Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*10
Ain tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan, ketika tersadar, bahwa apa yang sedang ia lamun 'kan itu adalah hal yang konyol. Dia anak orang miskin. Mana mungkin bisa berubah menjadi kaya.
Yah, meskipun tidak akan ada yang tahu seperti apa takdir Tuhan ke depannya. Tapi, berkhayal adalah hal yang paling tidak nyaman di lakukan. Karena saat tersadar, hati akan merasa kecewa. Begitulah menurut Aina.
Pria yang sedang memperhatikan Aina langsung berucap. "No-- nona. Ee ... kenapa?"
"Ah, enggak. Gak papa."
"Ah, iya. Aku ada kerjaan. Harus segera kembali, per-- "
"Tunggu! Kita belum saling kenal. Bisakah kita berkenalan sekarang? Namaku, Marvin. Siapa nama kamu?"
Ain tidak langsung menjawab. Dia tatap lekat wajah pria yang mengaku bernama Marvin itu sesaat. Kemudian, setelah berpikir sejenak. Barulah Ain angkat bicara.
"Nona."
"Ah, iya. Maaf. Nama ku, Raina. Panggil saja Ain."
"Ain? Nama yang bagus."
"He ... bisa aja."
"Oh iya. Hampir lupa. Terima kasih banyak atas bantuan yang telah kamu berikan sebelumnya. Tanpa bantuan dari kamu, aku pasti tidak akan sampai ke kota ini dengan selamat."
"Hanya bantuan kecil yang tidak cukup berhak untuk menerima ucapan terima kasih. Ah, tapi, kalau mau berterima kasih juga gak papa sih. Mm ... dengan cara, anggap aku sebagai teman, begitu?"
Keduanya pun terus mengobrol di depan rumah mungil kediaman baru Ain. Semakin lama, Ain merasa semakin tenang dan nyaman. Entahlah. Dia adalah orang asing, tapi terasa sangat dekat. Rasa khawatir dalam hati Ain juga terkesan sangat sedikit saat berbicara dengan Marvin.
Mungkin karena pria itu pernah menolongnya beberapa saat yang lalu. Tapi, kalau itu alasannya, Ain sendiri merasa sedikit tidak yakin. Karena kebaikan Marvin itu seharusnya tidak cukup untuk batinnya merasa nyaman berbicara banyak dengan si pria.
Rasa nyaman itu seolah ada hubungan yang sudah terjalin sejak lama. Seperti, sebuah keluarga saja. Namun, pada kenyataannya, dia hanyalah anak yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia ini. Mana mungkin dirinya punya keluarga yang lain selain sang nenek yang sudah lama pergi meninggalkan dia sendirian di dunia yang kejam ini.
Satu minggu sejak pertemuan pertama mereka di kota yang baru. Ain dan Marvin semakin dekat saja. Pria itu semakin sering berkunjung. Yah, walau tidak pernah sampai masuk ke dalam rumah karena berniat menjaga batasan antara dirinya dengan wanita tersebut. Tapi, mereka sering ngobrol di depan rumah dengan waktu yang cukup lama.
"Ee ... Ain."
"Ya?" Wanita itu langsung mengalihkan pandangan ke arah Marvin. "Ada apa, kak Avin?"
"Besok, aku harus pulang ke rumah."
"Pulang?"
"Ya. Papa minta aku pulang. Waktu istirahat yang papa berikan sudah habis. Jadi, aku harus kembali bekerja."
"Ah, tapi sebelum itu, bolehkah aku ajak kamu ke rumah paman ku, Ain? Bolu yang kamu buat, sangat enak. Bibi ingin bertemu dengan kamu untuk bicara katanya."
Ain terdiam. Hatinya tiba-tiba terasa gugup. "Ber-- temu, tante kak Avin?"
"Hm. Mau kah?"
"It-- itu .... "
Pada akhirnya, Aina bersedia. Ain berpikir, mungkin, dengan bertemu, usahanya untuk bertahan hidup akan semakin baik.
Beberapa hari yang lalu, dia memberikan Marvin bolu yang dia buat. Pria itu membawanya pulang ke rumah tante, tempat dia menginap selama di kota ini.
Hasilnya, bolu itu membuat si tante ingin bertemu dengan Aina. Ain pun berpikir, mungkin, dengan pertemuan itu, dia bisa menjual lebih banyak cemilan. Usahanya untuk bertahan hidup pun akan semakin besar.
Aina melepas napas berat secara perlahan.
"Mm ... baiklah. Aku bersedia bertemu dengan tante kak Avin. Kapan aku bisa ke sana?"
Avin tersenyum lebar. "Kapan lagi? Kalau sudah kamu bersedia, tentu saja kita akan pergi sekarang juga."
Avin pun langsung bangun dari duduknya.
"Ayo, Ain! Kita ke rumah tante ku sekarang juga."
"A-- apa? Iy-- iya. Baiklah."
Tentu saja tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai. Karena rumah tante Avin jarangnya sangat dekat dengan kontrakan Ain. Mereka hanya perlu menyeberangi jalan raya saja. Setelahnya, mereka akan tiba ke tempat yang ingin mereka tuju.
"Lho? Kenapa jalannya semakin lambat, Ain?"
"Ah, ng-- nggak. Aku hanya ... hanya .... "
"Hanya sedikit gugup ya?"
"Tenang saja, Aina. Tante ku orangnya sangat baik. Gak banyak tingkah kok. Ayo cepat jalan! Jika tante lihat kamu, dia pasti akan senang."
Ain tidak lagi menjawab. Namun, langkah kaki yang sebelumnya sempat melambat, kini kembali melaju. Mereka berdua pun tiba ke depan pintu dari rumah mewah dengan tiga lantai yang cukup luas.
Ketika bel Avin bunyikan, bibi pelayan rumah tersebut langsung membuka pintu.
"Tuan Marvin."
"Bi, tante ada di rumah 'kan sekarang?"
"Ada, Tuan. Ada kok di dalam."
"Siapa, Bi?" Suara wanita terdengar dari dalam rumah.
"Tuan Marvin, nyonya."
"Oh."
"Vin, dari mana saja kamu? Mama mu nelpon tuh. Tapi kok gak di jawab sih? Mama mu ngomel baru tau kamu, Vin."
Avin sama sekali tidak mengubris apa yang tantenya katakan. Sebaliknya, dia malah mengajak Ain untuk masuk ke dalam. Ciut juga nyali Ain saat ini. Rasanya seperti, ingin sekali dia kabur dengan langsung memutar tubuh, lalu berlari dengan cepat meninggalkan kediaman mewah tersebut.
Tapi, ah. Itu tidak bisa ia lakukan. Saat ini, dia bukan lagi anak kecil yang langsung kabur hanya karena perasaan takut. Lagian, dia tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi, untuk apa menghindar?
"Aina."
"Ah, iya."