NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diplomasi Koridor dan Serangan Ibu-Ibu Kepo

Apartemen The Zenith tempat Arga tinggal biasanya setenang pemakaman elite. Tidak ada suara anak kecil berlarian, tidak ada aroma terasi yang menembus celah pintu, dan yang paling penting, tidak ada interaksi antarmanusia yang tidak perlu.

Namun, kehadiran Nara Amelinda dan truk pindahannya yang membawa dispenser bebek berisik itu telah mengusik radar "pertahanan sipil" para penghuni lantai 12.

Pagi itu, Arga sedang merapikan dasinya di depan cermin, sementara Nara sedang berjuang memasukkan kakinya ke dalam sepatu hak tinggi sambil mengunyah roti tawar.

"Hari ini ada rapat koordinasi penghuni lantai 12," ujar Arga datar.

"Ketua koridor, Ibu Widya, meminta kita hadir sebagai penghuni baru... maksud saya, pasangan baru."

Nara tersedak roti.

"Rapat koridor? Emangnya kita di kelurahan pakai ada rapat segala? Apartemen mah tinggal bayar IPL, beres kan?"

"Ibu Widya adalah istri dari salah satu klien besar di firma saya. Dan menurut data intelijen yang saya kumpulkan, beliau adalah pusat syaraf gosip di gedung ini. Jika kita tidak tampil meyakinkan, dalam dua jam berita bahwa pernikahan kita hanyalah kontrak bisnis akan sampai ke telinga kakek saya."

Nara langsung berdiri tegak.

"Oke... Mode akting Aktifkan, kamu siap jadi suami idaman?"

Arga menatap Nara dari atas ke bawah.

"Tergantung definisimu. Jika suamimu harus bisa melakukan akrobat, saya tidak sanggup. Tapi jika suamimu harus terlihat sangat protektif... saya punya protokolnya."

Begitu mereka keluar pintu, sesosok wanita dengan rambut sasak tinggi dan daster batik premium sudah berdiri di sana. Di sampingnya, dua ibu-ibu lain memegang gelas kopi seolah-olah mereka adalah penjaga gerbang surga.

"Oh! Ini dia pengantin baru yang viral itu!" seru Ibu Widya.

Suaranya melengking, cukup untuk membuat kaca jendela bergetar.

"Aduh, Mas Arga, biasanya dingin banget kayak kulkas baru keluar pabrik, sekarang kok kelihatan... berseri-seri ya?"

Nara langsung menyambar lengan Arga. Ia memeluk lengan itu dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu Arga yang kaku.

"Iya nih, Bu Widya. Mas Arga itu kalau di rumah aslinya manja banget," bohong Nara dengan wajah paling tulus sedunia.

"Susah banget ditinggal kerja sebentar, maunya nempel terus kayak perangko."

Arga tersentak.

Kepalanya menoleh ke arah Nara dengan ekspresi

"Apa yang kamu bicarakan?".

Namun, melihat tatapan menyelidik Ibu Widya, Arga segera melakukan kalibrasi ekspresi.

Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nara, menariknya sangat dekat hingga Nara bisa merasakan detak jantung Arga yang... eh, kok kencang juga?

"Nara memang sedikit berlebihan," ujar Arga dengan nada rendah yang dipaksakan lembut.

"Tapi benar, saya merasa efisiensi kerja saya menurun jika tidak ada dia di samping saya."

"Aduh, so sweet banget!" sahut ibu yang satu lagi.

"Tapi kemarin saya dengar ada suara 'kwek kwek' dari dalam kamar? Mas Arga pelihara bebek di apartemen?"

Nara tertawa kaku.

"Oh, itu... itu alat pijat Mas Arga, Bu! Mas Arga kan suka stres kalau ngitung angka, jadi saya beliin alat pijat yang bunyinya lucu buat ngelepas penat."

Arga melirik Nara. Alat pijat? Serius?

"Iya," sambung Arga, suaranya makin berat. "Saya suka... sensasi kwek di punggung saya."

Ibu Widya menyipitkan mata.

"Masa? Kok kedengarannya kayak dispenser tisu? Eh, tapi mas kawinnya kemarin emas batangan ya? Berapa gram? Investasi jangka panjang atau buat pamer aja?"

Nara tahu ini saatnya serangan balik. Ia menatap Arga dengan mata berbinar-binar yang dibuat-buat.

"Bukan soal gramnya, Bu. Tapi Mas Arga bilang, emas itu nggak sebanding sama berharganya aku di mata dia. Katanya, kalau bisa, dia mau kasih aku berlian sebesar bola tenis, tapi takut aku keberatan bawanya."

Arga merasa mual secara intelektual mendengar dialog itu, tapi ia harus bertahan. Ia menunduk, menatap Nara dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang ia pelajari dari film drama yang ia tonton di YouTube semalam berjudul 'Cara Menatap Istri agar Terlihat Sangat Mencintai'.

"Berlian sebesar bola tenis itu secara ergonomis tidak nyaman, Sayang," bisik Arga tepat di depan wajah Nara, membuat para ibu-ibu itu menahan napas serempak.

"Tapi kalau kamu mau, saya bisa mengonversi seluruh portofolio saham saya menjadi perhiasan untukmu hari ini juga."

Nara terpaku.

Gila, ini orang kalau akting niat banget sampai bawa-baca portofolio saham!

"Eh, Mas Arga, itu di kerah bajunya ada apa?" tanya Ibu Widya tiba-tiba sambil menunjuk kerah kemeja Arga.

Nara melihat ada sehelai benang dari karpet bulu merah mudanya menempel di sana. Ini kesempatan emas.

"Aduh, Mas... kamu ini, kalau habis peluk aku di sofa jangan dibawa-bawa dong 'kenang-kenangan' bulunya," ujar Nara manja.

Nara berjinjit, wajahnya merapat ke dada Arga. Ia pura-pura merapikan kerah baju Arga dengan gerakan yang sangat lambat. Tangannya dengan sengaja mengelus dada Arga, merasakan otot yang keras di balik kemeja itu.

Arga, yang tidak siap dengan serangan fisik tiba-tiba ini, refleks memegang tangan Nara. Tapi bukannya menjauhkan, ia malah menggenggam tangan Nara dan mencium telapak tangannya di depan mata para ibu-ibu kepo itu.

Cup.

"Terima kasih sudah memperhatikan detail sekecil itu, Istriku," ujar Arga.

Suaranya terdengar sangat tulus hingga Nara merinding.

"Kamu memang auditor terbaik untuk urusan hidup saya."

Ibu Widya dan rombongannya langsung heboh.

"Aduuuh! Saya nggak kuat! Mas Arga yang biasanya kalau lewat cuma ngangguk 0,5 derajat sekarang jadi bucin tingkat dewa! Udah, ayo ibu-ibu kita pergi, jangan ganggu pengantin baru mau berangkat kerja."

Begitu pintu lift tertutup dan ibu-ibu itu menghilang, Nara langsung melepaskan tangan Arga.

"Hah... hah... gila! Aku rasa aku butuh piala Oscar!" seru Nara sambil mengipas-ngipas wajahnya yang panas.

"Kamu tadi keren banget, Ga! 'Konversi portofolio saham'? 'Auditor terbaik'? Sumpah, kamu belajar di mana?!"

Arga bersandar di dinding koridor, wajah lempengnya kembali, tapi telinganya merah padam seperti habis direbus.

"Saya hanya menerapkan strategi negosiasi tingkat tinggi. Menghancurkan lawan dengan informasi yang mereka inginkan."

Nara tertawa, tapi kemudian ia teringat momen Arga mencium tangannya tadi.

"Tapi tadi... yang cium tangan... itu nggak ada di skenario kita, kan?"

Arga terdiam. Ia merapikan jam tangannya, menghindari tatapan Nara.

"Secara taktis, sentuhan fisik spontan meningkatkan kredibilitas sebuah sandiwara sebesar 45%. Saya hanya melakukan optimasi performa."

"Optimasi performa matamu!" Nara meninju pelan bahu Arga.

"Bilang aja kamu modus pengen cium tangan aku!"

Arga menoleh, menatap Nara dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, menyudutkan Nara di depan pintu lift yang tertutup.

"Kalau saya memang modus," bisik Arga, suaranya kembali ke mode rendah yang berbahaya,

"saya tidak akan mencium tangan. Saya akan melakukan sesuatu yang lebih... merusak statistik baper kamu."

Nara menelan ludah.

"A-apa?"

Arga mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. Nara sudah bersiap memejamkan mata, mengira lift akan terbuka dan mereka akan tertangkap lagi. Namun, Arga justru menarik dispenser bebek kuning yang entah sejak kapan ada di tangan Nara (Nara berniat membawanya ke kantor karena lucu).

Arga menarik tisunya satu kali.

"Kwek!"

"Suara ini," ujar Arga datar,

"sangat tidak selaras dengan suasana romantis. Ayo jalan, kita sudah telat lima menit dari jadwal."

Arga berjalan mendahului Nara menuju pintu darurat karena liftnya lama. Nara berdiri mematung sambil memeluk bebek plastiknya.

"ARGA WIRATAMA!!! KAMU BENER-BENER MANUSIA PALING NGESELIN!!!" teriak Nara, namun di dalam hatinya, ia tersenyum lebar.

Pernikahan paksa ini mungkin memang diawali dengan foto viral dan tetangga kepo, tapi bagi Nara, setiap "kwek" dari bebeknya dan setiap tatapan "audit" dari Arga kini mulai terasa seperti rumah yang sebenarnya

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!