(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
Sekte Awan Rusak – Paviliun Kitab (Lantai 1).
Paviliun Kitab adalah bangunan kayu tiga lantai yang berbau kertas tua dan cendana. Bagi murid biasa seperti Lin Xiao, ini adalah surga pengetahuan. Ratusan gulungan teknik bela diri dan kultivasi tersusun rapi di rak-rak.
"Wah! Lihat ini, Xing!" seru Lin Xiao antusias, memegang sebuah gulungan biru. "Teknik Tapak Angin Puyuh! Senior Zhao Hu pakai ini! Kalau aku pelajari ini, aku bisa sekuat dia!"
Ye Xing hanya melirik sekilas lalu mendengus. "Sampah. Teknik itu punya celah fatal di bagian pinggang. Kalau musuh menyerang bawah, kau mati. Cari yang lain. Fokus pada pertahanan. Tubuh Tulang Besi-mu cocok untuk teknik tipe Vajra atau Perisai Bumi."
"O-oke, Bos," Lin Xiao menurut, segera mencari ke rak elemen tanah.
Sementara itu, Ye Xing berjalan menyusuri lorong rak Teknik Pedang. Matanya yang tajam memindai judul-judul gulungan itu.
Pedang Kilat Biru... (Terlalu lambat). Pedang Bunga Mekar... (Terlalu banyak gaya, kurang tenaga). Pedang Pembelah Batu... (Lumayan, tapi boros Qi).
Ye Xing kecewa. Teknik di Alam Bawah benar-benar menyedihkan. Dia hampir menyerah dan berniat menciptakan teknik sendiri, ketika Mata Bintang-nya di mata kanan berdenyut sakit.
Dia berhenti di depan sebuah rak paling pojok yang tertutup debu tebal. Di rak paling bawah, tergeletak sebuah lempengan batu hitam pipih—bukan gulungan kertas atau bambu.
Lempengan itu terlihat seperti batu ganjalan pintu. Tidak ada aura, tidak ada judul yang terbaca jelas.
Namun, Ye Xing melihat ada Gaya Gravitasi halus yang menarik debu-debu di sekitarnya menempel ke batu itu.
Ye Xing membungkuk dan menyentuhnya.
Berat.
Batu seukuran buku tulis itu beratnya setidaknya 50 kilogram.
"Menarik," gumam Ye Xing. Dia mengusap debu di permukaannya. Terukir tulisan tangan yang kasar dan liar:
[Seni Pedang Tanpa Bentuk: Bab Berat]
"Jangan sentuh itu, Nak."
Sebuah suara serak mengejutkan Ye Xing. Di ujung lorong, seorang lelaki tua kurus dengan sapu lidi sedang menyapu lantai. Dia terlihat seperti pelayan biasa, matanya rabun dan punggungnya bungkuk.
"Benda itu sudah ada di sana sejak pendiri sekte mendirikan tempat ini," kata lelaki tua itu tanpa berhenti menyapu. "Ratusan murid jenius mencoba mempelajarinya. Hasilnya? Tangan mereka patah, atau meridian mereka hancur karena beban energinya. Itu teknik terkutuk."
Ye Xing menatap lelaki tua itu, lalu kembali menatap lempengan batu.
"Terkutuk?" Ye Xing tersenyum tipis. "Atau mungkin mereka yang terlalu lemah untuk menanggung beratnya?"
Ye Xing memejamkan mata, mengirimkan Qi Bintang-nya ke dalam batu itu.
ZING!
Kesadarannya ditarik masuk ke dalam ruang mental.
Di dalam ruang mental itu, Ye Xing melihat sosok bayangan seorang pemuda berambut panjang sedang berdiri di puncak gunung. Wajahnya buram, tapi auranya... Ye Xing kenal aura ini.
Itu aura Tian Feng Muda.
Sosok itu tidak memegang pedang tajam. Dia memegang sebuah gada besi raksasa yang tumpul.
"Pedang bukan tentang ketajaman," suara rekaman Tian Feng bergema di kepala Ye Xing. "Pedang adalah tentang Kehendak. Jika Kehendakmu seberat gunung, maka sebatang rumput pun bisa menghancurkan benteng."
Bayangan itu mengayunkan gada besinya pelan. Sangat pelan. Tapi saat ayunan itu turun, ruang di sekitarnya terdistorsi. Gravitasi runtuh. Gunung di depannya hancur menjadi debu bukan karena dipotong, tapi karena Ditekan.
Teknik: Runtuhnya Bintang (Star Collapse).
Ye Xing membuka matanya kembali di dunia nyata. Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Ini bukan teknik pedang biasa. Ini adalah teknik memanipulasi berat benda melalui Qi. Teknik yang didasarkan pada Hukum Gravitasi—Keahlian Ye Xing.
"Aku ambil ini," kata Ye Xing tegas, mengangkat lempengan batu berat itu dengan satu tangan.
Mata lelaki tua penyapu itu menyipit. Ada kilatan tajam yang tersembunyi di balik mata rabunnya. Bocah Qi Condensation mengangkat Batu Pemberat 50kg dengan satu tangan? Menarik.
"Kau keras kepala," kata lelaki tua itu. "Namanya Pedang Berat Hitam. Jika kau bisa menguasainya dalam sebulan, datanglah padaku. Aku punya 'sampah' lain yang mungkin kau suka."
"Siapa nama Senior?" tanya Ye Xing sopan. Instingnya mengatakan orang tua ini bukan pelayan biasa.
"Panggil saja Pak Tua Sapu," jawabnya, lalu berbalik pergi, menghilang di balik rak buku seolah menyatu dengan bayangan.
Ye Xing menatap punggung orang tua itu. Sekte ini... menyimpan naga dan harimau yang tertidur.
"Xing! Aku dapat!" Lin Xiao berlari mendekat sambil memeluk sebuah gulungan tebal. "Perisai Kura-kura Emas! Ini teknik pertahanan tingkat menengah! Aku menemukannya terselip di rak sejarah!"
Ye Xing mengangguk puas. "Bagus. Kita punya pedang dan perisai. Sekarang..."
Ye Xing melihat ke luar jendela. Matahari mulai terbenam.
"...kita butuh senjata asli. Teknik ini butuh pedang yang beratnya minimal 200 kilogram. Pedang besi biasa akan patah."
"200 kilo?!" Lin Xiao melongo. "Pedang apa itu? Tiang jembatan?"
"Kurang lebih," Ye Xing menyeringai. "Dan aku tahu di mana kita bisa mendapat bahan untuk membuatnya."
Dia meraba saku dadanya, di mana Taring Raja Ular tersimpan.
"Besok kita ke Aula Tempa. Kita akan membuat senjata yang akan membuat orang-orang di Turnamen Wilayah nanti terkencing di celana."
Saat mereka berjalan keluar, Ye Xing merasakan tatapan dingin dari lantai dua Paviliun (Area Murid Inti).
Di balkon lantai dua, seorang pemuda berjubah ungu dengan kipas lipat menatap Ye Xing. Wajahnya tampan namun pucat, dan ada aura aneh di sekitarnya yang membuat udara terasa hampa.
Fang Que. Jenius nomor satu Sekte Awan Rusak.
"Menarik," gumam Fang Que pelan. "Aura bocah itu... 'enak'. Aku ingin memakannya."
Ye Xing berhenti sejenak di pintu keluar, merasakan niat membunuh itu. Dia tidak menoleh, hanya tersenyum dingin.
Sabar. Giliranmu akan tiba.