"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil Sang Raja
“Yang Mulia, kita sudah sampai.”
Suara pengawal terdengar dari luar, diiringi hentakan ringan roda kereta yang akhirnya berhenti. Getarannya merambat hingga ke telapak kaki Bai Ruoxue.
Sudah sampai?
Cepat sekali…
Padahal pikirannya masih terjebak di dalam kereta—di antara tatapan Li Chenghan dan kalimat yang tak kunjung hilang dari kepalanya. Ia belum siap menghadapi apa pun. Bukan wilayah utara. Bukan inspeksi. Bahkan bukan dirinya sendiri.
Tirai kereta tersibak. Udara malam yang dingin langsung menyusup masuk, membawa aroma tanah basah dan daun pinus. Li Chenghan turun lebih dulu dengan gerakan mantap. Jubahnya berkibar ringan ketika sepatu hitamnya menyentuh tanah.
Bai Ruoxue bergerak menyusul.
Namun sebelum kakinya benar-benar menginjak pijakan kayu kecil di luar kereta, sebuah tangan terulur ke arahnya.
Besar.
Kokoh.
Hangat.
Ia terdiam sepersekian detik.
Li Chenghan menatapnya tanpa ekspresi, seolah tindakan itu sesuatu yang biasa. Sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.
Bai Ruoxue perlahan meletakkan jemarinya di atas telapak tangan itu.
Sentuhan mereka bersatu.
Hangat dan kuat—jemari besar itu menggenggam tangannya yang lebih kecil, seolah memastikan ia tidak akan tergelincir. Sentuhan yang sederhana, namun entah mengapa membuat jantungnya bergetar lebih kuat daripada ancaman apa pun.
Perlahan ia turun.
Dan saat kakinya benar-benar menginjak tanah, Li Chenghan masih belum melepas genggamannya.
Baru setelah ia benar-benar stabil, barulah pria itu menarik tangannya kembali.
Bai Ruoxue menahan napas. Ia mengangkat pandangannya. Namun yang ia lihat bukanlah gerbang wilayah utara atau istana peristirahatan seperti yang ia bayangkan.
Hutan.
Pohon-pohon tinggi menjulang mengelilingi mereka. Cabang-cabangnya menyatu seperti atap gelap di atas kepala. Cahaya bulan menembus sela dedaunan, menciptakan bayangan panjang yang tampak hampir seperti makhluk hidup.
Ia sedikit terkejut.
“Kita belum sampai,” ujar salah satu pengawal menjelaskan. “Yang Mulia memerintahkan untuk berhenti dan beristirahat. Perjalanan akan dilanjutkan besok pagi.”
Bai Ruoxue mengangguk pelan.
Jadi ini hanya tempat singgah.
Namun suasana hutan itu membuatnya tidak nyaman. Terlalu sunyi. Terlalu gelap. Seolah menyimpan sesuatu di balik batang-batang pohon itu.
Li Chenghan sudah berjalan lebih dulu, memberi perintah singkat yang tegas. Para pengawal bergerak cepat, mendirikan tenda, menyalakan api unggun, mengatur penjagaan.
Bai Ruoxue duduk di atas sebuah batu besar yang agak datar, menjaga jarak dari kesibukan itu. Ia menyilangkan tangan di pangkuan, menatap langit. Bintang-bintang di utara tampak lebih terang dari biasanya. Langitnya luas dan jernih. Indah.
Namun pikirannya tidak ikut tenang.
Ia melihat Li Chenghan berdiri tak jauh darinya, berbicara dengan salah satu pejabat yang ikut dalam inspeksi ini. Nada suaranya rendah, tegas, penuh perhitungan. Sesekali ia menunjuk peta yang dibentangkan di atas meja lipat.
Serius. Berwibawa. Seolah tidak pernah terpengaruh oleh apa pun. Bai Ruoxue menghela napas kecil.
Kruyuuk.
Suara itu terdengar jelas. Terlalu jelas. Ia membeku. Perutnya kembali berbunyi, lebih keras dari sebelumnya. Wajahnya memanas.
Astaga…
Ia berharap suara itu tertelan oleh angin malam atau tertutup oleh percakapan para pengawal. Ia menunduk, pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Namun dari sudut matanya, ia melihat Li Chenghan menghentikan ucapannya. Tatapan tajam itu beralih ke arahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah mendekat.
“Makanlah.”
Sebuah tangan kembali terulur—kali ini membawa roti gandum dan beberapa buah kecil yang dibungkus kain bersih.
Bai Ruoxue terdiam sesaat.
“T—terima kasih.”
Ia menerima makanan itu perlahan, berusaha menyembunyikan rasa malunya. Roti itu masih sedikit hangat. Entah sejak kapan ia mempersiapkannya.
Ia menggigit kecil. Rasa sederhana itu entah mengapa terasa menenangkan.
Ketika ia mengangkat wajahnya lagi, Li Chenghan sudah kembali pada pekerjaannya. Seolah tindakan tadi bukan sesuatu yang perlu diperbincangkan.
Namun bagi Bai Ruoxue, hal-hal kecil itu terasa… berbahaya. Karena semakin ia merasakan perhatian seperti ini, semakin ia takut kehilangan semuanya.
“Yang Mulia, tendanya sudah siap.”
“Pergilah ke tendamu dan beristirahat.”
Perintah itu jelas ditujukan padanya. Bai Ruoxue berdiri. Ia sempat menatap Li Chenghan sejenak, namun pria itu sudah kembali pada peta dan diskusi seriusnya.
Benar-benar sibuk.
Benar-benar seorang penguasa.
Ia berjalan menuju tenda yang telah disiapkan untuknya. Bagian dalamnya cukup nyaman, dengan alas tebal dan selimut bersih. Ia merebahkan tubuhnya perlahan.
Hari ini terlalu panjang. Otaknya terasa penuh.
Besok, ia harus menghadapi lebih banyak lagi—pembuktian dirinya tak bersalah.
Ia memejamkan mata. Namun belum lama.
Krek.
Suara halus terdengar. Matanya langsung terbuka. Ia menahan napas.
Tidak ada apa-apa.
Hanya bayangan kain tenda yang bergerak tertiup angin. Ia memejamkan mata lagi.
Krek… sss…
Gerakan itu terdengar lebih jelas. Kali ini bayangan di dinding tenda tampak berbeda. Seperti sesuatu yang merayap. Bai Ruoxue langsung duduk. Jantungnya berdetak cepat.
“Apa itu…?”
Ia meraih bantal di sampingnya dan dengan refleks melemparkannya ke arah bayangan itu.
“Ah!!”
Tiba-tiba rasa perih yang luar biasa menjalar dari kakinya. Seperti ditusuk jarum panas. Ia menjerit tertahan. Sesuatu menggigitnya.
Ia melihat ke bawah—
Seekor ular melilit pergelangan kakinya. Matanya membelalak. Sakitnya tajam, menusuk. Air mata langsung menggenang. Sebelum ia sempat berteriak lagi, tirai tenda terbuka kasar.
“Ada apa?!”
Li Chenghan masuk dengan wajah tegang. Begitu melihat Bai Ruoxue yang menangis dan ular yang masih menggigitnya, matanya langsung berubah dingin. Tanpa ragu, ia meraih tubuh ular itu.
Bai Ruoxue meringis ketika gigi ular itu sedikit tertarik dari kulitnya. Dengan gerakan cepat namun terkontrol, Li Chenghan melepaskan gigitan itu dan menggenggam ular tersebut dengan tangan kosong.
Ular itu meronta. Namun genggamannya terlalu kuat. Ia menatapnya sekilas.
“Tidak berbisa.”
Suara Li Chenghan tenang, tetapi rahangnya menegang. Ia keluar sebentar, kemungkinan membuang ular itu jauh dari perkemahan. Ketika kembali, ia sudah berlutut di samping Bai Ruoxue.
“Ambilkan salep,” perintahnya pada pengawal yang berdiri tegang di luar.
Salep dan kain perban segera diserahkan. Li Chenghan duduk lebih dekat. Ia mengangkat kaki Bai Ruoxue dengan hati-hati, memeriksa luka gigitan itu.
“Ssh…”
“Sakit?” tanyanya rendah.
Bai Ruoxue mengangguk pelan, menahan air mata.
“Ular tadi tidak berbisa. Hanya rasa sakitnya yang tajam.”
Tangannya yang besar mengoleskan salep dengan lembut. Sentuhannya jauh lebih hati-hati dari yang ia bayangkan. Setelah itu, ia membalut luka tersebut dengan rapi. Setiap gerakannya terukur. Namun aura di sekitarnya terasa berbeda.
Dingin.
Mencekam.
“Yang Mulia, kami akan memperketat keamanan. Anda bisa kembali beristirahat,” ujar salah satu pengawal dengan nada bersalah.
Li Chenghan berdiri.
Tatapannya tajam.
“Tidak perlu.”
“Aku sendiri yang akan menjaganya malam ini.”
Kata-kata itu jatuh tegas. Tanpa ruang untuk dibantah. Para pengawal segera mundur. Dan tenda kini kembali sunyi. Hanya ada mereka berdua.
Li Chenghan melepas jubah luarnya, lalu berbaring di sisi lain alas tidur.
Posisinya dekat.
Terlalu dekat.
“Tidurlah.”
Bai Ruoxue tidak langsung bergerak. Ia kaku. Ia belum pernah berada dalam situasi seperti ini. Satu ruang sempit. Satu alas tidur. Bersama pria yang begitu berkuasa.
“Aku tak akan melakukan sesuatu padamu.”
Seolah membaca pikirannya, ia mengucapkan kalimat itu tanpa membuka mata. Nada suaranya datar. Namun entah mengapa terdengar tulus.
Bai Ruoxue perlahan merebahkan tubuhnya, membelakangi Li Chenghan. Jarak mereka hanya beberapa inci. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu di punggungnya. Hutan di luar masih sunyi. Namun di dalam tenda kecil itu, suasana terasa berbeda.
Aneh.
Hangat.
Dan aman.
Rasa aman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Di balik ketakutan, rahasia, dan ancaman yang membayangi—
Ada satu hal yang tak bisa ia sangkal.
Ketika Li Chenghan berkata ia akan menjaganya, ia benar-benar percaya.
Dan justru kepercayaan itulah yang membuat hatinya semakin bergetar. Karena jika suatu hari kebenaran tentang dirinya terungkap—
Apakah pria yang kini menjaganya dengan tubuhnya sendiri…
Akan tetap berdiri di sisinya?
Atau justru menjadi orang pertama yang menghukumnya?
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi