Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Yang menempel dan Yang tak terlihat
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya. Entah karena efek sore yang mulai meredup, atau karena pikiran Kiara masih tertinggal di biang lala, pada taman dalam ingatan Sky, pada senyum seorang anak kecil yang bahkan tidak ia kenal.
Motor melaju pelan. Angin sore menyibakkan rambut Kiara yang tidak diikat sempurna. Sky melayang di sampingnya, sedikit lebih tenang dari biasanya. Tidak banyak bercanda. Tidak banyak komentar.
Itu justru terasa aneh.
“Kamu kok diam?” tanya Kiara tanpa menoleh.
Sky mengangkat bahu. “Aku lagi mikir.”
“Sejak kapan kamu mikir tanpa komentar lebay?”
“Sejak aku ingat ada seseorang yang penting buat aku.” Nada Sky lebih pelan. “Rasanya… aneh.”
Kiara mengerem sedikit saat lampu merah. “Aneh bagaimana?”
“Kayak ada bagian hidupku yang dicabut, tapi perasaannya masih tertinggal.” Sky menatap kosong ke jalan. “Aku nggak tahu siapa dia, tapi aku tahu dia berarti.”
Kiara terdiam sejenak. “Pelan-pelan. Ingatanmu muncul sedikit demi sedikit. Itu sudah kemajuan.”
Sky menoleh padanya, tersenyum kecil. “Kamu terdengar kayak terapis.”
“Jangan berharap aku kasih sesi gratis.”
Lampu berubah hijau. Kiara menarik gas lagi.
Beberapa menit kemudian, mereka masuk ke jalan yang lebih sepi, dekat perumahan Kiara. Pohon-pohon besar berjajar, membuat bayangan panjang di aspal. Lampu jalan belum sepenuhnya menyala. Suasananya setengah terang, setengah muram.
Dan di situlah-
Kiara melihat seseorang yang sangat ia kenal.
“Eh, itu Bima,” gumam Kiara.
Bima berjalan dari arah berlawanan. Tas selempang, hoodie hitam, headset menggantung di leher. Wajahnya santai seperti biasa, mulutnya mengunyah permen karet. Tipikal Bima: cuek, sok keren, dan suka ngeledek.
Kiara memperlambat motor. “Aku berhenti sebentar.”
Sky mengangguk. “Oke.”
Kiara memarkir motor di pinggir jalan. “Bima!”
Bima menoleh. Wajahnya langsung berubah jadi ekspresi nyengir khas. “Wih, Kiara. Pulang sore amat. Abis kencan ya?”
“Ngaco,” jawab Kiara refleks.
Sky berdiri di samping Kiara, menyilangkan tangan. “Aku tersinggung.”
“Kamu memang hobi tersinggung,” gumam Kiara pelan.
Bima mendekat. “Serius, tumben banget kamu keluar lama. Biasanya jam segini udah mengurung diri di kamar.”
“Urusan,” kata Kiara singkat.
Dan saat itulah-
Pandangan Kiara teralihkan.
Awalnya ia kira cuma efek cahaya. Atau mungkin bayangan pohon. Tapi kemudian—
Ia melihatnya dengan jelas.
Di sisi Bima.
Seorang wanita.
Berpakaian serba putih.
Gaun panjang menjuntai sampai menyentuh tanah. Rambut hitamnya sangat panjang, terurai, hampir menyeret aspal. Kulitnya pucat. Terlalu pucat. Wajahnya sebagian tertutup rambut.
Dan yang paling salah-
Kakinya tidak menyentuh tanah.
Wanita itu melayang.
Persis seperti Sky.
Jantung Kiara berhenti berdetak sepersekian detik.
Matanya melebar. Tenggorokannya terasa kering.
“Kiara?” Bima mengernyit. “Kamu kenapa bengong gitu?”
Kiara tidak langsung menjawab. Matanya terkunci pada sosok itu.
Wanita itu berdiri sangat dekat dengan Bima. Terlalu dekat. Kepalanya sedikit miring ke arah bahu Bima, seperti sedang bersandar. Tangannya, yang panjang dan pucat, melilit lengan Bima dengan cara yang… tidak wajar.
Seperti pacar posesif.
Atau lebih tepatnya...
Seperti sesuatu yang menempel.
“Sky,” bisik Kiara sangat pelan, tanpa menggerakkan bibir terlalu jelas.
“Iya?” Sky mengikuti arah pandang Kiara.
Dan Sky langsung membeku.
“Oh.”
“Oh apa?” napas Kiara menahan.
“Itu bukan aku,” kata Sky serius. “Dan itu jelas bukan manusia.”
Kiara menelan ludah. “Aku tahu.”
Wanita itu bergerak sedikit. Kepalanya mendekat ke leher Bima. Rambutnya bergeser, memperlihatkan senyum tipis di bibir pucatnya.
Senyum yang salah.
Bukan senyum bahagia.
Tapi senyum… posesif.
Bima sama sekali tidak bereaksi. Tidak merasa dingin. Tidak menoleh. Tidak sadar bahwa ada sesuatu yang nyaris menempel di tubuhnya.
“Kiara, kamu pucat,” kata Bima. “Kamu sakit?”
“Eng-nggak,” jawab Kiara cepat. “Cuma… capek.”
Sky mendekat, menatap sosok wanita itu dengan mata menyipit. “Dia nempel ke auranya.”
“Nempel gimana?” bisik Kiara.
“Kayak… parasit emosional,” jawab Sky. “Aku nggak tahu jenisnya, tapi jelas dia terikat sama Bima.”
Wanita itu menggeser tangannya, kini benar-benar seperti memeluk lengan Bima dari samping. Bahkan wajahnya mendekat ke pipi Bima, seolah ingin mencium.
Kiara refleks melangkah maju setengah langkah.
Bima mengernyit. “Kenapa kamu ngeliatin aku kayak aku habis kerasukan?”
Dalam hati, Kiara hampir tertawa histeris.
Kalau kamu tahu, Bima.
Kalau kamu tahu.
Kiara memaksa wajahnya tetap datar. “Kamu… akhir-akhir ini sering mimpi aneh nggak?”
Bima mengangkat alis. “Kenapa nanya gitu?”
“Jawab aja.”
“Hmm…” Bima berpikir. “Kadang sih. Ada cewek. Rambut panjang. Putih-putih. Tapi ya cuma mimpi.”
Jantung Kiara terasa makin tenggelam.
Sky menoleh tajam ke Kiara. “Dia sudah masuk sampai mimpi.”
Wanita itu tersenyum lebih lebar, seolah mendengar percakapan mereka. Matanya—yang tadinya tertutup rambut—sedikit terlihat.
Hitam.
Kosong.
Tanpa refleksi cahaya.
Kiara menahan napas.
Ini bukan Sky.
Dan yang lebih menakutkan-
Ini berarti Kiara sekarang bisa melihat makhluk halus lain.
Bukan cuma Sky.
Kesadaran itu membuat perutnya terasa dingin.
“Bima,” kata Kiara cepat. “Kamu lagi deket sama siapa?”
“Kenapa jadi interogasi?” Bima terkekeh. “Nggak ada. Single. Bebas. Kenapa?”
“Beneran nggak ada yang… aneh?”
“Yang aneh cuma kamu hari ini,” jawab Bima santai. “Serius, kamu kayak lihat hantu.”
Kiara nyaris tersedak.
Sky menatap Kiara dengan ekspresi campur aduk. “Ironis.”
Wanita itu kini benar-benar seperti bergelayut manja. Kepalanya menyentuh bahu Bima. Tangannya meremas hoodie Bima, seolah tidak mau melepaskan.
Genit.
Terlalu genit.
Dan itu membuat semuanya terasa sangat absurd.
Kiara tidak merasa takut.
Yang ia rasakan justru....
Tidak masuk akal.
Konyol.
Tidak realistis.
Temannya lagi ngobrol santai.
Sementara ada hantu genit yang nempel kayak pacar posesif.
Ini bukan film horor.
Ini lebih mirip komedi gelap yang salah genre.
“Kiara?” Bima melambaikan tangan di depan wajahnya. “Kamu beneran nggak apa-apa?”
“Bima,” kata Kiara akhirnya. “Kalau aku bilang aku bisa lihat hal aneh, kamu bakal percaya nggak?”
Bima tertawa. “Tergantung. Alien? Dukun? Atau kamu habis nonton film horor kebanyakan?”
Sky mendekat ke telinga Kiara. “Kalau kamu bilang, dia bakal ngetawain kamu.”
Kiara tahu itu.
Bima adalah tipe yang akan mengingat ini seumur hidup.
Dan akan mengejeknya setiap kesempatan.
“Hai, Kiara si indigo.”
“Hai, Kiara si paranormal.”
“Hai, Kiara, lihat aku ada kuntilanak nggak?”
Kiara menghela napas. “Lupakan.”
Bima menyeringai. “Nah, gitu dong. Jangan aneh-aneh.”
Wanita itu memiringkan kepalanya, menatap Kiara langsung.
Seolah tahu.
Seolah sadar.
Kiara bisa melihatnya.
Senyumnya berubah.
Lebih tajam.
Lebih dingin.
Seperti peringatan.
Sky refleks berdiri lebih dekat ke Kiara. “Dia sadar kamu bisa lihat dia.”
“Bagus,” bisik Kiara. “Sekarang aku makin nggak nyaman.”
Bima mengecek jam di ponselnya. “Gue harus jalan. Ada janji sama temen. Nanti lagi, ya.”
“Iya,” jawab Kiara cepat. “Hati-hati.”
“Hati-hati kenapa?” Bima terkekeh. “Jalan kaki doang.”
Kalau saja kamu tahu.
Bima melangkah pergi.
Dan wanita itu-
Mengikuti.
Tidak berjalan.
Tapi melayang.
Tetap menempel di sisi Bima, seperti bayangan yang terlalu dekat.
Kiara berdiri mematung sampai mereka menghilang di tikungan jalan.
Hening.
Lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Kiara baru sadar napasnya tertahan sejak tadi.
Sky menatap arah Bima pergi. “Itu bukan hal biasa.”
“Sky,” suara Kiara pelan. “Kenapa sekarang aku bisa lihat yang lain?”
Sky menggeleng. “Mungkin karena koneksimu sama aku. Atau karena kamu sudah terlalu dekat dengan dunia yang seharusnya tidak kamu lihat.”
Kiara mengusap wajahnya. “Ini makin gila.”
“Kamu nggak takut?” tanya Sky.
Kiara berpikir sejenak. “Takut sih… tapi lebih ke bingung. Ini kayak hidupku berubah genre.”
Sky tersenyum tipis. “Selamat datang di hidupku.”
Kiara menatapnya. “Aku nggak daftar buat ini.”
“Aku juga nggak daftar buat mati,” jawab Sky ringan.
Kiara mendesah. “Bagus. Sekarang kita berdua korban.”
Mereka naik motor lagi.
Perjalanan dilanjutkan.
Tapi kali ini.
Kiara tahu satu hal pasti.
Kemampuannya berubah.
Dan dunia yang selama ini terlihat normal.
Tidak lagi sesederhana itu.
Karena sekarang, bukan cuma Sky yang mengikutinya.
Ada hal lain di luar sana.
Hal-hal yang menempel.
Mengintai.
Dan mungkin....
Sudah mulai menyadari keberadaan Kiara.
Dan untuk pertama kalinya.
Kiara bertanya-tanya.
Apakah ini benar-benar tentang membantu Sky.
Atau tentang Kiara yang perlahan ditarik masuk....
Ke dunia yang seharusnya tidak bisa ia lihat.