Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Saat Nadine keluar menuju mobil, Aurel yang sedang menyesap kopi di ruang tengah hampir tersedak. Matanya melotot melihat si pelayan buruk rupa kini mengenakan pakaian bermerek yang bahkan Aurel sendiri belum memilikinya.
"Aditya! Apa-apaan ini?! Kenapa dia berubah?" teriak Aurel histeris. "Dan kenapa kamu membelikan dia baju semahal itu, bukankah Dia seorang pelayan!, harusnya dia tetap memakai seragam pelayan untuk menjadi asisten pribadimu?!"
Aditya yang sudah berada di dalam mobil hanya menurunkan kaca jendela sedikit. "Dia asistenku. Penampilannya adalah representasi perusahaanku. Dan Aurel... bukankah kamu bilang ingin fokus pada bagian pemasaran? Silakan berangkat sendiri, mobilmu sudah siap di depan."
Mobil mewah itu pun meluncur pergi, meninggalkan Aurel yang menjerit frustrasi di teras mansion.
"kurang ajar si pelayan buruk rupa itu, awas ya... aku akan membuatnya malu di perusahaan" seru Aurel menghentak-hentakkan kakinya lalu masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan Aditya.
___
Suasana di dalam mobil sangat hening. Nadine duduk di kursi belakang samping Aditya. Melalui pantulan kaca jendela, ia bisa melihat Aditya sesekali meliriknya.
"Masker itu... cocok untukmu," gumam Aditya tiba-tiba tanpa menoleh. "Setidaknya matamu yang cerdas tidak tertutup oleh kulit kusammu itu."
Nadine mengenakan setelan kantor modern yang diberikan Aditya, tunik dengan jilbab sutra senada. Meski wajahnya tertutup masker hitam, mata jernihnya yang cerdas terpancar kuat, menciptakan aura keanggunan yang tidak bisa disembunyikan oleh bedak kusam sekalipun.
Aditya sesekali melirik Nadine dari balik tabletnya. Ia merasa aneh, asisten barunya ini terlihat sangat profesional, jauh dari kesan pelayan desa yang pertama kali ia lihat.
Tiba-tiba, layar navigasi di dashboard mobil berkedip. Noah, yang sedang memantau dari rumah kontrakan, mulai menjalankan serangan nya.
Bukannya menampilkan peta jalan tol, layar itu tiba-tiba memutar sebuah sholawat Jibril akustik yang sangat lembut, lagu yang dulu sering diputar Aditya saat mereka menghabiskan waktu sore di teras ruko mereka di Jawa Timur.
Aditya tersentak. "Supir, apa itu? Kenapa audionya berbunyi sendiri?"
"Maaf Tuan, sepertinya sistemnya sedang error," jawab supir dengan bingung sambil mencoba menekan tombol off, namun Noah sudah mengunci sistemnya.
Aditya terdiam. Alunan sholawat akustik itu seolah menarik paksa jiwanya kembali ke masa lalu. Ia memejamkan mata, kepalanya mulai berdenyut. Di sampingnya, Nadine meremas tasnya kuat-kuat. Ia mengenali itu saat pertama kali Aditya melamarnya dengan kesederhanaan.
"Mona..." suara Aditya terdengar parau. "Apa kamu pernah merasa... bahwa kamu pernah berada di suatu tempat yang sangat damai, tapi kamu tidak tahu di mana itu?"
Nadine menoleh perlahan, matanya bertemu dengan mata Aditya yang tampak tersiksa. Di balik maskernya, bibir Nadine bergetar.
"Mungkin tempat itu bukan sebuah titik di peta, Tuan Muda," jawab Nadine dengan suara tenang yang menghanyutkan. "Tapi sebuah rasa. Rasa aman yang hanya bisa ditemukan di samping seseorang yang sangat berarti. Kadang, jiwa kita ingat, meski pikiran kita lupa."
Aditya terpaku. Jawaban itu terlalu dalam. Ia menatap Nadine lebih lama, mencoba mencari sesuatu di balik masker itu. "Kenapa setiap kata yang kamu ucapkan... selalu terasa seperti obat sekaligus racun bagiku?"
" itu hanya perasaan anda saja Tuan" sahut nya sopan.
Begitu mobil sampai di lobi gedung perkantoran mewah miliknya, Aditya turun diikuti oleh Nadine. Kehadiran Nadine yang mengenakan masker dan baju berkelas langsung mencuri perhatian seluruh karyawan.
"Siapa itu? Asisten baru? Tapi kok matanya seperti pake kacamata tebal?" bisik salah satu staf di lobi.
Aditya tidak peduli. Ia berjalan dengan langkah tegap, namun tangannya sempat menarik lengan Nadine saat kerumunan wartawan mencoba mendekat di depan pintu masuk. Ia melindungi Nadine dengan tubuhnya, sebuah insting perlindungan yang muncul begitu saja tanpa ia sadari.
Di sudut lobi, Aurel sudah menunggu dengan wajah merah padam. Ia menyusul menggunakan mobil keluarga Pratama demi tidak ketinggalan momen.
"Aditya! Kamu benar-benar membawa barang rongsokan ini ke kantor?" teriak Aurel di depan orang banyak. "Dia itu pelayan, Adit! Bukan asisten! Kamu mempermalukan nama keluarga Pratama!"
Aditya berhenti, menatap Aurel dengan dingin yang mematikan. "Aurel, mulai hari ini, Mona adalah orang kepercayaanku. Jika kamu menghinanya, artinya kamu menghina keputusanku sebagai CEO. Masuk ke ruanganmu, atau aku akan membatalkan posisi Direktur Operasionalmu sekarang juga."
Nadine berdiri tegak di belakang Aditya. Di telinganya, suara Noah terdengar bangga. "Bagus, Ayah! Terus lindungi Ibu. Noah bangga sama Ayah"seru Noah, membuat Nadine menyunggingkan senyumnya di balik masker, ia tidak menyangka putranya akan sebahagia itu.
Aditya jalan melewati Aurel... tak lupa Nadine berjalan di belakangnya... para karyawan melihatnya aneh, namun tidak ada yang berani untuk menegurnya.
"kau tetap masuk ke dalam ruanganku!"ucap Aditya yang tidak mau dibantah, sementara sekretaris Aditya sempat ingin protes, namun ia segera menutup mulutnya rapat-rapat, melihat tatapan tajam dari atasannya.
Di dalam ruangan yang sangat luas itu, Nadine tetap berdiri di belakang Aditya yang sudah duduk di meja kerjanya.
"Apa kau tidak capek Mona?"tanya Aditya tanpa menoleh.
"terus saya harus apa Tuan?, sedangkan pekerjaan saya melayani anda, jadi otomatis saya harus berada di samping anda" jawab Nadine dengan suara serak yang di buat-buat seperti biasanya.
Aditya sedikit menyunggingkan senyumnya, ia benar-benar merasa nyaman saat dekat dengan pelayannya itu.
"sekolahmu sampai tingkat apa?"tanya Aditya sambil memeriksa berkas-berkas penting yang akan dibawa ke ruang rapat nanti,
"Kebetulan , Saya hanya lulusan kejar paket C, yang artinya setara dengan SMA" jawab Nadine jujur.
Aditya mengerutkan keningnya , ia sedikit tidak percaya, karena melihat kecerdasan di mata Nadine tidak mungkin Nadine hanya lulusan kejar paket...
Saat Aditya akan berbicara, tiba-tiba pintu diketuk dari arah luar,
Tok
Tok
Tok
"Masuk..." sahut Aditya dengan nada dingin.
Sekretaris Aditya masuk dengan wajah menunduk.
"Maaf mengganggu waktunya Tuan, sebentar lagi rapat dengan para direksi akan dimulai, semuanya sudah berkumpul di ruang rapat... tinggal menunggu kehadiran Tuan muda saja"ucap sekretaris dengan sopan.
"Siapkan semuanya... sebentar lagi saya akan ke sana"sahut Aditya tanpa menoleh, ia masih sibuk dengan berkas-berkasnya yang menumpuk di meja kerjanya.
Setelah sekretarisnya keluar dari ruangan, Aditya menoleh pada Mona yang masih berdiri di belakangnya.
"persiapkan dirimu, kita akan ke sana sekarang" ucap Aditya datar.
Nadine menaikkan kedua alisnya"Apa perlu saya ikut tuan?"tanya Nadine tanpa basa-basi.
"tentu saja, sekarang kau adalah asisten pribadiku, jadi... Kemanapun aku pergi, kamu harus selalu berada di sebelahku" jawab Aditya, ia menaikkan sebelah sudut bibirnya, namun Nadine menunduk, jadi Nadin tidak bisa melihatnya.