"Apa...! Jadi pacarmu...? Dasar GILA...!"
David Lorenzo CEO perusahaan Switch Company. Dia mempunyai banyak kepribadian yang berbeda akibat trauma masa lalu.
Dia bertemu dengan Michelle, yang berkerja di perusahaannya, pertemuan mereka tidak di sengaja dan banyak kesalahpahaman.
Lambat Laun mereka semakin dekat, dan perlahan saling menyembuhkan luka.
Banyak tingkah lucu dan kocak di antara mereka.
penasaran jangan lupa baca, like dan komen.
Update gak nentu..?
Follow Ig: @Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryy Heryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Michelle! Apa yang terjadi ? Kenapa kamu dan si gila bisa tidur bersama di dalam lift tadi pagi? Semua orang di kantor sekarang sedang membicarakan kalian berdua !" tanya Cindy.
Michelle yang sedang duduk dengan wajah murung di mejanya dan terus menggerogoti pensilnya dengan sangat keras.
"Cindy! Jangan tanya itu sekarang juga dong! Aku sudah sangat capek dan juga kesal dengan semua yang terjadi! Si gila itu! aku benar-benar ingin sekali membunuhnya sekarang juga!" ucap Michelle dengan marah.
Dia menepuk mejanya dengan cukup kuat membuat beberapa karyawan di sekitarnya menoleh ke arah mereka dengan sedikit terkejut.
"Gara-gara si gila itu saja, sekarang aku pasti akan jadi gosip terhangat di seluruh kantor! Semua orang pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentang aku dan mengira aku melakukan hal yang tidak senonoh dengan dia! Dasar bajingan gila!" ucap Michelle lagi dengan suara yang semakin tinggi.
Cindy hanya bisa menghela nafas panjang dan kemudian duduk di sebelah Michelle untuk memberikan dukungan dengan menepuk pundaknya dengan lembut.
Dia tahu bahwa temannya sedang sangat kesusahan dan tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan dukungan.
Saat itu, Yuda datang ke perusahaan dengan membawa sebuah tas besar berisi pakaian kerja David.
Dia melihat beberapa karyawan yang sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu dengan suara yang rendah namun penuh dengan rasa ingin tahu.
Dia mendengar bahwa mereka sedang membicarakan CEO mereka yang baru saja ditemukan tidur bersama seorang karyawan wanita di dalam lift pagi tadi.
Dengan hati yang sedikit penasaran namun tidak berani bertanya lebih jauh, Yuda langsung masuk ke ruangan CEO dan melihat David yang sedang duduk dengan wajah murung di mejanya sambil melihat sekeliling ruangan dengan ekspresi yang sangat tidak nyaman.
"Boss! Aku tidak tahu kamu mau pakai yang mana jadi aku bawakan tiga stelan baju kerja yang berbeda nih. Kamu bisa pilih aja yang kamu suka !" ucap Yuda dengan suara yang ramah, memberikan tas berisi pakaian tersebut kepada David dengan hati-hati.
"Banyak amat ! kamu bawa ini juga Yuda! Dan ini kenapa kamu bawa yang warna merah muda ? " ucap David dengan kesal.
Dia mengambil stelan baju berwarna merah muda tersebut dan melihatnya dengan ekspresi wajah yang sangat tidak suka.
"Kampret lo Bos! Udah mah kamu yang nyuruh aku bawa , sekarang malah komen lagi aja!" ucap Yuda dalam hati dengan kesal, namun tetap menunjukkan wajah yang sopan dan ramah kepada bosnya.
Setelah itu, rasa ingin tahu akhirnya menang dan Yuda memutuskan untuk bertanya kepada David tentang apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa semua karyawan sedang membicarakannya.
"Boss... Ada apa di kantor ? Saya tadi jalan masuknya mendengar banyak karyawan yang sedang membicarakan Boss dan juga Michelle. Apakah benar apa yang mereka bicarakan tentang kejadian di lift pagi tadi?" tanya Yuda.
Dengan suara yang sangat lembut dan penuh rasa ingin tahu, melihat wajah David yang mulai memerah karena rasa malu yang muncul kembali.
"Diam saja kamu Yuda! Jangan banyak tanya tentang hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kamu! Sekarang kamu pergi keluar dan suruh semua karyawan untuk bekerja dengan benar dan tidak boleh lagi membicarakan tentang apa yang terjadi pagi tadi! Kalau ada yang tidak patuh, beri tahu aku saja!" ucap David dengan suara yang sangat keras dan penuh perintah.
Membuat Yuda segera mengangguk dan keluar dari ruangan tersebut dengan cepat tanpa berani berkata-kata apa pun lagi.
Di sisi lain, Tasya sudah berhasil menyelesaikan semua proses pemindahan barang-barangnya ke apartemen barunya.
Dia melihat sekeliling ruangan yang sudah penuh dengan perabotan dan barang-barangnya dengan wajah yang gembira.
Namun rasa khawatir terhadap Michelle yang tidak pulang ke kontrakan semalam dan juga tidak bisa dihubungi karena ponselnya mati mulai muncul dalam dirinya.
"Kemana aja ya Michelle semalam? Kenapa dia tidak pulang ke kontrakan dan juga ponselnya mati begitu saja? Padahal aku cuma mau bilang kalau hari ini aku sudah resmi pindah ke apartemen baru ku dan ingin mengundangnya untuk datang mengunjunginya!" ucap Tasya.
Saat itu sudah mulai larut malam dan semua karyawan sudah pulang meninggalkan perusahaan yang kini terasa sangat sepi dan sunyi.
Yuda juga akhirnya bisa pulang setelah bekerja ekstra untuk menyelesaikan beberapa tugas penting yang diberikan oleh David.
Dia merasa sangat capek dan juga sedikit kesal karena harus menerima marah-marah dari bosnya yang sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil seharian penuh.
"Dasar bos gila sekali! Seharian ini dia cuma-cuma marah-marah padaku tanpa ada alasan yang jelas! Semoga malam ini dia tidak kambuh lagi penyakitnya dan bisa tidur dengan nyenyak sehingga besok paginya dia bisa lebih tenang dan tidak lagi marah-marah sembarangan!" ucap Yuda dengan kesal.
Dia berjalan dengan langkah yang lelah menuju lift apartemen yang terletak di lantai dasar gedung apartemen tempat dia tinggal.
Setelah sampai di depan lift, dia membuka pintunya dengan hati-hati dan masuk dengan cepat karena ingin segera sampai di kamar dan beristirahat.
Namun saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba ada seseorang yang masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa beberapa kantong sampah yang cukup besar.
Saat Yuda melihat wajah orang tersebut dengan jelas, dia langsung terkejut dan tidak bisa berkata-kata apa pun.
"WHAT THE FU****! " teriak Yuda dengan terkejut dan tidak bisa dipercaya, melihat wajah Tasya yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi wajah yang sama-sama terkejut dan tidak percaya.
Saat itu, Tasya yang sedang membawa kantong sampah untuk dibuang ke tempat sampah yang terletak di lantai dasar juga langsung terkejut melihat Yuda yang sedang berada di dalam lift bersama dia.
Dia tidak menyangka bahwa orang yang akan menjadi tetangga sebelahnya adalah pria yang dulu pernah dia robek celananya di mall dan kemudian bertemu lagi di taman hiburan beberapa hari yang lalu.
"WHAT THE FU****!!" ucap Tasya, tangan nya yang sedang membawa kantong sampah menjadi kaku dan akhirnya menjatuhkan semua kantong sampah tersebut ke lantai lift dengan suara yang cukup besar.
THUD!
" WHAT THE FU*** "
Bersambung....
minimal di cakar cakar gitu wkwkwk