NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilas Balik: Sayap yang dipatahkan

Plak!

Suara tamparan itu menggema keras di ruang utama, memantul di dinding kayu dan tiang-tiang besar seperti bunyi cambuk yang dilecutkan tanpa ampun. Kepala Bai Ruoxue terhuyung ke samping, rambutnya yang belum sepenuhnya rapi ikut terlempar, dan dalam sepersekian detik ia merasakan dunia seperti bergetar di dalam telinganya.

Rasa panas langsung menjalar di pipinya. Perih. Tajam. Namun yang lebih menyakitkan bukanlah kulitnya—melainkan fakta bahwa tangan itu berasal dari seseorang yang seharusnya melindunginya.

Ayahnya.

“Beraninya kau!” bentaknya, napasnya memburu oleh amarah yang tak terkendali. Wajahnya memerah, bukan karena malu—tetapi karena rencananya gagal. “Dasar anak sialan!”

Bai Ruoxue perlahan mengangkat wajahnya kembali. Pipi kirinya memerah jelas, namun ekspresinya… datar. Kosong. Tidak ada air mata. Tidak ada permohonan.

“Gara-gara kau, Menteri Gu Wanxiu membatalkan pernikahan ini!”

Ah.

Jadi itu masalahnya.

Bukan kehormatannya. Bukan keselamatannya. Bukan harga dirinya.

Kekayaan.

Benaknya terasa muak. Ia hampir ingin tertawa.

“Reputasiku menjadi buruk gara-gara dirimu!” lanjut lelaki itu, suaranya semakin tinggi.

Reputasi?

Reputasi apa yang ia banggakan?

Reputasi seorang pria yang bahkan belum genap sepekan sejak pemakaman istrinya, namun sudah bercumbu dengan iparnya sendiri? Reputasi seorang pria yang menjual anak tirinya demi kekuasaan?

Bai Ruoxue menatapnya lurus. Tatapan yang tidak lagi gemetar seperti dulu. Tatapan yang membuat lelaki itu semakin murka.

“Kau…!” ia menunjuk wajah Ruoxue dengan jari yang bergetar. “Tidak punya sopan santun!”

Plak!

Tamparan kedua menghantam pipinya tanpa ampun. Kali ini lebih keras. Kepalanya benar-benar terlempar ke samping, dan ia bisa merasakan bagian dalam bibirnya tergigit hingga terasa asin oleh darah.

Namun ia tetap berdiri.

Perlahan, dengan gerakan yang tenang dan menyakitkan, ia kembali mengangkat wajahnya. Matanya tidak berkaca-kaca. Tidak memohon. Tidak gentar.

Hanya jijik.

“Dasar—!”

Tangan lelaki itu kembali terangkat, siap menghantam lagi. Namun sebelum tamparan ketiga jatuh, tangan halus menghentikannya.

Bibinya.

Perempuan itu maju selangkah, wajahnya tenang seolah semua ini hanya diskusi biasa.

“Jangan terus memukulnya,” ucapnya lembut, suaranya seperti sutra yang membungkus racun. “Nanti wajahnya terlihat tidak bagus saat pernikahan.”

Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti.

Bai Ruoxue menoleh perlahan ke arah bibinya. Tatapannya yang semula kosong kini menunjukkan sedikit getar.

Pernikahan?

Apa lagi?

Ayah tirinya terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Kau benar juga. Wajahnya masih berguna. Setidaknya untuk sedikit menyelesaikan masalah yang ia buat.”

Berguna.

Kata itu menancap seperti jarum di dadanya.

“Apa maksud Anda?” suara Bai Ruoxue akhirnya terdengar. Tenang, tapi tipis.

“Kau akan menjadi selir Yang Mulia Kaisar.”

Deg.

Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Selir.

Kaisar.

Selir kaisar. Dua kata itu terus bergema di kepalanya, menghantam tanpa ampun. Selir kaisar berarti masuk ke dalam tembok tinggi istana yang tak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan. Selir kaisar berarti menjadi salah satu dari sekian banyak perempuan yang dipilih bukan karena cinta, melainkan karena manfaat. Selir kaisar berarti hidupnya bukan lagi miliknya.

Artinya ia akan masuk ke dunia kekaisaran. Dunia yang ibunya larang dengan suara yang begitu serius dalam surat terakhirnya.

Jangan pernah masuk dunia kekaisaran.

Dunia yang penuh intrik, tipu daya, dan perempuan-perempuan yang saling menjatuhkan demi sepotong perhatian.

Kali ini, ia tidak akan diam.

“Saya tidak bersedia.”

Ruang itu mendadak membeku. Emosi ayah tirinya itu kembali hidup di tengah kesunyian ruangan itu.

“Apa?!” bentak ayah tirinya, wajahnya berubah keunguan oleh amarah. “Beraninya kau!”

“Aku sudah membesarkanmu!”

Membesarkan?

Ia hampir tertawa.

Dibesarkan untuk dijual. Dibesarkan untuk menjadi alat tawar. Dibesarkan untuk keuntungan yang mereka nikmati.

“Saya punya hak untuk menolaknya,” ucapnya pelan namun jelas. “Dan saya tidak akan membiarkan diri saya dijual begitu saja.”

Plak!

Tamparan ketiga membuat kepalanya berdenging. Kali ini begitu keras hingga ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Tangannya refleks menyentuh pipinya yang kini terasa mati rasa.

Tawa pahit terbit di sudut bibirnya.

Tawa itu tidak langsung keluar. Ia lahir dari dada yang sudah terlalu penuh—penuh amarah, penuh penghinaan, penuh luka yang tak sempat sembuh. Awalnya hanya getaran kecil di tenggorokannya, seperti suara yang tersangkut di antara ingin menangis dan ingin berteriak. Lalu perlahan, sudut bibir Bai Ruoxue terangkat—bukan dalam lengkungan bahagia, melainkan dalam garis tipis yang terasa asing di wajahnya sendiri.

Tawanya pelan. Serak. Kering.

“Dasar tidak tahu diri.”

Bibinya melangkah maju. Langkahnya tenang, namun matanya dingin seperti es.

“Burung akan menjadi liar jika ia merasa bisa terbang bebas,” katanya pelan, seolah sedang mengajarkan filosofi. “Dan jika burung itu mulai merasa bisa menentukan arah angin…”

Ia memberi isyarat kecil.

Para pelayan masuk, membawa sesuatu dan itu membuat Bai Ruoxue membeku.

Itu tas kainnya.

Dan di tangan salah satu pelayan—sertifikatnya.

Kertas yang ia dapatkan dengan malam-malam tanpa tidur. Dengan belajar diam-diam. Dengan menahan hinaan. Dengan harapan akan kehidupan tenang bersama ibunya.

Harapan terakhirnya.

Bibinya mengambil sertifikat itu dengan dua jari, seolah benda itu tidak bernilai.

“Kita harus mematahkan sayapnya,” lanjutnya pelan, “supaya ia tidak bisa terbang lagi.”

Sebelum Bai Ruoxue sempat bergerak—

Api kecil menyala.

Ujung kertas itu menyentuh nyala lilin.

Dalam hitungan detik, api menjalar cepat, memakan tulisan, memakan tinta, memakan masa depan.

“Tidak—!” suara itu akhirnya pecah dari bibirnya.

Namun ia ditahan. Tubuhnya dicekal oleh dua pelayan perempuan.

Ia hanya bisa melihat. Melihat kertas itu menghitam, melengkung, lalu menjadi abu yang jatuh perlahan ke lantai. Seolah hidupnya ikut terbakar bersama itu. Sesak memenuhi dadanya. Bukan sekadar marah. Bukan sekadar sedih.

Kosong.

Lelah.

Semua usaha selama ini. Semua rencana. Semua janji pada ibunya. Sia-sia.

Air mata akhirnya jatuh. Diam-diam. Tanpa suara. Bukan tangisan histeris. Hanya air mata yang mengalir dari wajah yang sudah terlalu lelah untuk bereaksi.

Ia kini benar-benar tidak punya apa-apa lagi.

“Bawa dia ke kamar,” perintah bibinya dingin. “Rias wajahnya. Hilangkan bekas merah itu. Awasi ketat dan kirim ke kekaisaran hari ini juga. Jangan beri kesempatan untuk kabur.”

Tubuh Bai Ruoxue diseret perlahan. Ia tidak melawan.

Ia terlalu kosong untuk melawan.

Di dalam dadanya, bukan lagi rasa sakit yang menusuk. Rasa itu sudah melewati batas. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang luas dan dingin, seperti musim dingin yang membekukan seluruh ladang hingga tak ada yang bisa tumbuh. Harapan yang dulu ia genggam erat—sertifikat itu, kehidupan tenang bersama ibunya, masa depan sederhana sebagai guru—semuanya runtuh begitu saja. Dan setelah runtuh, tidak ada lagi yang tersisa untuk dipertahankan.

Di kamar, para pelayan mulai merias wajahnya. Bedak menutup bekas tamparan. Pewarna bibir menutupi luka kecil di sudut mulutnya. Rambutnya disanggul indah. Gaun sutra dikenakan pada tubuhnya.

Di cermin, ia melihat bayangannya sendiri.

Cantik. Tenang. Seperti boneka yang siap dipersembahkan.

Namun matanya…

Matanya tidak lagi hidup.

Tatapan itu kosong. Hampa. Seolah jiwa di dalamnya telah ditarik keluar bersama abu sertifikatnya tadi.

Segala tekad yang semalam membara kini seperti padam oleh api yang sama.

Ia tidak lagi merasa marah. Tidak lagi merasa takut. Hanya ada kelelahan yang begitu dalam.

Saat ia dibawa keluar menuju kereta kekaisaran, langkahnya ringan—terlalu ringan.

Seperti seseorang yang sudah tidak memiliki apa pun untuk dipertahankan.

Dan—

Bai Ruoxue kini membuka matanya. Langit kamar paviliunnya terlihat jelas di matanya. Bukan rumah yang berisi hal muak keluarganya. Jantungnya berdegup begitu kencang dan entah sejak kapan air matanya terus meluruh membasahi pipinya tanpa bisa ia hentikan, seolah ia adalah gadis yang telah mengalami semua mimpi buruk itu.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!