Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Improvisasi Nathan
"Aku tahu... Aku hanya ingin fokus pada proyek film ini sekarang," kata Nabila.
"Sebenarnya ada untungnya juga kita syuting di luar negeri. Di sini Mbak setidaknya bisa bernafas dari Pak Lukman," sahut Indy.
Nabila tersenyum. "Ayo kita jalan-jalan keluar dan beli sesuatu yang enak," ajaknya.
Indy langsung mengangguk. Dia dan Nabila segera beranjak dari kamar hotel. Mereka mendatangi toko roti terdekat.
Satu malam berlalu. Hari syuting pertama film Berlin In Love dimulai. Saat itu lokasinya adalah di sebuah danau dengan hamparan pemandangan yang indah dan sejuk.
Nabila sedang memeriksa adegan apa saja yang harus dirinya lakukan di tempat itu. Awalnya Nabila sebenarnya merasa biasa-biasa saja. Namun saat akan melakukannya, rasa gugup mulai dirinya rasakan. Padahal Nabila tak pernah merasa begini sebelumnya. Mungkin ini karena dia mendapat lawan main yang lebih muda darinya untuk pertama kalinya.
Ketika sutradara memanggil, maka pertanda kalau syuting siap dimulai. Adegan pertama adalah pertemuan pertama kedua karakter utama di danau. Lalu beberapa adegan lainnya yang lokasinya berada di danau tersebut.
Sampai tibalah adegan pengakuan cinta. Dimana Nabila datang menemui Nathan untuk mengakui kalau dirinya sebenarnya juga menyukai Nathan.
Suasana saat itu hening. Seolah membiarkan Nabila dan Nathan tenggelam dalam karakter yang mereka mainkan.
"Hatimu masih belum ditutup bukan? Aku tidak terlambat bukan?" Mata Nabila berkaca-kaca. Dia tidak memakai sedikit pun obat tetes mata untuk menangis. Tapi benar-benar menggunakan air mata alami. Memang itulah salah satu alasan kenapa banyak sutradara yang senang bekerjasama dengan Nabila.
"Maaf... Aku terlambat. Tapi aku tak bisa berbohong kalau aku juga mencintaimu..." isak Nabila.
Nathan yang sejak tadi duduk di bangku panjang, segera berdiri. Dia melangkah cepat menghampiri Nabila. Betapa kagetnya Nabila saat Nathan memegangi tengkuknya dan kemudian mencium bibirnya.
Mata Nabila membulat sempurna. Bagaimana tidak? Adegan ciuman itu tidak ada di dalam naskah cerita. Jadi apa yang dilakukan Nathan sekarang adalah murni improvisasi.
Deg!
Jantung Nabila berdegup kencang sekali. Ia bisa merasakan bibir hangat Nathan yang menyentuh bibirnya. Perlahan lidah lelaki itu mulai mencoba bergerak lebih dalam.
Nabila awalnya ingin menghentikan adegan itu. Akan tetapi tidak ada seruan dari sutradara, pertanda kalau Pak Eddy menyukai improvisasi yang dilakukan Nathan.
Alhasil Nabila membalas ciuman Nathan. Mulut keduanya saling berpadu, balas memagut, dan saling melumat dengan lembut. Merasa sudah cukup, perlahan Nathan melepas ciumannya.
"Meski harus menunggu seratus tahun pun, hatiku tidak akan pernah tertutup untukmu. Dia akan selalu terbuka untukmu..." ucap Nathan.
Nabila tersenyum penuh haru. Dia dan Nathan lalu saling berpelukan erat.
"Mengenai suami iblismu itu, biar kita urus nanti. Yang terpenting kau berhenti menderita dulu," lanjut Nathan.
"Cut!" sutradara akhirnya berseru. Seketika tepuk tangan dari semua orang menyambut. Pak Eddy terlihat berdiri dan bergegas menghampiri Nathan dan Nabila.
"Itu luar biasa! Bagus sekali! Kerja bagus, Nathan, Nabila... Cemistry kalian itu terasa sekali," ucap Pak Eddy.
"Sumpah aku kaget banget, Pak. Nathan nggak ada loh membicarakan tentang adegan ini padaku," ungkap Nabila.
"Aku sengaja, Kak. Biar kagetnya lebih natural," sahut Nathan.
"Tapi aku akui improvisasimu tadi itu brilian. Bahkan mungkin berhasil menyentuh hatiku," balas Nabila.
"Maaf, Kak. Harusnya aku bilang dulu padamu. Kalau kau mau, kau bisa menamparku." Nathan menatap lekat Nabila.
"Aku akan menamparmu lain kali!" tanggap Nabila sambil terkekeh.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti