NovelToon NovelToon
Mereka Mengira Aku Buta

Mereka Mengira Aku Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?

On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Nama Pertama yang Jatuh

...Visualisasi Tokoh...

Elena

Adrian

Marcus dan Selene

...****************...

Ada satu momen dalam setiap kebohongan

ketika ia berhenti menjadi cerita

dan berubah menjadi jejak.

Marcus merasakannya pagi itu.

Bukan lewat berita. Bukan lewat telepon.

Melainkan lewat ketiadaan.

Rekan bisnis yang biasa membalas pesan dalam hitungan menit tidak menjawab. Asisten keuangan yang selalu sigap hanya mengirim satu kalimat pendek: “Sedang dicek ulang.”

Kata-kata yang terdengar netral, namun terasa seperti pintu yang mulai menutup.

Marcus menurunkan ponselnya perlahan. Rahangnya mengeras.

“Elena,” panggilnya dari ruang kerja.

Elena duduk di ruang tamu, tongkat putih di samping kursi, tangan terlipat rapi di pangkuan. Kain tipis masih menutup matanya. Wajahnya tenang—tidak terganggu oleh apa pun.

“Ya?” jawabnya lembut.

“Kau menyentuh dokumen apa pun akhir-akhir ini?” tanya Marcus, terlalu cepat.

Elena mengernyit samar. “Aku tidak diberi akses ke apa pun.”

Jawaban itu benar. Dan itulah yang membuat Marcus semakin tidak nyaman.

“Baik,” katanya akhirnya. “Hanya… ada audit kecil.”

Elena mengangguk. “Audit itu wajar.”

Nada suaranya datar. Tidak memberi celah. Tidak menawarkan simpati.

Marcus berbalik, kembali ke ruang kerja dengan langkah yang tidak lagi percaya diri. Pintu tertutup. Terkunci.

Elena tetap duduk.

Ia mendengar suara napas Marcus dari balik dinding. Tidak teratur. Terlalu cepat.

Ketakutan selalu terdengar seperti itu.

...****************...

Di tempat lain, Selene menatap layar laptopnya dengan mata yang mulai kering. Angka-angka di laporan keuangan tidak berubah—namun status-nya iya.

Ditahan sementara.

Perlu klarifikasi.

“Ini salah,” gumamnya.

Ia meraih ponsel, menelepon Marcus. Tidak diangkat. Menelepon lagi. Masih tidak.

Pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Direktur F— diminta hadir besok pagi.

Nama kamu ikut disebut.

Selene membeku.

Itu bukan ancaman.

Itu pemberitahuan.

Tangannya gemetar saat menutup laptop. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berbohong kepada siapa—atau dengan cerita apa.

...****************...

Sore hari, Elena meminta teh hangat. Pelayan menyiapkannya tanpa banyak bicara. Rumah itu terasa berbeda—lebih hening, lebih hati-hati. Semua orang berjalan seolah lantai bisa runtuh kapan saja.

Marcus keluar dari ruang kerja menjelang senja. Wajahnya pucat. Dasi sudah dilepas. Matanya mencari Elena seperti orang yang butuh pegangan.

“Kau baik-baik saja?” tanya Elena lebih dulu.

Marcus menatapnya. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab. “Ya.”

Elena mengangguk. “Syukurlah.”

Ia mengangkat cangkir tehnya. Tenang. Tidak bertanya apa pun.

Itu yang paling menekan Marcus.

“Jika… jika ada sesuatu yang terjadi,” katanya akhirnya, “kau akan memberitahuku, kan?”

Elena menoleh ke arahnya. Senyumnya lembut. Hampir hangat.

“Tentu,” katanya. “Aku selalu jujur padamu.”

Marcus mengangguk, seolah diyakinkan. Namun saat ia melangkah pergi, bahunya tidak lagi tegak.

...****************...

Malam turun pelan.

Di kamar, Elena duduk di tepi ranjang. Tongkatnya disandarkan ke dinding—tak tersentuh. Ponselnya bergetar satu kali.

Adrian.

Adrian: Direktur pertama sudah dipanggil.

Adrian: Ia panik.

Adrian: Mulai menyebut nama.

Elena membaca pesan itu tanpa perubahan ekspresi.

Elena: Biarkan.

Elena: Jangan selamatkan siapa pun.

Beberapa detik kemudian:

Adrian: Marcus akan tahu besok.

Elena menutup ponsel.

Ia berdiri, melangkah ke jendela, membuka tirai sedikit. Lampu kota menyala seperti biasa—tak peduli siapa yang runtuh malam ini.

Nama pertama telah jatuh.

Bukan Marcus.

Belum Selene.

Namun cukup dekat untuk membuat mereka sadar:

tanah di bawah kaki mereka bukan lagi milik mereka.

Elena menyentuh kaca jendela dengan ujung jarinya. Dingin. Nyata.

“Sekarang,” gumamnya pelan, “kalian akan mulai berlari.”

Dan orang-orang yang berlari tanpa arah

selalu menjatuhkan lebih banyak nama

daripada yang mereka niatkan.

Elena memejamkan mata—bukan untuk bersembunyi.

Melainkan untuk menikmati satu hal yang selama ini dirampas darinya:

kendali.

Bab ini tidak diakhiri dengan kejatuhan besar.

Ia diakhiri dengan awal kepanikan.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

...BERSAMBUNG....

1
Kaka's
pembohong kamu marcus horison...
Serena Khanza: kiper indo 😭
total 1 replies
Sean Sensei
asli sedikit kah? kok aku bacanya kurang puas ya /Sob/
Serena Khanza: maklum kak awal awal masih dikit 🤭🤣

baru belajar nulis 🤭🤭
total 1 replies
Hunk
Ya aku juga menunggu hasil nya elena🤣
Serena Khanza: perlahan lahan meledak kak 🤭
total 1 replies
Hunk
Mantap bukti nya banyak banget ples kuat.
cimownim
cara Elena menghadapi laki-laki udah keren cerdas banget ya
Serena Khanza: Elena menghadapi laki-laki dengan diam dan tenang 🤭
total 2 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Tiara Bella
skrng ngurigain Selena ya Marcus....
Tiara Bella: hooh ...
total 2 replies
Hunk
Alasan umum untuk semua orang yg telat "Jalanan macet"
Sean Sensei
/Sweat/ : belum di update mungkin google map nya
Kaka's
saya suka narasi seperti ini. karna langsung sy praktekkan sesuai instruksinya.. terangkat tipis 🤭🤭
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Khusnul Khotimah
sampek sini q blom paham yg jd masalah itu pa?kok sampek segitunya ...ni masalah harta/warisan kah?perselingkuhan?.ato penghianatan?
Khusnul Khotimah: oooooohhhh.... gtu ditunggu kelanjutanya thor.
total 2 replies
Panda
mau pindahin aset kayanya marcus
Jing_Jing22
nggk sabar buka bab selanjutnya. pengen tau nasib tuh dua orang
Jing_Jing22
target mulai masuk kedalam rencana elena
CACASTAR
dialognya kenapa masih kaku Thor.. harusnya semakin lama di antara mereka tentunya semakin dekat. bahkan atasan dan bawahan sekalipun makin tahun pasti makin akrab. Kata sapaannya pun akan menggunakan kata sapaan yg lebih akrab walaupun sopan.
Serena Khanza: iya kak makasih masukannya 👍🏻😊

next aku perbaiki lagi di penulisan supaya bisa lebih natural lagi 😊😊
total 1 replies
APRILAH
Otewe gofood aja deh, ngeri kalo pesen gitu 😄
Kaka's
sudah terlambat marcus horison... su terlambat...
Serena Khanza: wkwkwk 🤭🤭
total 3 replies
Hunk
Elena menurut ku keren banget. Dokumen aj bisa sampai dia ingat isi nya. Padahal mungkin halaman nya banyak banget.👍
Serena Khanza: soalnya dia asisten marcus
total 1 replies
Hunk
Dia sendiri ga nyaman udah berbohong./Shame/
Murdoc H Guydons
Obat buat apa? Mata kabur segitu mah ga ngefek di kasi obat.. 🤭
Murdoc H Guydons: oh iy ya.. haha..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!