NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 SWMU

Malam itu, atmosfer di dalam kamar utama mansion Mahendra terasa sangat berat. Suara guntur yang sesekali menggelegar di luar seolah mewakili amarah yang sedang berkecamuk di dalam dada Bramantya. Pria itu duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya dengan tatapan yang bisa membunuh siapa saja. Pesan-pesan dari Yudhistira dan ancaman terhadap makam mendiang ibu Nadia telah memicu sisi gelapnya hingga ke titik puncak.

Nadia, yang sedari tadi mengamati dari sudut ruangan, tahu bahwa inilah saatnya. Jika ia membiarkan Bramantya tenggelam dalam amarahnya sendiri, pria itu akan menjadi sangat waspada dan berbahaya. Ia harus melunakkan Bramantya, melumpuhkan logikanya dengan hasrat, dan membuatnya merasa bahwa satu-satunya tempat aman di dunia ini hanyalah di dalam pelukan Nadia.

Nadia bangkit dari kursi malasnya. Ia sengaja melepas jubah tidurnya, membiarkan gaun malam berbahan sutra tipis berwarna hitam menempel sempurna di lekuk tubuhnya. Dengan langkah perlahan dan tanpa suara, ia mendekati Bramantya.

Bramantya tidak menoleh. Ia masih sibuk dengan pikirannya. "Kembalilah tidur, Nadia. Aku sedang tidak ingin diganggu."

Nadia tidak menuruti perintah itu. Ia justru berdiri tepat di depan Bramantya, di antara kedua kaki pria itu yang terbuka. Ia meletakkan tangannya di atas pundak Bramantya, merasakan otot-otot yang keras seperti batu.

"Paman terlalu tegang," bisik Nadia lembut. Suaranya rendah dan serak, sengaja dibuat untuk merangsang pendengaran Bramantya.

Bramantya mendongak, matanya yang merah bertemu dengan mata Nadia yang teduh namun penuh godaan. "Aku bilang tidur, Nadia. Kau tidak dengar?"

Nadia justru tersenyum tipis. Ia perlahan berlutut di lantai, tepat di depan Bramantya. Tangannya merayap naik, mulai dari lutut pria itu hingga ke paha, memberikan usapan-usapan kecil yang membuat napas Bramantya tertahan.

"Bagaimana aku bisa tidur jika pria yang melindungiku sedang ketakutan?" goda Nadia. Ia menatap ke atas, menatap langsung ke mata Bramantya dengan tatapan yang manja.

"Aku tidak takut!" bentak Bramantya, namun suaranya bergetar.

"Ssh..." Nadia meletakkan jari telunjuknya di bibir Bramantya. "Paman tidak perlu berbohong padaku. Aku bisa merasakan debar jantungmu dari sini."

Nadia kemudian menarik tangan Bramantya dan meletakkannya di pipinya. Ia menggesekkan wajahnya ke telapak tangan yang kasar itu, lalu mengecup bagian tengah telapak tangan Bramantya dengan penuh perasaan.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Bramantya, suaranya mulai melunak, berganti menjadi parau.

"Karena aku ingin Paman lupa," bisik Nadia. Ia berdiri perlahan, namun tidak menjauh. Ia justru mendudukkan dirinya di pangkuan Bramantya, melingkarkan lengannya di leher pria itu. "Lupakan Yudhistira. Lupakan ancaman itu. Lupakan dunia luar yang berisik."

Nadia mulai memberikan ciuman-ciuman ringan di rahang Bramantya, lalu turun ke arah lehernya. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu—campuran antara parfum mahal, tembakau, dan keringat dingin.

"Nadia... kau sedang bermain api," gumam Bramantya, namun tangannya kini sudah melingkar erat di pinggang Nadia, menarik gadis itu agar semakin merapat pada tubuhnya.

"Bukannya Paman yang bilang kalau aku adalah api itu?" sahut Nadia. Ia menarik sedikit kerah kemeja Bramantya dan memberikan gigitan kecil di pundaknya. "Ayo, Paman. Buang ponsel itu. Fokuslah padaku. Hanya padaku."

Bramantya seperti terhipnotis. Kelembutan kulit Nadia, aroma mawarnya yang memabukkan, dan perilaku manjanya yang tidak biasa membuat pertahanan Bramantya runtuh seketika. Ia melempar ponselnya ke sembarang arah dan membenamkan wajahnya di dada Nadia.

"Kau benar-benar racun, Nadia," bisik Bramantya.

Nadia tertawa kecil, suara tawa yang manja dan sensual. "Dan Paman adalah pecandunya."

Nadia menarik kepala Bramantya agar menatapnya.

Cup.

Ia mulai mencium bibir pria itu dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, Nadia yang memegang kendali. Ia mengeksplorasi setiap sudut mulut Bramantya dengan lidahnya, seolah ingin menghapus rasa pahit dari pesan-pesan Yudhistira tadi.

Tangan Nadia merayap masuk ke balik kemeja Bramantya, mencakar halus punggungnya, memicu adrenalin yang membuat pria itu semakin kehilangan kendali diri.

"Paman... bawa aku," bisik Nadia di sela-sela ciuman mereka. "Buktikan kalau kau adalah satu-satunya pemilikku. Jangan biarkan bayangan keluarga itu masuk ke ruangan ini."

Bramantya mengerang. Ia mengangkat tubuh Nadia dengan mudah dan membaringkannya di tengah ranjang besar. Ia mengukung tubuh Nadia, menatap gadis itu dengan gairah yang meledak-ledak.

"Kau milikku, Nadia. Selamanya milikku!" ucap Bramantya dengan posesif.

"Iya, Paman. Hanya milikmu," jawab Nadia dengan suara yang mendesah.

Malam itu, di bawah temaram lampu tidur, Nadia memainkan perannya dengan sempurna. Ia bukan lagi tawanan yang ketakutan, melainkan seorang penggoda yang ulung. Ia memberikan setiap inci tubuhnya untuk dinikmati oleh Bramantya, memastikan pria itu merasa seperti raja yang paling perkasa di dunia.

Setiap sentuhan Nadia, setiap bisikan manjanya, adalah jarum-jarum halus yang menyuntikkan candu ke dalam saraf Bramantya. Pria itu benar-benar lupa akan ancaman Yudhistira. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Nadia—bagaimana rasanya kulit gadis itu, bagaimana suaranya memanggil namanya, dan bagaimana Nadia membalas setiap sentuhannya dengan gairah yang sama besarnya.

Di tengah penyatuan mereka yang panas, Nadia membisikkan kata-kata yang membuai ego Bramantya. "Paman sangat hebat... Aku tidak butuh siapa-siapa lagi selain kau... Jangan pernah lepaskan aku..."

Kata-kata itu membuat Bramantya merasa benar-benar telah menaklukkan Nadia. Ia merasa telah menang melawan trauma gadis itu. Padahal, di balik mata Nadia yang terpejam, tersimpan rencana yang semakin matang.

Beberapa jam kemudian, saat badai di luar mulai mereda, Bramantya tertidur dengan sangat lelap karena kelelahan—baik fisik maupun emosional. Ia memeluk Nadia dengan sangat erat, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja.

Nadia menunggu sampai napas Bramantya benar-benar teratur dan dalam. Perlahan, dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan sang singa, Nadia melepaskan diri dari dekapan itu.

Ia duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan. Ia menatap Bramantya yang tertidur. Pria itu tampak begitu tenang, wajahnya yang biasanya kaku kini terlihat lebih muda saat tidur. Namun bagi Nadia, ketenangan itu hanyalah fatamorgana.

Nadia bangkit dan berjalan menuju meja tempat Bramantya melempar ponselnya tadi. Ia mengambil ponsel itu. Layarnya masih menyala sedikit karena ada notifikasi masuk.

Nadia melihat sebuah pesan baru dari Yudhistira:

"Bram, aku tahu kau sedang bersenang-senang dengan 'boneka' kecilmu. Tapi jangan lupa, aku punya kunci yang tidak kau miliki. Sampai jumpa besok pagi di dermaga utara. Jangan bawa polisi jika kau ingin gadis itu tetap bernapas."

Nadia tersenyum dingin. "Dermaga utara," bisiknya pelan.

Ia segera memasukkan deretan angka yang ia dapatkan kemarin untuk membuka kunci ponsel Bramantya. Berhasil. Ia kemudian mencari kontak bernama 'Yudhistira' dan menyalin nomornya ke ponsel rahasianya sendiri yang ia sembunyikan di dalam kotak perhiasan di laci.

Nadia kembali menatap Bramantya. "Kau pikir kau sudah menguasaiku, Paman? Kau salah. Kau baru saja memberiku jalan keluar yang paling sempurna."

Nadia menyadari bahwa ia bisa mengadu domba kedua saudara ini. Jika ia bisa memberikan informasi palsu kepada Yudhistira tentang keberadaan dokumen rahasia di dermaga utara, dan memberi tahu polisi tentang transaksi ilegal yang akan dilakukan Bramantya di sana, maka keduanya akan saling menghancurkan.

Ia kembali tidur di samping Bramantya, membiarkan pria itu memeluknya kembali. Nadia memejamkan mata, namun pikirannya terus bekerja. Ia sudah tidak sabar menunggu esok pagi.

"Besok," gumam Nadia di dalam hati. "Besok adalah hari terakhir gembok ini melingkar di leherku."

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!