Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Mobil Porsche berwarna abu-abu itu perlahan muncul dari kejauhan. Begitu salah seorang security melihat mobil itu, ia dengan cepat berjalan membuka gerbang kediaman dengan tergesa-gesa.
Begitu mobil itu masuk dan parkir di halaman depan, seorang wanita keluar dari sana. Ya itu adalah Arini.
Beberapa pelayan serta asisten rumah tangga yang melihat kedatangan dirinya lantas menyapa wanita itu. Kedatangan wanita ini bukanlah sebagai orang asing bagi kediaman tersebut.
Arini berjalan masuk. Baru saja ia menapakan kakinya ke ruang tamu, sosok yang ingin ia ingin temui sudah ada dihadapannya.
"Arini, lama sudah tidak bertemu ya," sapa Grace, tante Arini.
"I miss you, tante." ucap Arini sambil berjalan mendekat memeluk wanita itu.
"Ayo, duduk dulu,"
Keduanya lalu duduk di sofa. Di atas meja tepat hadapan mereka sudah terhidang berbagai camilan dan juga teh hangat. Arini memandangi satu-persatu makanan itu lalu beralih menatap wanita disampingnya.
"Ya ampun, tante padahal ngga usah repot-repot lho," ucap Arini.
"Why? Khusus untuk kamu, tante siapin camilan dan teh kesukaan kamu!"
Grace meraih gelasnya dan menyeduh teh hangat itu, lalu menatap keponakannya itu dengan tatapan penasaran. "So, apa yang ingin kamu bicarakan, Arini?"
Arini terdiam sejenak. Ia berusaha untuk tenang dan mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
Ruangan itu menjadi hening, hanya terdengar detak jam dinding yang terus berjalan.
"Tante," ucapnya pelan. "Aku ingin mengembalikan semuanya. Aku ingin mengubah kembali seluruh nama kepemilikan aset saya, mulai dari rumah, tanah di Bogor, hingga saham perusahaan, dari nama Adrian kembali menjadi namaku sendiri."
Grace memandang Arini lewat bingkai kacamata beberapa saat, seolah mencari keraguan di mata wanita itu. Namun, yang ia temukan hanyalah tatapan yang dingin dari sorot mata sang keponakan.
"Semuanya, Arini? Ini langkah yang cukup besar,"
"Dan, mengapa kamu tiba-tiba meminta hal ini?" tanya Grace.
Arini menghela napas lalu menjawab, "Sejujurnya Adrian sudah merusak kepercayaan aku tante. Aku kira dia orang yang cukup baik, namun ternyata itu hanya kebohongan yang diam-diam dia sembunyikan dari aku,"
"Aku bingung, entah tante percaya atau tidak.."
"Tapi, Adrian sudah selingkuh di belakang aku tante." ucap Arini lirih.
"WHAT?!"
Suara Grace menggema dengan keras di kediaman itu. Ia terkejut mendengar ucapan Arini. Namun Arini dan juga pelayan rumahnya lebih kaget mendengar suaranya yang nyaring hampir menembus telinga.
"Astaga, tante! Jangan gede-gede, ssst!" ucap Arini sambil memberi isyarat agar Grace menurunkan nada suaranya.
"Really? Adrian, dia melakukan hal seperti itu? Dia gila!" ucap Grace masih tak percaya.
"Aku juga awalnya ngga percaya tante, tapi itu kenyataannya."
"Gila dia, memang secantik apa sih selingkuhan dia? Bisa-bisanya dia selingkuh, padahal udah dapet istri spek komplit kayak kamu!" omel Grace dengan kesal.
"Oke, oke, Tante. Tenang, tarik napas dulu," ucap Arini mencoba menenangkan tantenya.
"Berarti tante bisa kan ngelakuin permintaan aku?" tanya Arini dengan tatapan penuh harap.
Grace menatap cepat Arini yang disampingnya, "Of course! Gampang itu, bahkan masukin Adrian ke penjara pun tante juga bisa!"
"Udah sabar tante, diminum lagi yuk tehnya,"
Grace menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sempat memburu. Ia meminum tehnya sedikit demi sedikit, membiarkan rasa hangat itu menenangkan pikirannya yang tadi sempat panas.
"Maaf ya, Arini. Tante kaget sekali. Habisnya, keterlaluan itu si Adrian," gumam Grace sambil meletakkan cangkirnya kembali.
Arini mengangguk kecil. Ia merasa sedikit lega setelah mengeluarkan beban yang menghimpit dadanya.
"Iya, Tante. Aku juga nggak menyangka. Tapi aku nggak mau nangis terus. Aku harus bereskan semuanya sekarang."
Grace mencondongkan badannya, menatap Arini dengan lebih lembut. "Keputusan kamu sudah bulat? Mengambil kembali semuanya berarti Adrian tidak akan punya apa-apa lagi di bawah namanya."
"Lalu, bagaimana dengan hubungan kalian? Apa dia sudah tahu kalau kamu sudah tahu?"
Arini menggeleng kecil. Sebuah senyum tipis yang getir muncul di sudut bibirnya.
"Belum. Dia masih bersikap seolah-olah dia adalah suami paling setia di dunia. Sekarang setiap pulang kantor, dia masih membawakanku bunga atau sekadar makanan favoritku" Arini menghela napas,
"Rasanya mual, Tante, melihat kepura-puraan itu setiap hari."
"Pertahankan itu sedikit lebih lama lagi," saran Grace dengan tatapan mata yang tajam.
"Biarkan dia merasa aman di atas istana pasir yang sedang kita runtuhkan fondasinya. Saat surat-surat itu keluar nanti, barulah kamu tunjukkan wajah aslimu."
"Sangat bulat, Tante. Aku nggak mau aset peninggalan orang tuaku dipakai untuk menghidupi orang lain, apalagi perempuan itu," jawab Arini tenang.
Suaranya tidak lagi bergetar. Grace tersenyum tipis, bangga melihat ketegaran keponakannya. Ia mengusap punggung tangan Arini dengan lembut.
"Baik kalau begitu. Besok pagi Tante langsung panggil notaris kepercayaan keluarga kita ke sini. Kamu bawa semua berkas yang kamu pegang, ya?"
"Terima kasih ya, Tante. Cuma Tante yang bisa aku percaya sekarang," kata Arini pelan.