NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan Awal

Pagi datang tanpa tanda apa pun.

Ayam berkokok seperti biasa. Kabut masih menggantung rendah. Desa tidak tahu apa-apa tentang percakapan semalam, tentang map yang ditutup di kota, tentang nama yang tak diucapkan tapi diarahkan.

Pak Raka tahu lebih dulu.

Ia menyadarinya dari hal kecil, sepeda tuanya bergeser beberapa jengkal dari tempat biasa. Bukan jatuh. Bukan ditiup angin. Dipindahkan.

Ia berhenti sejenak, menatap tanah yang tidak meninggalkan jejak. Lalu ia tersenyum tipis, senyum orang yang mengenali bahasa lama.

Di dapur, Mika menuang air panas. “Ayah ?”

“Ya.”

“Sepedanya kok...”

“Tak apa,” potong Pak Raka.

“Minum dulu.”

Jovan berdiri di ambang pintu. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Cukup lama untuk saling paham. Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada penjelasan.

Hanya pengakuan diam-diam bahwa sesuatu sudah masuk ke ruang mereka.

Pak Raka berjalan pelan ke teras, berdiri di dekat sepedanya. Ia menyentuh setang besi yang dingin, lalu memeriksa rem, rantai, dan roda, bukan seperti orang yang mengecek kendaraan, tapi seperti orang yang membaca pesan.

“Anda lihat apa?” tanya Jovan pelan.

Pak Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap jalan desa yang masih sepi, kabut tipis masih menggantung rendah.

“Orang yang ingin dilihat… biasanya meninggalkan jejak,” katanya akhirnya. “Orang yang tidak ingin dilihat… memindahkan barang.”

Mika berdiri di pintu dapur, memeluk lengannya sendiri. “Itu artinya apa?”

Pak Raka menoleh, suaranya tetap datar. “Artinya kita sedang diuji, bukan diserang.”

Jovan mengangguk pelan. “Tekanan awal.”

Pak Raka tersenyum tipis. “Bahasa lama.”

Ia menggeser sepedanya kembali ke posisi semula, tepat seperti sebelumnya. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

“Tetap sarapan,” katanya. “Tetap ke kebun. Tetap hidup seperti biasa.”

Mika menatap ayahnya. “Dan kalau mereka naikkan tekanannya?”

Pak Raka masuk kembali ke rumah. “Kalau mereka naikkan… berarti mereka tidak sabar.”

Ia mengambil cangkirnya, duduk di bangku kayu. “Dan orang yang tidak sabar,” lanjutnya, “biasanya membuat kesalahan.”

Hening sebentar.

Di luar, satu motor lewat pelan di ujung jalan. Tidak berhenti. Tidak menoleh. Tapi cukup lambat untuk dilihat.

Jovan mencatatnya.

Mika menunduk, lalu mengambil keranjang. “Aku ke kebun.”

Jovan meraih jaketnya. “Aku ikut.”

Pak Raka tidak melarang. Tidak menyuruh. Tidak menahan.

Ia hanya berkata satu kalimat pelan, hampir seperti nasihat lama.

“Kalau pagi mulai dengan sunyi yang aneh, siangnya biasanya tidak sederhana.”

Di kebun.

Embun masih menggantung di daun ketika Mika memanjat pohon jambu yang tidak terlalu tinggi, cukup rendah untuk diraih, cukup tinggi untuk membuatnya harus bertumpu pada dahan kecil. Tangannya bergerak lincah, memutar buah matang sebelum melepaskannya dari tangkai. Satu, dua, tiga. Jambu-jambu itu jatuh pelan ke keranjang di bawah.

Jovan berdiri beberapa langkah dari pohon, memegang keranjang cadangan. Sesekali ia mendongak, memastikan pijakan Mika aman. Tidak menawarkan bantuan. Tidak juga pergi. Ia hanya ada seperti bayangan yang tahu kapan harus mendekat.

Jovan menahan napas sebentar saat kakinya hampir tergelincir.

“Awas,” katanya.

Mika tertawa kecil. “Tenang. Aku hafal.”

Mika turun, mengelap keringat dengan punggung tangan. Rambutnya sedikit berantakan. Jovan refleks merapikannya, lalu berhenti di tengah gerak, seolah baru sadar jarak mereka terlalu dekat.

Mika menoleh. Tidak mundur.

“Kalau terus begitu,” katanya ringan, “kau akan lupa ini kebun, bukan kota.”

Jovan tersenyum kecil. “Aku sedang belajar.”

Daun di ujung kebun bergerak. Langkah kaki terdengar pelan, berat, mengenal tanah.

Pak Raka muncul dari balik pohon jambu tua. Topinya agak miring, bajunya digulung sampai siku. Ia berhenti ketika melihat mereka. Tidak langsung bicara.

Pandangan Pak Raka berpindah dari keranjang, ke tangan Mika yang sedikit memar bekas dahan, lalu ke Jovan.

“Kalian cepat mengumpulkan buah,” katanya akhirnya.

“Pohonnya sedang baik, banyak yang ranum” jawab Mika.

Pak Raka mendekat, mengambil satu jambu, menimbangnya di tangan. Ia tidak memeriksa terlalu lama. Seperti orang yang sudah tahu apa yang akan ia temukan.

“Kebun ini,” katanya pelan, “tidak suka orang yang datang tergesa.”

Jovan menatapnya. “Aku tidak tergesa.”

Pak Raka mengangguk. “Itu sebabnya kau masih di sini.”

Hening sebentar. Angin menggerakkan daun. Jambu di keranjang beradu pelan.

“Desa ini,” lanjut Pak Raka, “tidak menolak orang baru. Tapi desa juga ingat siapa yang datang dengan maksud.”

Jovan mengangguk. “Aku tidak membawa apa-apa.”

Pak Raka menatapnya lama. “Kadang yang dibawa itu bukan di tangan.”

Ia berbalik, berjalan pergi beberapa langkah, lalu berhenti. “Hari ini cukup. Jangan terlalu lama di kebun.”

Mika mengangguk. Jovan menjawab, “Baik.”

Saat Pak Raka menghilang di balik pohon, kebun terasa kembali sunyi. Tapi bukan sunyi yang sama seperti tadi pagi.

Mika mengangkat keranjang. “Kita pulang.”

Jovan mengambil sisanya. Saat mereka berjalan keluar kebun, ia menoleh sekali lagi ke pohon jambu yang paling tua, dahan rendahnya masih bergetar pelan.

Ada sesuatu yang sudah bergerak. Dan kebun itu tahu lebih dulu.

.

Sore menjelang, Jovan meninggalkan desa sebentar. Tidak lama. Tidak mencolok. Ia kembali sebelum gelap dengan wajah yang sama, tenang, tapi matanya membawa hitungan.

Malam itu, Levis menerima kabar kedua.

“Dia keluar sebentar,” lapor anak buahnya. “Tanpa ekor.”

Levis tersenyum. “Artinya dia sedang membersihkan belakang.”

“Perlu kita...”

“Belum.” Levis mengangkat tangan. “Aku mau dia memilih.”

“Memilih apa?”

“Desa… atau darah.”

Di Desa Sumberjati, hujan turun tipis. Mika menutup jendela, lalu berhenti saat melihat Jovan berdiri di halaman.

“Ada apa?” tanyanya.

“Besok,” kata Jovan, “kalau aku minta kau tidak ke pasar...mau?”

Mika terdiam. “Kenapa?”

Jovan tidak menjawab langsung. “Aku ingin kau aman.”

Mika menatapnya lama. Lalu mengangguk. “Baik.”

Pak Raka mengamati mereka, sebentar saja, cukup untuk membaca yang tak diucapkan. “Besok pagi, bantu angkat kayu di belakang. Jangan ke pasar dulu, ikuti perkataan Jovan.”

“Baik, Ayah ?” sahut Mika.

Langkah Pak Raka menjauh ke kamar belakang.

Mika menutup jendela perlahan. Jovan masih berdiri di luar, mendengar hujan jatuh ke tanah, satu per satu, seperti hitungan yang tidak bisa dihentikan.

Di kejauhan, motor melintas tanpa lampu. Suaranya tidak tergesa. Tidak juga ragu. Hanya lewat, lalu hilang di tikungan kebun bambu.

Jovan tidak bergerak sampai suara motor benar-benar lenyap. Ia baru melangkah masuk ketika Pak Raka mematikan lampu teras, satu-satunya tanda bahwa malam sudah diputuskan.

Di dalam, Mika duduk di tikar, lututnya ditarik ke dada. Ia tidak bertanya. Ia hanya menatap Jovan seperti seseorang yang tahu jawabannya akan mengubah caranya bernapas.

“Ada yang lewat,” kata Jovan akhirnya.

Mika mengangguk. “Aku dengar.”

Hening lagi. Hujan mengisi ruang yang tidak mereka isi dengan kata-kata.

Pak Raka muncul lalu menaruh cangkirnya. “Malam ini mereka hanya menghitung.”

“Menghitung apa?” tanya Mika.

“Siapa yang gelisah,” jawabnya. “Siapa yang menutup jendela. Siapa yang tetap berdiri.”

Tatapan Pak Raka berhenti pada Jovan. Bukan tuduhan. Bukan pujian. Hanya pencatatan. “Malam sering membawa cerita,” lanjut Pak Raka. “Pagi yang baik tahu kapan harus menunggu. Lekas tidur." Pak Raka kembali ke kamar belakang. Mika dan Jovan juga bergerak.

Malam semakin dalam. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara lain. Justru itu yang membuat Mika sulit tidur. Ia berbaring dengan punggung menghadap dinding, mendengar hujan, mendengar napas rumahnya sendiri.

Ia teringat pasar yang sepi. Tatapan orang-orang yang berpaling terlalu cepat. Uang kembalian yang tidak jadi berpindah tangan.

Ia teringat Jovan yang memilih tinggal.

Ada bagian dari dirinya yang ingin marah. Tapi lebih besar lagi bagian yang takut, bukan kehilangan, melainkan menjadi alasan.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!