Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi buruk tanpa akhir
Pemandangan seketika berubah seperti tuan putri yang telah di selamatkan pahlawannya.
"Ada pembunuh." Kasim kepala berteriak kuat.
Drakakk...
Dreee...
Puluhanan prajurit penjaga dan prajurit patroli segara berlari masuk kedalam ruangan itu.
Tapi semua orang langsung menghentikan langkah mereka.
Selir Yu sedikit memiringkan wajahnya. Senyuman tipis canggung terlihat. "Kasim Gu, aku bukan pembunuh." Setelahnya dia melihat kearah Kaisar Xiao Chen. "Yang Mulia, bisa kau menurunkan aku?"
Satu tangan Kaisar Xiao Chen yang ia gunakan untuk menahan punggung Selir Yu di turunkan.
"Aaaa..." Dengan cepat wanita itu memperkuat pegangannya pada leher Kaisar Xiao Chen. "Yang Selir ini maksudkan. Kau turun dan menurunkan aku dengan pelan. Jika aku jatuh dan terluka. Bukankah hanya akan menambah masalah baru."
Wajah dingin pria itu tidak berubah. "Kalian semua bisa pergi," ujar Kaisar Xiao Chen.
"Baik." Semua prajurit penjaga dan prajurit patroli segera keluar dari ruangan itu.
Menyisakan Kasim kepala Gu yang masih menatap tidak percaya. Jika Selir Yu sangat begitu berani. Menerobos masuk melalui atap kediaman bahkan terjun bebas dalam pelukan Kaisar Xiao Chen.
Tangan Kaisar Xiao Chen yang di gunakan menahan kaki Selir Yu juga di lepas. Membuat wanita itu hampir saja tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya sendiri.
"Huh... Terima kasih." Selir Yu menata gaun yang ia kenakan. Juga menata rambut yang telah berantakan. Setelah berhasil turun dari gendongan pria di depannya.
"Penjaga," teriak Kaisar Xiao Chen.
Dua penjaga yang ada di depan pintu langsung berlarian. "Yang Mulia."
"Seret dia keluar." Kaisar Xiao Chen menatap tenang.
"Baik." Dua penjaga memegangi tangan Selir Yu.
"Tunggu, tunggu..." Wanita itu memberontak. Sekalipun tubuhnya telah di seret hampir mencapai batas pintu. "Lepas." Dengan semua kekuatannya dia berhasil lepas dari kedua tangan penjaga. "Xiao Chen." Berdiri tegap dengan tatapan kesal.
"Lancang." Kaisar Xiao Chen berjalan mendekat. Langkahnya di hentikan tepat di hadapan wanita itu. "Apa kau pikir aku tidak berani membunuhmu. Hanya karena dukungan dari keluarga Yu?" Kedua matanya menajam.
"Minggir." Selir Yu mendorong kedua penjaga. Dia melangkah lebih dekat kepada suaminya. "Satu ucapanmu sudah mampu membunuhku ribuan kali. Tapi, semua pelayanku tidak melakukan kesalahan. Tidak seharusnya kau melampiaskan amarahmu yang seharusnya menjadi milikku. Kepada semua pelayan yang tidak tahu kesalahan mereka."
"Aku tidak pernah menyangka, Selir Yu memiliki waktu di mana dia merasa tidak tega dengan bawahan. Sisi mana lagi yang ingin kau tunjukkan sebagai topeng untuk meraih simpatiku?" Kedua mata Kaisar Xiao Chen terlihat lebih dingin.
"Lepaskan mereka. Aku akan mengikuti keinginanmu," tegas Selir Yu.
Bibir samping Kaisar Xiao Chen menyungging. "Bawakan satu terpidana mati yang telah aku siapkan."
"Baik." Salah satu penjaga segara pergi.
Tidak selang lama penjaga itu datang membawa seorang pria dengan tato di wajahnya. Tato bertuliskan budak melekat kuat tidak bisa hilang. Pria itu di dorong hingga jatuh tersungkur di lantai.
Dangan suara tanpa getaran, Kaisar Xiao Chen berkata. "Bunuh dia. Dan kau bisa membawa semua pelayan mu pergi." Melirik kearah Kasim Kepala Gu.
Kasim Kepala Gu langsung mengerti. Dia berjalan pergi mengambil pedang yang ada di tempatnya. Melekat kuat di dinding sebelah kanan ruangan itu. "Yang Mulia." Menyerahkan pedang yang ada di tangannya.
Kaisar Xiao Chen menerimanya.
Sreenggg...
Pedang di tarik dari sarungnya. Ujung pedang di berikan kearah Selir Yu. "Jika kau tidak membunuhnya. Semua pelayan mu akan di penggal."
Selir Yu menekan amarahnya dalam hati. Namun dia tetep berusaha tidak memperlihatkan ketakutannya. 'Dari dua bab awal. Dapat di pastikan karakter Selir Yu wanita kejam, dingin dan egois. Jika aku menjadikan diriku sama seperti karakter dalam cerita. Keadaan tidak akan berjalan dengan baik. Bahkan alur cerita akan benar-benar mengikuti kisah utamanya.' Dia memandangi pria yang hanya diam di samping dirinya. Budak itu seperti telah pasrah akan nasib yang ia terima.
Ganggang pedang yang di arahkan kepada dirinya. Ia terima dengan menarik napas cukup dalam. Ujung pedang dengan cepat di arahkan kepada leher pria itu. "Jika dia mati, semua pelayan ku akan hidup?"
"Iya. Selama dia mati. Semua pelayan mu akan hidup." Kaisar Xiao Chen mengulangi perkataan wanita itu.
Selir Yu berlutut. "Yang Mulia, saya tidak bisa membunuhnya." Pedang di tangannya di letakkan di lantai tepat di hadapannya. Dia menundukkan kepalanya.
"Selir Yu, kau berani mengingkari janji terhadapku."
Selir Yu diam.
Dekk....
Trengg...
Satu gerakan kaki Kaisar Xiao Chen. Pedang yang ada di lantai sudah berada di tangannya.
Sreenggg...
Pedang di arahkan langsung ke leher Selir Yu. "Kau mau mati."
"Aku dapat membunuhnya jika tahu kejahatan seperti apa yang telah ia lakukan. Sehingga harus di berikan hukuman mati. Sekalipun aku mati hari ini. Jika aku tidak mengetahui kesalahan yang ia perbuat. Aku tidak akan memberikan hukuman untuknya," jelas Selir Yu. Suaranya tidak ada getaran. 'Biarpun ini hanyalah dunia novel. Aku juga tidak bisa menjadi seseorang tanpa keteguhan hati. Dan kehilangan jati diriku sendiri.'
Mendongak menatap wajah pria yang tidak bergeming dari niat awalnya.
Namun beberapa detik setelahnya, Kaisar Xiao Chen menatap wajah Selir Yu. "Dia telah membunuh satu keluarga untuk mengambil seluruh harta mereka. Termasuk bayi yang baru berusia satu bulan." Pedang yang ia letakkan di leher Selir Yu di tarik.
Mendengar ucapan itu Selir Yu bangkit. Dia menelan ludah pahit di tenggorokannya.
Tanpa aba-aba.
Sllpp...
Tusuk konde yang ada di rambutnya di tarik. Dengan cepat langsung di tancapkan pada leher pria itu.
Darah menyembur cepat.
Tangan wanita itu bergetar hebat.
Sekuat apapun dia mencoba menyembunyikan ketakutannya. Reaksi awal yang ia terima pada tubuhnya adalah ketakutan yang sangat dalam.
"Aaa..." Kedua mata pria itu membelalak di saat rasa sakit menekan lehernya kuat.
Brakkk...
Tubuhnya ambruk dengan darah mengalir tanpa henti. Menit setelahnya napasnya terhenti.
Selir Yu melangkah mundur.
Dekkk...
Dia berhenti di saat tubuhnya tertahan tubuh Kaisar Xiao Chen. Dengan kedua mata memerah. Dia menatap mata yang terlihat berbeda. "Kau puas. Sekarang, biasakah kau melepaskan semua pelayan ku?" Suaranya bergetar. Air matanya mengalir namun tidak ada rengekan.
"Mereka bisa pergi dari aula istana utama," ujar Kaisar Xiao Chen membuat titahnya.
"Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia." Selir Yu melangkah pergi.
"Selir Yu." Kasim Kepala Gu menangkap tangan Selir Yu di saat langkah wanita itu terguntai.
Selir Yu berdiri tegap kembali. Dia menarik napas dalam lalu kembali melangkah tanpa menoleh kebelakang.
"Bawa mayat itu, bersihkan semua sisa darah." Kaisar Xiao Chen berbalik kearah tempat jatuhnya Selir Yu.
"Baik."
Dua penjaga segera menyeret mayat pria budak, keluar dari ruangan peristirahatan Kaisar. Sedangkan Kasim kepala Gu memerintahkan para pelayan istana membereskan bekas darah di lantai.
Setelah ruangan itu kembali sunyi.
Kasim kepala Gu mendekat kearah pria yang masih menatap langit berbintang dari celah langit-langit ruangan yang ambrol.
"Gu Ji, Kenapa hari ini dia terlihat berbeda. Tidak seperti wanita yang aku kenal satu tahun terakhir. Wanita yang mampu mengorbankan nyawa siapa saja. Asalkan dirinya sendiri dapat berdiri tegap di istana ini. Kedua mata polos yang tidak ternoda akan keserakahan itu. Belum pernah aku lihat sebelumnya," ujar Kaisar Xiao Chen. "Tidak mungkin seseorang dapat berubah dalam sekejap mata."
Kasim kepala Gu menarik napas dalam. Dia mengangguk memberikan persetujuan. Jika Selir Yu yang mereka temui hari ini sangatlah berbeda.
Selir Yu sendiri terus melangkah melewati lorong-lorong gelap dengan hanya di terangi lentara dan obor. Setelah sampai di depan aula istana utama. Dia segara memberikan kabar pembebasan kepada semua pelayannya. Namun dia pingsan karena tidak lagi mampu menahan ketakutan di hatinya.
"Huhhhh..." Tubuh wanita itu terhentak dari tidurnya. Tubuhnya bergetar dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Pelayan Guyi mendekat. "Selir Yu."
Selir Yu segera memeluk pelayan setianya.
Dengan kelembutan Pelayan Guyi menepuk punggung Selir Yu. "Ada Guyi yang selalu ada untuk anda. Jangan takut lagi. Semua telah berlalu."
"Guyi, aku tidak ingin tidur sendiri." Suara Selir Yu terdengar serak.
"Guyi akan menemani anda."
Selama beberapa hari setelahnya, Pelayan Guyi tidak lagi bisa meninggalkan Selir Yu tidur sendiri. Karena mimpi buruk akan datang tanpa henti setiap wanita itu memejamkan kedua matanya. Ingatannya akan di tarik kembali pada hari dia menancapkan tusuk kodenya. Tepat di leher pria budak yang langsung sekarat dan mati detik itu juga.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana