Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG DIPENUHI CINTA DAN HARAPAN
Setelah hari itu di kamar kosan Murni, waktu berlalu dengan cepat. Minggu demi minggu mereka menjalani hari-hari dengan penuh kesibukan – Murni sebagai pekerja produksi di pabrik makanan ringan yang terletak di pinggiran kota, sementara Khem bekerja sebagai teknisi perawatan mesin di pabrik baja dan besi yang berdiri tak jauh dari sana, bahkan beberapa jalur produksi kedua pabrik itu saling berhubungan karena kemasan makanan ringan yang dibuat Murni terkadang menggunakan bahan baku logam dari pabrik tempat Khem bekerja.
Hari itu adalah hari ulang tahun ke-23 Murni. Setelah selesai bekerja selama 8 jam penuh di bagian pengemasan keripik kentang, Murni merasa tubuhnya sangat lelah. Tangan tangannya yang sering bersentuhan dengan kemasan karton dan plastik sedikit merah dan kasar, tapi dia tetap bersemangat karena tahu ada sesuatu yang istimewa yang telah disiapkan Khem untuknya.
“Sampai jumpa besok, Murn! Jangan lupa nikmati malamnya ya!” teriak Ibu Yanti, rekan kerja Murni yang sudah lebih dulu menikah, sambil memberikan senyum menyeringai saat Murni sedang membersihkan diri di ruang ganti pabrik.
Murni hanya bisa tersenyum dan mengangguk, hati sudah terbang jauh mencari sosok kekasihnya. Setelah mengenakan baju merah muda yang sudah dia siapkan sejak seminggu lalu dan sedikit menyentuhkan riasan ringan, dia keluar dari pabrik dan langsung melihat mobil motor bekas Khem yang sudah siap menunggunya di depan gerbang.
“Selamat ulang tahun, Sayangku yang cantik!” ucap Khem dengan suara penuh semangat saat Murni mendekat, segera memberikan sebuah karangan bunga campuran mawar merah dan matahari yang sangat cantik. Di sampingnya ada tas plastik yang mengandung aroma makanan yang sangat menggugah selera.
“Wah… cantik banget ya bunganya! Makasih banyak, Sayang,” kata Murni dengan mata penuh kebahagiaan, menerima bunga itu sebelum melompat naik ke belakang motor dan mengelilingi pinggang Khem dengan erat.
Tanpa banyak bicara, Khem mengendarai motor dengan hati-hati melewati jalan-jalan yang mulai sepi karena malam sudah menjelang. Setelah sekitar 20 menit berkendara, mereka sampai di sebuah tempat yang cukup mengejutkan Murni – sebuah area terbuka di belakang pabrik baja tempat Khem bekerja, yang sudah dihiasi dengan lampu lilin kecil dan tirai renda putih yang membuat suasana sangat romantis. Di tengah area itu ada sebuah meja kecil yang sudah ditutupi alas meja berwarna merah muda, dengan lilin yang sudah menyala dan dua piring beserta gelas yang siap digunakan.
“Kamu bikin semua ini sendiri, Sayang?” tanya Murni dengan suara penuh kagum, melihat segala sesuatu yang sudah disiapkan dengan sangat rapi. Udara malam yang sejuk bercampur dengan aroma bunga dan makanan membuat hati Murni semakin hangat.
“Iya dong… aku minta izin dulu sama atasan saya untuk bisa menggunakan area ini sebentar. Bahkan beberapa teman kerja saya juga membantu aku menyusunnya lho,” jawab Khem dengan senyum bangga, menarik tangan Murni untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Saat mereka duduk bersebelahan, Khem mulai membuka wadah makanan yang dia bawa – semur daging sapi yang dibuat oleh Ibunya sendiri, lalapan segar, nasi putih hangat, dan es buah segar yang menjadi favorit Murni. Meskipun bukan makanan dari restoran mewah, tapi rasa cinta yang terkandung di dalamnya membuat hidangan itu terasa lebih nikmat dari makanan apa pun.
Mereka makan sambil berbicara riang tentang pengalaman mereka selama bekerja di pabrik masing-masing. Murni cerita tentang bagaimana dia dan rekan-rekannya harus bekerja dengan cepat tapi tetap menjaga kebersihan dan kualitas produk makanan yang dibuatnya. Kadang mereka harus bekerja lembur jika ada pesanan besar yang harus segera dikirimkan ke berbagai kota di Jawa Timur.
“Kamu tahu ngga Sayang, terkadang aku merasa sangat bangga ketika melihat produk yang kita buat ada di rak-rak toko di mana saja. Seolah-olah bagian kecil dari diriku juga menyebar ke berbagai tempat untuk memberikan kebahagiaan pada orang lain,” ucap Murni dengan wajah penuh kebanggaan, sementara tangan Khem tetap memegang tangannya di atas meja.
Kemudian giliran Khem yang bercerita tentang pekerjaannya sebagai teknisi di pabrik baja. Dia menjelaskan bagaimana dia dan timnya harus merawat mesin-mesin besar yang menghasilkan bahan baku untuk berbagai keperluan, termasuk kemasan makanan yang digunakan di pabrik Murni. Kadang mereka harus bekerja di suhu yang sangat panas dan menangani bagian-bagian mesin yang berat, tapi rasa tanggung jawabnya untuk menjaga kelancaran produksi membuatnya tetap bersemangat.
“Kadang aku sering melihat kemasan makanan yang kamu buat di sini lho, Sayang. Setiap kali melihatnya, aku langsung berpikir tentang kamu dan merasa bangga karena kita bekerja sama secara tidak langsung untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang banyak,” kata Khem dengan tatapan mata yang penuh cinta, membuat Murni merasa sedikit malu tapi sangat bahagia.
Setelah selesai makan, mereka duduk menikmati malam yang tenang sambil melihat langit yang mulai penuh dengan bintang-bintang. Khem kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari saku jasnya yang sudah dia pakai khusus untuk malam itu, membuat Murni merasa penasaran.
“Selain ulang tahun, ada sesuatu yang aku ingin kamu ketahui, Murn,” ucap Khem dengan nada yang sedikit serius, membuat Murni sedikit tegang tapi tetap penuh harapan. Dia membuka kotak itu dan menunjukkan sebuah surat serta sebuah proposal kerja.
“Aku sudah mengajukan diri untuk mengikuti pelatihan keahlian tingkat lanjut di perusahaan kita. Jika diterima, aku akan belajar tentang teknologi baru dalam pembuatan bahan baku yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, aku juga sudah mengajukan proposal untuk bekerja sama dengan pabrik kamu agar proses produksi bisa lebih efisien dan ramah lingkungan,” jelas Khem sambil memberikan surat itu kepada Murni.
Murni membaca surat itu dengan hati-hati, mata mulai berkaca-kaca karena rasa terharu. Di dalam surat tersebut, Khem juga menulis tentang rencana masa depan mereka – bagaimana dia ingin bisa memiliki rumah kecil sendiri beberapa tahun kemudian, bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk membangun kehidupan yang lebih baik, dan bagaimana cinta mereka akan selalu menjadi dasar dari segala sesuatu yang mereka lakukan.
“Sayang… aku tidak tahu harus bilang apa. Semua ini sangat luar biasa. Aku juga sudah mengajukan diri untuk menjadi supervisor di bagian pengemasan di pabrik aku lho. Kalau diterima, aku bisa lebih banyak belajar tentang manajemen dan bagaimana cara meningkatkan kualitas kerja serta kesejahteraan rekan-rekanku,” ucap Murni dengan suara penuh emosi, memberikan pelukan erat pada Khem.
Mereka tetap duduk di sana sampai larut malam, berbagi cerita dan mimpi masa depan yang semakin jelas di mata mereka. Suara mesin-mesin pabrik yang masih beroperasi di kejauhan tidak lagi terdengar seperti suara yang mengganggu, melainkan seperti irama kerja yang menunjukkan bahwa mereka sedang berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Kedua pabrik yang berdekatan itu seperti simbol dari hubungan mereka – meskipun berbeda jenis dan pekerjaannya, tapi saling berhubungan dan saling mendukung satu sama lain.
Kemudian Khem mengambil gitar akustik yang sudah dia siapkan di samping meja dan mulai menyanyi lagu kesukaan Murni – lagu tentang cinta dan perjuangan yang selalu membuat hati Murni merasa hangat. Suara nyanyian Khem yang merdu bercampur dengan hembusan angin malam membuat suasana semakin romantis dan penuh kebahagiaan.
“Sampai kapan kamu akan mencintai aku, Sayang?” tanya Murni dengan suara pelan saat Khem selesai menyanyi.
“Selamanya, Murn. Sampai kita tua nanti dan tidak bisa bekerja lagi di pabrik. Aku akan selalu mencintaimu dan akan selalu ada untukmu,” jawab Khem dengan penuh keyakinan, mencium dahi Murni dengan lembut.
Murni mengangguk dan menutup matanya sebentar, merasakan setiap detik kebahagiaan yang dia rasakan malam itu. Dia tahu bahwa jalan hidup yang mereka tempuh tidak akan selalu mudah – ada akan kesulitan, tantangan, dan mungkin juga rintangan dari luar seperti yang pernah dia alami dalam mimpi buruknya. Tapi dengan cinta yang kuat, kerja keras yang tulus, dan dukungan satu sama lain, dia yakin bahwa mereka bisa menghadapi segala sesuatu dengan baik.
“Aku cinta kamu, Khem. Selamanya dan selama-lamanya,” ucap Murni dengan penuh emosi, pelukan mereka semakin erat di tengah malam yang penuh cinta dan harapan. Di kejauhan, lampu-lampu pabrik makanan ringan dan pabrik baja bersinar dengan terang, seolah-olah menyaksikan janji cinta yang telah dibuat oleh dua orang muda yang sedang berjuang untuk membangun kehidupan yang lebih baik bersama.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Beberapa minggu setelah makan malam romantis di belakang pabrik baja, cuaca mulai memasuki musim penghujan. Hujan deras mengguyur kota setiap sore, membuat jalan-jalan menjadi licin dan sedikit sepi. Namun hujan itu tidak menyurutkan semangat Murni dan Khem untuk menjalani date kedua mereka – kali ini dengan gaya yang lebih santai dan penuh keceriaan.
“Sudah siap belum, Sayang? Jangan sampai kita telat ya! Aku sudah pesen dulu via aplikasi biar makanan cepat datang pas kita sampai,” suara Khem terdengar riang dari ujung telepon saat Murni sedang mengecat kuku tangannya dengan warna merah muda kesukaannya.
“Sebentar lagi, Sayang! Cuma tinggal pakai jaket aja deh,” jawab Murni dengan cepat, mengambil jaket denimnya yang sudah siap di kursi. Setelah memastikan tasnya sudah ada di dalamnya – termasuk kamera kecil yang dia gunakan untuk mengabadikan momen-momen indah – dia segera keluar dari kosannya dan berlari ke arah jalan raya di mana Khem sudah menunggunya dengan motornya yang sudah dipasang jas hujan transparan.
“Hati-hati jalanannya ya, agak licin karena baru saja hujan deras,” ucap Khem dengan penuh perhatian saat Murni naik ke belakang motor, segera memberikan jas hujan tambahan agar dia tidak basah. Meskipun udara malam cukup dingin, tapi rasa senang Murni membuat tubuhnya tetap hangat.
Setelah berkendara sekitar 15 menit melewati jalan-jalan yang masih sedikit basah, mereka sampai di pusat perbelanjaan yang ramai meskipun malam sudah menjelang. Di lantai dasar gedung itu berdiri restoran McDonald yang terlihat sangat menarik dengan lampu-lampu cerah dan dekorasi yang ceria. Mereka langsung masuk dan melihat bahwa meja yang sudah Khem pesan sebelumnya sudah siap dengan dua gelas es teh tawar manis yang sudah ditempatkan di atasnya.
“Wah… kamu pesen apa aja sih, Sayang? Aku sudah merasa lapar nih,” kata Murni dengan senyum lebar, melihat beberapa wadah makanan yang sudah mulai datang satu per satu. Khem sudah memesan menu favorit mereka – dua porsi Big Mac, kentang goreng besar, ayam goreng crispy, dan dua gelas es krim coklat dengan cone.
“Semua makanan kesukaan kamu dong, Sayang! Aku tahu setelah bekerja seharian di pabrik kamu pasti sangat lapar,” jawab Khem sambil membuka bungkus makanan dengan hati-hati. Suasana di dalam restoran sangat ramai dengan keluarga dan pasangan muda yang sedang menikmati makan malam, suara tawa dan candaan memenuhi setiap sudut ruangan.
Mereka makan sambil berbagi cerita tentang kejadian lucu yang terjadi di pabrik masing-masing. Murni cerita tentang bagaimana rekan kerja barunya, seorang pemuda bernama Riko yang baru saja lulus dari sekolah kejuruan, salah mengambil bahan baku sehingga membuat beberapa kemasan keripik kentang memiliki rasa yang sedikit berbeda. Untungnya masalah itu segera teratasi dan tidak ada kerugian besar yang terjadi.
“Kamu tahu ngga Sayang, akhirnya Riko itu malah diberi tugas khusus untuk menguji rasa produk baru yang akan kita luncurkan bulan depan. Ternyata dia punya indra pengecap yang cukup baik lho!” cerita Murni sambil tertawa terbahak-bahak, membuat Khem juga ikut tertawa melihat wajahnya yang ceria.
Kemudian Khem bercerita tentang kejadian lucu di pabrik baja tempat dia bekerja. Beberapa hari yang lalu, salah satu mesin besar yang biasanya digunakan untuk membentuk lembaran besi tiba-tiba mengalami gangguan kecil karena ada sekelompok burung yang membuat sarang di bagian belakang mesin.
“Kita semua harus bekerja sama untuk memindahkan sarang itu ke tempat yang lebih aman. Ada sekitar 5 ekor anak burung yang masih kecil di dalamnya lho. Akhirnya kita buat sarang baru di pohon besar di belakang pabrik dan pindahkan mereka satu per satu dengan sangat hati-hati,” jelas Khem dengan wajah penuh kebanggaan, “Sekarang setiap pagi kita bisa melihat mereka terbang dan mencari makan. Rasanya kayak punya keluarga baru aja di pabrik.”
Murni mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya bersinar dengan kagum melihat kekasihnya yang memiliki hati yang begitu lembut terhadap makhluk hidup lain. Setelah selesai makan makanan utama, mereka menikmati es krim coklat yang rasanya sangat lezat dan menyegarkan.
“Aku punya ide nih, Sayang! Setelah ini kita jalan-jalan sebentar ke taman kota aja yuk? Aku ingin melihat pemandangan malam yang indah di sana,” ajak Murni dengan mata penuh semangat. Khem langsung mengangguk setuju karena dia juga merindukan suasana tenang di taman kota yang terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan.
Setelah membayar tagihan dan membersihkan meja mereka, mereka segera keluar dari restoran dan berjalan kaki menuju taman kota. Udara malam sudah cukup dingin tapi sangat segar, dengan aroma bunga kamboja yang tumbuh di sepanjang jalan taman. Beberapa lampu taman yang berwarna kuning memberikan suasana yang sangat romantis dan tenang.
Mereka duduk di salah satu bangku taman yang terletak di dekat kolam kecil yang dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang menyala indah. Di sekitar mereka ada beberapa keluarga yang sedang bermain bersama dan pasangan muda yang sedang berjalan-jalan santai.
“Sekarang sudah jarang banget kita bisa duduk santai seperti ini ya, Sayang. Biasanya setelah kerja kita cuma bisa istirahat di kamar atau di rumah masing-masing,” ucap Murni dengan suara pelan, menyandar kepalanya di bahu Khem yang hangat.
“Iya juga, Sayang. Tapi kamu tahu kan, tidak peduli seberapa sibuk kita bekerja, aku akan selalu mencari waktu untuk bisa bersama kamu. Kamu adalah bagian terpenting dalam hidupku,” jawab Khem dengan penuh cinta, mengelilingi pinggang Murni dengan tangan kanannya.
Saat mereka menikmati keheningan malam yang damai, Murni tiba-tiba mengingatkan pada Khem tentang janjinya untuk menceritakan dongeng. “Kamu kan pernah bilang kalau kamu bisa cerita dongeng yang sangat menarik lho, Sayang. Bisa dong kamu ceritain sekarang?” tanya Murni dengan nada yang penuh harapan.
Khem tersenyum dan mulai menyesuaikan posisinya agar Murni lebih nyaman mendengarkan. “Baiklah, Sayang… aku akan cerita dongeng tentang seorang pekerja pabrik makanan dan seorang pekerja pabrik baja yang jatuh cinta,” ucapnya dengan nada yang menarik perhatian.
Dia mulai menceritakan dongeng yang dia buat sendiri – tentang seorang gadis yang bekerja di pabrik makanan yang bisa membuat makanan dengan rasa yang luar biasa lezat, dan seorang pemuda yang bekerja di pabrik baja yang bisa membuat barang-barang dari logam dengan bentuk yang sangat indah. Pada awalnya mereka tidak saling mengenal, sampai suatu hari produk yang dibuat oleh gadis itu menggunakan kemasan dari pabrik tempat pemuda bekerja.
“Saat gadis itu melihat kemasan yang dibuat dengan sangat rapi dan indah, dia merasa ingin tahu siapa yang membuatnya. Akhirnya mereka bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka bekerja sama untuk membuat produk yang tidak hanya lezat dan berguna, tapi juga ramah lingkungan dan indah dilihat,” cerita Khem dengan suara yang merdu dan penuh perasaan, membuat Murni merasa seperti sedang berada di dalam dongeng itu sendiri.
“Pada akhirnya, produk yang mereka buat menjadi sangat populer dan banyak dicari oleh orang banyak. Mereka membangun pabrik baru yang menggabungkan kedua keahlian mereka, dan hidup bahagia selamanya,” lanjut Khem dengan senyum lembut, melihat wajah Murni yang sudah mulai mengantuk karena suasana malam yang damai dan suara cerita yang menenangkan.
“Dongengnya sangat indah, Sayang… aku suka banget,” ucap Murni dengan suara yang sedikit mengantuk, mata nya sudah mulai berkeliaran. Khem tersenyum dan mengangkatnya dengan hati-hati untuk berdiri.
“Ayo kita pulang aja ya, Sayang. Kamu sudah capek kerja dan sekarang juga mengantuk,” kata Khem dengan lembut, membungkus jas hujan pada Murni sebelum mereka berjalan kembali ke tempat dia meletakkan motor.
Saat mereka berkendara pulang, hujan mulai turun lagi dengan derasnya tapi Murni tidak merasa sedikit pun tidak nyaman. Dia merasa aman dan tenang berada di belakang Khem, dengan kepalanya menyandar di punggungnya dan pikirannya masih terbenam dalam dongeng yang baru saja dia dengar.
Setelah sampai di kosan Murni, Khem mengantarnya sampai ke depan pintu kamar. Sebelum masuk, Murni berbalik dan memberikan ciuman lembut pada bibir Khem. “Terima kasih banyak untuk malam yang sangat menyenangkan ini, Sayang. Aku cinta kamu banyak-banyak,” ucapnya dengan penuh emosi.
“Aku juga cinta kamu lebih banyak lagi, Murn. Semoga kita bisa selalu seperti ini – bahagia dan selalu ada untuk satu sama lain,” jawab Khem dengan tatapan mata yang penuh cinta, mencium dahi Murni sebelum mengizinkannya masuk ke dalam kamar.
Saat Murni masuk ke kamar dan melihat ke luar melalui jendela, dia melihat Khem yang masih berdiri di sana dengan senyum lembut sebelum akhirnya naik motor dan pergi meninggalkan kosannya. Dia merasakan hati yang penuh kebahagiaan dan rasa syukur karena memiliki seseorang yang begitu spesial dalam hidupnya.
Meskipun mereka hanya pekerja biasa di pabrik makanan dan baja, tapi cinta yang mereka miliki membuat hidup mereka terasa seperti dongeng yang indah – sebuah dongeng yang mereka tulis bersama setiap hari dengan kerja keras, cinta yang tulus, dan harapan yang tak pernah padam untuk masa depan yang lebih baik.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Hanya seminggu setelah date mereka di McDonald dan taman kota, kabar hangat menyebar ke seluruh kota – sebuah grup musik terkenal dari Luar negara akan menggelar konser akustik khusus di atrium utama salah satu mall terbesar di kota. Berita itu langsung membuat hati Murni dan Khem berdebar kencang, karena grup musik itu adalah favorit mereka berdua semenjak masa SMA.
“Sayang! Aku baru saja baca di media sosial kalau grup Harmoni Suara bakal konser di Mall Sentosa minggu depan lho! Kita harus dateng dong!” ucap Murni dengan suara yang sangat ceria saat menelepon Khem di tengah istirahat kerja siang hari.
“Benarkah itu, Sayang? Aku juga baru saja dapat kabar dari teman kerja ku! Dia bilang tiketnya terbatas dan kita harus pesen cepat sebelum kehabisan,” jawab Khem dengan suara yang sama-sama bersemangat. Tanpa berlama-lama, mereka langsung sepakat untuk memesan dua tiket melalui aplikasi resmi mall tersebut.
Hari H konser tiba dengan sangat cepat. Setelah selesai kerja pada hari Minggu sore – karena pabrik mereka tetap beroperasi dengan shift kerja bahkan di hari libur – Murni dan Khem segera bergegas bersiap. Murni mengenakan baju kaos resmi grup musik tersebut dengan celana jeans yang simpel namun tetap cantik, sementara Khem mengenakan kaos polos berwarna hitam yang disandingkan dengan jaket kulit sintetisnya yang kesayangan.
“Sampai kapan kamu siapkan aja ya, Sayang? Kalau kita terlambat bisa jadi kita dapet tempat yang belakang banget,” teriak Khem dari luar kamar kosan Murni, sementara dia sendiri sudah siap dengan motor yang sudah dia siapkan dengan baik.
“Sudah siap nih, Sayang! Cuma tinggal ambil tas dan kamera aja deh,” jawab Murni sambil berlari keluar dengan tas ranselnya yang penuh dengan camilan dan botol air minum. Mereka langsung berkendara menuju mall yang sudah terlihat ramai dari kejauhan dengan banyak kendaraan yang masuk dan keluar gerbangnya.
Setelah berhasil menemukan tempat parkir yang cukup sulit karena banyaknya pengunjung, mereka langsung masuk ke dalam mall. Atrium utama sudah dipenuhi oleh ribuan pengunjung yang sebagian besar adalah kaum muda seperti mereka. Dekorasi panggung yang terletak di tengah atrium sangat menarik dengan lampu-lampu warna-warni dan backdrop yang menampilkan logo grup musik tersebut.
“Kita cepat aja cari tempat yang baik ya, Sayang!” kata Murni dengan menarik tangan Khem, berjalan cepat melewati kerumunan yang sudah mulai menggebu-gebu. Untungnya mereka berhasil mendapatkan tempat yang cukup dekat dengan panggung, di barisan ke-5 dari depan. Beberapa menit kemudian, lampu di atrium mulai redup dan suara musik intro mulai terdengar, membuat seluruh kerumunan bersorak riang.
“Selamat malam, sahabat-sahabat yang luar biasa !” suara vokalis utama grup tersebut terdengar dengan jelas melalui sound system yang sudah disiapkan dengan baik. Seluruh kerumunan langsung bersorak dan membunyikan alat musik kecil yang mereka bawa. Murni dan Khem ikut meriahkan suasana, tangan mereka saling mengunci erat dan wajah mereka penuh dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
Grup musik tersebut membawakan beberapa lagu hits mereka yang sudah sangat terkenal, seperti “Jalan Kita Bersama”, “Cinta Tanpa Batas”, dan “Berkarya untuk Masa Depan”. Suara nyanyian mereka yang merdu dan lirik lagu yang penuh makna membuat seluruh pengunjung terpesona. Murni bahkan menangis haru saat mereka membawakan lagu “Kisah Kita” yang menceritakan tentang perjuangan pasangan muda untuk membangun cinta dan kehidupan bersama.
“Sayang… lagu ini kayak cerita kita aja ya,” bisik Murni dengan suara yang sedikit terengah-engah karena bersorak dan bernyanyi bersama-sama dengan kerumunan. Khem mengangguk dan memberikan pelukan lembut pada dirinya.
“Iya dong, Sayang. Kita juga sedang menjalani kisah kita sendiri yang penuh dengan perjuangan tapi juga kebahagiaan yang luar biasa,” jawab Khem dengan penuh cinta, tetap menyimak setiap lagu yang dibawakan dengan saksama.
Di tengah konser, vokalis utama grup tersebut bahkan berhenti sebentar untuk berbicara dengan pengunjung. “Kita tahu bahwa banyak dari kalian di sini adalah pekerja muda yang sedang berjuang untuk membangun masa depan yang lebih baik. Kita ingin bilang bahwa setiap usaha kecil yang kalian lakukan pasti akan menghasilkan hasil yang besar kelak. Jangan pernah menyerah pada impian kalian!” ucapnya dengan penuh semangat, membuat seluruh kerumunan bersorak dan membentangkan kedua tangan mereka ke atas langit-langit mall.
Murni merasa hatinya penuh dengan semangat mendengar kata-kata itu. Dia melihat ke arah Khem yang juga sedang melihatnya dengan mata penuh semangat. Mereka tahu bahwa pesan yang disampaikan oleh artis tersebut sangat sesuai dengan apa yang mereka jalani setiap hari – bekerja keras di pabrik masing-masing untuk meraih impian mereka.
Setelah konser memasuki babak kedua, grup musik tersebut mengundang beberapa pengunjung untuk naik ke atas panggung dan bernyanyi bersama. Tanpa diduga, nama Murni terpilih sebagai salah satu pengunjung yang berhak naik ke atas panggung. Dia langsung merasa gugup tapi Khem memberikan dukungan penuh dengan mengangkat kedua tangannya dan bersorak keras.
“Semangat aja, Sayang! Kamu pasti bisa!” teriak Khem dengan suara yang kencang, membuat Murni merasa lebih percaya diri. Dia naik ke atas panggung dengan hati-hati dan berdiri berdampingan dengan vokalis utama grup tersebut. Mereka bersama-sama membawakan lagu “Jalan Kita Bersama” dengan suara yang merdu dan penuh emosi. Seluruh kerumunan menyanyi bersama-sama, membuat suasana menjadi semakin meriah dan penuh kebahagiaan.
Setelah lagu selesai, vokalis utama memberikan sebuah cinderamata kecil berupa kaos khusus grup musik tersebut kepada Murni. “Kamu punya suara yang sangat bagus. Jangan pernah berhenti bernyanyi dan mengejar impianmu ya,” ucapnya dengan senyum hangat sebelum Murni turun dari panggung dengan hati yang penuh dengan kebahagiaan dan rasa terima kasih.
“Aku tidak percaya! Aku baru saja bernyanyi bersama dengan grup musik kesukaan kita, Sayang!” teriak Murni dengan penuh kegembiraan saat kembali ke sisi Khem, menunjukkan kaos khusus yang baru saja dia terima. Khem langsung memberikan pelukan erat dan mencium pipinya dengan lembut.
“Aku tahu kamu bisa, Sayang! Kamu sangat hebat dan cantik sekali tadi saat bernyanyi di atas panggung,” puji Khem dengan penuh bangga, membuat Murni merasa sedikit malu tapi sangat bahagia.
Konser berlangsung hingga larut malam dan diakhiri dengan lagu terakhir yang menjadi primadona semua pengunjung – “Berkarya untuk Masa Depan”. Seluruh kerumunan berdiri dan menyanyi bersama-sama dengan tangan yang saling berpegangan satu sama lain. Murni dan Khem juga ikut serta, tangan mereka saling mengunci erat dan hati mereka penuh dengan semangat baru untuk menghadapi hari-hari mendatang.
Setelah konser selesai dan kerumunan mulai menyebar, mereka berjalan santai di sekitar mall yang masih ramai dengan pengunjung yang sedang menikmati malam hari. Mereka berhenti sebentar di sebuah gerai makanan kecil yang menjual makanan khas daerah seperti sate padang dan gulai kambing.
“Kita makan dulu ya, Sayang? Aku merasa lapar lagi setelah bersorak dan bernyanyi selama lebih dari dua jam,” kata Khem dengan tersenyum, melihat wajah Murni yang memang terlihat sedikit lelah tapi tetap ceria. Mereka duduk di meja luar gerai makanan tersebut, menikmati makanan yang lezat sambil berbagi cerita tentang momen-momen terbaik yang mereka alami selama konser.
“Kamu tahu ngga Sayang, saat aku berada di atas panggung tadi aku merasa seperti dunia ini benar-benar milik kita. Seolah-olah semua impian kita bisa terwujud jika kita terus berusaha dan tidak pernah menyerah,” ucap Murni dengan mata yang bersinar penuh semangat.
“Iya juga, Sayang. Dan aku akan selalu ada di sisimu untuk membantu meraih semua impian itu. Kita akan bekerja sama, seperti yang kita lakukan setiap hari di pabrik masing-masing. Kita adalah tim yang tidak bisa dipisahkan,” jawab Khem dengan penuh keyakinan, memberikan sentuhan lembut pada tangan Murni yang ada di atas meja.
Mereka tetap duduk di sana sampai malam semakin larut, menyaksikan kota yang semakin tenang dengan lampu-lampu jalan yang bersinar terang. Suara kendaraan yang masih berlalu lalang dan gemericik air hujan yang mulai turun pelan-pelan membuat suasana menjadi semakin romantis dan damai.
Ketika mereka akhirnya memutuskan untuk pulang, Khem mengantar Murni kembali ke kosannya dengan hati-hati. Sebelum Murni masuk ke dalam kamar, Khem mengambil sebuah amplop kecil dari saku jasnya. “Ini untuk kamu, Sayang. Sebuah kenang-kenangan dari malam yang luar biasa ini,” ucapnya dengan senyum lembut sebelum memberikan amplop itu kepada Murni.
Setelah Khem pergi, Murni segera membuka amplop tersebut dan menemukan sebuah foto polaroid yang diambil oleh salah satu staf konser saat dia sedang bernyanyi di atas panggung, beserta sebuah catatan kecil yang ditulis tangan oleh vokalis utama grup musik tersebut: “Jangan pernah berhenti bermimpi – masa depan adalah milik mereka yang berani berjuang untuknya.”
Air mata haru mulai menetes di pipi Murni saat dia membaca catatan itu. Dia menyimpan foto dan catatan itu dengan hati-hati di dalam lemari besi kecilnya, bersama dengan kenang-kenangan berharga lainnya dari Khem. Dia tahu bahwa malam itu akan selalu dikenangnya sebagai salah satu momen paling indah dalam hidupnya – sebuah malam yang mengingatkannya bahwa cinta sejati dan impian yang kuat bisa membawa seseorang mencapai hal-hal yang luar biasa, bahkan jika mereka hanya seorang pekerja biasa di pabrik makanan dan baja.
...