NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulangkan Garam ke Samudra

Truk TNI itu melaju kencang di Jalan Parangtritis yang untungnya sudah bersih dari puing-puing besar berkat kerja bakti warga dan tentara. Pangeran Suryo menyetir dengan kecepatan yang membuat Sekar harus berpegangan erat pada dashboard. Di belakang mereka, Bambang duduk di bak terbuka bersama beberapa drum kosong yang entah untuk apa.

"Gusti yakin bisa melakukan ini?" tanya Sekar, menatap profil samping Pangeran yang terlihat tegang. Kulitnya semakin pucat, urat-urat keemasan di lehernya berdenyut lebih cepat dari biasanya.

"Tidak yakin," jawab Pangeran jujur. "Tapi kalau tidak dicoba, besok pagi kita akan sarapan ikan bakar gratis... dari seluruh populasi ikan laut selatan yang mati massal."

Mereka sampai di bibir pantai Parangtritis. Pemandangannya menyedihkan.

Garis pantai mundur jauh ke tengah laut, menyisakan hamparan pasir basah yang luas. Tapi baunya... bukan bau laut segar. Baunya seperti kolam ikan air tawar yang tidak dikuras berbulan-bulan. Amis dan hambar.

Ratusan warga dan relawan sudah berkumpul di sana. Mereka mencoba menyelamatkan ikan-ikan yang terdampar, memasukkannya ke dalam ember berisi air garam buatan. Tapi itu usaha yang sia-sia. Skalanya terlalu besar.

"Minggir! Minggir!" teriak Bambang dari atas truk, memberi isyarat agar kerumunan membelah jalan.

Pangeran Suryo menghentikan truk tepat di batas air. Ia melompat turun. Kakinya yang bersepatu bot tentara (pinjaman) menapak pasir yang becek.

"Mas Bambang, siapkan drumnya!" perintah Pangeran. "Isi dengan air laut tawar itu!"

Bambang dan beberapa tentara yang ada di sana segera memompa air laut ke dalam drum-drum besi di atas truk.

Sekar berlari menyusul Pangeran yang berjalan lurus masuk ke dalam air. Air laut itu tenang, terlalu tenang. Tidak ada ombak besar. Ombaknya kecil-kecil dan sopan, seperti ombak danau.

Pangeran Suryo berhenti saat air mencapai pinggangnya. Ia merentangkan tangan.

"Sekar, jaga aku," katanya tanpa menoleh. "Proses ini akan... tidak menyenangkan."

"Apa yang harus saya lakukan, Gusti?"

"Jangan biarkan aku pingsan. Kalau aku mulai tenggelam... tarik aku."

Pangeran Suryo memejamkan mata. Ia mulai berkonsentrasi.

Ia memanggil memori laut yang ada di dalam darahnya. Darah dewa itu. Darah yang mengandung cetak biru samudra purba.

Kembalilah.

Pangeran Suryo membuka mulutnya.

HUEK!

Ia muntah.

Tapi yang keluar bukan isi perut.

Yang keluar adalah cairan kental berwarna biru tua yang bercahaya. Cairan itu jatuh ke air laut di depannya, dan seketika menyebar seperti tinta.

Di mana cairan itu menyentuh air, buih putih langsung muncul. Suara mendesis terdengar.

Air laut di sekitar Pangeran mulai bergolak. Rasa asinnya kembali.

Tapi Pangeran tidak berhenti. Ia muntah lagi. Dan lagi.

Tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi abu-abu. Keringat dingin mengucur deras. Ia memuntahkan esensi kehidupannya sendiri untuk menghidupkan kembali laut.

"Gusti!" Sekar maju selangkah, air mata menggenang di matanya. Ia tidak tega melihat junjungannya menyiksa diri seperti ini.

"Belum... cukup..." desis Pangeran Suryo, suaranya parau. "Laut ini... luas sekali, Sekar."

Ia memaksakan diri lagi. Muntahan berikutnya berwarna emas. Darah murni.

Saat darah emas itu menyentuh air, ombak besar pertama mulai terbentuk di kejauhan. BYUUR! Suara deburan ombak yang dirindukan itu kembali terdengar.

Tapi harga yang dibayar mahal. Lutut Pangeran Suryo lemas. Ia ambruk ke dalam air.

"Gusti!"

Sekar langsung menerjang masuk, menangkap tubuh Pangeran sebelum kepalanya tenggelam. Tubuh Pangeran terasa panas sekali sekarang, demam tinggi akibat pengurasan energi drastis.

"Masih... kurang..." gumam Pangeran, matanya setengah terpejam. "Kadar garamnya... baru separuh..."

"Sudah, Gusti! Cukup!" bentak Sekar. "Kalau Gusti mati lagi, siapa yang mau tanggung jawab?! Saya nggak punya Jantung Samudra lagi buat menghidupkan Gusti!"

Sekar menyeret Pangeran Suryo mundur ke daratan. Bambang dan para tentara berlari membantu, mengangkat tubuh Pangeran ke atas pasir kering.

"Airnya bagaimana?" tanya seorang tentara, mencicipi air laut di jarinya. "Asin! Sudah asin, Komandan!"

"Tapi belum sempurna," kata Bambang, melihat ikan-ikan yang masih lemas. "Kadar garamnya masih rendah. Ini kayak air payau."

Pangeran Suryo terbatuk-batuk di pangkuan Sekar. "Drum... Bambang... drum..."

"Drum apa, Gusti?"

"Bawa drum itu... ke tengah laut... sebarkan..."

Bambang bingung. Drum itu isinya cuma air laut tawar yang tadi dipompa. Apa gunanya?

Tapi Sekar paham.

"Gusti sudah mentransfer 'bibit' garamnya ke air di sekitar sini," jelas Sekar cepat. "Air di dalam drum itu sekarang sudah jadi konsentrat. Kita harus menyebarkannya ke area yang lebih luas biar tercampur rata!"

"Helikopter!" teriak Sekar pada perwira TNI di sana. "Bapak punya helikopter kan? Angkut drum-drum ini! Sebarkan dari udara!"

Perwira itu ragu sejenak, menatap gadis kecil yang berani memerintahnya. Tapi melihat kondisi Pangeran, ia mengangguk tegas.

"Laksanakan! Regu Alpha, angkut drum ke heli!"

Tiga helikopter kembali mengudara, membawa jaring kargo berisi drum-drum air yang telah "diberkati" oleh muntahan Pangeran. Mereka terbang menyebar ke arah laut lepas, menumpahkan air itu dari ketinggian.

Efeknya menakjubkan.

Dari kejauhan, terlihat garis putih buih menyebar dari titik jatuhnya air. Laut yang tadinya tenang dan hambar mulai bergolak hidup. Ikan-ikan yang mengapung mulai mengibaskan ekornya, berenang kembali ke kedalaman.

Warna laut berubah dari cokelat keruh menjadi biru safir yang jernih.

"Berhasil..." bisik Sekar, mengusap dahi Pangeran yang masih demam. "Gusti berhasil."

Pangeran Suryo tersenyum lemah. "Bagus. Sekarang... aku lapar lagi. Ada yang bawa garam?"

Sekar tertawa renyah, meski air matanya masih menetes. Ia merogoh saku kebayanya, mengeluarkan bungkusan kecil garam dapur yang tadi ia minta dari dapur keraton.

"Nih, Gusti. Cemilan."

Pangeran Suryo menjilati garam itu dari telapak tangan Sekar dengan rakus. Pemandangan itu aneh, intim, dan sedikit liar. Para tentara membuang muka, pura-pura tidak lihat.

"Sekar," panggil Pangeran setelah menghabiskan garamnya.

"Ya, Gusti?"

"Janji satu hal."

"Apa?"

"Jangan biarkan aku jadi monster. Kalau suatu hari nanti aku lebih suka makan manusia daripada makan nasi kucing... kamu tahu apa yang harus dilakukan dengan cambukmu."

Sekar terdiam. Ia menatap mata Pangeran yang kini kembali cokelat, namun dengan bayangan emas yang permanen di dalamnya.

"Saya janji, Gusti," jawab Sekar mantap. "Tapi sebelum itu terjadi, saya akan pastikan Gusti kenyang makan garam setiap hari."

Mereka duduk berdua di pasir pantai, memandang matahari terbenam yang akhirnya berwarna jingga normal.

Perang sudah usai. Laut sudah kembali asin. Dan mereka berdua... mereka berdua selamat, meski tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Besok, mereka harus ke Jakarta. Menghadapi monster-monster berdasi di istana negara. Tapi untuk sore ini, biarkan mereka istirahat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!