Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam yang pekat dan sunyi di dalam unit 404 mendadak menjadi amat berisik. Denting botol-botol parfum mahal yang terlempar dari meja rias memecah kesunyian bagai simbal yang pecah. Lisa tidak peduli lagi dengan kesenyapan. Tubuhnya sudah bergerak sendiri, didorong oleh insting primitif yang lebih tua daripada logika detektif manapun.
Kakinya yang tadiba terpaku kini melesat. Pantatnya yang baru saja membentur tepi meja rias terasa nyeri, tapi rasa sakit itu hanya sekadar data yang diterima otaknya, bukan perintah untuk berhenti. Pandangannya, yang sudah mulai beradaptasi dengan kegelapan, hanya tertuju pada satu titik: garis perak samar dari bawah pintu masuk yang berada lima meterdi seberang ruangan.
“Lari, Lisa! Jangan lihat ke belakang!” Teriak Sam.
Lisa tidak perlu disuruh dua kali. Tapi naluri profesionalnya yang terlatih adalah kutukan sekaligus berkah. Saat ia melesat, bagian dari pikirannya yang dingin merekam detail: tangan itu besar, laki-lata, ada bekas luka atau noda gelap di sekitar pergelangan. Suara itu parau, mungkin perokok berat, atau ada kerusakan pita suara. Dan bau… oh Tuhan, bau besi dan daging busuk yang kini memenuhi ruangan.
Dia mencapai pintu, tangannya yang menggigil meraba-raba permukaan kayu yang halus, mencari gagang. Sentuhannya yang panik menemukan benda logam yang dingin. Dia memutar, menarik—
𝘒𝘭𝘢𝘬.
Pintu tidak terbuka.
𝘒𝘭𝘢𝘬. 𝘒𝘭𝘢𝘬.
Dikunci. Dari dalam. Tapi dia tidak menguncinya! Ataukah… dia lupa? Ataukah ada mekanisme otomatis?
Kepanikan yang murni, putih, dan melumpuhkan mulai menjalar dari ujung jarinya. Dia berbalik, menyandarkan punggungnya di pintu, matanya menatap kegelapan di seberang ruangan tempat garis cahaya tipis dari celah panel itu masih terlihat.
“Sam...” Desisnya, suaranya pecah. “Pintunya…”
“Aku tahu!” Jawab Sam, tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Wajah arwah itu bercahaya pucat, memberikan sedikit iluminasi pada wajah Lisa yang ketakutan. “Dia memasang kunci tambahan. Aku bisa melihatnya dari sini—ada batang besi melintang di sisi dalam. Kau harus mencopotnya.”
“Tapi dia—”
“Dia keluar.” Potong Sam, matanya menatap tajam ke kegelapan. “Dia keluar dari sarangnya dengan perlahan. Dia menikmati ini.”
Sebuah bayangan besar, lebih gelap dari kegelapan sekelilingnya, mulai memisahkan diri dari celah di dinding. Sosok itu tinggi dan lebar, memblokir cahaya temaram dari lorong di belakangnya. Hanya siluet yang terlihat, tetapi itu cukup: bahu yang lebar, kepala yang sedikit tertunduk, dan satu tangan yang memegang benda panjang dan lurus yang memantulkan sedikit cahaya.
“Lisa, kunci! Aku akan coba mengalihkan perhatiannya. Tapi aku tidak tahu apakah itu akan bekerja pada orang… seperti dia.”
“Tidak, Sam, jangan—”
Tapi Sam sudah meluncur pergi. Siluet birunya bergerak cepat melintasi ruangan, langsung menuju sosok bayangan itu. Lisa melihat Sam berusaha menempatkan dirinya di antara si penyusup dan dirinya, mengangkat tangannya seolah-olah ingin menahan.
“Hei!” Seru Sam, suaranya keras dan berusaha berwibawa, ditujukan pada dunia yang seharusnya tidak bisa mendengarnya. “Lihat aku! Kesini!”
Anehnya, sosok bayangan itu berhenti. Kepalanya yang seperti bongkahan batu menoleh sedikit, seolah-olah benar-benar merasakan sesuatu. Suara napas berat yang basah terdengar lebih keras.
“Ada… angin aneh...” Gumam suara parau itu, keluar dari kegelapan.
Sam, yang terkejut karena dapat perhatian, maju sedikit. “Ya, aku di sini! Tinggalkan dia!”
Sosok itu diam sesaat. Lalu, dengan gerakan yang tiba-tiba dan cepat untuk ukuran tubuhnya, tangannya yang tidak memegang senjata menyapu udara tepat di arah Sam.
Sam menjerit. Tubuhnya yang bercahaya berpendar tak karuan, sebelum ia terlempar ke belakang, menghantam dinding dengan hebat. Cahayanya meredup drastis.
“Sam!” Teriak Lisa, lupa akan ketakutannya sendiri.
“Dia… bisa bisa menyentuhku...” Rintih Sam, suaranya lemah dan ketakutan. “Bagaimana mungkin?”
Sosok bayangan itu mengeluarkan suara seperti dengkuran, sebuah tiruan tawa. “Roh kecil, sangat mengganggu. Nanti aku urus kau.”
Perhatiannya kini kembali sepenuhnya kepada Lisa. Dia melangkah maju, satu langkah berat yang membuat lantai parket berderak. Cahaya dari jendela yang jauh akhirnya menyinari sebagian wajahnya: mata yang tenggelam dalam lingkaran hitam, hidung yang pesek dan seperti pernah patah, dan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi-gigi yang kuning dan tidak rata. Senyuman itu tidak mengandung kegembiraan, hanya kepuasan memburu.
Lisa beringsut di sepanjang pintu, tangannya meraba-raba dinding di sekelilingnya, mencari apa saja—pemadam api, pajangan, apapun. Pisau lipat di sakunya terasa tak berarti.
“Polisi akan datang.” Ujarnya, berusaha membuat suaranya terdengar tegas. “Seluruh gedung dikepung.”
Senyuman lebar itu semakin melebar. “Polisi sudah periksa tempat ini dan sudah pergi. Kamu… polisi nakal. Malah masuk sendiri. Aku suka yang nakal. Itu lebih… seru.”
Lisa akhirnya meraih sebuah benda di rak kecil dekat pintu—sebuah patung art deco berbahan logam yang berat. Tanpa pikir panjang, ia melemparkannya sekuat tenaga ke arah kepala pria itu.
Pria itu dengan mudah menangkisnya dengan lengan bawahnya. Patung itu terbang ke samping dan menghancurkan kaca lemari pakaian dengan suara yang menggelegar. Tapi itu memberikan Lisa satu detik. Matanya jatuh pada kunci pintu—sebuah batang besi horizontal yang melintang di dalam saluran khusus. Ia meraihnya, menarik ke atas. Besi itu bergeser, tapi macet di tengah.
Pria itu mendengus, marah karena gangguan. Langkahnya dipercepat. Benda logam di tangannya—sebuah linggis pendek dengan ujung yang diruncingkan—terangkat.
“Lisa, PIN!” Teriak Sam yang masih terduduk di lantai, cahayanya seperti lilin yang akan padam. “Kode pin! Coba tanggal lahirmu! Apa pun!”
Gagang pintu! Pintu modern ini punya kunci digital di samping gagang biasa! Lisa memutar tubuhnya, jemarinya yang dingin dan berkeringat menekan-nekan panel angka kecil yang nyaris tak terlihat dalam gelap. 0-8-1-2… tanggal lahirnya.
𝘉𝘦𝘦𝘦𝘦𝘱!
Suara error.
Pria itu sudah sangat dekat. Bau keringat dan karatnya kini memenuhi hidung Lisa. Dia bisa melihat detail di linggis itu: noda coklat tua, rambut yang terbelit di ujungnya yang kasar.
“Tidak usah lari.” Gumam pria itu, dengan nada hampir merajuk. “Cepat selesai.”
Lisa menekan angka lagi, acak. 1-2-3-4.
𝘉𝘦𝘦𝘦𝘦𝘱!
Bayangan pria itu menutupinya. Lisa memutar badan, menghadapinya, menyandarkan tangan di pintu. Dia menarik pisau lipat dari saku, membukanya dengan sekali hentakan pergelangan tangan. Bilah sepanjang telapak tangan itu tampak menyedihkan di hadapan linggis.
Pria itu terkekeh, suaranya seperti gergaji mesin. “Lucu.”
Dia mengayunkan linggisnya, bukan dengan cepat, tapi dengan tenaga penuh, langsung ke arah kepala Lisa.
Lisa menjatuhkan dirinya ke lantai. Linggis itu menghantam pintu kayu di atas kepalanya dengan suara 𝘣𝘳𝘶𝘬𝘬! yang menggelegar, meninggalkan lekukan dalam.
Dari posisi mendekam, Lisa menusukkan pisau ke arah betis pria itu. Pisau itu menembus kain denim dan menyentuh daging.
Pria itu melengking, lebih karena keterkejutan daripada kesakitan. Dia mundur selangkah, melihat betisnya yang sekarang mengucurkan darah hitam dalam kegelapan. Kemarahannya meledak. “KAU!”
Dia membungkuk, tangannya yang besar meraih ke arah Lisa.
Tepat saat itu, lampu di plafon ruangan tiba-tiba menyala.
Cahaya putih yang menyilaukan menerjang retina mereka semua.
Pria itu mendesis, tangannya menutupi matanya yang sensitif setelah lama dalam kegelapan. Lisa menyipitkan mata, melihat ke arah sumber cahaya.
Berdiri di ambang pintu kamar tidur, dengan tangan masih menekan saklar dinding, adalah Hendry. Wajahnya dingin dan keras seperti granit. Di tangannya, pistol dinas diarahkan dengan stabil tepat ke arah dada pria besar itu.
“Jangan bergerak satu sentimeter pun, atau aku akan membuatmu jadi saringan keju, Lee Dong-chul.”
Pria bernama Lee Dong-chul itu membeku. Matanya yang kecil dan liar berpindah antara Lisa yang masih di lantai, Hendry dengan pistolnya, dan linggis berdarah di tangannya. Napas beratnya berbunyi seperti bellows.
“Turunkan senjatamu. Perlahan. Letakkan di lantai.” Perintah Hendry, mengambil satu langkah maju ke dalam ruangan.
Di balik Hendry, Lisa melihat sosok lain—seorang petugas berseragam dengan senapan laras pendek yang juga sudah diarahkan. Dan di sampingnya, berdiri dengan wajah pucat dan tangan menutupi mulut, adalah manajer gedung.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ