Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kehormatan Warrior
Mr. 5 bangkit dari reruntuhan batu, wajahnya penuh darah tapi matanya masih memancarkan kebencian. "Kau akan menyesal, Straw Hat!"
Dia mengeluarkan pistol dan mengisinya dengan booger-nya sendiri—peluru bom yang mematikan.
BANG! BANG! BANG!
Tiga peluru bom melesat ke arah Luffy!
"Luffy!" teriakku sambil menembakkan jaring, mencoba membuat perisai.
Tapi Luffy lebih cepat. "Gomu Gomu no... FUUSEN!"
Tubuhnya mengembang seperti balon raksasa! Peluru-peluru bom menghantam tubuhnya yang mengembang dan—
BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan terjadi di permukaan tubuh Luffy, tapi karena tubuhnya seperti karet dan mengembang, ledakannya dipantulkan ke segala arah, tidak melukai Luffy!
"SUGOI!" Usopp berteriak kagum. "Luffy memantulkan ledakan!"
"Apa?!" Mr. 5 tidak percaya. "Ledakanku tidak berhasil?!"
Luffy kembali ke ukuran normal dan menyeringai. "Aku manusia karet! Ledakan seperti itu tidak akan mempan!"
Tapi Spider Sense ku tiba-tiba berdering keras dari arah berbeda!
"ATAS!" teriakku.
Miss Valentine turun dari udara dengan kecepatan tinggi, tubuhnya menjadi 10.000 kilogram!
"10.000 KILO PRESS!" dia menukik ke arah Luffy!
Luffy tidak sempat menghindar—
WHAM!
Miss Valentine menghantam Luffy dengan kekuatan penuh, menghantamkan dia ke tanah dan menciptakan kawah besar!
"LUFFY!" kami semua berteriak.
"Shishishi!" tapi Luffy tertawa dari dalam kawah. "Itu sakit! Tapi aku baik-baik saja!"
Dia melompat keluar dari kawah, masih tersenyum meskipun ada sedikit darah di kepalanya.
Miss Valentine melayang di udara lagi dengan payungnya. "Bagaimana bisa dia masih berdiri setelah serangan itu?!"
"Karena dia Monkey D. Luffy!" jawab Sanji sambil menyalakan rokok baru. "Dan sekarang giliran kami yang menyerang. Oi, Miss Valentine, aku tidak suka memukul wanita, tapi kau sudah melewati batas dengan menyerang kapten kami."
Sanji melompat tinggi dengan kaki terangkat. "Collier Shoot!"
Kakinya menghantam Miss Valentine dengan presisi—tapi dia mengubah beratnya menjadi 1 kilogram dan terpental ke atas seperti bulu!
"Percuma!" Miss Valentine tertawa. "Aku bisa mengontrol beratku! Serangan kalian tidak akan—"
"KENJI! SEKARANG!" Sanji berteriak.
Aku sudah siap. Aku menembakkan jaring ke Miss Valentine yang sedang melayang ringan di udara!
Jaringku menempel di tubuhnya—dan karena dia sekarang hanya 1 kilogram, aku bisa menariknya dengan mudah!
"KYAAA?!" Miss Valentine berteriak saat aku menariknya ke bawah dengan kekuatan penuh!
"10.000 Kilo!" dia mencoba mengubah beratnya untuk melepaskan diri, tapi—
Aku sudah melepaskan jaring sebelum dia mengubah berat!
Miss Valentine jatuh ke tanah dengan keras karena momentumnya sendiri!
THUD!
"Ittai..." dia mengeluh kesakitan.
Zoro sudah menunggunya di bawah. "Game over." Dia menggunakan punggung pedangnya untuk memukul kepala Miss Valentine—mengetoknya hingga tidak sadarkan diri.
"Satu selesai," kata Zoro dengan santai.
"MISS VALENTINE!" Mr. 5 berteriak marah. Dia menatap kami semua dengan kebencian. "KALIAN... KALIAN AKAN MEMBAYARNYA!"
Dia mengambil napas sangat dalam—lebih dalam dari sebelumnya. Dadanya mengembang.
Spider Sense ku berdering sangat keras—bahaya maksimal!
"Itu ledakan besar!" teriakku. "Dia akan meledakkan area ini!"
"Semua mundur!" Zoro memerintahkan.
Tapi Dorry—raksasa yang terluka—tiba-tiba berdiri. Meskipun tubuhnya penuh luka dan darah, dia mengangkat kapaknya yang besar.
"BOCAH-BOCAH KECIL!" teriaknya dengan suara menggelegar. "MUNDUR! BIARKAN AKU YANG HANDLE INI!"
"DORRY! KAU TERLUKA!" Brogy berteriak dari kejauhan. "JANGAN MEMAKSAKAN DIRI!"
Tapi Dorry tertawa. "GEGYAGYAGYAGYA! Aku adalah warrior dari Elbaf! Luka seperti ini tidak akan menghentikanku!"
Mr. 5 sudah siap. "MATI! ULTIMATE BREATH BOMB!"
Dia meniup napas bom terbesar yang pernah kubuat—ledakan yang bisa menghancurkan seluruh area ini!
Napas bom itu melesat ke arah kami seperti tornado!
Dorry mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa di tubuhnya.
"INI ADALAH TEKNIK TERKUAT ELBAF!" teriaknya. "HAKOKU!"
Dia mengayunkan kapaknya dengan kekuatan yang luar biasa!
WHOOOOSHHH!
Gelombang kejut raksasa melesat dari kapak Dorry—gelombang yang begitu kuat sampai pohon-pohon di sekitar terpotong, tanah terbelah, dan udara sendiri tampak bergetar!
Hakoku—teknik legendaris warrior Elbaf—bertabrakan dengan napas bom Mr. 5!
BOOOOOOMMMM!
Ledakan dahsyat terjadi!
Tapi gelombang kejut Hakoku lebih kuat—dia memotong napas bom, membelahnya menjadi dua, dan terus melaju ke arah Mr. 5!
"TIDAK MUNGKIN!" Mr. 5 berteriak dengan mata terbelalak.
WHAM!
Hakoku menghantam Mr. 5 dengan kekuatan penuh, melemparnya ratusan meter ke belakang, menembus puluhan pohon, dan akhirnya menghantam gunung batu di kejauhan!
Semuanya terdiam.
Debu perlahan mengendap.
Dan Mr. 5... tidak bergerak lagi.
"Dia... dia mengalahkan Mr. 5 dengan satu serangan," gumam Usopp dengan mata terbelalak.
"Itu kekuatan warrior Elbaf," kata Zoro dengan mata berbinar—penuh hormat dan kagum. "Luar biasa."
Dorry masih berdiri, meskipun tubuhnya bergetar karena kelelahan. Lalu dia tersenyum lebar.
"GEGYAGYAGYAGYA! Aku menang!" teriaknya.
Tapi kemudian, tubuhnya limbung.
"DORRY!" Brogy berlari—atau lebih tepatnya, berlari raksasa yang membuat tanah bergetar.
Dorry jatuh ke tanah dengan keras.
THUD!
"DORRY! BERTAHANLAH!" Brogy berlutut di samping temannya, wajahnya penuh kekhawatiran.
Kami semua berlari mendekat.
"Dia kehilangan banyak darah," kata Sanji sambil memeriksa luka Dorry. "Luka dari ledakan Mr. 5 sangat dalam. Dia butuh perawatan medis segera!"
"Tapi kami tidak punya dokter!" kata Nami yang baru saja datang bersama Vivi. "Going Merry tidak punya peralatan medis yang cukup untuk merawat luka sebesar ini!"
"Sial!" gumamku frustasi. "Setelah dia menyelamatkan kami, kami tidak bisa menyelamatkannya?"
Dorry membuka matanya pelan dan tertawa lemah. "Gegye... jangan... khawatir... bocah kecil... aku... warrior Elbaf... luka seperti ini... tidak akan membunuhku..."
"Jangan bicara!" Brogy berteriak sambil mencoba menghentikan pendarahan dengan kain besar. "Simpan tenagamu!"
Tapi darah terus mengalir.
Aku menatap sekeliling dengan putus asa, mencari sesuatu—apapun—yang bisa membantu.
Dan kemudian aku melihatnya.
Di kejauhan, di dekat reruntuhan tempat Mr. 3 kalah, ada tas kecil yang tergeletak. Tas yang kemungkinan besar milik Mr. 3 atau Miss Goldenweek.
Spider Sense ku berdering pelan—bukan bahaya, tapi... kesempatan?
"Tunggu di sini!" teriakku sambil berlari ke arah tas itu.
"Kenji! Mau kemana?!" Luffy berteriak.
Aku tidak menjawab. Aku menembakkan jaring dan berayun dengan cepat ke lokasi tas.
Aku mengambil tas itu dan membukanya dengan tergesa-gesa.
Di dalam ada... Eternal Pose!
Eternal Pose dengan label "Alabasta"!
"Ini dia!" gumamku senang. "Eternal Pose ke Alabasta! Sekarang kami bisa langsung ke Alabasta tanpa harus menunggu Log Pose merekam pulau-pulau lainnya!"
Tapi ada sesuatu yang lain di dalam tas—sebuah botol kecil dengan cairan merah dan label "Emergency Medical Supply - Baroque Works".
Obat darurat!
Aku mengambil botol itu dan berlari kembali ke tempat Dorry.
"INI!" aku memberikan botol itu ke Brogy. "Obat darurat dari Baroque Works! Mungkin bisa membantu!"
Brogy menatap botol itu dengan ragu. "Tapi ini dari musuh... bagaimana kalau ini racun?"
"Spider Sense ku tidak berdering bahaya," jawabku. "Aku rasa ini aman. Dan lagipula—" aku menatap Dorry yang semakin lemah. "—kita tidak punya pilihan lain."
Brogy menatap temannya, lalu mengangguk. "Kau benar." Dia membuka botol itu dan menuangkan isinya ke luka Dorry.
Cairan merah itu bersinar sejenak, lalu meresap ke dalam luka.
Kami semua menunggu dengan napas tertahan.
Detik berlalu.
Dan kemudian... luka Dorry mulai menutup! Pendarahannya berhenti! Warna wajahnya kembali normal!
"Berhasil!" Usopp berteriak senang.
"Dorry selamat!" Nami tersenyum lega.
Dorry membuka matanya dan tersenyum lebar. "Gegye... gegye... aku... masih hidup..."
"Tentu saja kau masih hidup, bodoh!" Brogy tertawa sambil menangis. "Kau tidak bisa mati dan meninggalkanku sendirian di pulau ini!"
Kedua raksasa itu tertawa bersama—tawa yang penuh dengan lega dan kebahagiaan.
Luffy tersenyum lebar. "Yosh! Semuanya baik-baik saja!"
Aku duduk di tanah, napas lega. "Syukurlah..."
Vivi mendekati ku dan membungkuk. "Terima kasih, Kenji-san. Kau menyelamatkan Dorry-san."
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan," jawabku sambil tersenyum. "Lagipula, Dorry menyelamatkan kami lebih dulu."
Zoro duduk di sampingku. "Kau punya insting yang baik, Kenji. Kau tahu tas itu penting meskipun tidak ada yang memberitahumu."
"Spider Sense," jawabku sambil menunjuk ke kepala. "Kadang dia memberi tahu hal-hal yang tidak terduga."
"Kemampuan yang berguna," Zoro tersenyum. "Terus asah kemampuan itu. Suatu hari nanti, itu akan menyelamatkan nyawa kita semua."
Malam turun di Little Garden. Kami semua berkumpul di sekitar api unggun—kali ini pesta yang sebenarnya, tanpa gangguan musuh.
Dorry dan Brogy sudah pulih sepenuhnya berkat obat Baroque Works itu. Mereka berdua minum sake sambil tertawa keras.
"UNTUK BOCAH-BOCAH KECIL YANG MENYELAMATKAN KAMI!" Dorry mengangkat barrel sake-nya.
"UNTUK WARRIOR MUDA YANG PEMBERANI!" Brogy ikut mengangkat barrel-nya.
"KANPAI!" kami semua berteriak bersamaan.
Luffy makan daging dinosaurus dengan lahap, wajahnya penuh minyak dan saus.
Nami berbincang dengan Vivi tentang rute ke Alabasta menggunakan Eternal Pose yang kudapat.
Sanji memasak lebih banyak makanan untuk semua orang.
Usopp bercerita dengan dramatis tentang bagaimana dia "hampir" mengalahkan Mr. 5 sendirian—cerita yang jelas dibumbui.
Zoro minum sake sambil bersandar di batu, mata tertutup tapi aku tahu dia tidak tidur—dia tetap waspada.
Dan Robin... Robin duduk di sudut, membaca buku seperti biasa. Tapi sesekali dia melirik ke arah kami dengan senyum tipis.
Aku duduk di antara semua orang, merasakan kehangatan api unggun dan kehangatan persahabatan.
Ini adalah keluarga ku.
Kru Topi Jerami.
"Kenji!" Luffy memanggilku sambil mengulurkan sepotong daging. "Makan! Kau sudah kerja keras hari ini!"
"Terima kasih, Luffy," jawabku sambil menerima daging itu.
"Ngomong-ngomong," Luffy menatapku dengan mata berbinar. "Teknikmu tadi keren! Spider Axe Kick! Bisa ajari aku?"
Aku tertawa. "Luffy, kau punya Gomu Gomu no Mi. Kekuatan kita berbeda. Aku tidak bisa mengajarimu teknik ku."
"Ehhh? Kenapa?" Luffy cemberut.
"Karena kau bodoh, Luffy," kata Zoro sambil tertawa.
"APA KATAMU, ZORO?!" Luffy berteriak.
Mereka berdua mulai bertengkar—dengan cara yang konyol dan tidak serius.
Aku tersenyum sambil menonton. Ini adalah kehidupan yang selalu kuimpikan di kehidupan lamaku. Petualangan, persahabatan, keluarga.
"Kenji-kun," Robin tiba-tiba duduk di sampingku. "Kau terlihat bahagia."
"Aku memang bahagia," jawabku dengan jujur. "Ini adalah kehidupan yang selalu kuinginkan."
"Kehidupan bajak laut penuh dengan bahaya," kata Robin dengan lembut. "Kau mungkin mati kapan saja."
"Aku tahu," jawabku sambil menatap api unggun. "Tapi aku lebih memilih mati saat mengejar impian daripada hidup dengan penyesalan."
Robin menatapku lama, lalu tersenyum—senyuman tulus yang jarang terlihat di wajahnya.
"Kau berbicara seperti orang yang sudah hidup lama," katanya.
Aku tersentak. Apa dia tahu?
"Aku... hanya pernah kehilangan banyak hal," jawabku hati-hati. "Jadi aku tahu pentingnya menghargai apa yang kumiliki sekarang."
Robin mengangguk pelan. "Aku mengerti perasaan itu."
Kami duduk dalam diam yang nyaman, menonton kru yang lain tertawa dan bercanda.
Besok, kami akan berlayar ke Alabasta.
Besok, kami akan menghadapi Crocodile—salah satu Shichibukai terkuat.
Besok, bahaya yang lebih besar menanti.
Tapi malam ini, kami merayakan kemenangan kami.
Malam ini, kami adalah keluarga.
Dan itu sudah cukup.