Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Badai yang mengintai
Dimas merutuk dalam hati. Rasanya semesta sedang berkonspirasi untuk menghalangi waktunya bersama Zora. Setelah interupsi kucing beberapa kali, sekarang ponselnya justru berteriak menampilkan nama Bumi Mahesa,sahabat sekaligus pengganggu paling tidak tahu diri di dunia.
"Sialan kau, Bumi," desis Dimas tertahan.
"Diangkat dulu, Pak.Siapa tahu ada hal penting yang mau disampaikan Mas Bumi," tegur Zora lembut.
Dimas seketika menoleh, menatap istrinya dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
"Kenapa ke Bumi panggilannya akrab begitu, tapi ke suamimu sendiri masih pakai embel-embel 'Pak'?" protes Dimas, suaranya merendah, menuntut penjelasan. "Kapan kamu mau mengubah panggilan kaku itu, Zora?"
Belum sempat Zora menjawab, ponsel di tangan Dimas kembali bergetar hebat. Dengan gusar, ia menggeser layar hijau.
"Halo, Bum! Apa lagi?!" ketusnya, lalu melangkah lebar menuju balkon, meninggalkan Zora yang masih terpaku.
Di balkon, sisa-sisa amarah Dimas menguap begitu suara Bumi menyapa indra pendengarannya. Bahunya yang semula tegang perlahan merileks. Sebuah senyum tipis,tulus, meski terselip sedikit memori masa lalu,terukir di wajahnya.
"Kanaya sudah melahirkan? Benarkah?" tanya Dimas memastikan. Ada binar yang tak bisa ia sembunyikan. Bagaimanapun, Kanaya adalah bagian dari masa lalu yang kini telah ia simpan rapi dalam kotak kenangan sebagai sahabat.
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya," gumam Dimas tulus.
"Dengar, aku sudah punya dua anak sekarang. Kamu kapan menyusul? Ingat umur, Sob! Cepat cari istri yang baik dan segera punya anak," oceh Bumi dari ujung telepon, pamer sekaligus mengejek.
Dimas hanya terkekeh pelan. Ia melirik ke arah kamar di mana Zora berada. Pernikahannya dengan Zora memang masih menjadi rahasia; sebuah pernikahan siri yang hanya diketahui oleh ibunya. Dimas berencana akan meledakkan berita ini saat pernikahan resmi mereka digelar nanti.
"Aku sudah menemukannya, Bum. Doakan saja niatku lancar. Sudah dulu ya, aku tutup teleponnya," balas Dimas tenang.
"Eh, mau ke mana sih? Buru-buru amat!" tanya Bumi heran.
Dimas menyeringai kecil, tatapannya berubah intens. "Aku juga mau membuat bayi, Bumi."
Klik.
Dimas langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu teriakan histeris dari seberang sana. Ia mengembuskan napas panjang, menetralkan debar jantungnya sebelum melangkah kembali ke dalam kamar menemui Zora.
Dimas menutup pintu balkon, lalu menguncinya dengan bunyi klik yang bergema di keheningan kamar. Atmosfer mendadak berubah berat, penuh dengan letup-letup listrik yang tertahan. Dimas tidak melepaskan pandangannya dari Zora, tatapannya kini gelap dan intens,menelanjangi keraguan yang masih tersisa di antara mereka.
Ia mendekat, setiap langkahnya terasa predator namun penuh pemujaan. Dimas berhenti tepat di hadapan Zora, hingga lutut mereka bersentuhan.
"Mas Bumi bilang apa?" suara Zora nyaris hilang, tenggelam dalam dominasi aura pria di depannya.
Dimas tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia merunduk, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan leher Zora, menghirup dalam-dalam aroma vanila yang memabukkan dari kulit istrinya. Zora berjingjiit, napasnya tercekat saat merasakan hembusan napas hangat Dimas di titik sensitifnya.
"Dia bilang, aku harus segera mengklaim apa yang menjadi milikku," bisik Dimas serak tepat di telinga Zora.
Tangan Dimas yang besar merambat naik, dari pinggang menuju tengkuk Zora, menariknya perlahan agar mendongak. Jempolnya mengusap bibir bawah Zora yang bergetar. Tanpa peringatan lagi, Dimas menyatukan bibir mereka,sebuah ciuman yang awalnya menuntut, namun segera berubah menjadi lumatan yang dalam dan penuh kerinduan yang sudah lama ia pendam.
Zora mengerang pelan dalam ciuman itu, tangannya tanpa sadar meremas kemeja Dimas, mencari pegangan. Dimas membawa tubuh Zora ke dalam dekapannya hingga tidak ada lagi udara di antara mereka. Dengan gerakan yang penuh kendali, ia membawa istrinya perlahan ke atas ranjang.
"Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati, Ra," gumam Dimas di sela-sela ciumannya yang kini berpindah ke rahang dan bahu Zora yang terbuka. "Tapi aku tidak janji bisa berhenti jika sudah memulainya."
Di bawah cahaya lampu yang kian meredup, sisa pakaian yang menghalangi akhirnya tanggal satu per satu. Dimas memperlakukan Zora layaknya sebuah mahakarya,setiap sentuhan jemarinya yang gemetar namun pasti, setiap kecupan yang kian menuntut, membuktikan betapa ia telah lama memuja gadis ini dalam diam.
Malam yang panjang itu bukan lagi soal perjuangan yang gagal, melainkan tentang penaklukan yang manis, di mana hanya ada suara napas yang memburu dan janji yang terpatri dalam penyatuan yang panas namun lembut.
Sementara itu,
di sudut sebuah kafe kecil yang remang, atmosfer terasa mencekam. Seorang wanita duduk dengan dagu terangkat, matanya yang tajam menatap pria di hadapannya yang menyembunyikan identitas di balik masker hitam dan topi rendah.
"Mana barang yang kuminta?" tuntutnya dingin, tanpa basa-basi.
Pria itu tidak bersuara. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu menggesernya di atas meja kayu yang retak.
Wanita itu menyambar amplop tersebut, membukanya dengan gerakan cepat yang tidak sabaran. Begitu isi di dalamnya ditarik keluar, sebuah seringai puas perlahan terukir di wajahnya yang dipulas make-up tebal.
Di sana, berserakan foto-foto seorang pria berkacamata,sosok yang begitu ia kenal,sedang bersama seorang wanita cantik dalam berbagai pose yang sangat intim. Jika mata orang awam melihatnya, siapapun akan bersumpah bahwa kedua orang dalam foto itu sedang menjalin hubungan terlarang. Sudut pengambilan gambar yang sengaja dibuat ambigu itu benar-benar sempurna untuk menciptakan sebuah kehancuran.
"Kerja bagus," desis wanita itu. Jemarinya yang lentik mengusap wajah pria di dalam foto dengan penuh obsesi, sebelum akhirnya kukunya mencengkeram kertas foto itu hingga lecek.
"Aku pasti akan membuat kalian berpisah. Tidak akan pernah kubiarkan dia menjadi milikmu," ucapnya dengan nada suara yang rendah namun sarat dengan kebencian.
Tatapan matanya berkilat di balik bayangan lampu kafe, menjanjikan badai besar yang siap menghancurkan kebahagiaan yang baru saja dimulai.
Bersambung...
Siapa ya kiria-kira?
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭