NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Senyum tipis De Luca tidak pernah sampai ke matanya.

Itu bukan senyum seorang kakek yang bangga pada cucunya seperti dalam cerita keluarga biasa. Itu adalah senyum seorang penguasa dunia gelap yang sedang menilai apakah pewarisnya cukup keras untuk bertahan hidup—atau cukup rapuh untuk mati muda.

“Kakek bangga dengan kamu jika kamu menyelesaikan misi ini.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Namun bagi Zivaniel, itu lebih mirip vonis.

Ia tidak menjawab. Tidak perlu. Anggukan tadi sudah cukup sebagai sumpah.

De Luca berbalik ke meja kontrol. Jari-jarinya yang keriput bergerak cekatan di atas panel sentuh, membuka peta digital pelabuhan. Garis-garis merah dan biru muncul, berkedip perlahan, menunjukkan jalur masuk, jalur patroli, serta titik-titik buta kamera.

“Pelabuhan ini,” ucap De Luca datar, “sudah lama berada di bawah pengawasan kita. Tapi malam ini berbeda.”

Zivaniel meluruskan punggungnya, berdiri beberapa langkah lebih dekat. Matanya menyempit.

“Pembelinya bukan orang sembarangan,” lanjut sang kakek. “Dia tidak bermain di level lokal. Dia datang dari luar negeri. Dan dia tidak suka kesalahan.”

“Nama?” tanya Zivaniel singkat.

De Luca menoleh. Sorot matanya mengeras.

“Tidak perlu kamu tahu.”

Jawaban itu sendiri sudah merupakan peringatan.

Zivaniel mengangguk pelan. Dalam dunia mereka, nama bisa menjadi beban. Semakin sedikit yang ia tahu, semakin kecil celah untuk diperas, disiksa, atau dimanfaatkan.

“Yang perlu kamu tahu,” De Luca melanjutkan, “ada pengkhianat.”

Udara di ruangan itu terasa semakin dingin.

Zivaniel tidak bereaksi secara fisik, tapi di dalam dadanya, sesuatu mengencang.

“Di pihak kita?” tanyanya.

“Belum pasti,” jawab De Luca. “Tapi ada kebocoran informasi. Jadwal pengiriman yang seharusnya rahasia sudah diketahui pihak luar.”

Zivaniel mengalihkan pandangannya kembali ke layar. Di sana, pelabuhan tampak tenang. Terlalu tenang. Lampu-lampu tinggi menerangi dermaga, memantulkan cahaya di permukaan laut yang hitam pekat.

“Kamu akan turun langsung,” kata De Luca. “Bukan sebagai komandan. Tapi sebagai bayangan.”

Zivaniel memahami maksudnya.

Tidak ada pengumuman. Tidak ada identitas. Tidak ada saksi yang bisa mengenalinya dan hidup untuk menceritakan.

Ia akan turun sebagai black wolf. Si topeng penuh dengan misteri. Yang paling di takuti oleh semua kalangan bisnis dunia bawah.

“Tim?” tanya Zivaniel.

“Empat orang,” jawab sang kakek. “Dipilih langsung olehku. Mereka setia. Tapi malam ini, kamu tidak boleh sepenuhnya percaya pada siapa pun.”

Zivaniel mengangguk lagi. Itu bukan hal baru. Namun mendengarnya dari De Luca membuat risikonya terasa berlipat.

“Kamu berangkat satu jam lagi,” lanjut sang kakek. “Persiapkan diri.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, hampir seperti bisikan.

“Dan, Niel… kalau keadaan menjadi tidak terkendali—”

“Aku tahu,” potong Zivaniel cepat.

Matanya bertemu dengan mata De Luca. Tidak ada ketakutan di sana. Tidak ada keraguan. Hanya kesadaran dingin tentang apa yang mungkin harus ia lakukan.

De Luca menatapnya lama. Lalu mengangguk pelan.

“Pergilah.”

Koridor bawah tanah itu sunyi.

Lampu-lampu putih memanjang di langit-langit, menyala stabil tanpa kedip. Dinding beton abu-abu terasa dingin saat Zivaniel melewatinya. Setiap langkahnya menggema samar, ritmis, seperti hitungan waktu yang tidak bisa dihentikan.

Ia memasuki ruang persiapan.

Pintu logam terbuka otomatis, menampakkan ruangan minimalis dengan rak senjata di satu sisi dan meja panjang di tengah. Di atas meja, peralatan sudah disusun rapi—terlalu rapi. Senjata api, pisau lipat, alat komunikasi, sarung tangan, rompi tipis anti-peluru.

Zivaniel berdiri diam sejenak.

Ia melepaskan bajunya lebih dulu. Gerakannya lambat. Teratur. Seperti ritual.

Jaket hitamnya menyusul, dilipat dan diletakkan di kursi. Kemeja putihnya masih bersih, tanpa noda, tanpa kerut. Sulit dipercaya bahwa dalam satu jam, kain itu mungkin akan ternoda darah.

Ia meraih rompi.

Saat ia memakainya, pikirannya melayang—tanpa izin—kepada Cherrin.

Wajah gadis itu muncul begitu saja. Senyumnya yang canggung. Cara ia memanggil namanya dengan nada yang selalu sedikit ragu, seolah takut melanggar batas yang tidak ia mengerti. Dan dengan manja selalu meminta hal-hal aneh pada Zivaniel, yang mampu bisa menaklukkan sisi lain dalam dirinya.

Zivaniel adalah Black Wolf. Sang pewaris. Pewaris dunia bawah yang teramat kejam. Bahkan, jika identitasnya terbuka, ia dan seluruh keluarganya tidak akan selamat.

Tangannya berhenti sejenak di kancing rompi.

Ia menghela napas pelan, lalu melanjutkan. Mengunci kembali semua yang tidak boleh ia bawa malam ini.

Cherrin termasuk di dalamnya.

Ia mengambil senjata api, memeriksa magasin dengan teliti. Peluru terisi penuh. Aman.

Pisau ia selipkan di paha, tersembunyi. Alat komunikasi dipasang di telinga, nyaris tak terlihat.

Saat pintu terbuka lagi, empat pria sudah berdiri di luar.

Mereka tidak muda. Tidak pula tua. Wajah mereka keras, dipahat oleh pengalaman dan kekerasan. Mata mereka waspada.

“Siap,” ucap salah satu dari mereka.

Zivaniel mengangguk.

Tanpa basa-basi, mereka bergerak.

Perjalanan menuju pelabuhan berlangsung dalam keheningan.

Mobil hitam melaju stabil, tanpa kecepatan berlebihan. Dari balik kaca gelap, lampu-lampu kota berlalu seperti bayangan panjang. Dunia di luar tampak normal. Terlalu normal.

Zivaniel duduk di kursi belakang. Tangannya bertaut longgar di pangkuan. Wajahnya reflektif, tenang.

Namun di dalam kepalanya, peta pelabuhan terus berputar.

Jalur masuk. Titik buta kamera. Kemungkinan posisi pengkhianat.

Dan satu pertanyaan yang terus menggerogoti:

Apakah malam ini aku akan pulang sebagai Zivaniel… atau sepenuhnya menjadi Black Wolf?

Mobil berhenti beberapa ratus meter dari pelabuhan.

Mereka turun satu per satu, menyatu dengan bayangan. Bau laut langsung menyeruak—asin, lembap, bercampur aroma logam dan solar.

Zivaniel memberi isyarat tangan. Dua orang bergerak ke kiri, satu ke kanan. Ia sendiri mengambil jalur tengah, menyusup di antara kontainer tinggi yang menjulang seperti dinding besi raksasa.

Setiap langkah diatur. Setiap napas dikendalikan.

Di kejauhan, suara mesin derek terdengar pelan. Aktivitas masih berlangsung.

Terlalu normal.

Zivaniel berhenti di balik kontainer biru. Ia mengangkat tangan, memberi tanda berhenti.

Ada sesuatu yang salah.

Detik berlalu.

Lalu—suara langkah.

Bukan langkah biasa. Terlalu ringan. Terlalu teratur.

Zivaniel menyempitkan mata.

Dan saat bayangan bergerak di ujung lorong kontainer, ia tahu.

Malam ini tidak akan berjalan sesuai rencana.

Dan tidak ada jalan kembali.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!