya di tempat yang sudah di sediakan.

"Mas Astra, mas Bumi. Mau tidur di sini?" tanya sang penjaga gerbang kosan _Mang Toyo, pada mereka berdua.

Astra menganggukan kepalanya, "Iya mang," balasnya ramah sembari menyodorkan satu plastik gorengan yang tadi ia beli, "Buat temen ngopi mang."

"Waduhh, makasih mas. Jadi ngerepotin," kata mang Toyo menerima plastik itu.

"Nggak papa mang, yaudah saya permisi, mau tidur hehe." ucap Astra begitu ramah pada mang Toyo, dia sudah menganggap mang toyo sebagai keluarganya.

"Iya, silahkan mas."

Bumi sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara Astra dan mang Toyo, perlakuan nya sangat berbeda jika dia sedang berada di luar sana.

Bumi sudah tak kaget dengan sifat Astra yang satu ini, sebagai teman yang sudah bersama sejak kecil Bumi tau Astra adalah sosok yang baik dan perhatian.

Namun, tak semua orang bisa melihat kelembutan dari sifat Astra yang dingin dan keras di luar sana, Bumi menyebut hanya orang yang beruntung bisa melihat sisi Astra yang satu ini.

"Kesambet lo?" ucap Astra membuat lamunan Bumi menjadi buyar.

Bumi merotasikan matanya malas, tak menanggapi ucapan Astra. Dia melenggang pergi masuk terlebih dulu kedalam kontrakan.

"Jelasin." tak terdengar seperti permintaan tapi sebuah perintah.

Astra menatap Bumi yang sedang duduk di ruang tamu miliknya dengan alis yang terangkat, "Apanya?"

"Luka."

"Gak ada."

"Jangan bohong."

Astra menghembuskan asap dari rokok yang sedang dia hisap, lalu menjelaskan apa yang terjadi tadi siang. Mau sebaik apapun dia berbohong, Bumi terlalu pandai membaca setiap kebohongan yang Astra sembunyikan.

Bumi mengepalkan tangannya kesal, "Cukup!." tegasnya mengambil alih rorok ketiga Astra yang baru saja ia nyalakan, lalu membuangnya ke tempat sampah.

"Terus lo sendiri?"

"Seperti biasa," balasnya yang langsung mendapatkan anggukan dari Astra, tanda dia memahami ucapan Bumi.

"Balik lo, gue mau tidur." usir Astra dengan wajah sebalnya, karena Bumi tak kunjung beranjak dari tempatnya duduk.

Dengan ogah-ogahan Bumi melangkahkan kakinya keluar dari kontrakan Astra, tujuannya adalah kontrakannya yang berada tepat di samping kontrakan Astra. "Jangan mati dulu ... sebelum gue." katanya sebelum menutup pintu kosan miliknya.

"Tolol!." seru nya spontan setelah Bumi mengatakan itu.

Astra hanya menghela nafas beratnya, "Mimpi gue masih banyak, dan gue gak akan nyerah secepat ini. Begitu juga lo, lo harus bisa Bumi." gumamnya dalam hati.

...⭐🎻TBC🎻⭐...

...Okheyyy, sampai jumpa di chapter selanjutnya. ...

...Kata satya, kalian mau traktiran nggak?. Kalo mau, tinggal dateng ke jalan Bahagia, no 22, kota Harapan. Itu lokasi WAMUD hehe. ...

1
KHAI SENPAI
sok cantik 😭
Nischaaa_
lu belum muncul lu bukan ubi kan??!
Nischaaa_: biasa ... trauma
total 2 replies
Nischaaa_
Gue kira Taehyun ternyata Soobin tohhh😭
ChocoMint!: samaaa aku jugaaaa😭
total 3 replies
Nischaaa_
astaga ... Sagara dan Aksara. Dua nama itu ....
Nischaaa_
INI NYELEKIT NYA YANG LANGSUNG BIKIN SEMUA BADAN GUE MERINDING ANJING😭
Nischaaa_: ohh enggak-enggak, aku cuma iya sedikit ... hehe, tapi aku memaklumi jika sudah lulus kontrak
total 6 replies
Nischaaa_
suka banget narasi kamu 😭
ChocoMint!: terimakasih, aku seneng dengernya 😭💞
total 1 replies
Nischaaa_
namanya agak sulit dibaca yah ...
ChocoMint!: kalo sering di baca pasti nanti terbiasa, mudah kok😊🙄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!