NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Kemunculan Zana Damara

"Apa ada kabar baik, Tuan? Saya perhatikan, wajah anda sangat cerah."

Kalendra melirik sekretarisnya tajam, membuat bawahannya itu menelan salivanya susah payah. Merutuki kelancangannya kepada laki-laki kaku yang berstatus sebagai atasannya.

"Tu--Tuan, maaf. Saya tidak bermaksud---

"Ya. Aku memang sedang senang."

Rio--- sekretaris Kalendra itu terkejut sekaligus lega. Lega karena Tuannya tidak marah, namun juga sedikit heran mendapati Kalendra mau menanggapi pertanyaannya yang di luar ranah pekerjaan.

Oh, ayolah. Semua karyawan juga tahu, seberapa kakunya bos mereka. Kalendra tidak akan mau meladeni hal-hal yang tidak penting selain urusan ppekerjaan.

Jadi, ketika Kalendra menjawab pertanyaannya yang bisa dikatakan melenceng, Rio merasa aneh, namun juga lega, karena Kalendra tidak menghunusnya dengan kata-katanya yang tajam.

"Rio, kapan kita akan bertemu dengan Tuan Juan Aresta?"

Kalendra sudah kembali fokus dengan berkas-berkasnya. Kacamata baca membingkai sempurna mata gelapnya itu.

"Nanti siang, waktu jam makan siang, Tuan."

Kalendra mengangguk menanggapi. Jemarinya memainkan bolpoin, sebelum akhirnya melabuhkan tanda tangan pada berkas yang telah selesai di periksanya.

"Setelah itu? Apalagi jadwalku?"

Kembali memeriksa tablet yang selalu dibawanya, Rio kembali menjawab dengan tenang. "Tidak ada. Setelah pertemuan dengan Tuan Juan selesai, anda bisa pulang dan beristirahat."

Ahh, jadi dirinya akan pulang lebih awal. Satu sudut bibir Kalendra berkedut. Entah mengapa dadanya berdebar kencang. Mengingat apa yang dia lakukan bersama...Kanaya tadi pagi, membuat laki-laki itu tak tahan untuk tidak terkekeh. Dia ingin mengulanginya lagi dengan adegan yang lebih panas. Membuat istrinya tak berdaya di bawahnya.

Sial. Hanya memikirkanya saja membuat miliknya berkedut dan terasa sesak.

Sang sekretaris yang masih berdiri di sampingnya, memandang Kalendra aneh. Secara alamiah tangannya mengusap tengkuk yang terasa dingin. Bukannya berlebihan, tapi melihat atasannya tersenyum, rasanya sangat horor melebihi film hantu yang semalam ia tonton.

"Tuan---

"Jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan, kau boleh keluar, Rio."

Diam-diam Rio mendesah kecewa. Menelan dalam-dalam rasa penasarannya yang membumbung tinggi. Hal apa yang membuat bosnya mengeluarkan senyum langkanya?

Selepas kepergian sekretarisnya, Kalendra menyandarkan punggung pada kursi. Menaikkan tangan, ia lihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul sepuluh. Hah, masih lama sampai jam makan siang tiba. Jujur saja, Kalendra...tidak sabar untuk cepat pulang ke rumah.

Kira-kira, sedang apa tikus kecilnya itu sekarang?

Ingin melanjutkan pekerjaannya, tiba-tiba sekelibat ingatan itu muncul. Mimpi yang akhir-akhir ini menghantuinya. Perasaannya berubah buruk. Tangannya menggengam erat bolpoin seakan ingin mematahkan.

"Kanaya, kau tidak bisa pergi dariku. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku, sekalipun itu kematian."

Kalendra menarik nafasnya, mencoba mengendalikan emosi yang mulai tak stabil. Memainkan lidahnya di dalam rongga mulut, protagonis itu menyeringai.

"Kanaya...Kanaya...Kanaya. Kau yang menyerahkan diri padaku, lalu kau akan pergi?"

Mata Kalendra semakin menggelap. Menunjukkan obsesi yang selalu ia sembunyikan.

"Jangan harap, Kanaya."

.

.

"Terimakasih, Tuan Wijaya. Senang bisa bekerjasama dengan anda."

Disertai senyum sinis yang sangat samar, Kalendra membalas jabat tangan Tuan Juan Aresta. Direktur perusahaan startup yang bergerak di bidang pariwisata.

"Ya. Kami harap, kerjasama ini akan berjalan dengan baik dan tentunya saling menguntungkan." jawab Rio yang menyadari jika bosnya tidak akan membalas basa-basi itu.

"Tentu saja!" balas Tuan Juan cepat dan terkesan--- berlebihan.

"Anda tidak akan menyesal menanam modal di perusahaan kami. Secepatnya anda akan mendapatkan keuntungan bahkan melebihi yang tertera di perjanjian kontrak."

Penjilat. Hal yang tidak asing di dunia pekerjaan, termasuk bisnis. Hal-hal seperti itu membuat Kalendra muak, mereka memakai topeng untuk menutupi niat busuknya. Namun kadang cukup menghibur saat mereka berlomba mendewakan dirinya hanya agar dia mau menanam saham di perusahaan mereka.

Pada dasarnya, semua manusia sama saja. Kekuasaan, kekayaan, kejayaan. Tiga poin penting yang terkadang membuat orang rakus. Ingin mengeruk sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan akibatnya.

"Sebaiknya anda buktikan janji anda dengan aksi, bukan kata-kata manis tanpa adanya bukti." balas Rio tersenyum formal.

Selanjutnya, sekretaris itu menunduk sopan sebagai salam perpisahan. Apalagi saat menyadari jika Kalendra sudah menujukan ketidak sukaannya pada situasi saat ini. Jangan sampai gajinya dipotong karena ulah pria bau tanah di hadapannya.

"Kami pergi. Sekali lagi, senang berkerja sama dengan anda, Tuan Aresta."

"Tuan Wijaya, tunggu!" cegah Tuan Juan yang berhasil membuat Kalendra menggeram tak suka. Matanya berkilat tajam menatap sang pemanggil nama.

Dengan gugup, Tuan Juan melepaskan cekalannya. Laki-laki tua itu berdehem singkat sebelum melanjutkan kalimatnya. "Saya tahu, anda pasti sering stres menghadapi pekerjaan yang sangat banyak."

Satu alis Kalendra terangkat tertarik.

"Jika anda sedang jenuh, anda bisa bersenang-senang dengan putri saya. Dia sangat cantik dan pastinya akan membuat Tuan Wijaya melupakan penat."

"Anda tinggal mengatakan apa yang anda mau, dan putri saya dengan senang hati akan menurutnya."

Di tempatnya berdiri, Rio mengumpat dalam hati. Sungguh keberanian yang luar biasa dari Tuan Juan Aresta. Apakah laki-laki bau tanah itu baru saja menawarkan anaknya sendiri? Ck, Rio hampir tak percaya.

Berbanding terbalik dengan Rio, Kalendra justru mengeluarkan smriknya. Mata gelapnya mengerling tertarik.

"Apapun?"

Bahkan jika Kalendra meminta perempuan itu untuk menusuk matanya sendiri?

"Tentu saja. Apapun yang anda minta." balas Tuan Juan semakin bersemangat karena mengira Kalendra menerima dengan baik tawarannya.

"Siapa nama putrimu?"

"Sena. Namanya Sena, Tuan."

Kalendra menganggukkan kepalanya seolah mengerti. "Baiklah, jika...aku sedang bosan, orang pertama yang akan aku cari adalah...putrimu." balasnya dengan seringai penuh misterinya.

.

.

"Kau kembalilah ke kantor menggunakan taxi. Aku mau pulang."

Meskipun kesal, Rio tetap menampilkan senyum manisnya. Atasannya ini suka sekali bertindak seenaknya sendiri. Mentang-mentang dirinyalah yang memegang kendali.

"Kenapa Terburu-buru, Tuan? Biasanya anda selalu pulang malam. Sekarang, bahkan baru pukul tiga sore."

Kalendra melirik sekretarisnya tajam. "Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab. Ingat posisimu, Rio."

Sontak Rio menunduk. Lebih baik mengaku salah daripada Kalendra semakin marah.

"Maaf atas kelancangan saya, Tuan."

Kalendra mengibaskan tangannya, membuat gesture mengusir. Dengan hati yang dongkol, akhinya Rio pergi. Menyumpah serampahi Kalendra yang hanya berani terucap di dalam hati.

Tuhan, kirimkanlah seseorang yang bisa mengendalikan bos kaku-ku itu.

.

.

Kalendra mengendari mobilnya dengan tenang. Matanya fokus menatap jalanan. Berbeda dengan otaknya yang selalu menggemakan nama yang sama.

Kanaya.

Memasuki kawasan yang sepi, laki-laki itu semakin mempercepat laju kendaraannya, ingin segera sampai dan menemui seseorang yang sedari tadi memenuhi pikiranya. Hingga sesuatu dentuman berhasil menghentikan mobil mewahnya itu. Lebih tepatnya, terpaksa berhenti.

Kalendra mengumpat kesal. Melepaskan sabuk pengamannya, laki-laki itu keluar dari dalam mobil. Lagi-lagi dia mengeluarkan umpatannya saat mendapati ban mobilnya yang pecah.

Kenapa harus sekarang?

kurang waspada, Kalendra tidak menyadari jika ada seseorang yang mengendap-endap di belakangnya. Kemudian, orang itu memukul kepala Kalendra menggunakan tongkat kayu dengan sangat keras.

Telinga Kalendra berdenging. Saat akan berbalik, punggungnya sudah terlebih dahulu dipukul hingga tersungkur. Tubuhnya mendapat perlakuan yang sama secara membabi buta.

Kalendra--- protagonis itu tidak yakin dirinya akan bertahan lebih lama. Pukulan-pukulan itu terasa berbeda. Seperti sesuatu menancap pada kulitnya saat pukulan dilayangkan. Hingga samar-samar, dia mendengar suara khas perempuan berteriak.

"Tolong....ada begal!!" suara itu melengking. Kalendra seperti pernah mendengarnya, tapi di mana?

"Sial! Cepat pergi!!" para pelaku itu berlari pergi. Meninggalkan Kalendra yang terkapar dan perempuan tadi yang kini berjalan mendekat.

"Kau tidak apa-apa? Tenanglah, aku akan membawamu ke rumah sakit." ujarnya panik.

"Si--siapa kau..."

"Zana. Namaku Zana Damara."

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!