Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Nama Pertama yang Jatuh
...Visualisasi Tokoh...
Elena
Adrian
Marcus dan Selene
...****************...
Ada satu momen dalam setiap kebohongan
ketika ia berhenti menjadi cerita
dan berubah menjadi jejak.
Marcus merasakannya pagi itu.
Bukan lewat berita. Bukan lewat telepon.
Melainkan lewat ketiadaan.
Rekan bisnis yang biasa membalas pesan dalam hitungan menit tidak menjawab. Asisten keuangan yang selalu sigap hanya mengirim satu kalimat pendek: “Sedang dicek ulang.”
Kata-kata yang terdengar netral, namun terasa seperti pintu yang mulai menutup.
Marcus menurunkan ponselnya perlahan. Rahangnya mengeras.
“Elena,” panggilnya dari ruang kerja.
Elena duduk di ruang tamu, tongkat putih di samping kursi, tangan terlipat rapi di pangkuan. Kain tipis masih menutup matanya. Wajahnya tenang—tidak terganggu oleh apa pun.
“Ya?” jawabnya lembut.
“Kau menyentuh dokumen apa pun akhir-akhir ini?” tanya Marcus, terlalu cepat.
Elena mengernyit samar. “Aku tidak diberi akses ke apa pun.”
Jawaban itu benar. Dan itulah yang membuat Marcus semakin tidak nyaman.
“Baik,” katanya akhirnya. “Hanya… ada audit kecil.”
Elena mengangguk. “Audit itu wajar.”
Nada suaranya datar. Tidak memberi celah. Tidak menawarkan simpati.
Marcus berbalik, kembali ke ruang kerja dengan langkah yang tidak lagi percaya diri. Pintu tertutup. Terkunci.
Elena tetap duduk.
Ia mendengar suara napas Marcus dari balik dinding. Tidak teratur. Terlalu cepat.
Ketakutan selalu terdengar seperti itu.
...****************...
Di tempat lain, Selene menatap layar laptopnya dengan mata yang mulai kering. Angka-angka di laporan keuangan tidak berubah—namun status-nya iya.
Ditahan sementara.
Perlu klarifikasi.
“Ini salah,” gumamnya.
Ia meraih ponsel, menelepon Marcus. Tidak diangkat. Menelepon lagi. Masih tidak.
Pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Direktur F— diminta hadir besok pagi.
Nama kamu ikut disebut.
Selene membeku.
Itu bukan ancaman.
Itu pemberitahuan.
Tangannya gemetar saat menutup laptop. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berbohong kepada siapa—atau dengan cerita apa.
...****************...
Sore hari, Elena meminta teh hangat. Pelayan menyiapkannya tanpa banyak bicara. Rumah itu terasa berbeda—lebih hening, lebih hati-hati. Semua orang berjalan seolah lantai bisa runtuh kapan saja.
Marcus keluar dari ruang kerja menjelang senja. Wajahnya pucat. Dasi sudah dilepas. Matanya mencari Elena seperti orang yang butuh pegangan.
“Kau baik-baik saja?” tanya Elena lebih dulu.
Marcus menatapnya. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab. “Ya.”
Elena mengangguk. “Syukurlah.”
Ia mengangkat cangkir tehnya. Tenang. Tidak bertanya apa pun.
Itu yang paling menekan Marcus.
“Jika… jika ada sesuatu yang terjadi,” katanya akhirnya, “kau akan memberitahuku, kan?”
Elena menoleh ke arahnya. Senyumnya lembut. Hampir hangat.
“Tentu,” katanya. “Aku selalu jujur padamu.”
Marcus mengangguk, seolah diyakinkan. Namun saat ia melangkah pergi, bahunya tidak lagi tegak.
...****************...
Malam turun pelan.
Di kamar, Elena duduk di tepi ranjang. Tongkatnya disandarkan ke dinding—tak tersentuh. Ponselnya bergetar satu kali.
Adrian.
Adrian: Direktur pertama sudah dipanggil.
Adrian: Ia panik.
Adrian: Mulai menyebut nama.
Elena membaca pesan itu tanpa perubahan ekspresi.
Elena: Biarkan.
Elena: Jangan selamatkan siapa pun.
Beberapa detik kemudian:
Adrian: Marcus akan tahu besok.
Elena menutup ponsel.
Ia berdiri, melangkah ke jendela, membuka tirai sedikit. Lampu kota menyala seperti biasa—tak peduli siapa yang runtuh malam ini.
Nama pertama telah jatuh.
Bukan Marcus.
Belum Selene.
Namun cukup dekat untuk membuat mereka sadar:
tanah di bawah kaki mereka bukan lagi milik mereka.
Elena menyentuh kaca jendela dengan ujung jarinya. Dingin. Nyata.
“Sekarang,” gumamnya pelan, “kalian akan mulai berlari.”
Dan orang-orang yang berlari tanpa arah
selalu menjatuhkan lebih banyak nama
daripada yang mereka niatkan.
Elena memejamkan mata—bukan untuk bersembunyi.
Melainkan untuk menikmati satu hal yang selama ini dirampas darinya:
kendali.
Bab ini tidak diakhiri dengan kejatuhan besar.
Ia diakhiri dengan awal kepanikan.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
...BERSAMBUNG....