Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 17
Papan pengumuman di lobi utama SMA Taruna Bangsa tampak seperti medan perang pagi ini. Lautan seragam putih abu-abu berdesakan, sikut-sikutan, dan jinjit-jinjitan hanya untuk melihat selembar kertas HVS yang ditempel di balik kaca etalase. Hari ini adalah hari penghakiman: pengumuman hasil Ujian Tengah Semester.
Suara riuh rendah mendominasi udara. Ada teriakan histeris kegirangan, ada juga umpatan kekecewaan. Namun, di tengah kakofoni itu, mendadak muncul gelombang keheningan yang aneh. Keheningan itu bermula dari barisan paling depan, lalu merambat ke belakang seperti virus.
"Gila... ini salah ketik, kan?" seseorang berbisik, cukup keras untuk terdengar.
"Nggak mungkin. Printer sekolah rusak kali?"
Julian, yang biasanya berdiri dengan dagu terangkat tinggi layaknya raja yang meninjau rakyatnya, kini mematung di depan papan pengumuman. Wajahnya pucat, matanya memicing tajam seolah ingin membakar kertas di depannya. Di urutan pertama, namanya masih bertengger: Julian Pratama. Nilai rata-rata 98,5. Sempurna. Tidak ada yang berubah.
Di urutan kedua, Keyra Anindya menempel ketat dengan rata-rata 98,0. Jarak yang semakin tipis dibanding semester lalu.
Bukan itu yang membuat semua orang menahan napas. Bukan persaingan abadi antara Julian dan Keyra. Mata semua orang tertuju pada barisan tengah daftar peringkat. Di sana, di urutan ke-25 dari 300 siswa, tercetak sebuah nama yang biasanya menjadi penghuni tetap dasar klasemen.
Raka Adhitama. Rata-rata: 89,0.
"Minggir, minggir! Orang penting mau lewat!" Raka membelah kerumunan dengan santai, seolah dia sedang berjalan di karpet merah. Dia tidak sendirian; Keyra berjalan di sampingnya dengan wajah datar, meski sudut bibirnya sedikit berkedut menahan geli.
Raka berhenti tepat di samping Julian. Dia tidak melihat ke papan pengumuman, melainkan langsung menatap Julian yang masih *shock*.
"Gimana, Jul? Pemandangan dari puncak masih bagus?" tanya Raka enteng. Dia menepuk bahu Julian pelan—gestur yang membuat Julian menepisnya kasar.
"Lo curang," desis Julian. Suaranya rendah, berbahaya. "Lo pasti curang."
"Tuduhan tanpa bukti itu fitnah, Bos. Dan fitnah itu lebih kejam daripada dapet nilai jelek," balas Raka sambil nyengir. Dia menoleh ke papan pengumuman, pura-pura kaget. "Wih, dua puluh lima? Lumayan. Padahal gue nargetin sepuluh besar. Yah, namanya juga pemanasan."
Belum sempat Julian membalas, suara *speaker* sentral sekolah berbunyi, memotong ketegangan di lobi.
*"Panggilan untuk siswa atas nama Raka Adhitama kelas XI IPA 2 dan Keyra Anindya kelas XI IPA 2. Ditunggu di ruang guru sekarang juga. Menghadap Ibu Ratna."*
Suara Bu Ratna terdengar dingin, bahkan lewat pengeras suara yang kresek-kresek. Kerumunan siswa langsung berbisik-bisik. "Tuh kan, pasti dipanggil karena nyontek!" seru salah satu siswa.
Raka hanya mengangkat bahu. "Fans gue posesif banget, baru liat nilai bagus dikit langsung kangen," ujarnya pada Keyra. "Yuk, Key. Jangan bikin Bu Ratna nunggu. Nanti darah tingginya kumat."
Keyra menghela napas panjang, tapi langkahnya tegap mengikuti Raka menuju koridor ruang guru. Di belakang mereka, tatapan Julian mengikuti dengan sorot mata penuh kebencian yang belum pernah terlihat sebelumnya.
***
Ruang guru terasa sedingin kamar mayat. AC disetel di suhu terendah, atau mungkin itu hanya aura Bu Ratna yang duduk di balik meja besarnya dengan tangan terlipat di dada. Di sampingnya, Pak Bambang (guru Matematika) dan Bu Siska (guru Kimia) ikut menatap Raka dan Keyra dengan pandangan menyelidik.
Di atas meja, lembar jawaban Raka tergeletak. Ada banyak tanda centang merah di sana.
"Jelaskan," kata Bu Ratna singkat. Tidak ada basa-basi.
"Jelaskan apa, Bu?" tanya Raka dengan wajah tanpa dosa. Dia berdiri santai, memasukkan kedua tangan ke saku celana, kontras dengan Keyra yang berdiri tegak dengan sikap sempurna di sebelahnya.
"Jangan pura-pura bodoh, Raka!" bentak Bu Ratna, menggebrak meja pelan. "Dari peringkat 300 ke peringkat 25 dalam satu kali ujian? Matematika kamu dapat 95. Fisika 90. Ini tidak masuk akal! Kamu bahkan keluar ruangan sepuluh menit setelah ujian dimulai!"
Bu Siska menambahkan, "Kami sudah mengecek CCTV. Kalian berdua duduk berdekatan. Ada gerakan tangan yang mencurigakan. Ketukan jari."
"Oh, itu," Raka mengangguk-angguk. "Saya lagi dengerin lagu di kepala saya, Bu. *Bohemian Rhapsody*. Tau kan? Ritmenya emang variatif, jadi jari saya ikut gerak."
"Omong kosong!" potong Pak Bambang. "Kami curiga Keyra memberikan jawaban padamu lewat kode itu. Keyra, kamu siswa teladan. Kalau kamu terlibat dalam kecurangan ini, beasiswa kamu bisa dicabut."
Keyra menegang. Ancaman beasiswa adalah titik lemahnya. Namun, sebelum dia sempat membuka mulut, Raka melangkah maju satu langkah, menutupi Keyra sebagian.
"Tes saya," kata Raka. Suaranya berubah. Tidak ada lagi nada main-main. Tatapannya tajam, langsung menusuk ke mata Bu Ratna.
"Apa?" Bu Ratna tertegun.
"Ibu nuduh saya nyontek karena saya dianggap bodoh, kan? Ibu pikir otak saya kosong melompong sampai nggak mungkin bisa ngerjain soal-soal itu sendiri," ujar Raka dingin. "Tes saya sekarang. Kasih saya soal Matematika atau Fisika. Kalau saya nggak bisa jawab, silakan *drop out* saya hari ini juga. Tapi kalau saya bisa jawab, Ibu harus minta maaf sama Keyra karena udah nuduh dia macem-macem."
Ruangan hening. Tantangan itu begitu berani, begitu arogan, tapi juga begitu meyakinkan. Bu Ratna bertukar pandang dengan Pak Bambang.
Pak Bambang mengambil spidol, lalu berdiri dan berjalan ke papan tulis putih di dinding ruang guru. Dia menulis sebuah soal integral trigonometri yang rumit. Soal level olimpiade yang bahkan tidak keluar di ujian kemarin.
"Kerjakan. Tanpa kalkulator. Dua menit," perintah Pak Bambang.
Raka berjalan ke papan tulis. Dia tidak ragu sedikitpun. Dia mengambil spidol, membuka tutupnya, dan mulai menulis. Gerakan tangannya cepat, tegas. Dia tidak berhenti untuk berpikir. Angka dan simbol mengalir begitu saja dari ujung spidolnya.
Satu menit lima belas detik.
Raka menutup spidolnya dan meletakkannya kembali di meja. "Hasil akhirnya 2/3 pi. Silakan dicek."
Pak Bambang melongo. Dia melihat papan tulis, lalu melihat kunci jawaban di buku pegangannya yang tebal. Matanya membulat. Langkah pengerjaannya berbeda dengan yang ada di buku—lebih ringkas, lebih efisien—tapi hasilnya tepat akurat.
"Bagaimana?" tanya Raka.
"Benar..." gumam Pak Bambang, terdengar seperti orang yang baru melihat hantu.
Bu Ratna terdiam. Wajahnya merah padam, campuran antara rasa malu dan bingung. Dia tidak punya peluru lagi. CCTV tidak menunjukkan bukti fisik contekan kertas, dan Raka baru saja membuktikan kompetensinya secara langsung.
"Jadi, kami boleh pergi?" tanya Raka. "Jam istirahat tinggal lima menit, saya laper."
Bu Ratna mengibaskan tangannya dengan kaku, tanda mengusir. "Keluar. Tapi saya akan tetap mengawasi kamu, Raka. Jangan pikir kamu bisa lolos selamanya jika memang ada permainan di sini."
"Siap, Bu. Semangat ngawasinya," Raka tersenyum miring, lalu memberi isyarat pada Keyra untuk keluar.
Begitu pintu ruang guru tertutup di belakang mereka, Keyra langsung menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. Kakinya terasa lemas. "Lo gila," bisiknya.
"Gue jenius, Key. Ada bedanya dikit," koreksi Raka.
"Soal tadi... Lo beneran bisa ngerjain itu? Tanpa bantuan gue?" Keyra menatap Raka dengan pandangan baru. Ada rasa hormat, tapi juga kecurigaan yang semakin tebal. "Lo selama ini pura-pura bego? Kenapa?"
Raka menatap langit-langit koridor, menghindari tatapan mata Keyra. Dia tidak mungkin bilang kalau dia sudah pernah melewati masa SMA ini belasan tahun yang lalu di *timeline* aslinya. Dia tidak mungkin bilang kalau soal integral itu adalah makanan sehari-harinya saat kuliah teknik dulu.
"Kadang, jadi orang bodoh itu lebih aman, Key. Nggak ada yang naruh ekspektasi di bahu lo. Nggak ada yang kecewa kalau lo gagal," jawab Raka pelan. "Tapi sekarang... kayaknya gue harus mulai main serius. Demi nyelamatin seseorang."
"Nyelamatin siapa?"
"Diri gue sendiri. Dari DO," Raka kembali ke mode bercandanya dalam sekejap. "Udah ah, ayo ke kantin. Gue butuh es teh manis buat ngilangin trauma diinterogasi."
Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika Julian muncul dari tikungan koridor, menghalangi jalan mereka. Wajahnya gelap. Tidak ada lagi senyum palsu yang biasa dia pasang.
"Gue nggak tau gimana caranya lo nipu guru-guru," kata Julian, menunjuk dada Raka dengan telunjuknya. "Tapi gue tau lo penipu. Dan gue bakal buktiin itu."
Raka menepis tangan Julian santai namun bertenaga. "Hati-hati, Jul. Terlalu fokus ngurusin orang lain bikin lo lupa liat jalan di depan. Nanti kesandung. Dan jatuhnya dari peringkat satu itu sakit banget, lho."
"Lo nantang gue?"
"Gue nggak nantang. Gue cuma ngingetin," Raka memajukan wajahnya sedikit, suaranya berubah serius. "Garis waktu nggak akan nungguin orang yang sibuk sama egonya sendiri."
Raka menarik lengan Keyra, melewati Julian yang berdiri kaku dengan rahang mengeras. Perang dingin telah resmi dimulai, dan kali ini, Raka tidak berniat untuk kalah.