Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Akhir dari Jurnal Hitam
Minggu pagi, pukul 04.00 WIB.
Langit Surabaya masih berwarna biru keunguan yang pekat saat kami sampai di depan gerbang SMK Pamasta. Udara pagi yang biasanya menyegarkan, kali ini terasa membawa beban berat yang menekan paru-paru. Hari ini adalah hari terakhir liburan semester satu. Besok, semua siswa akan kembali ke sekolah, kembali ke rutinitas, kembali ke dunia yang seharusnya normal. Namun, bagi kami, hari ini bukan tentang hari libur; hari ini adalah tentang penentuan apakah kami akan memiliki hari esok yang nyata, atau selamanya terjebak dalam jahitan takdir Pak Haryo.
Aku duduk di kursi depan mobil, menyesap teh melati hangat dari tumbler yang kubawa. Rasa tehnya tetap sama, menenangkan dan metodis, memberikan ruang bagi otakku untuk menghitung setiap kemungkinan yang akan terjadi di dalam gedung sekolah itu. Di sampingku, Vema sedang merapikan tali sepatunya. Rambut wolfcut-nya yang pendek tampak sedikit berantakan, tertiup angin dari jendela mobil yang terbuka sedikit.
"Dra," panggil Vema.
"Ya, Vem?"
"Kalau nanti ingatanmu tentang aku mulai ditarik... berjanjilah jangan melawannya terlalu keras dengan logika. Lawanlah dengan perasaan. Karena logika bisa dimanipulasi oleh angka, tapi rasa tidak punya variabel palsu."
"Kalau nanti ingatanmu tentang aku mulai ditarik... berjanjilah jangan melawannya terlalu keras dengan logika. Lawanlah dengan perasaan. Karena logika bisa dimanipulasi oleh angka, tapi rasa tidak punya variabel palsu."
Aku menatap Vema, lalu menatap benang merah yang melingkar di pergelangan tangan kami. "Dalam akuntansi, ada yang disebut Integrity. Nilai yang nggak bisa diubah oleh tekanan apa pun. Kamu adalah integritas dalam hidupku, Vem. Aku nggak akan membiarkan saldo itu hilang."
Nadin dan Bagas di kursi belakang juga sudah siap. Nadin membawa tas berisi laptop dan berbagai alat elektronik yang ia sebut sebagai "senjata siber".
Bagas memegang sebilah besi panjang yang ia ambil dari gudang ayahnya, wajahnya yang biasanya penuh tawa kini mengeras seperti batu karang.
"Oke, semuanya. Rencana kita simpel tapi mematikan," aku memulai instruksi terakhir. "Kita masuk lewat pintu belakang Lab Akuntansi menggunakan kunci emas dari Ayah. Nadin, tugasmu melumpuhkan sistem keamanan digital dan memastikan Pak Haryo nggak bisa menutup pintu otomatis dari ruang pusat. Bagas, kamu adalah pelindung kami; kalau ada 'boneka-boneka' itu muncul, kamu yang tahan. Dan aku bersama Vema akan fokus pada Brankas Statis. Kita harus menemukan 'Tas Induk' dan melakukan likuidasi total."
"Ayo berangkat," ucap Bagas tegas.
Kami keluar dari mobil dan menyelinap melewati gerbang samping yang jarang dijaga. Gedung sekolah tampak seperti raksasa tidur yang menakutkan. Langkah kaki kami di koridor beton bergema, menciptakan suara yang seolah-olah memberitahu seluruh gedung bahwa penyusup telah datang.
Saat sampai di depan pintu Laboratorium Akuntansi, aku merasakan hawa dingin yang luar biasa. Pintu kayu jati tua itu tampak sangat megah sekaligus mengancam. Aku mengeluarkan kunci emas pemberian Ayah. Tanganku gemetar sedikit saat memasukkannya ke lubang kunci.
Klik.
Suara mekanisme kunci itu terdengar seperti suara vonis di ruang pengadilan. Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma debu, kertas tua, dan sesuatu yang amis—aroma darah yang dikeringkan.
Laboratorium Akuntansi dalam kegelapan tampak sangat berbeda. Deretan meja komputer dan mesin hitung manual terlihat seperti barisan nisan di pemakaman. Di ujung ruangan, di bawah meja instruktur yang terbuat dari kayu jati tua, aku melihatnya. Sebuah retakan di lantai keramik yang membentuk pola persegi panjang sempurna.
"Itu Brankas Statisnya," bisikku.
Kami mendekat. Tiba-tiba, lampu laboratorium menyala terang secara otomatis. Kami tersentak dan menutupi mata.
"Selamat datang, anak-anakku. Sebuah ketepatan waktu yang luar biasa untuk sebuah audit terakhir," suara itu berasal dari kursi instruktur yang membelakangi kami.
Kursi itu berputar perlahan. Pak Haryo duduk di sana. Ia tidak lagi tampak seperti manusia. Wajahnya kini dipenuhi jahitan-jahitan kasar yang menonjol keluar, dan matanya tidak lagi memiliki pupil, melainkan dua lubang hitam yang terus mengeluarkan asap tipis berwarna merah. Di tangannya, ia memegang sebuah jarum jahit yang sangat besar, terbuat dari tulang manusia yang diperkeras.
"Pak Haryo," desisku sambil berdiri tegak, meskipun punggungku yang bungkuk terasa perih. "Kami datang untuk menutup buku besar Anda. Semua piutang darah yang Anda kumpulkan selama sepuluh tahun, hari ini kami nyatakan sebagai kerugian total."
Pak Haryo tertawa, suara tawa itu terdengar seperti kain yang dirobek paksa. "Kerugian? Sarendra, kamu anak yang cerdas tapi terlalu idealis. Tahukah kamu kenapa sekolah ini begitu maju? Kenapa lulusannya selalu berhasil? Itu karena aku menyeimbangkan kegagalan mereka dengan 'menjahit' kesuksesan orang lain ke dalam hidup mereka. Aku adalah manajer risiko terbaik di kota ini!"
"Anda bukan manajer risiko, Anda adalah pencuri masa depan!" teriak Vema.
Pak Haryo berdiri, dan tiba-tiba, ribuan benang hitam keluar dari bawah meja, meluncur seperti ular-ular lapar menuju arah kami. Bagas dengan sigap mengayunkan besi panjangnya, memukul mundur benang-benang itu, sementara Nadin dengan cepat membuka laptopnya dan menekan tombol Enter.
"Dra! Aku sudah mengunci sistem pusat! Pak Haryo nggak bisa menggunakan manipulasi digital sekarang! Tapi kekuatannya yang lain... aku nggak bisa tahan!" teriak Nadin.
"Vem, sekarang!" aku menarik Vema menuju ubin di bawah meja.
Pak Haryo menggerakkan jarum tulangnya, menciptakan gelombang tekanan udara yang sangat kuat hingga kami terlempar ke arah deretan lemari arsip. Aku merasakan punggungku menghantam kayu keras, kacamataku terlepas dan retak. Dengan pandangan yang agak buram, aku meraba-raba lantai, mencari kacamataku
"Dra, ini!" Vema memberikan kacamataku.
Aku memakainya kembali. Pemandangan di depanku kini sangat kacau. Bagas sedang bertarung melawan sosok-sosok bayangan yang menyerupai siswa-siswa sekolah, termasuk wujud astral Riko yang terus mencoba mencekik Bagas.
"Bagas, jangan dilawan dengan kebencian!" teriakku.
Aku dan Vema sampai di depan Brankas Statis. Aku memasukkan kunci emas ke celah di lantai. Lantai itu bergeser, memperlihatkan sebuah ruang bawah tanah kecil yang berisi satu objek saja: sebuah tas kulit hitam yang sangat besar, berdenyut seperti jantung manusia, dan di sekelilingnya terdapat jutaan benang dari berbagai warna yang terhubung ke seluruh penjuru sekolah.
"Itu Tas Induk," bisik Vema dengan suara bergetar. "Aku merasakannya... jutaan memori yang ditarik paksa ada di sana."
Tiba-tiba, Pak Haryo sudah berada di belakang kami. Ia mengangkat jarum raksasanya tinggi-tinggi. "Jangan sentuh itu, atau kalian akan menjadi bagian dari kain penyusunnya!"
Pak Haryo menusukkan jarumnya ke arahku, namun Vema menghalanginya dengan tangannya sendiri. Benang merah di tangan Vema beradu dengan jarum tulang Pak Haryo, menciptakan percikan cahaya yang menyilaukan.
"Dra! Hancurkan tasnya! Cepat!" Vema berteriak menahan beban kekuatan Pak Haryo.
Aku meraih tas itu. Begitu kulitku menyentuhnya, duniaku mendadak hampa. Aku tidak lagi berada di Lab Akuntansi. Aku berada di sebuah ruang kosong yang putih. Satu per satu, ingatanku mulai memudar. Aku lupa siapa namaku. Aku lupa apa itu akuntansi. Aku lupa tentang Ayah. Dan yang paling menyakitkan, aku mulai lupa pada wajah gadis yang selalu memberiku semangat.
Siapa dia? Kenapa dia punya rambut pendek seperti serigala?
"Dra! Ingat namaku! Sarendra!" suara Vema bergema di dalam pikiranku.
Aku menggelengkan kepala, mencoba melawan tarikan paksa dari tas itu. Aku membayangkan sebuah Jurnal Umum dalam pikiranku. Aku mulai menuliskan baris-baris entri.
Debit: Kenangan Vema.
Kredit: Kebohongan Pak Haryo.
Debit: Persahabatan Bagas dan Riko.
Kredit: Ketakutan SMK Pamasta.
"Dalam akuntansi... saldo harus seimbang!" aku berteriak di tengah kehampaan itu. "Dan hari ini, saldo Pak Haryo adalah nol! NADA! NIHIL!"
Aku mengambil pulpen besi yang selalu kubawa, pulpen yang Ayah berikan saat aku memenangkan lomba olimpiade pertama kali. Aku menghujamkan pulpen itu ke tengah-tengah tas induk yang berdenyut.
Jleb.
Suara jeritan yang memekakkan telinga keluar dari tas tersebut. Cairan hitam kental seperti tinta mulai merembes keluar. Bersamaan dengan itu, jutaan cahaya warna-warni melesat keluar dari dalam tas, terbang melewati kepalaku, melewati atap sekolah, dan menyebar ke seluruh penjuru kota
.Ingatanku kembali dengan hantaman yang sangat keras. Aku melihat wajah Vema, aku melihat senyum Netta, aku melihat semua kerja keras kami.
Pak Haryo berlutut, ia berteriak saat tubuhnya mulai terurai menjadi benang-benang hitam yang kemudian terbakar habis menjadi abu. "Tidak! Keseimbanganku! Neracaku!"
"Keseimbangan Anda palsu, Pak," ucapku sambil berdiri tegak di depan tas yang kini hancur itu. "Anda hanya menunda kebangkrutan moral, dan hari ini adalah saat di mana Anda harus melakukan likuidasi total."
Pak Haryo pun lenyap. Hilang tanpa sisa, meninggalkan hanya jarum tulang yang kemudian hancur menjadi debu putih.
Ruangan laboratorium mendadak tenang. Cahaya lampu kembali normal. Benang hitam yang melilit Bagas dan Nadin menghilang. Bayangan Riko pun memudar, namun sebelum benar-benar hilang, ia tersenyum pada kami—senyum asli Riko.
Kami berempat terengah-engah di lantai laboratorium. Napas kami memburu, namun rasa berat yang selama ini menghimpit dada kami telah hilang sepenuhnya.
Transisi: Senin Pagi, Hari Pertama Semester Baru.
Matahari hari Senin bersinar sangat terang, lebih terang dari yang pernah kuingat. Aku berjalan menuju gerbang sekolah dengan tas punggung yang terasa ringan. Punggungku masih bungkuk, namun kali ini bukan karena beban dosa, melainkan karena itu adalah ciri khasku sebagai Sarendra, sang auditor yang jujur.
SMK Pamasta tampak sangat berbeda. Tidak ada lagi hawa dingin yang mengintai. Para siswa berjalan dengan tawa yang tulus. Tidak ada lagi bisik-bisik ketakutan di koridor. Kabar yang beredar adalah Pak Haryo telah mengundurkan diri secara mendadak karena alasan kesehatan, dan komite sekolah kini diambil alih oleh orang-orang yang lebih berintegritas.
Aku berdiri di depan papan pengumuman, melihat jadwal pelajaran. Akuntansi Keuangan adalah jam pertama.
"Pagi, Auditor," suara yang sangat kukenali terdengar dari belakang.
Aku berbalik. Vema berdiri di sana. Ia mengenakan seragam barunya yang rapi. Rambut wolfcut-nya kini tertata lebih manis, dan yang paling penting, tidak ada lagi benang merah yang mengikat tangannya secara mistis. Namun, di pergelangan tangannya, ia melilitkan sebuah gelang tali berwarna merah biasa—sebagai pengingat akan apa yang telah kami lalui.
"Pagi, Vema," jawabku sambil tersenyum lebar.
"Gimana saldonya hari ini? Masih seimbang?" tanya Vema sambil berjalan di sampingku menuju kelas.
"Saldonya surplus, Vem. Surplus kebahagiaan," kataku.
Kami bertemu dengan Bagas dan Nadin di kantin sebelum masuk kelas. Bagas sudah kembali ke sifat aslinya, sibuk memesan cilok dengan porsi besar, sementara Nadin sedang memamerkan aplikasi barunya yang kali ini benar-benar legal dan berguna untuk sistem absensi sekolah.
Bel sekolah berbunyi. Suaranya terdengar merdu, tidak lagi seperti lonceng kematian.
Di dalam kelas, Bu Ida masuk dengan senyum hangat. Ia memulai pelajaran dengan menjelaskan tentang pentingnya Jurnal Penutup dalam siklus akuntansi.
"Anak-anak, Jurnal Penutup digunakan untuk menutup semua akun nominal agar saldo kembali nol di awal periode baru," jelas Bu Ida di depan kelas.
Aku menuliskan kalimat itu di buku catatanku. Tapi bagiku, jurnal penutup ini bukan tentang angka. Ini tentang bagaimana kami menutup lembaran kelam masa lalu dan memulai periode baru yang bersih.
Setelah pelajaran berakhir, aku dan Vema berjalan menuju atap sekolah—suaka kami. Kami berdiri menatap pemandangan kota Surabaya dari ketinggian. Angin bertiup lembut, memainkan helai-helai rambut pendek Vema.
"Dra, kamu masih ingat janji kita di gudang semalam?" tanya Vema pelan.
"Janji yang mana?"
"Bahwa setelah semua ini selesai, kita tetap akan menjadi 'tim audit' untuk satu sama lain?"
Aku menatap mata Vema yang kini bersinar jernih. Aku meraih tangannya—kali ini tanpa benang merah mistis, hanya tangan yang hangat dan nyata. "Tentu saja. Dan aku sudah melakukan pemeriksaan awal. Hasilnya: kamu adalah aset tetap yang nilainya akan terus bertambah setiap tahunnya."
Vema tertawa kecil, pipinya merona merah. "Dasar anak akuntansi. Semuanya diukur pakai nilai."
"Karena kamu bernilai bagiku, Vem. Lebih dari seluruh saldo di dunia ini."
Matahari mulai condong ke arah barat, namun suasana sekolah tetap terasa cerah. Tidak ada lagi kutukan tas hitam. Tidak ada lagi penagihan nyawa. Yang tersisa hanyalah kami—empat remaja yang telah dewasa sebelum waktunya, siap menghadapi semester baru dengan kejujuran di tangan masing-masing.
Audit ini telah selesai. Jurnal telah ditutup. Saldo akhir: Kebahagiaan yang Terverifikasi.
ada apa dgn vema
lanjuuut...