NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebahagiaan Semu

Perubahan itu terjadi seperti pergantian musim yang halus namun pasti. Setelah malam badai di mana Galen menunjukkan kerapuhannya, atmosfer di dalam mansion Gemilar tidak lagi terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap. Galen mulai melepas sedikit demi sedikit duri-duri kasarnya. Ia tidak lagi memerintah dengan bentakan, melainkan dengan permintaan yang dibalut nada lembut yang mematikan.

Pagi ini, Shabiya terbangun bukan oleh ketukan pintu Arsen yang kaku, melainkan oleh aroma bunga sedap malam yang segar di atas meja samping tempat tidurnya. Di samping vas bunga itu, tergeletak sebuah kotak perhiasan kecil dengan kartu ucapan bertuliskan tangan, "Untuk senyummu hari ini."

Shabiya menyentuh kartu itu, hatinya berdesir. Selama beberapa minggu terakhir, Galen telah berubah menjadi sosok suami idaman yang dulu hanya ada dalam imajinasinya. Pria itu mulai mengajaknya makan malam romantis di balkon, mendengarkan Shabiya bercerita tentang hobi melukisnya —meski Galen lebih banyak diam dan menatapnya— dan sesekali memberikan kejutan-kejutan kecil yang manis.

"Kau sudah bangun?"

Galen berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja linen putih yang santai, tanpa dasi, tanpa kesan kaku. Sinar matahari pagi jatuh di wajahnya, menghaluskan garis-garis tegas yang biasanya tampak mengancam.

Shabiya tersenyum, sebuah senyum tulus yang sudah lama tidak ia tunjukkan. "Terima kasih untuk bunganya, Galen. Dan perhiasannya... ini terlalu indah."

Galen mendekat, duduk di tepi ranjang dan menyelipkan anak rambut Shabiya ke belakang telinga. Gerakannya begitu lembut, seolah-olah Shabiya adalah barang pecah belah yang paling berharga. "Tidak ada yang terlalu indah untukmu. Aku hanya ingin melihatmu bahagia di rumah ini."

Bagi Shabiya, ini adalah jawaban atas doa-doanya. Ia mulai percaya bahwa rasa iba yang ia berikan pada malam itu telah membuka pintu hati Galen yang selama ini terkunci. Ia mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa Galen sudah mulai melupakan Thana dan mulai mencintai Shabiya apa adanya.

Setiap sentuhan Galen, setiap tatapan matanya yang kini terasa lebih hangat, Shabiya serap layaknya tanah kering yang merindukan hujan. Ia mulai membalas pelukan Galen dengan kerelaan hati. Ia mulai berdandan bukan karena terpaksa, tapi karena ingin melihat binar kekaguman di mata suaminya.

"Galen," bisik Shabiya saat mereka duduk bersama di taman belakang pada suatu sore. Kepalanya bersandar di bahu bidang pria itu. "Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan. Aku tahu awal kita sangat sulit, tapi aku benar-benar mulai merasa... bahwa aku memiliki tempat di sini."

Galen mengusap lengan Shabiya, matanya menatap lurus ke depan, ke arah mawar-mawar yang sedang mekar. "Kau bukan hanya memiliki tempat, Shabiya. Kau adalah pusat dari rumah ini. Tanpamu, semuanya akan kembali menjadi gelap."

Shabiya mendongak, menatap mata suaminya. "Kau mencintaiku, kan? Bukan karena aku mirip dengan masa lalumu, tapi karena aku adalah aku?"

Ada jeda yang cukup lama. Galen menatap mata Shabiya dalam-dalam. Di dalam mata pria itu, Shabiya melihat sesuatu yang ia interpretasikan sebagai cinta yang mendalam. Galen mengecup keningnya lama, sebuah tindakan yang bagi Shabiya adalah konfirmasi bisu.

"Aku mencintai apa yang aku lihat di depan mataku sekarang, Shabiya. Jangan pernah berubah. Tetaplah seperti ini," jawab Galen pelan.

Shabiya tidak menyadari ambiguitas dalam kalimat itu. Ia terlalu mabuk oleh perhatian-perhatian Galen. Ia tidak sadar bahwa setiap kali Galen berkata "jangan pernah berubah", yang dimaksud pria itu adalah jangan pernah berhenti menjadi proyeksi Thana yang sempurna.

Selama masa "bulan madu" kedua ini, Galen bahkan mulai memberikan sedikit kebebasan. Shabiya diperbolehkan melukis kembali di ruang kaca yang khusus dibangun Galen untuknya. Namun, ada syarat terselubung, Galen yang memilihkan warna catnya, dan Galen yang menentukan subjek lukisannya. Galen meminta Shabiya melukis pemandangan danau di Swiss, tempat yang tidak diketahui oleh Shabiya ternyata merupakan lokasi kenangan terindah Galen dengan Thana.

Shabiya, yang dibutakan oleh cinta, menganggap itu hanya selera seni suaminya. Ia dengan senang hati memenuhi setiap keinginan Galen. Ia bahkan mulai terbiasa menggunakan parfum melati itu, bukan lagi karena paksaan, tapi karena ia tahu Galen akan memeluknya lebih lama jika ia menggunakan aroma tersebut.

Pernah di suatu malam, mereka berdansa di ruang tengah hanya dengan iringan musik dari piringan hitam tua. Suasana begitu intim, begitu nyata. Galen menatapnya dengan pemujaan yang luar biasa.

"Kau sangat cantik, Th—" Galen menggantung kalimatnya, namun ia segera meralatnya dengan ciuman yang mendalam di bibir Shabiya.

Shabiya merasakannya. Ia merasa sangat dicintai. Ia merasa telah berhasil memenangkan hati sang pemilik kegelapan. Ia mulai merencanakan masa depan, membayangkan bagaimana jika mereka memiliki anak, bagaimana mereka akan menua bersama di mansion ini. Ia benar-benar jatuh cinta pada pria yang secara teknis telah menculiknya dari hidupnya yang lama.

Namun, di balik sikap manis itu, Galen tetaplah sang penguasa. Setiap kali Shabiya tertidur lelap dalam pelukannya, Galen akan terjaga, menatap wajah istrinya dengan tatapan yang mengerikan. Ia akan menyentuh garis wajah Shabiya dan berbisik dalam hati, "Terima kasih sudah kembali, Thana. Kali ini kau sangat patuh. Kali ini kau tidak akan pernah pergi lagi."

Bagi Galen, "kebahagiaan" Shabiya adalah investasi. Jika Shabiya bahagia, dia akan lebih mudah dikontrol. Jika Shabiya mencintainya, dia akan dengan sukarela menghapus identitas dirinya sendiri untuk menyenangkan Galen. Perubahan sikap Galen bukan karena ia jatuh cinta pada Shabiya, melainkan karena Shabiya telah mencapai tingkat kemiripan 99% dengan Thana dalam hal perilaku dan emosi.

Arsen, yang menyaksikan semua itu dari kejauhan, hanya bisa berdiri dalam diam dengan perasaan gundah. Ia melihat bagaimana Shabiya mulai tenggelam dalam delusi cinta, sementara ia tahu betul bahwa Galen sedang melakukan gaslighting emosional tingkat tinggi.

"Dia benar-benar mengira Tuan mencintainya," gumam Arsen saat berdiri di samping Galen di balkon, sementara Shabiya sedang melukis di bawah sana sambil tersenyum ke arah mereka.

"Dia memang dicintai, Arsen," jawab Galen dingin, matanya tidak lepas dari sosok Shabiya. "Dia dicintai sebagai perwujudan dari satu-satunya wanita yang berharga di dunia ini. Dan selama dia percaya pada kebohongan ini, dia akan tetap berada di dalam genggamanku."

Shabiya selalu menulis di buku hariannya dengan penuh kebahagiaan. "Aku mencintai suamiku, dan aku tahu dia mencintaiku melampaui apa pun. Masa lalu hanyalah sejarah, dan masa depan kami baru saja dimulai."

Ia tidak tahu bahwa kebahagiaan yang ia rasakan hanyalah sebuah fatamorgana di gurun es. Ia tidak tahu bahwa cinta yang ia agung-agungkan hanyalah hasil dari rekayasa seorang pria yang ahli dalam memanipulasi pasar saham dan perasaan manusia. Shabiya Sena Cantara telah sepenuhnya menghilang, digantikan oleh bayang-bayang yang bahagia di dalam sangkar emas yang kini ia sebut sebagai rumah.

Tragedi yang sebenarnya bukanlah saat Shabiya dibenci oleh Galen, melainkan saat Shabiya mulai mencintai pria yang sedang perlahan-lahan membunuh jiwanya.

1
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!