Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi yang tidak begitu cerah itu masih dihiasi aroma kopi dan suara mesin printer berdetak monoton. Beberapa langkah kaki pegawai juga terdengar buru-buru, bolak-balik membawa berkas dari satu tempat ke tempat yang lain. Entah tugas apa yang memaksa mereka harus bergelud dengan mesin-mesin itu di pagi buta.
Ruang rapat yang sunyi khas aroma AC yang tidak dimatikan sejak semalam. Cyan berdiri di depan layar presentasi, tangan menyilang, menatap tim yang satu per satu datang mengambil posisi duduk. Ia menarik napas panjang, menyiapkan diri menghadapi agenda panjang hari ini.
Magenta masuk dengan langkah santai sambil bersiul dengan pandangan yang langsung tertuju pada Cyan. Senyum tipis muncul di bibirnya, memberi salam, lalu duduk di kursi samping Raka.
Rapat dimulai.
Cyan membuka presentasi dengan tegas, memaparkan angka dan strategi jelas. Suara dan nada Cyan begitu lantang, sehingga setiap anggota tim tahu bawa saat ini tidak ada waktu bercanda, sedikit pun.
Namun, Magenta tidak bisa menahan diri. Saat salah satu anggota tim menjelaskan proyek, ia menyelipkan komentar sekilas.
“Kalau saya yang presentasi, pasti ada efek jedag jedug sound horeg biar lebih hidup,” ucapnya memecah hening. Seketika seluruh mata tertuju padanya.
“Mas Magenta, ini rapat serius. Tolong meracaunya ntar dulu,” tegur Cyan datar, lebih datar dibanding papan tulis di depan mereka.
Magenta mengangkat bahu, pura-pura patuh, lalu menatap Raka.
“Ayo, Mas, bikin suasana gak garing banget. Gue bisa ngantuk kalo srius kek gini,” bisik Raka lalu terkekeh geli.
Raka mencondongkan tubuh, setengah berbisik. “Kalau Bu Cyan tiba-tiba lompat karena tikus pasti lucu, ‘kan?”
“Pffft.” Magenta menahan tawa.
“Rapat ini untuk pekerjaan, bukan drama kolosal. Jadi, tolong fokus ya Genta,” tegur Cyan lagi setelah memperhatikan keduanya sibuk sendiri.
“Iya Bu Bos, saya nggak bisa main drama kolosal juga soalnya saya bukan Jaka Tingkir.”
Meski Cyan terkesan sangar dan menyeramkan, tetapi komentar absurd Magenta dan Raka berhasil memancing tawa ringan dari anggota tim lain. Dari ide kucing mengenakan jas yang memimpin rapat, hingga elevator yang tiba-tiba berubah jadi trampoline. Sesuatu yang ditunggu-tunggu karena rapat jadi tidak terlalu monoton, terlebih ketika Cyan menjelaskan materi panjang tanpa jeda.
Ah, mengantuk sekali. Ingin rasanya keluar dari ruangan itu, tetapi takut dipecat atasan yang galaknya bukan main.
Cyan menahan senyum dan matanya terus mengawasi setiap gerakan Magenta. Meski harus terus menegur, ia diam-diam merasakan detak jantung yang lebih cepat setiap kali Magenta mencondongkan tubuh atau menatap sekilas dengan senyum tipis ke arahnya.
Rapat berjalan dengan kombinasi serius dan humor kecil-kecilan. Magenta dan Raka seperti tim kompor yang saling lempar komentar, sementara Cyan tetap menjadi jangkar tegas, memastikan semua informasi tersampaikan. Setiap kali Magenta mencoba membuat jokes spontan baru, Cyan menatapnya dengan mata setengah marah, setengah menahan geli.
Akhirnya, rapat selesai. Cyan menutup presentasi, dengan menatap seluruh anggota tim.
“Baik, sampai di sini saja. Pastikan catatan ini dikirim ke semua anggota tim sebelum siang. Terima kasih atas fokusnya, yang tidak fokus biarkan saja,” sindir Cyan mengalihkan pandangan ke Magenta dan Raka sepersekian detik.
Magenta menoleh ke Cyan, senyum tipis kembali muncul. Cyan menunduk, menahan senyum yang ingin lolos. Ini terlalu cepat ketika harus menyadari kehadiran Magenta memang membuat hatinya jauh lebih hangat.
***
Sore hari, mereka naik lift untuk pulang. Saat tombol lantai ditekan dan lift menurun, lift tiba-tiba berhenti mendadak, lampu berkedip beberapa kali sebelum stabil.
“Hah elah, liftnya rusak,” gumam Magenta sambil menyeimbangkan tubuhnya.
"Serius? Gimana nih?” kata Cyan mulai gemetar. Ia teringat kasus-kasus di luar negeri tentang lift yang macet dan memakan korban. Atau adegan di film horor di mana tokoh-tokohnya mati tergencet lift itu sendiri. Hm, mengerikan, Cyan buru-buru menggeleng, membuang pikiran jelek itu.
Magenta langsung menoleh. Baru kali ini ia melihat ekspresi Cyan yang menegang seketika. Alisnya mengernyit, rahangnya kaku, dan kedua tangannya refleks menggenggam tangan Magenta.
“Eh,” kata Magenta pelan, refleks menaikkan satu telapak tangan, “tenang dulu. Jangan panik. Lift itu sensitif, dia biasanya makin ngadat kalau kita teriak.”
“Ini bukan waktunya bercanda, Genta.” Suaranya serak, hampir seperti ingin menangis.
“Aku serius. Liat tuh, lampunya masih nyala. Artinya dia cuma ngambek sebentar.”
“Bayangin deh, kalau kita lagi di lift gini, tapi tiba-tiba ada kucing pake jas nyanyi opera.” Magenta berbisik sambil tersenyum.
“Jangan bercanda, Genta. Ini hal serius,” tegas Cyan.
Magenta langsung mengangguk. Senyumnya menghilang sejenak, digantikan ekspresi lebih serius.
“Oke, at least jangan terlalu panik, Syan.”
Ia berdiri lebih tegak, lalu menunjuk panel lift.
“Tombol daruratnya masih menyala. Artinya sistemnya nggak mati total. Jadi kita masih aman.”
Cyan menatap panel itu, mencoba mencerna. Tangannya masih mengepal di sisi tubuhnya. Perempuan itu sangat takut.
“Petugas pasti bakal tahu. Lift kantor ini sering ngambek, tapi pasti balik normal lagi,” lanjut Magenta. Suaranya sengaja direndahkan agar Cyan percaya kali ini tidak sedang bergurau.
Cyan menelan ludah. Ia mencoba mengatur napas, tapi dadanya terasa sesak. Ruang sempit, dinding besi, dengan udara yang semakin padat, membuat kepalanya penuh.
Magenta menangkap perubahan itu dan kali ini celetukannya melambat.
“Syan, tarik napas pelan, yuk. Ikutin aku.”
“Aku nggak papa....”
“Tarik napas,” ulang Magenta, tegas nan lembut.
“Satu, dua, tiga.”
Entah mengapa, Cyan menuruti. Ia mengikuti arahan Magenta perlahan meski dadanya terasa seperti ditindih besi raksasa.
“Bagus,” lanjut Magenta, “sekarang hembuskan. Bayangin kita lagi di ruang rapat dan Raka lagi disemprot sama kamu.”
“Matamu! Itu sama sekali nggak menenangkan, Genta!”
“Bohong,” balas Magenta cepat. “Itu terapi terbaik buat kamu, ‘kan? Ngomelin staf di kantor.”
Cyan memalingkan wajah, tapi Magenta bisa melihat bahunya sedikit mengendur. Ia tersenyum tipis, lalu melanjutkan dengan nada sengaja dibuat-buat.
“Kalau kamu mau yang lebih ampuh, kita bisa bayangin lift ini sebenernya cuma mau didengar. Mungkin dia capek ngangkut orang-orang kantor yang isinya orang-orang stress semua.”
“Kamu selalu bisa nemu hal aneh di situasi gawat gini,” gumam Cyan.
“Ya karna kalau nggak, kita cuma bisa panik dan panik itu ... bukan kamu banget Syan.”
Cyan terdiam. Magenta melangkah sedikit lebih dekat, masih menjaga jarak, tapi cukup agar Cyan tidak merasa sendirian. Karena perbedaan tinggi, Magenta harus sedikit mendongak untuk menatap wajah Cyan.
“Kamu aman. Ada aku di sini. Lift ini juga pasti jalan lagi. Dia cuma lagi caper doang.”
Cyan menatap lantai, lalu tanpa sadar mengangguk kecil.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Hanya ada suara dengung mesin dan napas mereka yang perlahan kembali stabil.
“Kalau kita terjebak lama juga, kita bisa bikin rapat darurat di sini biar waktu kita efektif,” ucap Magenta tiba-tiba menyeletuk.
Cyan melirik. “Rapat apaan?”
“Rapat evaluasi hidup. Agenda pertama, kenapa AC kantor selalu terlalu dingin? Atau, kenapa Mas Magenta selalu telat? Atau, kenapa Bu Cyan yang perfect itu mau aja dijodohin sama orangtuanya, dan kenapa dia nggak nolak dan marahin orangtuanya kayak dia lagi adu argumen sama manajernya di kantor?” jawab Magenta serius palsu.
Cyan terkekeh kecil, tapi nyata.
“Nah, itu dia. Senyum, Syan, liftnya pasti luluh.”
Seolah mengiyakan, lift bergetar cukup kencang. Cukup untuk membuat tubuh Cyan terdorong sedikit ke belakang.
“Nah ....”
Kalimatnya terputus. Tumitnya kehilangan pijakan sepersekian detik, cukup untuk membuat keseimbangannya goyah.
Namun, sebelum punggungnya benar-benar menyentuh dinding lift, tangan Magenta sudah lebih dulu meraih pinggangnya.
“Syan.”
Ia refleks, tubuh Cyan tertahan. Jarak mereka menyempit drastis, terlalu dekat untuk sekadar aman, terlalu jauh juga kalau disebut sengaja. Magenta masih melingkarkan tangannya di pinggang Cyan. Seketika adrenalin penyelamatnya muncul, ingin memastikan gadis itu aman tanpa luka segaris pun.
Sementara Cyan menahan napas. Detak jantungnya yang sejak tadi berusaha tenang, kembali melonjak. Namun, kali ini bukan karena lift.
Lampu lift itu berkedip lagi, membuat bayangan wajah mereka bergerak-gerak di dinding logam.
Pandangan mereka bertemu. Cyan menunduk, baru sadar betapa dekat wajahnya dengan wajah Magenta. Ia bisa melihat lekuk senyum tipis yang belum sepenuhnya terbentuk, garis rahang yang tegang menahan fokus, dan mata yang kini menatapnya tanpa bercanda.
“Kalau di Drama Cina, kita pasti langsung ciuman pas momen romantis kayak gini.” Magenta masih menatap Cyan dengan tangan melingkar, menunggu jawaban penolakan atau tamparan dari mulut atasan galak itu.
Tapi yang di dapat malah —
“Kamu mau aku cium disini, Genta?”
“…” Untuk pertama kalinya dalam hidup yang selalu ribut dengan celotehan, Magenta benar-benar terdiam.
“Aku bercanda, Genta. Tadi itu. Terima kasih. Aku hampir jatoh,” kata Cyan pelan, hampir kalah dengan deru mesin. Ia mencoba mengalihkan kalimat barusan. Pegangan pinggang yang rekat erat dari Magenta sedikit mengendur.
“Terima kasih kembali. Gak usah malu. Pegangan aja.”
Cyan mengangguk, “not bad untuk seorang zombie lift kayak kamu.”
“Kamu beruntung, Syan. Aku biasanya cerewet. Tapi sekarang aku yakin kamu nggak butuh aku yang banyak omong, kamu butuh aku yang melindungi kamu.”
Cyan menelan ludah. Tangannya masih mencengkeram kemeja Magenta di bagian dada, sadar sepenuhnya baru datang setelah beberapa menit.
“Ma-maaf,” ucap Cyan buru-buru melepaskan.
Magenta menggeleng pelan. “Nggak perlu. Lama-lama juga gak masalah, kok. Kita kan mau nikah.”
“Ngaco!”
Lift kembali bergoyang, kali ini lebih lembut. Perlahan, mereka sama-sama meluruskan posisi. Namun, jarak itu tidak langsung melebar.
“Genta,” panggil Cyan halus.
“Hm?”
“Kalau nanti lift ini rusak lagi ...?”
Magenta mengangkat alis, menunggu.
“... kamu tolong jangan ke mana-mana.”
Genta tersenyum jahil, “Kamu ketagihan kan dipeluk lagi, Syan?”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣