NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuah Santan dan Janji Hari Senin

Senin pagi biasanya memiliki bau yang spesifik bagi Raka. Bau itu adalah campuran dari aroma pewangi lantai lobi kantor yang terlalu menyengat, sisa hawa dingin AC yang baru dinyalakan, dan sedikit aroma kepasrahan yang menguar dari para karyawan yang berdesakan di dalam elevator. Namun, Senin kali ini terasa sedikit berbeda. Bukan karena udaranya berubah, atau karena Raka tiba-tiba menjadi orang yang penuh semangat, melainkan karena ada sebuah simpul kecil di benaknya yang terikat pada satu hal: janji makan siang.

Raka duduk di kubikelnya, merapikan tumpukan dokumen yang sebenarnya sudah rapi. Ia melirik jam di sudut layar komputernya. Pukul 09.15. Masih terlalu pagi.

Biasanya, Raka akan membiarkan dirinya hanyut dalam arus pekerjaan tanpa mempedulikan waktu, membiarkan jam makan siang lewat begitu saja sampai perutnya perih, lalu makan sendirian di minimarket dengan menu yang itu-itu saja. Tapi pesan singkat dari Bayu kemarin malam—tentang soto Betawi—seperti menjadi jangkar yang menahannya untuk tidak tenggelam dalam rutinitas isolasi yang biasa ia lakukan.

"Ka, jadi kan?"

Kepala Bayu menyembul dari balik partisi kubikel di sebelahnya. Rambutnya sedikit berantakan, dan dasinya miring ke kiri, kontras dengan penampilan Raka yang kemejanya licin tanpa kerutan.

Raka menoleh, mengangguk pelan. "Jadi. Jam dua belas pas, ya."

"Sip. Kosongin perut lo. Gue denger kuahnya jahat banget di sana, tapi enak," Bayu menyeringai lebar sebelum kembali tenggelam di balik layarnya.

Raka kembali menatap monitor. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya. Itu bukan kegembiraan yang meluap-luap, lebih seperti rasa lega yang tenang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak perlu memikirkan harus makan di mana dan bagaimana menghindari tempat-tempat yang memicu kenangan. Keputusan itu sudah diambil alih oleh orang lain. Ia hanya perlu ikut.

***

Pukul dua belas siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya. Panas memantul dari aspal jalanan, menciptakan fatamorgana uap yang membuat pemandangan di kejauhan tampak bergelombang. Raka berjalan di samping Bayu, menyusuri trotoar yang penuh dengan pedagang kaki lima dan karyawan yang berburu makan siang.

"Itu tempatnya," tunjuk Bayu pada sebuah warung tenda semi-permanen yang dindingnya terbuat dari spanduk bekas. Asap mengepul dari panci besar di bagian depan, membawa aroma rempah, santan, dan daging rebus yang langsung menyergap hidung Raka.

Warung itu ramai. Suara benturan sendok dengan mangkuk beling, teriakan pesanan, dan dengungan kipas angin dinding yang berputar kencang menciptakan kakofoni khas jam makan siang. Dulu, keramaian seperti ini akan membuat Raka ingin segera berbalik arah dan mencari tempat sepi. Ia terbiasa dengan keheningan, atau setidaknya, kebisingan yang bisa ia kontrol melalui *earphone*.

"Duduk di pojok situ, Ka. Mumpung ada yang baru bangun," Bayu menepuk bahu Raka, membuyarkan keraguannya.

Mereka duduk di bangku plastik yang sedikit goyang. Meja di hadapan mereka dilapisi karpet plastik bermotif bunga yang warnanya sudah memudar, lengket oleh sisa uap makanan.

"Dua soto daging, campur jeroan nggak lo?" tanya Bayu.

"Daging aja. Nggak pakai jeroan," jawab Raka cepat.

"Oke. Bang! Dua soto daging, nasi dipisah. Es teh manis dua!" teriak Bayu tanpa ragu, suaranya membaur alami dengan kebisingan warung.

Raka memperhatikan Bayu yang sibuk mengelap sendok dan garpu dengan tisu. Gerakannya cepat dan efisien. Raka teringat mantan kekasihnya. Jika mereka makan di tempat seperti ini—yang sangat jarang terjadi karena wanita itu tidak terlalu suka tempat panas—dia akan menghabiskan waktu lima menit hanya untuk memastikan meja bersih, lalu mengeluh tentang asap rokok atau lalat.

Mantan kekasihnya selalu menuntut kenyamanan. Bayu, di sisi lain, sepertinya bisa menemukan kenyamanan di mana saja.

"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" tanya Bayu, menyadari tatapan Raka.

Raka tersentak, lalu menggeleng. "Nggak. Cuma mikir, lo kayaknya hafal banget tempat-tempat makan di sekitar sini."

"Ya iyalah. Gue kan nggak bawa bekal kayak lo, dan gue nggak kuat kalau tiap hari makan onigiri minimarket. Bisa tipes gue," canda Bayu, meletakkan sendok yang sudah dilap di atas tisu bersih di depan Raka.

Makanan datang tak lama kemudian. Mangkuk berisi kuah santan kental berwarna kekuningan, potongan daging sapi yang melimpah, taburan emping, irisan tomat, dan daun bawang. Uap panasnya membawa aroma cengkih dan kapulaga yang kuat.

Raka meraih irisan jeruk limo yang tersedia di piring kecil. Saat jari-jarinya memeras jeruk itu di atas kuah soto, aroma asam segar menyeruak, bertabrakan dengan gurihnya santan.

Tiba-tiba, sebuah kilasan ingatan menghantamnya.

*Sebuah mangkuk soto ayam di Yogyakarta, tiga tahun lalu. Tangan wanita itu menahan tangan Raka yang hendak memeras jeruk nipis. "Jangan banyak-banyak, nanti rasa kuahnya rusak," katanya dengan nada protes yang manja. Raka menurut, meski sebenarnya ia suka rasa asam.*

Tangan Raka berhenti di udara, jeruk limo itu masih setengah terperas. Matanya menatap riak kuah soto, tapi pikirannya melayang ke meja kayu di Yogyakarta.

"Woi, Ka. Melamun lagi," suara Bayu terdengar dekat, menarik Raka paksa kembali ke masa kini, ke warung tenda di Jakarta yang panas.

Raka berkedip. Ia melihat Bayu sudah menuangkan sambal dalam jumlah yang mengkhawatirkan ke mangkuknya sendiri.

"Hah? Oh, sori," gumam Raka. Ia menatap jeruk limo di tangannya. Alih-alih berhenti seperti di masa lalu, Raka menekan jeruk itu lebih kuat, memeras habis airnya hingga tetes terakhir jatuh ke dalam mangkuk. Ia menambahkan satu potong lagi. Ia suka asam. Ini mangkuknya. Ini sotonya. Dan orang di depannya bukan *dia*.

"Lo doyan asem juga ternyata," komentar Bayu sambil mengaduk sotonya hingga kuahnya berubah warna menjadi oranye kemerahan.

"Lumayan," jawab Raka singkat. Ia menyendok kuah itu. Rasanya kaya. Gurih, berempah, dan asam segar yang ia tambahkan sendiri membuatnya terasa pas di lidah. Rasa panas dari kuah itu menjalar ke kerongkongan, menghangatkan perutnya yang sejak pagi terasa kaku.

"Enak?" tanya Bayu di sela-sela kunyahannya. Pria itu makan dengan lahap, keringat mulai muncul di pelipisnya.

"Enak," jawab Raka jujur. Dan memang enak. Bukan hanya karena bumbunya, tapi karena rasanya *nyata*. Rasa soto ini tidak hambar seperti bubur instan yang ia makan saat sakit, dan tidak memicu rasa bersalah seperti onigiri yang ia makan sendirian di minimarket.

Mereka makan dalam diam untuk beberapa saat, hanya terdengar suara seruputan kuah dan kerupuk yang digigit. Raka menyadari bahwa keheningan di antara mereka tidak terasa canggung. Bayu tidak memaksanya bicara, dan Raka tidak merasa perlu mengisi kekosongan dengan basa-basi.

"Gue seneng lo mau diajak keluar, Ka," ucap Bayu tiba-tiba setelah mangkuknya tandas separuh. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan kemeja. "Gue perhatiin, lo kayak robot rusak beberapa minggu ini. Kerja doang, tapi nyawanya nggak ada."

Raka berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya perlahan. Deskripsi "robot rusak" terdengar kasar, tapi akurat. "Gue cuma... lagi banyak pikiran."

"Gue tahu," Bayu mengangguk, lalu menatap Raka lurus. "Gue nggak akan nanya detailnya. Tapi kadang, obat pusing paling manjur itu cuma makan enak sama temen, terus ngetawain hal nggak penting. Sederhana, kan?"

Teman. Kata itu menggantung di udara, bercampur dengan asap soto.

Raka menatap Bayu, lalu menunduk menatap sisa sotonya. Selama ini ia mati-matian menjaga jarak, membangun tembok agar tidak ada yang melihat betapa berantakannya isi kepalanya. Tapi Bayu dengan santai melompati tembok itu hanya dengan semangkuk soto dan sikap tidak pedulinya.

"Ya," kata Raka pelan, suaranya hampir tertelan kebisingan warung. "Sederhana. Makasih, Bay."

Bayu nyengir, gigi-giginya terlihat kontras dengan bibirnya yang berminyak. "Santai. Tapi abis ini lo yang bayar parkir, ya. Gue nggak ada receh."

Raka mendengus, sebuah senyum tipis—yang benar-benar tulus—terbentuk di sudut bibirnya. "Oke."

***

Perjalanan kembali ke kantor terasa lebih berat secara fisik karena perut yang penuh, namun entah kenapa langkah Raka terasa lebih ringan. Matahari masih terik, tapi ia tidak lagi merasa terganggu oleh panasnya. Rasa kenyang ini memberikan efek sedatif yang nyaman, meredam kebisingan pikiran yang biasanya berteriak-teriak di kepalanya.

Sesampainya di lobi kantor yang dingin, Raka merasakan perubahan suhu yang drastis. Keringat di punggungnya mengering, meninggalkan sensasi dingin.

"Gue mau bikin kopi di *pantry* dulu biar nggak ngantuk. Lo mau?" tawar Bayu saat mereka menunggu lift.

"Boleh. Tapi gue bikin sendiri aja nanti," tolak Raka halus. Ia butuh jeda sejenak sebelum kembali berinteraksi.

"Oke. Duluan ya," Bayu masuk ke dalam lift yang baru terbuka, melambaikan tangan sekilas.

Raka memilih menunggu lift berikutnya. Ia berdiri sendirian di lobi, menatap pantulan dirinya di pintu logam lift. Kemejanya sedikit kusut di bagian bawah karena duduk lama, dan wajahnya sedikit berminyak. Tapi ia tidak terlihat semurung pagi tadi.

Siang itu berjalan lambat. Efek "koma makanan" menyerang seisi kantor sekitar pukul dua siang. Raka menyeduh kopi hitam di *pantry*. Saat aroma kopi itu menguar, pikirannya sempat melayang lagi ke momen-momen berbagi kopi di kafe mahal bersama mantannya, tentang bagaimana wanita itu selalu memesan *latte* dengan susu rendah lemak dan mengkritik kopi hitam Raka yang terlalu pahit.

Namun, ingatan itu datang seperti tamu yang salah alamat. Raka menyesap kopinya. Pahit. Panas. Dan menyegarkan. Ia melihat ke arah meja Bayu. Rekannya itu sedang tertidur ayam dengan kepala disangga tangan, mulutnya sedikit terbuka.

Pemandangan yang sangat tidak estetik, jauh dari gambaran sempurna yang selalu dikejar mantannya. Tapi pemandangan itu nyata. Bayu ada di sana, di masa kini, di hari Senin yang nyata. Bukan bayangan masa lalu yang tidak bisa disentuh.

Raka kembali ke mejanya, meletakkan cangkir kopi. Ia membuka laci, melihat sekilas buku yang di dalamnya terselip pembatas buku dari tiket bioskop lama. Benda itu masih ada di sana, masih menyimpan cerita. Tapi hari ini, Raka menutup laci itu tanpa ragu. Ia memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, dan mungkin, rencana makan siang lain untuk dinantikan besok.

Malam harinya, apartemen Raka masih terasa sepi seperti biasa. Tidak ada yang menyambutnya pulang selain lampu indikator modem yang berkedip dalam gelap. Namun, saat ia meletakkan tas kerjanya dan duduk di sofa, kekosongan itu tidak lagi mencekik.

Ponselnya bergetar.

**Bayu:** *Besok soto lagi apa ganti menu? Di belakang gedung ada mie ayam enak.*

Raka menatap layar ponsel itu. Jempolnya bergerak mengetik balasan, sebuah tindakan kecil yang menandakan bahwa ia mulai mengizinkan garis waktu bergerak maju, satu jam makan siang demi satu jam makan siang.

**Raka:** *Boleh. Asal jangan pedes-pedes amat sambelnya.*

Ia meletakkan ponselnya, lalu beranjak ke kamar mandi. Di bawah guyuran *shower*, Raka menyadari bahwa meski lukanya belum sembuh, dan bayangan masa lalu belum hilang sepenuhnya, hari ini ia berhasil hidup sepenuhnya di hari Senin. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!