NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:201
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Senja yang Tidak Pernah Usai

Kiara menatap tempat itu.

Warna lembayung seperti senja abadi menyelimuti seluruh dunia yang kini ia pijak. Langitnya bukan langit. Lebih seperti lapisan kabut ungu kemerahan yang bergerak perlahan, seolah bernapas. Tanah di bawah kakinya tampak seperti pasir halus bercampur abu, dan setiap langkah meninggalkan jejak samar yang langsung memudar beberapa detik kemudian.

Udara di sana… Terlalu sunyi.

Tidak ada suara serangga. Tidak ada angin. Hanya dengungan rendah yang terasa langsung di dalam kepala.

Kiara menelan ludah.

“Sky?” panggilnya pelan.

Suaranya sendiri terdengar aneh… Seperti bergema terlalu lama, terlalu jauh.

Beberapa detik hening.

Lalu kabut di depannya bergeser.

Sky muncul.

Kiara berkedip.

Dan untuk sesaat… Ia lupa bagaimana caranya bernapas.

Sky tidak lagi mengenakan hoodie hitam dan jeans gelapnya. Sebagai gantinya, ia mengenakan beskap hitam sederhana dengan kain batik gelap yang melilit pinggangnya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya terlihat lebih tegas… Lebih dewasa… Dan entah bagaimana… Terlalu cocok dengan dunia ini.

Kiara menunduk… Lalu sadar dirinya sendiri mengenakan kebaya putih lembut dan kain panjang yang bergerak pelan meski tidak ada angin.

Mereka terlihat… Serasi.

Seperti pasangan dari masa lampau.

Sky melihat dirinya sendiri, lalu menatap Kiara. “Oke… Aku yakin aku nggak pilih outfit ini.”

Kiara mengerjap beberapa kali. “Kamu… Kelihatan… Berbeda.”

“Kamu juga,” balas Sky. “Dan jujur… Agak mengintimidasi.”

Kiara mengangkat alis. “Aku terlihat menakutkan?”

“Lebih ke… Anggun,” katanya pelan.

Kiara langsung memalingkan wajah. Pipinya bersemu merah. “Fokus. Kita lagi di dunia ghaib, bukan fashion show.”

“Padahal aku siap jalan di catwalk,” gumam Sky.

Ia menghela napas. “Mungkin… Makhluk di sini lebih suka pakaian tradisional daripada modern?”

Kiara menatap sekeliling. “Masuk akal… atau kita cuma lagi cosplay tanpa izin.”

Sky tertawa kecil.

Kiara sempat terpaku melihatnya. Senyum itu… Terlihat berbeda di dunia ini. Lebih nyata. Lebih hidup… Meski ia tetap arwah.

Ia menggeleng cepat.

“Fokus,” ulangnya pelan.

Tiba-tiba… Suara berat menggema di kepala mereka berdua.

“Kiara… Dengarkan baik-baik.”

Kiara menegang. “Mbah…?”

“Kamu harus memfokuskan dirimu. Cari aura jiwa manusia. Aura manusia lebih hangat… Lebih berdenyut. Berbeda dengan makhluk di sini.”

Sky langsung berdiri lebih dekat.

“Jika kalian melihat penduduk yang menyerupai manusia… Jangan menatap. Jangan berbicara. Jangan mengakui keberadaan mereka.”

Kiara merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Jika mereka menyadari kalian… Tetap berjalan. Jangan panik. Fokus pada arah aura Bima.”

Ia menelan ludah.

“Dan jika kamu menemukan jiwa itu… Gunakan keris yang kamu bawa. Putuskan apa pun yang mengikatnya. Setelah itu… kembali mengikuti jalan yang bertabur beras kuning.”

Suara itu memudar.

Dunia kembali sunyi.

Sky berbisik, “Aku nggak suka bagian ‘penduduk yang mirip manusia’ itu.”

“Setuju,” gumam Kiara.

Ia menutup mata sebentar… Mencoba merasakan sesuatu.

Awalnya tidak ada.

Lalu… Samar.

Seperti denyut hangat di kejauhan.

“Ada sesuatu,” bisiknya. “Jauh… Tapi ada.”

“Baik. Kita jalan pelan,” kata Sky.

Mereka mulai berjalan.

Kabut bergerak seperti tirai hidup di sekitar mereka. Beberapa kali Kiara merasa seperti ada sesuatu yang mengawasi dari balik bayangan… Tapi setiap ia menoleh cepat… Tidak ada apa-apa.

Lalu mereka melihat sosok pertama.

Seorang perempuan tua duduk di tepi jalan yang entah sejak kapan muncul. Rambutnya panjang menutupi wajah. Ia menumbuk sesuatu di lesung kecil… Tapi tidak ada suara tumbukan.

Kiara membeku.

Sky langsung berbisik, “Jangan lihat. Jalan terus.”

Mereka berjalan lurus.

Perempuan itu berhenti menumbuk.

Kepalanya perlahan terangkat.

Kiara bisa merasakan tatapannya… Menusuk dari samping.

“Nduk... Bisa tolong saya...” suara itu berbisik lirih.

Kiara hampir menoleh.

Sky meraih tangannya. “Fokus.”

Ia menatap lurus ke depan.

Suara itu berubah menjadi tawa pelan.

Dan ketika mereka melewatinya… Kiara merasakan dingin merayap naik ke tulang punggungnya.

Mereka berjalan cukup lama.

Aura hangat yang dirasakan Kiara beberapa kali muncul… Lalu hilang lagi, seolah berpindah-pindah.

“Ini seperti main petak umpet dengan GPS rusak,” gumamnya.

Sky tertawa kecil. “Humor kamu muncul di saat paling salah.”

“Kalau aku berhenti bercanda… Berarti aku panik,” balasnya jujur.

Langkah mereka terhenti lagi ketika kabut di depan terbuka… Memperlihatkan sebuah pasar.

Tapi pasar itu… Tidak normal.

Puluhan sosok berjalan perlahan. Semua mengenakan pakaian tradisional. Wajah mereka pucat… Terlalu pucat. Tak ada garis philtrum di bawah hidung mereka . Gerakan mereka lambat… Seperti boneka dengan tali yang hampir putus.

Kiara langsung menunduk.

“Jangan lihat,” bisik Sky.

Mereka berjalan melewati kerumunan itu.

Seseorang berdiri terlalu dekat… Begitu dekat sampai Kiara bisa mencium bau tanah basah dari tubuhnya.

“Baru… ya?” bisik suara serak di telinganya.

Kiara menahan napas.

Langkahnya hampir berhenti… Tapi Sky berbisik cepat, “Jalan terus.”

Sosok itu berjalan di sampingnya. “Mau tinggal di sini? Lebih tenang… Lebih damai… Hihihi”

Suara itu terasa… Menenangkan.

Terlalu menenangkan sampai terasa janggal.

Kiara merasakan matanya hampir menoleh.

Tiba-tiba Sky menekan bahunya pelan. “Hei. Fokus. Ingat Bima.”

Nama itu seperti tamparan.

Kiara mengerjap keras dan terus berjalan.

Sosok itu berhenti mengikuti… Lalu tertawa panjang yang berubah menjadi suara seperti retakan tulang.

Mereka keluar dari pasar.

Kiara menarik napas berat. “Aku hampir… Berhenti.”

“Aku tahu,” kata Sky pelan. “Mereka mencoba menghipnotis.”

“Kalau kamu nggak ada…” Kiara berhenti bicara.

Sky menatapnya lama. “Aku akan selalu di sini.”

Kiara tidak menjawab… Tapi langkahnya terasa lebih ringan.

Aura hangat itu muncul lagi.

Kali ini lebih kuat.

Kiara menutup mata sambil berjalan. “Ke kiri… sedikit… terus…”

Mereka memasuki area hutan gelap. Pohon-pohon tinggi melengkung aneh… seperti tulang rusuk raksasa.

Suara bisikan mulai muncul dari segala arah.

“Pulanglah…”

“Jangan lanjut…”

“Di sini saja…”

Sky menegang. “Jangan dengarkan.”

Tiba-tiba… Seorang anak kecil berdiri di depan mereka.

Wajahnya persis… seperti Rafa, adiknya.

Kiara berhenti total.

“Kak Kiara…” suara anak itu memanggil.

Matanya berkaca-kaca. “Ayah sama ibu khawatir... Aku juga… Kita pulang yuk kak…”

Jantung Kiara berdegup keras.

“Itu bukan dia,” bisik Sky cepat.

“Tapi…” suara Kiara pecah.

Anak itu mengulurkan tangan.

“Kakak…”

Air mata hampir jatuh dari mata Kiara.

Sky berdiri di depannya. “Kiara sadar. Rafa gak mungkin ada di sini. Ini jebakan.”

Anak itu tersenyum.

Terlalu lebar.

Mulutnya retak sampai ke telinga.

Kabut di sekitarnya berubah hitam.

Kiara tersentak mundur.

Sosok itu menghilang… Meninggalkan tawa pecah seperti kaca.

Mereka berhenti di bawah pohon besar.

Kiara duduk sebentar, napasnya kacau. “Mereka tahu… Kelemahanku.”

Sky jongkok di depannya. “Dan kamu masih bertahan. Itu hebat.”

Ia tersenyum lelah. “Aku hampir nangis barusan.”

“Kalau nangis di sini… Aku ikut,” kata Sky.

Kiara tertawa kecil… Lalu menatapnya lama. “Kamu… Kelihatan beda di sini.”

“Beda gimana?” tanya Sky.

“Lebih… Nyata,” katanya pelan.

Sky terdiam.

Lalu ia berdiri dan mengulurkan tangan. “Ayo. Kita belum selesai.”

Kiara bangkit.

Aura hangat itu muncul lagi… Tapi kali ini… Bercampur dengan sesuatu yang gelap… Berat… dan menekan.

Ia menegang.

“Kita dekat,” bisiknya.

Langkah mereka semakin pelan.

Tiba-tiba… Jalan di depan terpecah menjadi tiga.

Dan dari setiap jalan… Sosok-sosok berdiri diam… Menunggu.

Sky berbisik, “Kita harus pilih arah.”

Kiara menutup mata… Mencoba merasakan aura itu lagi.

Hangat… Tapi terhalang.

Dekat… Tapi tidak terlihat.

Ia membuka mata perlahan.

“Belum,” katanya pelan. “Kita belum menemukannya…”

Dan di antara kabut lembayung yang semakin tebal… Perjalanan mereka mencari jiwa Bima… Baru saja menjadi jauh lebih berbahaya.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!