Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 9 - TAWARAN YANG TAK MASUK AKAL
Ara berbalik.
Gill masih duduk di posisinya, ponsel sudah tidak lagi di tangannya, matanya menatap Ara dengan ekspresi yang selalu sama Datar. Tidak mendesak. Seperti ia bisa menunggu jawaban itu sampai besok atau tidak sama sekali dan tidak akan ada bedanya bagi dirinya.
Tapi ia sudah bertanya.
Dan itu sendiri sudah cukup mengejutkan bagi Ara, karena selama dua hari terakhir Gill adalah orang yang paling tidak tertarik untuk membuka percakapan dengan siapa pun, apalagi dengan Ara.
Ara berdiri di tengah atap itu selama beberapa detik, menimbang pilihan yang ada. Bohong, iya atau tidak, atau jawaban tengah yang tidak menjelaskan apa-apa.
Ia memilih untuk kembali duduk.
Bukan di tempat yang sama seperti tadi, tapi tidak juga jauh. Jarak yang cukup untuk tidak terasa seperti sengaja mendekat tapi cukup dekat untuk bicara tanpa harus berteriak melawan angin.
Gill tidak berkata apa-apa soal itu. Hanya mengamati.
Ara meletakkan bekalnya di sampingnya, menatap permukaan atap di depannya sebentar, lalu mengangkat kepala dan memutuskan untuk jujur. Bukan karena ia tidak punya pilihan lain, tapi karena berbohong kepada seseorang yang tidak tertarik pada versi sempurna Tiara Alexsandra terasa sia-sia dengan cara yang berbeda dari biasanya.
"Nggak," Ara menjawab akhirnya.
Gill diam menunggu.
"Gosip itu nggak benar," Ara melanjutkan, memilih setiap kata dengan hati-hati tapi tidak dengan cara yang dibuat-buat. "Kemarin di kantin, aku lagi di posisi yang nggak enak. Sahabatku, Via, suka sama seseorang. Dan aku juga sempat ngerasa hal yang sama ke orang yang sama itu, atau setidaknya aku pikir begitu. Tapi kemudian dia cerita ke aku, dan aku nggak mau dia ngerasa aku ngalah karena kasihan. Jadi waktu dia nanya aku suka siapa, aku..." Ara berhenti sebentar. "Nama kamu yang keluar."
Gill menatapnya.
Tidak ada perubahan di wajahnya. Tidak terkejut, tidak tersinggung, tidak pula terkesan. Hanya mendengarkan dengan cara yang membuat Ara tidak bisa membaca apa pun darinya.
"Tanpa rencana," Ara menambahkan, karena itu tampaknya penting untuk dijelaskan. "Bukan karena aku beneran ada perasaan ke kamu atau apa. Kamu cuma..." ia mencari kata yang tepat, "nama yang paling dekat di pikiranku waktu itu. Karena insiden kemarin. Dan kemarin malam di minimarket."
Hening sejenak.
Angin lewat di antara mereka, pelan dan tidak terburu-buru.
Gill mengambil jajanan dari kantong plastiknya, sebungkus keripik yang ia buka dengan cara yang terlalu santai untuk seseorang yang baru saja mendengar namanya disebut sebagai alasan sebuah gosip menyebar ke seluruh sekolah. Ia memasukkan satu keripik ke mulutnya, mengunyah, dan baru kemudian berkata, "Hidupmu sungguh merepotkan, dan berkatmu sekarang hidupku jadi ikut merepotkan."
Ara tidak langsung menjawab.
Ia sadar, bahwa dengan menyebut nama Gill akan membuatnya terseret kedalam masalah ini, Gill bahkan tak tahu apa-apa.
"Maaf," ia menjawab. "Aku tak bermaksud."
Gill meliriknya sebentar, lalu kembali ke keripiknya.
"Jadi sekarang mau apa?" ia bertanya, bukan dengan nada yang sangat peduli tapi cukup untuk menyampaikan bahwa ia masih mendengarkan.
Ara menatap langit yang mendung di atasnya. "Aku nggak tau. Aku mau Via bisa mengejar perasaannya tanpa ngerasa aku yang ngalah demi dia. Aku mau gosip itu berhenti tapi aku juga nggak tau cara ngeberhentikannya tanpa bikin semuanya makin aneh. Dan aku mau..." ia berhenti sebentar. "Aku mau satu hari aja dimana aku nggak harus jadi Tiara si sempurna yang harus tau jawaban semua hal."
Kalimat itu keluar lebih panjang dan lebih jujur dari yang ia rencanakan.
Ara merapatkan bibirnya setelahnya, sedikit menyesal karena sudah mengucapkan bagian terakhir itu.
Tapi Gill tidak berkomentar soal bagian terakhir itu. Tidak mentertawakannya, tidak pula merespons dengan cara yang membuat Ara menyesal sudah berbicara. Ia hanya duduk di sana, mengunyah keripiknya, menatap ke arah cakrawala kota Eldria yang terlihat kabur di balik mendung tipis.
Beberapa detik berlalu.
"Soal Via," Gill berkata akhirnya.
Ara menoleh.
"Kalau kamu mau dia percaya kamu punya alasan sendiri untuk tidak memilih orang yang sama dengannya," Gill melanjutkan, masih menatap ke depan, nada suaranya sama datar seperti selalu, "maka kamu harus kasih dia bukti yang lebih kuat dari sekadar nama yang keceplosan."
Ara mendengarkan.
"Nama yang keceplosan itu mudah dibantah," Gill berkata. "Dan temanmu itu, yang tadi pagi datang dan nanya ke aku soal ini, dia bukan orang yang mudah diyakinkan dengan setengah bukti."
Ara tersentak. "Via datang ke kamu?"
"Tadi pagi. Di lorong." Gill akhirnya menoleh ke arah Ara, satu detik kontak mata yang cukup untuk Ara membaca bahwa ia tidak terlalu terkesan dengan kunjungan Via tadi. "Dia nanya apa yang kamu bilang di kantin kemarin itu benar atau tidak."
"Dan kamu bilang dia gila."
Gill tidak terlihat menyesal sama sekali. "Dia datang ke orang asing dan nanya hal yang bukan urusannya. Jelas itu gila."
Ara menarik napas. "Itu sahabatku."
"Ya. Kalian berdua gila."
Ara memutuskan untuk tidak melanjutkan debat itu karena dari sudut pandang Gill yang sama sekali tidak kenal siapa pun di drama ini, ia mungkin tidak sepenuhnya salah.
"Jadi kamu bilang aku butuh bukti yang lebih kuat," Ara berkata, kembali ke poin sebelumnya. "Maksudnya apa?"
Gill menatapnya beberapa detik.
Dan kemudian ia berkata sesuatu yang sama sekali tidak Ara duga akan keluar dari mulut seseorang yang dua hari terakhir ini tidak pernah menunjukkan minat sedikit pun pada urusan orang lain.
"Pacaran."
Satu kata.
Tujuh huruf.
Ara menatapnya. "Hah?"
"Kalau kamu mau berbohong," Gill berkata, suaranya tidak berubah dari nada datar yang sama seperti ia sedang membahas cuaca atau jadwal pelajaran, "berbohonglah sampai akhir. Jangan setengah-setengah."
Ara membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Lalu membukanya lagi.
"Kamu..." ia mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar. "Kamu menyarankan kita pura-pura pacaran."
"Aku tidak menyarankan." Gill memasukkan satu keripik lagi ke mulutnya. "Aku menawarkan."
"Itu sama saja."
"Tidak sama."
Ara menatap cowok di depannya itu dengan perasaan yang campurannya terlalu kompleks untuk ia urai sekarang. Bingung, iya. Tidak percaya, juga iya. Tapi ada sesuatu lain di bawah kedua itu yang ia tidak mau akui namanya.
"Kenapa?" Ara bertanya akhirnya. "Kenapa kamu mau repot-repot?"
Gill diam sebentar. Ia menutup bungkus keripiknya, meletakkannya di atas kantong plastik di sampingnya, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding dengan satu tangan bertumpu di lutut.
"Menurutmu kenapa?" ia menjawab akhirnya. "Namaku sudah masuk ke dalam masalahmu tanpa aku minta. Jadi sekarang ini sudah menjadi urusanku juga, mau atau tidak."
Ara diam.
Itu logika yang tidak bisa ia bantah.
"Dan," Gill melanjutkan, nada suaranya tidak berubah tapi ada sesuatu yang berbeda dari cara ia memilih kata berikutnya, "kamu kelihatan.. lelah."
Ara berkedip. "Apa?"
"Kamu mengingatkan ku pada seseorang, yang selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu, hingga akhirnya ia berhenti jadi dirinya sendiri." Gill berkata itu bukan dengan cara yang lembut atau penuh simpati, lebih seperti seseorang yang membaca cuaca dari awan dan menyampaikan prediksinya tanpa emosi berlebih. "Dan sekarang kamu terjebak dalam situasi dimana kamu mau ngalah lagi buat orang lain. Temanmu itu."
Ara tidak langsung menjawab.
Karena kalimat itu, diucapkan oleh seseorang yang bahkan tidak memperdulikan Ara sampai tiga kali pertemuan, terasa seperti sesuatu yang harusnya tidak bisa dilihat oleh orang yang baru ia kenal dua hari.
"Aku tidak—" Ara memulai.
"Kamu mau bilang tidak apa-apa," Gill memotong, tidak kasar, hanya datar. "Tapi itu juga bagian dari menjaga semua orang kecuali dirinya sendiri."
Hening.
Angin lewat lagi. Lebih kencang kali ini, membawa serta bau tanah dari arah taman sekolah di bawah.
Ara menatap permukaan atap di depannya. Tidak menjawab karena tidak punya jawaban yang tepat, dan untuk sekali ini ia tidak mau mengisi keheningan hanya karena keheningan terasa tidak nyaman.
"Tawaran itu masih berlaku," Gill berkata setelah beberapa saat, nada suaranya kembali ke kualitas netralnya yang biasa, seolah ia sudah selesai berbicara tentang hal-hal yang lebih berat dan sekarang kembali ke mode defaultnya. "Kamu pikir sendiri. Aku tidak akan nanya lagi."
Ia mengambil ponselnya kembali.
Jarinya mulai bergerak di layar.
Dan dengan cara itu, percakapan ditutup dari sisinya, bukan dengan keras, hanya dibiarkan selesai dengan sendirinya seperti lagu yang memudar di akhir bukan dipotong tiba-tiba.
Ara duduk di sana beberapa menit lagi.
Menatap kota Eldria yang terbentang di balik pagar atap. Gedung-gedung, jalan-jalan, langit yang mendung tapi belum hujan. Semuanya bergerak di bawah sana dengan ritme masing-masing tanpa peduli bahwa di atas atap sebuah sekolah, seorang gadis berambut blonde sedang duduk dengan bekal yang sudah hampir dingin dan satu tawaran yang tidak masuk akal masih bergema di kepalanya.
Pura-pura pacaran.
Dengan Gian William.
Yang bahkan tidak ingat tidak perduli padanya sampai pertemuan ketiga.
Ara mengambil sendoknya dan meneruskan makan siangnya yang sudah dingin, karena bagaimanapun perutnya tetap lapar meski kepalanya sedang penuh.
Di sudutnya, Gill masih bermain ponsel dan sesekali mengambil jajanan dari kantong plastiknya dengan gerakan yang sama sekali tidak mencerminkan bahwa ia baru saja membuat tawaran yang cukup besar kepada orang yang bahkan belum bisa ia ingat namanya tiga hari lalu.
Ara mengunyah pelan.
Memikirkan Via yang tadi pagi sudah mendatangi Gill sendirian. Memikirkan Mike dan pertanyaannya yang belum terjawab. Memikirkan Lina dan Diana dan gosip yang sudah menyebar ke mana-mana. Memikirkan seragam Gill yang dua kali sudah kena makanan karena kehadirannya, langsung maupun tidak langsung.
Dan memikirkan satu kalimat yang masih menempel di sudut kepalanya.
*Kamu kelihatan lelah.*
Ara menelan suapannya.
Tidak ada yang pernah berkata itu kepadanya sebelumnya. Bukan karena tidak ada yang melihat, mungkin ada yang melihat tapi memilih tidak menyebut. Atau mungkin tidak ada yang benar-benar memperhatikan ke arah yang benar.
Tapi cowok yang bahkan tidak tahu siapa dirinya tiga hari lalu melihat itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit percakapan yang bahkan tidak ia mulai dengan niat yang baik.
Ara menutup kotak bekalnya.
Bel istirahat akan berbunyi dalam beberapa menit lagi.
Ia harus kembali ke kelas, menghadapi Via, menghadapi Mike, menghadapi semua yang menunggunya di bawah sana. Dan malam ini ia harus memikirkan tawaran yang tidak masuk akal dari seseorang yang tidak masuk akal, yang diucapkan dengan cara yang tidak masuk akal, tapi entah mengapa terasa seperti satu-satunya hal yang paling jujur yang ia dengar dalam beberapa waktu terakhir.
Ara berdiri, mengambil bekalnya.
Menoleh sebentar ke arah sudut di mana Gill masih duduk.
"Terima kasih," ia berkata. "Untuk yang tadi."
Gill tidak mengangkat kepala dari ponselnya. "Hm."
Ara berbalik dan berjalan ke arah pintu atap.
Tangannya mendorong pintu itu terbuka, dan suara sekolah menyambut lagi, ramai dan penuh dan tidak ada ruangnya untuk diam.
Tapi di dalam kepalanya, di satu sudut yang kecil dan agak terlindung dari semua kebisingan itu, sesuatu yang tadinya sangat penuh dan berat terasa sedikit lebih ringan.
Hanya sedikit.
Tapi tetap terasa.