Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama pulang sekolah
Adit dan Arumni baru saja sampai di area tempat tinggalnya, mereka masih duduk di atas motor, saat melihat anak-anak SD sedang keluar dari gerbang sekolah.
"Mana Tya?" kata Arumni.
"Kita tunggu saja sebentar." Kata Adit.
Tya melangkah keluar dari gerbang sekolah, kakinya terasa berat seperti membawa beban seribu ton, wajahnya terlihat sangat kesal dengan hidung sedikit tersengih.
Kedua orang tuanya justru merasa lucu, Tya memang hampir selalu begitu setiap kali pulang sekolah, apa lagi hari itu merupakan hari pertama ke sekolah.
"Ayah... Ibu..." sapa Tya dengan suara lesu.
"Kenapa, sayang?" tanya Adit lembut.
"Pasti banyak PR, ya?" timpal Arumni.
Bukannya menjawab, Tya pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya di sana. Adit menggerakkan motornya pelan dengan kedua kaki turun ke jalan aspal, mengiringi perjalanan Tya ke rumah yang tidak jauh dari sekolahnya itu.
Sesekali Adit mengoda, "ini belum apa-apa loh, sayang. Semakin tinggi sekolahnya, semakin berat pula tugas-tugasnya. Kamu harus siap dari sekarang."
Tya melirik sedikit sambil terus berjalan, "kenapa anak-anak sudah disuruh berpikir sekeras ini, ayah?" keluhnya.
"Sabar, sayang. Semua orang juga merasa gitu." Kata ibunya.
"Aku jadi malas sekolah, kenapa anak-anak nggak disuruh bermain saja, ibu?"
"Kita juga para orang tua mikir gitu, sayang." Timpal Adit.
Mereka pun sampai di halaman rumahnya, Adit dan Arumni turun, mama Alin menyambut kedatangan mereka di depan pintu.
"Ugh, hari ini capek banget!" keluh Tya lagi sambil melepas sepatu lalu melempar tas ke lantai.
"Ada apa, sayang? apa masalahnya?" Tanya omanya.
"Aku baru saja pulang sekolah, dan apa yang aku temui? PR-nya banyak banget, oma...!"
"Banyak? apa saja, sayang?" Tanya mama Alin santai.
"Matematika, bahasa Indonesia, IPA, semuanya ada!" teriaknya. "Mataku mengantuk. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menyelesaikan semua ini...!"
"Bagaimana jika oma bantu?"
Tya mengedarkan matanya, melihat begitu banyak barang yang sudah tersusun rapi, "ini apa, oma?"
"Oma mau ke Bandung nanti malam, Tya."
"Ugh, jadi oma menambah satu masalah buat aku?" jawabnya.
"Bukan begitu, sayang. Oma memang sudah harus pulang ke rumah, kasihan butik oma yang sudah terlalu lama menunggu kedatangan oma."
"Lalu siapa yang akan membantu aku mengerjakan PR, oma?" rengek Tya.
"Ada ayah, ada ibu, sayang. Kemarin-kemarin juga gitu, kan?"
Arzetya menghempaskan napas, "semoga aku bisa bekerja sama ayah dan ibu dengan baik." Ucapnya yang membuat semua orang tertawa.
* *
Hampir seharian itu, Galih menemani ibunya di pasar, ikut menyusun rencana baik untuk dagangan ibunya, besok.
Galih membuat spanduk, lalu memasangnya di depan lapak untuk menarik pelanggan. Rencana, dia akan menawarkan diskon untuk pembelian dalam jumlah tertentu. Demi menarik banyak pelanggan baru, Galih mempromosikan lapak ibunya dengan cara, akan memberikan hadiah menarik bagi pelanggan yang beruntung.
"Gimana, bu? Apa ide ku bagus?" Galih bertanya pada ibunya.
"Lumayan, ibu cukup puas." Kata ibunya.
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, ibu cuma bilang lumayan?" protes Galih.
"Kan pelaksanaannya belum, Galih... ibu cuma bisa menilai setelah ide dari kamu terbukti."
"Iya, aku tahu maksud ibu." Galih menatap jam, tanpa terasa sudah hampir sore, "kita pulang sekarang ya, bu!" ajak Galih.
Bu Susi turut melihat jam tangannya, "eh iya, sudah hampir waktunya Rama pulang, ayo ayo kita pulang sekarang!"
"Lihat bu, kios ibu sekarang terlihat sangat menarik dan terkesan modern. Aku yakin jika menjual pakaian dari butik tante Alin akan sangat laris. Berkat Arumni juga tadi yang menyusun gantungan-gantungan baju, sudah pas." Kata Galih sebelum mereka pergi, "besok aku pasang lampu LED, dan beberapa tanaman hijau supaya terkesan segar ya, bu?"
"Ibu bangga padamu Galih, ibu rasa kamu cocok jadi desainer interior." Puji ibunya.
"Terimakasih atas pujiannya, bu." Ucapnya.
"Besok kalau dagangan ibu laris, ibu sampai keteteran, ibu bakal cari karyawan yang cantik-cantik, biar sekalian promosi ke anak ibu," katanya.
"Ke anak ibu? siapa anak ibu?" gurau Galih.
"Saatnya serius, Galih!" Bu Susi berjalan mendahului Galih.
* *
Rama baru saja pulang dari sekolah, ia masih terbawa suasana di kelasnya. "Hari ini aku semakin yakin dengan cita-cita ku untuk menjadi guru," gumam Rama saat melepas sepatunya di teras rumah.
Rama menekan lekuk pintu yang masih terasa keras, "pasti ayah masih di pasar sama mbah ibu." Pikirnya.
Sambil menunggu ayahnya datang, ia memikirkan rencana ingin menjadi guru yang baik, "aku harus jadi guru yang baik, yang sabar, pokoknya aku harus jadi guru yang membuat murid-murid ku merasa nyaman saat mengikuti pelajaran yang aku bawa."
Suara motor meraung pelan memasuki halaman rumahnya, "maaf Rama, ayah terlambat, ya?" seru Galih.
"Nggak, ayah. Aku baru saja duduk," katanya.
Bu Susi membuka kunci pintu rumahnya, "gimana belajarnya, Rama? apa ada kendala?"
"Nggak ada, mbah ibu. Semua terasa lancar, aku nyaman, apa lagi tadi ada ibu guru baru. Aku suka mengikuti pelajarannya, cara menjelaskannya membuat aku merasa nyaman dan mudah memahami." Kata Rama saat mereka memasuki rumah.
"Jadi kamu mantap mau jadi guru?" Tanya Galih.
"Mantap, ayah."
"Ayah yakin, kamu akan menjadi guru yang hebat!"
Rama sangat bahagia, ia merasa termotivasi untuk terus berusaha mencapai cita-citanya.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/