Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.
Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.
Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.
Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A-Apa?
Caroline berusaha menahan tawanya setelah mendengar kalimat Milla.
"Bibi Milla, sejak kapan Bibi punya penyakit jantung?" tanya Caroline. Sebelum Milla sempat mengatakan apa pun, ia melanjutkan, "Yah, jangan khawatir, hari ini Bibi tidak akan berakhir di ruang gawat darurat—"
Caroline tersenyum ketika melihat wajah Milla tampak lebih rileks.
"Aku hamil!" Caroline akhirnya berkata.
"A-Apa? H-HAMIL!?" Milla berteriak, terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kabar baik ini darinya. "Nona Caroline, apa ini benar? Kau... kau tidak sedang mengerjaiku, kan?"
"Hmm, ini benar, Bibi... Apakah Bibi mau bertemu dokter kandungan bersamaku?" tanya Caroline. Ia membutuhkan seseorang untuk menemaninya bertemu dokter, ia merasa gugup menemui dokter baru di rumah sakit ini. Karena ini bukan rumah sakit yang biasa ia kunjungi.
"Ya, Nona, tentu saja, aku mau—" kata Milla dengan penuh semangat. Ia merasa sangat bahagia bisa menemani Caroline menemui dokter kandungan, namun sedetik kemudian, ia mengerutkan kening ketika sesuatu terlintas di pikirannya.
Milla merasa bingung.
Tadi, Caroline mengatakan William menceraikannya karena ia tidak bisa mengandung. Namun sekarang ia mengatakan dirinya hamil. Jadi, mengapa mereka tetap memutuskan untuk bercerai?
"Nona, kau sudah hamil tapi tetap bercerai. Kenapa?" tanya Milla.
Caroline menarik napas dalam-dalam. Ia sebenarnya ingin memberi William kesempatan untuk melanjutkan pernikahan mereka, tetapi gosip yang ia dengar sebelumnya benar-benar mematikan rencananya. Ia tidak pernah membayangkan harus berbagi suaminya dengan wanita lain. Lebih baik ia pergi dan membesarkan anaknya sendiri tanpa William.
"Bibi Milla, William sudah punya wanita lain untuk menghangatkan ranjangnya," kata Caroline sambil tersenyum. Meski begitu, di dalam hatinya, ia merasakan sakit yang menusuk. "Dan wanita itu juga sedang hamil..."
Caroline melanjutkan menceritakan pada Milla tentang apa yang ia dengar dari perawat.
"Jadi, perceraian adalah satu-satunya pilihan untuk menyelesaikan semua ini. Aku memutuskan untuk tidak memberitahunya tentang kehamilanku. Aku akan membesarkan anakku sendiri. Dan aku berharap Bibi bisa membantuku..." kata Caroline dengan tulus.
"Aku akan membantumu, Nona, tapi apakah kau langsung mempercayai mereka sebelum memastikan gosip itu benar?" tanya Milla.
Caroline tidak langsung menjawab. Pikirannya kembali pada kejadian tadi malam. Awalnya ia ragu dengan rumor yang ia dengar, hingga ia menyelidikinya lebih jauh dan memastikan bahwa William dan Mary memang mengunjungi rumah sakit kemarin.
"Aku sudah memeriksa gosip itu, dan itu benar, Bibi..." Caroline tetap mempertahankan senyumnya, meskipun di dalam hatinya ia berjuang menahan rasa sakit yang kembali menggerogoti.
"N-Nona..." ujar Milla sambil tersenyum tipis membalas Caroline, namun hatinya terasa perih untuknya. Ia merasa sangat marah, bagaimana mungkin William melakukan hal seperti itu pada Nona mudanya?
Melihat ekspresi penuh simpati dari Bibi Milla membuat Caroline merasa terhibur, sejenak mengalihkan pikirannya dari rasa sakit di hatinya.
"Tidak apa-apa, Bibi Milla. Bibi tidak perlu menatapku seperti itu, aku baik-baik saja sekarang," kata Caroline dengan tenang. "Apa yang William lakukan tidak akan melemahkanku. Justru aku akan menjadi lebih kuat. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melupakannya. Pria itu tidak akan punya tempat di hatiku dan masa depanku—"
Caroline tidak bisa menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat Milla bergegas menghampirinya dan memeluknya erat. Ia tersenyum ketika Milla menangis di pelukannya.
"Nona Caroline, aku menangis bukan karena sedih, tapi karena aku sangat terharu kau memasukkanku dalam rencanamu. Terima kasih banyak," kata Milla di sela-sela tangis bahagianya.
Milla merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena ia bisa memenuhi janjinya pada mendiang nenek Caroline untuk menjaga Caroline.
"Nona Caroline, aku berjanji padamu, aku akan selalu menjagamu dan anakmu..." lanjut Milla.
"Terima kasih, Bibi," kata Caroline, matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha untuk tidak menangis. Ia masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan dalam waktu singkat. "Baiklah, sekarang Bibi bisa melepaskanku... aku merasa sesak dengan pelukan Bibi."
Seketika, Milla melepaskan pelukannya dan berdiri di hadapan Caroline.
Milla menyeka sisa air mata di pipinya sebelum berkata, "Nona, aku akan menyiapkan sarapan. kau pergi ganti baju," desaknya pada Caroline. Ia sangat bersemangat untuk menemani Caroline menemui dokter kandungan.
Caroline mengangguk padanya.
Setelah berganti pakaian, Caroline mendapati Milla belum kembali. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Marcus. Namun, ponsel Marcus tetap tidak aktif meskipun ia mencoba beberapa kali.
Caroline teringat bahwa Marcus pernah mengatakan padanya bahwa jika ia sedang menjalankan misi militer, ponselnya pasti mati atau tidak bisa dihubungi.
"Apakah dia sedang bertugas sekarang!?" gumamnya sambil menatap layar ponselnya. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk mengirim pesan.
[Caroline:] Terima kasih, Marcus, atas bantuanmu.
[Caroline:] Aku mencoba meneleponmu, tapi sepertinya kau sedang bertugas. Tolong hubungi aku jika kau memiliki waktu.
Setelah mengirim pesan pada Marcus, Caroline memeriksa panggilan tak terjawab, dan hanya menemukan dari Bibi Milla.
Caroline merasa lega karena keluarganya belum mengetahui tentang perceraiannya. Ia memang belum berencana memberi tahu mereka, ia ingin menghindari penilaian mereka. Ia berencana meninggalkan negara ini secara diam-diam.
...
Dengan waktu yang terbatas, Caroline menghubungi beberapa orang untuk mengurus dokumen-dokumen yang ia perlukan untuk tinggal di negara lain.
Setelah selesai, pintu terbuka, mengejutkan Caroline ketika ia melihat Bibi Milla membawa kantong belanjaan di tangannya.
"Bibi, kenapa Bibi membeli begitu banyak barang?"
"Nona, ini semua makanan sehat..." jawab Milla sambil mengeluarkan barang-barang tersebut ke atas meja makan.
Caroline mendekat, kagum dengan seberapa cepat Milla membeli semuanya.
Tanpa berkata apa-apa, ia mulai memakan apa yang telah disajikan Milla.
Setelah sarapan, Caroline membagikan rencananya untuk sementara kembali ke apartemen lamanya.
"Aku tidak pernah membayangkan kita akan kembali kesana lagi..." ucap Milla. Selama empat tahun terakhir, setiap akhir pekan, ia membersihkan apartemen lama Caroline, tempat Caroline dulu tinggal sebelum menikah dengan William.
"Tempat itu istimewa karena aku membelinya dengan uangku sendiri."
"Kau benar. Bahkan keluargamu pun tidak tahu tentang tempat itu. Berapa hari kita akan tinggal di sana?"
"Sampai semua dokumen yang diperlukan siap."
Milla terdiam sebelum bertanya lagi, "Nona, negara mana yang akan kita tuju?"
"Swedia!”
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah