Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pertama
CHAPTER 10
Pagi merekah.
Kai meneliti dokumen yang dibawa Yuzuriha tadi malam. Isi dokumen itu ternyata sangat penting: laporan mingguan yang harus diserahkan kepada Voda.
Laporan itu merinci jumlah uang yang dikorupsi dan akan diberikan kepada Voda sebagai imbalan atas "perlindungan". Kai membenarkan dugaannya bahwa Voda membuat perjanjian tersembunyi dan memanfaatkan para pejabat korup. Voda meminta uang setiap minggu sebagai jaminan perlindungan dari hukum.
Sementara itu, Shun, yang baru saja bangun, langsung melakukan rutinitas paginya: mandi, berganti pakaian, dan sarapan.
Saat sarapan, Shun mendengar berita di televisi dapur.
Berita itu mengabarkan bahwa "Pejabat yang mengkorupsi uang rakyat berhasil ditangkap oleh ketua badan keamanan."
"Wihh... Hebat juga ya, si ketua ini," gumam Shun dengan tangan berhenti di depan mulutnya. "Bagaimana bisa dia menemukan si koruptor itu?" Ia melanjutkan makannya.
Selesai sarapan, Shun berniat menuju ruang latihan, namun ia mengurungkan niatnya. Ia memutuskan untuk menemui Suika dan membicarakan sesuatu.
Sesampainya di depan pintu laboratorium, saat tangan Shun hendak meraih gagang pintu, ledakan tiba-tiba mengguncang laboratorium dan membuka pintu itu dengan kasar.
Shun terpental akibat ledakan tersebut.
"Uhuk... Uhuk," suara batuk kecil terdengar. "Wah, wah... Nak Shun ternyata. Ayo masuk-masuk," Suika menarik lengan Shun.
"A-ada apa ini, Bibi—, eh, maksudnya, Senior?" tanya Shun dengan bingung.
"Panggil Suika saja," jawab Suika dengan nada ceria.
Sesampainya di dalam laboratorium, Shun langsung mengungkapkan apa yang ingin ia ketahui: mengapa Kai dan Suika tahu bahwa energi Ten yang terkandung dalam obat itu adalah milik Voda.
Dengan senang hati, Suika menceritakan kepada "junior kesayangannya" bagaimana mereka bisa tahu.
Dulu, saat Suika dan Kai menjalankan misi bersama, mereka bertemu dengan Voda. Suika dan Kai berpura-pura menjadi orang biasa agar Voda tidak curiga bahwa mereka adalah anggota Nightshade.
"E-eh... Ini kan Tuan Voda!" ucap Kai sambil tersenyum gugup.
Begitu pula dengan Suika. "W-wah, Tuan Voda, aku sangat ingin bertemu denganmu."
Tatapan Voda menajam. "Oh, begitu ya?"
Voda mengaktifkan Ten. Saat itulah Suika dan Kai mengetahui warna Ten Voda, yaitu hitam dan ungu. Seketika, Suika dan Kai melarikan diri dan membatalkan misi mereka.
Karena saat itu mereka pasti akan kalah. Peralatan Suika tidak cocok untuk bertarung maupun bertahan. Jika mereka bertarung, hanya Kai yang bisa bertahan.
"Ternyata begitu..." Shun sedikit terkejut. "Tapi, kenapa kau bisa menjalankan misi bersama Boss?"
"Hah?... Kau belum diberitahu?" tanya Suika.
"Belum..." jawab Shun dengan wajah polos.
Sekali lagi, Suika menjelaskan bahwa Nightshade sudah berdiri sejak 100 tahun lalu dan selalu berganti pemimpin. Markas mereka juga selalu berpindah setiap kali ketahuan oleh Justice.
Sejak awal terbentuknya Nightshade, tujuan utama mereka tidak pernah berubah, yaitu menghancurkan Justice dan para koruptor.
Setelah merasa cukup tahu, Shun berpamitan kepada Suika. Shun berniat untuk pergi ke ruang latihan. Sesampainya di sana, ia melihat seseorang yang tampak seperti sedang membangun kembali sesuatu yang rusak menggunakan palu. Shun mendekatinya. Pria itu adalah Amida.
"A-anu... Amida, kau sedang apa?" tanya Shun.
Amida mengetuk tanah dengan palunya. "Kau tidak lihat apa?"
"Ya.... aku melihatnya, tapi kenapa mengetuk tanah?" tanya Shun bingung.
Amida mengaktifkan Ten. Energi cokelat mengalir dan menyelimuti tubuhnya, lalu merambat ke palunya. Palu kayu kecil itu berubah menjadi palu besi futuristik yang berukuran besar.
Amida langsung menghantamkan palunya ke tanah. Seketika, tanah itu kembali seperti semula.
Amida menjelaskan bahwa ruang pelatihan yang besar ini dia yang buat. Dari luar, tidak terlihat ruangan sebesar ruang pelatihan.
Itu karena kemampuan Ten dari Amida. Ia bisa membuat ruang besar, namun terlihat kecil jika dilihat dari luar. Namun, kekurangannya adalah energi Ten yang dibutuhkan cukup banyak jika ruangannya tidak terlalu besar.
Saat pertama kali membuat ruang latihan, energi Tennya terkuras habis dan ia pingsan selama lima hari.
Setelah itu, Shun mengobrol cukup panjang dengan Amida. Ternyata, Amida adalah orang yang mudah diajak bicara, sangat jauh berbeda dengan Shinji.
...----------------...
Malam telah tiba.
Kelompok yang diberi nama Black Roses oleh Kai sudah bersiap dan ingin segera berangkat.
Mereka adalah Shun, Yuzuriha, Frederica, dan Shinji.
"Rencana kali ini bagaimana?" tanya Yuzuriha.
Shinji menoleh. "Memata-matai," jawabnya singkat.
"Hah!... Orang dingin memang aneh, ya kan Shuchan?" Yuzuriha tersenyum ke arah Shun.
"E-eh.... Iya, ya," Shun menjawab spontan.
Tak lama kemudian, mereka pun berangkat dengan informasi terbatas: plat mobil yang dilihat oleh Shinji saat itu, dan wajah si penjual yang sudah Shinji ingat.
Mereka menggunakan mobil, karena jika berjalan kaki, Shinji akan meninggalkan mereka bertiga. Saat memasuki kota yang cukup sepi, di sinilah mereka melihatnya.
"Itu dia," Shinji menunjuk ke arah tiga orang yang sedang melakukan transaksi.
"Apa kau yakin, Shinji?" tanya Frederica.
"Tidak salah lagi," jawab Shinji dengan yakin.
Frederica yang menyetir langsung membelokkan mobil dan menuju ke arah gang kecil yang berada di dekat mobil tiga orang yang sedang melakukan transaksi.
Shun dan Yuzuriha keluar dari mobil dan memanjat ke atap rumah untuk mengintai transaksi mereka. Tampaknya, mereka telah selesai melakukan transaksi.
"Mereka selesai transaksi," Shun berbicara kepada Frederica menggunakan headset komunikasi.
"Kejar si pembeli, dan hancurkan obat itu," suara Frederica terdengar dari headset.
Shun mulai mengejar si pembeli.
"Semangat, Shuchan!" Suara Yuzuriha terdengar dari headset Shun.
Dan Yuzuriha diminta untuk mengejar mobil itu. Sambil menunggu Shun dan Frederica, mereka akan menjemput Yuzuriha.
Setelah itu, misi memata-matai akan dimulai.
Di sisi Shun.
Shun masih mengejar si pembeli dari atap-atap perumahan. Saat si pembeli itu masuk ke lorong yang sempit, Shun melompat ke depannya dan langsung menendang kepala orang itu hingga pingsan.
"Maaf ya... Tapi ini sudah tugasku," gumam Shun.
Shun mengambil kotak yang berisi obat-obatan yang terbuat dari Ten. Dengan cepat, Shun sampai ke mobil dan memberikan kotak itu kepada Frederica. Mereka pun langsung berangkat ke lokasi yang dilaporkan oleh Yuzuriha melalui headset.
Karena bukan Juichi yang menyetir, perjalanan ke tempat Yuzuriha memakan waktu cukup lama. Mereka berhenti sebentar dan mengambil kain khusus yang dibuat oleh para perajin di Nightshade.
Mereka menyelimuti mobil menggunakan kain itu, dan Frederica mengaktifkan Ten. Energi ungu menyelimuti tubuhnya, lalu menyebar ke kain itu. Seketika, mobil mereka menjadi tak terlihat jika dilihat dari luar.
Hal itu disebabkan oleh kain yang dibuat dari Ten milik perajin Nightshade. Kain itu dibuat menggunakan mesin jahit yang diselimuti Ten. Kain itu khusus dibuat untuk menghilang, dan untuk mengaktifkan kain itu, hanya cukup menyalurkan energi Ten.
Dengan mobil yang tidak terlihat, Frederica mulai tancap gas dan sampai di samping orang yang menjual obat-obatan itu. Cukup lama mereka berada di samping si penjual.
Sampai akhirnya mereka tiba di tempat markas pembuatan obat itu. Markas itu dibangun di tengah-tengah hutan. Shinji diminta untuk menyelinap masuk dan mendengarkan percakapan mereka.
Shinji masuk ke markas itu dan memasang telinga agar bisa mendengar suara si penjual.
"Tuan Voda pasti akan bangga," kata si penjual dengan bangga.
"Tentu saja," sahut orang yang menemani si penjual.
Shinji mengaktifkan headset dan berbicara, "Sepertinya Voda tidak ada di sini."
Sampai akhirnya Shinji mendengar seseorang berkata, "Energi Ten milik Tuan Voda telah sampai." Muncul orang lain yang membawa kotak besar.
Shinji masuk lebih dalam mengikuti mereka. Di dalam, ada mesin yang sangat modern. Si penjual membuka kotak besar yang dibawa dan mengambil botol yang berisi energi hitam dan ungu.
Si penjual menaruh botol itu ke dalam mesin yang modern itu. Saat mesin itu diaktifkan, tidak lama kemudian keluarlah botol yang penuh dengan obat-obatan yang terbuat dari Ten.
"Wah, sepertinya penjualan kali ini banyak ya, Tuan Deset, Tuan Nine," kata si penjual.
Deset yang berarti sepuluh dan Nine yang berarti sembilan. Ya, Shinji mendapatkan kesimpulan bahwa yang mengelola tempat ini, si penjual dan temannya itu, adalah dua dari Sepuluh Jari Voda.
Shinji melaporkan itu lewat headset. Mereka ingin pergi untuk melaporkan hal ini kepada Kai. Namun sialnya, Shinji menyenggol kotak di dekatnya.
Deset menoleh. "Siapa di sana!"
Dan wajah Nine tersenyum gembira. "Keluarlah, wahai temanku."