Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Dari balik kerimbunan semak belukar di atas bukit, Han Feng menahan napas. Matanya yang tajam seperti elang mengamati keempat sosok berjubah putih di bawah sana.
Kelompok dari Sekte Pedang Langit itu terdiri dari tiga pria dan satu wanita. Aura mereka jauh lebih murni dan tajam dibandingkan para kultivator di Keluarga Han. Ini adalah perbedaan kualitas antara murid klan kota kecil dan murid sekte besar.
Pemimpin kelompok itu adalah seorang pemuda tampan dengan wajah arogan, pedang di pinggangnya memiliki sarung berhiaskan permata biru. Namanya Li Jian. Han Feng bisa merasakan fluktuasi energi yang stabil dan kuat darinya.
[Analisis Target: Li Jian] [Kultivasi: Pengumpulan Qi (Qi Gathering) Tingkat 1 Awal] [Ancaman: Tinggi]
"Seorang Ahli Ranah Pengumpulan Qi..." batin Han Feng. Di Kota Awan Terapung, seseorang yang mencapai ranah ini biasanya sudah diangkat menjadi Tetua Muda.
Sementara itu, wanita yang memegang kompas itu bernama Liu Mei. Wajahnya cantik namun dipenuhi lapisan bedak tebal dan ekspresi meremehkan yang permanen. Kultivasinya berada di Pembentukan Tubuh Tingkat 9. Dua pemuda lainnya, yang bertindak sebagai pengawal, berada di Tingkat 8.
"Kombinasi yang merepotkan," analisis Han Feng. "Jika aku menyerang langsung, si pemimpin Pengumpulan Qi itu bisa menyerangku dari jarak jauh menggunakan Qi Pedang, sementara tiga lainnya mengepungku. Aku harus menunggu momen yang tepat."
Di bawah sana, kelompok itu akhirnya tiba di lokasi bangkai Beruang Tanah Lapis Baja.
"Lihat ini!" seru salah satu pengawal, menunjuk bangkai beruang yang hancur mengerikan itu.
Li Jian dan Liu Mei mendekat. Wajah mereka berubah serius saat melihat kondisi bangkai tersebut. Dada beruang itu hancur total, seolah-olah dihantam oleh batu raksasa yang jatuh dari langit. Lengan kirinya putus dengan luka robekan kasar.
"Brutal sekali," gumam Li Jian, menyentuh sisa darah yang mulai mengering. "Tidak ada bekas luka sayatan pedang tajam atau tusukan tombak. Luka ini... disebabkan oleh senjata tumpul yang sangat berat, atau kekuatan fisik murni yang mengerikan."
"Apakah ini perbuatan binatang buas lain?" tanya Liu Mei, menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra karena bau amis.
"Bukan," Li Jian menggeleng. Dia menunjuk jejak kaki manusia yang samar di tanah berlumpur—jejak yang sengaja ditinggalkan Han Feng tapi sudah sebagian terhapus. "Ada manusia di sini. Seseorang mendahului kita membunuh penjaga gua ini. Inti Binatangnya sudah diambil."
"Sial!" umpat Liu Mei. Kakinya menghentak tanah dengan kesal. "Kita jauh-jauh datang dari sekte, menghabiskan tiga hari menelusuri hutan bau ini, hanya untuk melihat sampah sisa orang lain? Kakak Li, kita harus mengejar pencuri itu!"
Li Jian berdiri, tatapannya beralih ke mulut gua yang gelap di ujung lembah.
"Tenanglah, Adik Liu," kata Li Jian dengan senyum tipis yang licik. "Siapapun yang membunuh beruang ini pasti terluka. Lihat darah yang tercecer di tanah, jumlahnya terlalu banyak untuk darah beruang saja. Pelakunya pasti sedang bersembunyi di dalam gua untuk memulihkan diri atau mencari harta utama."
Li Jian menghunus pedangnya. Bilah pedang itu bersinar dengan cahaya biru redup—tanda bahwa pedang itu adalah Senjata Roh Tingkat Rendah.
"Ingat aturan dunia persilatan," lanjut Li Jian sambil menoleh pada rekan-rekannya. "Membunuh monster itu melelahkan, tapi membunuh manusia yang terluka itu mudah. Kita masuk. Jika orang itu kooperatif menyerahkan hartanya, kita biarkan dia hidup sebagai cacat. Jika dia melawan..."
Li Jian tidak menyelesaikan kalimatnya, hanya menggerakkan ibu jarinya di leher sebagai isyarat memenggal kepala.
Ketiga temannya tertawa kecil, setuju dengan rencana jahat itu. Bagi murid sekte besar, merampok kultivator liar (Rogue Cultivator) di hutan adalah hal yang lumrah. Mereka menganggap diri mereka adalah raja, dan orang luar hanyalah semut.
Mereka berempat pun melangkah masuk ke dalam gua dengan formasi tempur.
Di atas bukit, Han Feng mendengar semua percakapan itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai dingin yang menakutkan.
"Ingin menjadi nelayan yang mengambil keuntungan, eh?" bisik Han Feng. Tangannya meraba gagang kasar Pedang Meteor Hitam di punggungnya. "Sayang sekali, kalian bukan nelayan. Kalian hanyalah umpan."
Han Feng melompat turun dari pohon tanpa suara, mendarat dengan ringan seperti kucing, dan membuntuti mereka masuk ke dalam kegelapan gua.
Gua itu lembap dan berbau lumut. Dindingnya dipenuhi kristal fosfor redup yang memberikan pencahayaan alami berwarna kehijauan. Lorong gua itu cukup lebar untuk dilalui tiga orang sekaligus, namun berbelok-belok seperti labirin.
Kelompok Li Jian bergerak hati-hati. Mereka waspada terhadap jebakan atau serangan dadakan dari "ahli misterius" yang mereka duga ada di dalam. Namun, mereka tidak menyadari bahwa bahaya yang sebenarnya sedang mengintai tepat di belakang punggung mereka, menyatu dengan bayangan dinding gua.
Setelah berjalan sekitar lima ratus meter, lorong gua itu berakhir di sebuah ruangan batu alami yang luas.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam kecil yang airnya memancarkan uap panas. Di tengah kolam itu, tumbuh sebatang tanaman teratai berwarna merah menyala yang aneh. Teratai itu hanya memiliki tiga kelopak, dan di pusatnya terdapat sebuah buah kecil seukuran kelereng yang bersinar seperti bara api.
[Teratai Api Inti Bumi (Earth Core Fire Lotus)] [Usia: 100 Tahun] [Khasiat: Buah Roh tingkat tinggi. Sangat efektif untuk memurnikan Qi api atau memperkuat sumsum tulang kultivator fisik.]
Mata keempat murid Sekte Pedang Langit itu berbinar tamak.
"Teratai Api Inti Bumi!" seru Liu Mei, suaranya bergetar karena gembira. "Kakak Li, jika aku memakan buah ini, aku pasti bisa menerobos ke Ranah Pengumpulan Qi dalam waktu satu bulan!"
Li Jian juga menelan ludah. Harta ini bernilai setidaknya 500 Batu Roh di pasar sekte. "Bagus. Sangat bagus. Ternyata perjalanan ini tidak sia-sia."
Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari sosok "ahli misterius" yang membunuh beruang tadi. Tapi ruangan itu kosong. Tidak ada siapa-siapa selain mereka.
"Hah? Di mana orang itu?" tanya salah satu pengawal bingung. "Jejak kakinya mengarah ke sini, tapi orangnya hilang."
"Mungkin dia mati di jalan karena luka-lukanya dan mayatnya dimakan serangga gua?" tebak Liu Mei acuh tak acuh. Dia sudah tidak sabar. "Sudahlah, yang penting hartanya ada di depan mata. Chen Hu, Zhang Wei, kalian berdua pergi petik buah itu untukku!"
"Baik, Nona Liu!"
Dua pengawal itu, Chen Hu dan Zhang Wei, segera melompat menuju kolam. Mereka berlomba ingin mengambil hati si wanita cantik.
Namun, tepat ketika kaki mereka hendak menyentuh pinggiran kolam...
"Berhenti."
Satu kata. Diucapkan dengan nada datar, rendah, dan bergema di seluruh ruangan gua yang tertutup.
Suara itu datang dari arah pintu masuk lorong—tempat yang baru saja mereka lewati.
Li Jian dan Liu Mei berputar cepat, senjata mereka terhunus. Chen Hu dan Zhang Wei juga berhenti mendadak, hampir tergelincir.