NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinginnya Tibet dan Rahasia Daster Bulu Domba

​Mendaki puncak Himalaya dengan daster bukanlah ide yang ada di dalam buku manual intelijen mana pun di dunia. Namun, bagi The Justice Widows, logika adalah sesuatu yang bisa ditekuk senyaman karet pinggang celana kulot.

​"Gue... gue nggak bisa... oksigen gue... habis..." rengek Maya Adinda, suaranya teredam oleh masker oksigen yang dipasang secara paksa oleh Bella. Maya mengenakan daster khusus musim dingin hasil modifikasi agensi: bahan wol merino berlapis kevlar dengan motif macan salju agar "tetap tematik," katanya.

​"Diem, May. Napas lewat hidung, jangan lewat mulut, nanti paru-paru lo jadi es mambo," sahut Bella Damayanti. Bella tampak paling tangguh di antara mereka, mengenakan jaket taktis tebal dan membawa tas punggung berisi peralatan navigasi satelit. Di kakinya, sepatu bot militer dengan paku es mencengkeram permukaan salju yang licin.

​Siska Paramita berjalan di tengah, membawa sebuah kuali kecil yang diikatkan di tasnya karena menurutnya, "makanan kaleng militer itu rasanya kayak penghapus pensil." Siska sedang fokus menyeimbangkan suhu tubuhnya. Tangannya yang biasa memegang sutil panas kini dibungkus sarung tangan termal yang bisa mengeluarkan panas instan jika ditekan.

​"Kita sudah di koordinat 28.59N, 83.93E," ujar Bella sambil memeriksa tabletnya. "Seharusnya di balik tebing ini ada sebuah biara tua yang dikenal sebagai 'The Needle Point'. Itu tempat persembunyian The Master Tailor."

​Saat mereka melewati celah sempit di antara dua dinding es, pemandangan luar biasa terbentang. Sebuah biara batu berdiri megah di pinggiran jurang yang tak berdasar. Anehnya, alih-alih suara lonceng atau nyanyian biksu, yang terdengar adalah suara ribuan mesin jahit manual yang berderit secara serempak.

​Tak-tak-tak-tak-tak-tak...

​Suara itu bergema di lembah sunyi, menciptakan atmosfer yang membuat bulu kuduk berdiri.

​"Kenapa tempat ini horor banget sih? Kayak pabrik konveksi di tengah film hantu," bisik Maya sambil merapat ke arah Siska.

​Mereka mendekati gerbang utama yang terbuat dari kayu aras kuno. Di depannya, berdiri seorang pria tua dengan janggut putih panjang yang dikepang menyerupai pola jahitan rantai. Ia mengenakan jubah abu-abu polos tanpa sambungan sebuah pencapaian teknis menjahit yang luar biasa.

​"The Justice Widows," suara pria itu lembut tapi bergema. "Saya adalah Yusuf, Penjaga Benang Putih. Master Tailor sudah menunggu kalian di Ruang Tenun Takdir."

​"Bapak tahu kami mau datang?" tanya Siska curiga, tangannya sudah meraba gagang sutil di balik jaketnya.

​"Di sini, kami menjahit bukan hanya kain, tapi juga kemungkinan. Dan kemungkinan kalian bertahan sampai di sini adalah satu banding sejuta. Itu artinya, takdir memang ingin kalian bertemu dengannya," jawab Yusuf sambil membukakan gerbang.

​Di dalam biara, pemandangan jauh lebih modern daripada luarnya. Ribuan serat optik yang bercahaya biru menjalar di langit-langit, menyerupai benang-benang cahaya. Di tengah ruangan, seorang pria duduk membelakangi mereka. Ia sedang memutar sebuah roda tenun raksasa yang tidak berisi benang fisik, melainkan aliran data digital.

​Itulah The Master Tailor.

​Saat ia berputar, wajahnya ternyata sangat muda mungkin baru awal tiga puluhan tapi matanya sangat tua dan lelah.

​"Dunia ini adalah pakaian yang robek, Bella," ujar Master Tailor tanpa menoleh. "Pejabat korup, sindikat narkoba, kelaparan... itu semua adalah lubang-lubang di kain peradaban. Saya hanya mencoba menambalnya."

​"Dengan cara mengendalikan sistem pertahanan nuklir lewat 'The Empress Cloak'?" Bella melangkah maju, tangannya siap menarik payung titaniumnya. "Itu bukan menambal, itu namanya memaksakan desainmu pada orang lain!"

​Master Tailor berdiri. Di belakangnya, sebuah jubah emas transparan tergantung di udara, melayang karena gaya magnetik. The Empress Cloak. Jubah itu tidak memiliki motif, tapi permukaannya terus berubah, menampilkan kode-kode komputer yang mengalir seperti air terjun.

​"Jika aku mengendalikan senjata dunia, aku bisa menghapus peperangan dalam semalam," kata Master Tailor. "Hanya butuh satu jahitan terakhir... daster merah dari Singapura yang kalian bawa."

​"Jangan kasih, Sis!" teriak Maya.

​"Terlambat," Master Tailor menjentikkan jarinya.

​Tiba-tiba, dari bayangan di sudut ruangan, muncul puluhan robot berbentuk laba-laba mekanis yang kakinya berupa jarum jahit raksasa. Mereka bergerak dengan kecepatan luar biasa, mengincar tas Siska.

​"Siska, jaga tasnya! Maya, gunakan bedak radiasi!" perintah Bella.

​Maya melemparkan bedak padatnya, tapi kali ini ia menekan tombol "Mode Supernova".

​BLAAAST!

​Cahaya putih menyilaukan memenuhi ruangan, membutakan sensor optik robot-robot laba-laba tersebut. Siska langsung mengambil posisi tempur. Ia mengeluarkan sutil titaniumnya yang kini sudah ditingkatkan dengan fitur "Vibrasi Ultrasonik".

​ZINGGGG!

​Setiap kali sutil Siska menghantam kaki robot laba-laba, getarannya membuat sendi-sendi robot itu hancur berkeping-keping. "Maaf ya, Mas Laba-laba! Saya lebih suka masak kepiting daripada ngurusin serangga besi!"

​Bella berhadapan langsung dengan Master Tailor. Master Tailor menarik sebuah kabel tipis yang hampir tak terlihat dari lengan bajunya sebuah kawat monofilamen yang bisa memotong baja.

​SHER... SHER...

​Bella menangkis kawat itu dengan payung titaniumnya. Percikan api memercik setiap kali kawat itu bergesekan dengan rangka payung. "Lo berbakat, Master. Tapi lo lupa satu hal tentang daster-daster itu."

​"Apa?" tanya Master Tailor sambil menyerang dengan cambukan kawat yang mematikan.

​"Daster itu dibuat untuk melindungi janda yang memakainya, bukan untuk menghancurkan dunia!" Bella melakukan tendangan putar yang mengenai dada Master Tailor, membuatnya terhuyung ke arah roda tenun.

​Sementara Bella dan Siska sibuk bertarung, Maya menyadari sesuatu. Ia melihat The Empress Cloak yang melayang itu sangat sensitif terhadap gangguan frekuensi. Ia ingat lipstik GPS-nya memiliki fitur "Distraksi Audio".

​"Bella! Siska! Tutup telinga kalian!" teriak Maya.

​Maya mengambil lipstiknya, menarik antenanya secara maksimal, dan memutar volume ke tingkat paling tinggi. Alih-alih suara alarm, Maya memutar rekaman suara paling mengerikan yang pernah ada: Rekaman suara Maya saat sedang bernyanyi karaoke lagu dangdut koplo dengan nada sumbang yang sangat tinggi.

​"APA-APAAN INI?!" teriak Master Tailor sambil menutup telinganya.

​Suara melengking Maya yang mencapai nada high C palsu itu menciptakan resonansi yang merusak aliran data di jubah emas tersebut. Kode-kode di permukaan jubah mulai glitch dan berubah menjadi kacau.

​"TIDAK! JAHITAN DATA-KU!" ratap Master Tailor.

​Siska melihat peluang. Ia berlari menuju jubah emas itu, melompat, dan menusukkan sutil ultrasoniknya tepat ke pusat kendali di bagian kerah jubah tersebut.

​KABOOM!

​Ledakan energi statis melempar mereka semua ke belakang. Jubah emas itu jatuh ke lantai, cahayanya meredup, dan akhirnya berubah menjadi tumpukan benang biasa yang tak berharga.

​Master Tailor terduduk di lantai, napasnya tersengal. Ia melihat mahakaryanya hancur. Namun, anehnya, ia tampak lega.

​"Suara... suara nyanyian itu... benar-benar mematikan," gumamnya sambil menatap Maya dengan ngeri.

​"Itu namanya seni, Master! Kamu aja yang nggak punya selera musik!" balas Maya sambil merapikan daster macan saljunya.

​Yusuf, si penjaga biara, mendekat. "Master, sudah saya katakan. Takdir tidak bisa dijahit secara paksa. Biarkan kain dunia menua dengan caranya sendiri, dengan segala lubang dan robekannya."

​Master Tailor menunduk. "Kalian menang. Data dalam daster-daster itu... semuanya sudah saya hapus. Dunia tidak akan pernah punya 'White Widow' atau 'Empress Cloak' lagi."

​Bella menyimpan payungnya. "Terus, sekarang apa?"

​Master Tailor menatap Siska. "Bolehkah aku mencoba rendang yang kamu bawa? Aku sudah tidak makan makanan nyata selama sepuluh tahun."

​Siska tersenyum, lalu membuka kualinya yang ternyata berisi rendang yang masih hangat karena teknologi termal tasnya. "Boleh. Tapi syaratnya satu: kamu harus jahitkan aku daster baru yang bahannya nggak bisa kotor walau kena noda minyak."

​Keesokan paginya, ketiga janda itu berdiri di landasan helikopter biara. Angin dingin Tibet tidak lagi terasa menyakitkan.

​"Kita sudah menghancurkan semua daster legendaris," kata Bella sambil menatap langit yang mulai terang. "Misi selesai."

​"Nggak semuanya," potong Maya. Ia menunjukkan ponselnya. "Aku baru saja mematenkan desain daster 'Justice Widow' ke aplikasi belanja online. Dalam lima menit, daster motif macan salju ini sudah dipesan sepuluh ribu orang!"

​Siska tertawa. "Paling nggak, sekarang kita punya sumber penghasilan yang halal."

​Tiba-tiba, tablet Bella berbunyi. Ada sebuah pesan dari markas besar di Jakarta sebuah departemen baru yang dibentuk oleh pemerintah untuk menggantikan agensi Kolonel Lastri.

​"Selamat pagi, Justice Widows. Kami punya kasus baru. Seseorang mencuri mahkota berlian di Inggris, dan jejak kakinya beraroma... bumbu rendang Siska. Sepertinya ada orang yang mencoba memfitnah kalian. Misi kalian selanjutnya: London."

​Maya berteriak kegirangan. "LONDON?! YES! Aku mau beli baju musim dingin di Harrods!"

​Siska menghela napas, tapi tersenyum. "London ya? Aku dengar di sana susah cari cabai rawit yang pas. Bella, siapkan kargo tambahan buat logistik bumbu."

​Bella memakai kacamata hitamnya. "Siap, Sis. May, simpan skincare-mu, kita berangkat sepuluh menit lagi."

​Dari apartemen di Jakarta, ke penjara, ke gudang bawang, hingga ke puncak dunia. Tiga janda muda ini telah membuktikan bahwa tidak ada musuh yang terlalu besar, dan tidak ada jahitan yang terlalu rumit untuk dilepaskan. Mereka adalah pahlawan yang tidak memakai jubah karena daster jauh lebih nyaman.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!