Menyandang status duda diusianya yang masih sangat muda adalah hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Abrisam Xander Rahadian.
Hatinya telah membeku dan tidak berniat ingin mencari pendamping ataupun sosok ibu untuk putranya semenjak ia merasa dikecewakan dan sakit hati oleh mantan istrinya yang begitu tega meninggalkannya terutama putranya yang usianya belum genap satu tahun yang masih sangat membutuhkannya.
Ingin tau lebih lanjut cerita tentang Abrisam Xander??? Ikuti ceritanya yuk!!🙏😊😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 9
Ditempat lain Bi Asih dan Alan juga masih mencari keperluan sehari-hari dirumah juga keperluan pribadinya juga keperluan pribadi Alan.
"Bibi, kakak Ze itu sangat baik kepadaku!" Ucap Alan kepada Bi Asih saat Bi Asih memilih buah-buahan.
"Iya sayang, dia juga sangat cantik kan?" Tanya Bi Asih sambil tersenyum kepada Alan.
"Aku akan senang sekali kalau seandainya Kakak Ze menjadi ibuku Bi!" Jawab Alan dengan sangat serius dan tersenyum manis.
"Bibi sangat setuju! Bagaimana kalau kamu sering mengajak Kakak Ze untuk datang kerumah?" Usul Bi Asih kepada Alan dengan tersenyum lebar.
"Hehehe..aku setuju! Jadi maksud Bibi kita akan menjodohkan ayah dan kakak Ze begitu kan Bi?" Ucap Alan sambil menganggukan kepalanya dan tertawa renyah.
"Kamu sangat pintar sayang! Kamu tau dari mana tentang perjodohan hmm?" Jawab Bi Asih kemudian mereka tertawa bersama.
"Asih!!" Seru seorang wanita paruh baya seumuran Bi Asih dari seberang dan menatap Bi Asih dengan tersenyum lebar.
"Nyonya!!" Balas Bi Asih yang juga tersenyum lebar dan seorang wanita paruh baya tersebut segera berjalan mendekati Bi Asih.
"Kamu apa kabar Asih??" Tanya seorang wanita paruh baya tadi setelah mendekati Bi Asih sambil menggenggam kedua tangan Bi Asih.
"Aku sangat baik Nyonya! Nyonya bagaimana kabarnya?" Jawab Bi Asih dan balik bertanya dengan tersenyum lebar kepada seorang wanita paruh baya tersebut.
"Aku juga baik!" Jawab wanita paruh baya tersebut dengan tersenyum.
"Asih apa ini...Ya Tuhan, anak ini..dia..." Jawab seorang wanita paruh baya yang kemudian menutup mulutnya dengan sebelah tangannya merasa terkejut dan matanya berkaca-kaca saat melihat Alan yang berdiri disamping troli terlihat mirip sekali dengan Abrisam sewaktu kecil.
"Iya Nyonya! Ini Alan, cucu Nyonya!" Jawab Bi Asih kepada seorang wanita paruh baya yang ternyata Chintya, ibu kandung Abrisam.
"Kamu tampan sekali sayang! Kamu sangat mirip dengan ayahmu!" Ucap Chintya sambil berjongkok dihadapan Alan sambil menyentuh wajah Alan dan tersenyum kemudian menitihkan airmatanya.
Chintya ibu dari Abrisam, kebetulan juga sedang berbelanja di pusat perbelanjaan di Mall JT untuk membeli keperluannya.
Chintya benar-benar sangat terkejut merasa tidak menyangka, ia juga sangat bahagia akhirnya bisa bertemu dengan cucunya yang selama ini ingin sekali ia temui.
Bahkan Chintya dan keluarganya belum mengetahui tentang kehidupan Abrisam setelah diusir dari rumahnya.
"Nenek ini siapa Bi? Kenapa menangis saat melihatku? Dan kenapa Bibi juga menangis?" Tanya Alan merasa sambil menengadahkan kepalanya melihat Bi Asih yang juga menitihkan airmatanya.
"Alan sayang, ini nenek kamu..ibu kandung ayah Alan dan juga nenek kandung Alan!" Jawab Bi Asih dengan tersenyum terlihat sangat bahagia.
"Nenek?" Ucap Alan sambil menatap Chintya lalu Chintya menganggukan kepalanya dan tersenyum juga terlihat sangat bahagia diwajahnya.
"Iya sayang, ini nenek! Neneknya Alan!" Ucap Chintya sambil mengusap pipi Alan dengan lembut dan tersenyum.
Dan dengan tiba-tiba Alan memeluk Chintya dengan erat. "Nenek sangat merindukan kalian sayang!" Ucap Chintya saat membalas pelukan Alan sambil menangis meluapkan rasa rindunya selama ini karena belum pernah menemui bahkan melihat cucunya.
"Aku senang sekali ternyata aku masih punya nenek!" Ucap Alan masih sambil memeluk Chintya.
"Iya sayang, nenek juga senang sekali, nenek sangat bahagia!" Ucap Chintya dengan tersenyum masih sambil menangis karena sangat bahagia.
Diarah lain Abrisam membantu membawakan keranjang belanjaan Zefanya yang sudah penuh dengan belanjaan mereka.
Mereka sedang berjalan bersama mencari keberadaan Alan dan Bi Asih. Langkah Abrisam tiba-tiba terhenti dan tatapan matanya tertuju ke Alan yang sedang memeluk seorang wanita paruh baya.
"Ada apa? Itu Alan sedang bersama siapa?" Tanya Zefanya saat melihat Abrisam menghentikan langkahnya.
Abrisam tidak menjawab namun ia melanjutkan langkahnya dengan pelan menuju kearah Bi Asih yang sedang berdiri disamping tempat buah-buahan.
Zefanya mengikuti langkah Abrisam disampingnya sambil mengamati perubahan raut wajah Abrisam.
"Tuan Sam!" Ucap Bi Asih setelah Abrisam berdiri disampingnya.
Abrisam tidak menjawab ia masih terdiam dan terus memperhatikan Alan yang sedang memeluk erat wanita paruh baya yang selama ini sangat ia rindukan.
"Ayah!!" Seru Alan sambil menengadahkan kepalanya dan tersenyum terlihat sangat senang masih sambil memeluk Chintya.
Kemudian Chintya melepaskan pelukannya lalu menoleh dan berdiri menatap Abrisam putra kesayangannya yang sangat ia rindukan selama ini dan airmatanya semakin mengalir deras.
"Saaam!" Dengan lirih dan suara bergetar Chintya memanggil Abrisam.
Abrisam langsung memeluk Chintya dengan sangat erat. Seketika matanya memerah karena menahan untuk tidak menangis.
"Mami sangat merindukanmu dan juga cucu mami!" Ucap Chintya saat membalas pelukan Abrisam juga dengan sangat erat masih sambil menangis.
Zefanya tertegun merasa sangat terharu dan tanpa sadar ia pun ikut menitihkan airmatanya sambil tersenyum melihat Abrisam yang memeluk ibunya seperti lama sekali tidak pernah bertemu.
Jadi dia adalah neneknya Alan dan ibu dari Abrisam! Kenapa sampai menangis seperti itu? seperti telah lama sekali tidak bertemu?
Gumam Zefanya bertanya dalam hati sambil memperhatikan mereka.
Kemudian Abrisam melepaskan pelukannya dan menoleh kearah Alan lalu membungkukkan badannya dan menggendong Alan.
"Kamu sudah tau siapa dia?" Tanya Abrisam setelah menggendong Alan dan berdiri didepan Chintya.
"Dia nenekku, Yah!" Jawab Alan dengan tersenyum merasa sangat senang.
"Ya, kau benar! Namanya nenek Chintya dan nenek Chintya adalah nenek kandung Alan juga ibu kandung Ayah!" Ucap Abrisam menjelaskan kembali kepada Alan dengan tersenyum.
Chintya sangat bahagia sekali bisa bertemu dengan anak juga cucu kesayangannya tanpa ia duga sedikit pun. Kemudian pandangan Chintya tertuju kepada Zefanya dan Zefanya tersenyum manis sambil mengusap pipinya yang basah karena airmatanya lalu menyapa dengan cara mengangguk dan tersenyum saat Chintya menatapnya.
Abrisam yang menyadari kalau Maminya sedang memperhatikan Zefanya, ia pun kemudian melangkah dan berdiri disamping Zefanya sambil menggendong Alan.
"Dia Zefanya, guru Alan disekolah!" Ucap Abrisam sambil menggendong Alan memberitahu Chintya. Kemudian Chintya melangkah dan mendekati Zefanya dengan tersenyum kepadanya.
"Tante!" Ucap Zefanya sambil meraih tangan Chintya menyalami dan mencium punggung tangannya.
"Kamu cantik sekali Nak!" Ucap Chintya dengan lembut sambil menyentuh dagu Zefanya dan seketika membuat wajah Zefanya merona karena malu.
"Terimakasih Tante, Tante juga sangat cantik!" Balas Zefanya dengan tersenyum manis kepada Chintya.
"Nenek, dia juga sangat baik!" Sahut Alan dengan riang setelah turun dari gendongan Abrisam.
Abrisam meraih dompetnya dari saku celananya dan mengambil blackcard lalu memberikannya kepada Bi Asih memintanya untuk membayarkan semua belanjaannya juga semua belanjaan yang ada di keranjang Zefanya.
Kemudian Zefanya dan Bi Asih menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. Zefanya menolak untuk dibayarkan tetapi karena terus dipaksa oleh Bi Asih atas perintah Abrisam, akhirnya Zefanya menyerah dan membiarkannya.
...***************...
"Mami apa kabar?" Tanya Abrisam setelah mengajak mereka semua duduk disebuah Cafe yang ada didalam Mall tersebut.
"Mami baik sayang! Kamu kenapa menjadi semakin tampan dan gagah seperti ini?" Ucap Chintya dengan lembut memuji putra kesayangannya dan Abrisam hanya tersenyum.
"Dan cucu Nenek ini juga sangat tampan, mirip sekali denganmu Sam!" Lanjutnya sambil menolah dan mengusap pipi Alan yang duduk disampingnya dengan tersenyum terlihat sangat bahagia.
"Tuan Sam sekarang sudah menjadi pengusaha muda yang sangat sukses Nyonya!" Sahut Bi Asih memberitahu Chintya sambil tersenyum merasa sangat bangga.
"Kamu memang sangat hebat Sam! Mami selalu bangga denganmu!" Ucap Chintya sambil meraih tanggan Abrisam dan menggenggamnya.
Abrisam kembali tersenyum menatap Chintya. Zefanya yang duduk disebelah Abrisam juga tersenyum mendengar perbincangan mereka.
"Sam, lalu dimana istri kamu?" Tanya Chintya dengan pelan sambil menatap Abrisam.
Seketika wajah Abrisam berubah dan menarik tangannya yang di genggam oleh Chintya.
Zefanya kembali tertegun mendengar pertanyaan dari ibunya Abrisam. Abrisam menyandarkan punggungnya kesandaran kursi dan menghela nafasnya panjang.
"Alan sayang, ayo antar Bibi membeli sesuatu disana sebentar, tadi Bibi lupa!" Ucap Bi Asih yang sangat mengerti situasi lalu mengajak Alan keluar dari Cafe supaya tidak mendengar pembicaraan antara ayah dan neneknya.
"Baiklah Bi!" Jawab Alan sambil mengangguk kemudian turun dari kursinya lalu menggandeng tangan Bi Asih dan berjalan keluar dari Cafe bersama Bi Asih.
Zefanya melihat Alan dan Bi Asih keluar dari Cafe, ia merasa tidak enak kalau tidak ikut keluar menyusul mereka.
"Ehm..maaf, aku akan menyusul Alan dan Bibi dulu ya!" Ucap Zefanya dengan sopan dan tersenyum.
Saat Zefanya ingin beranjak dari tempat duduknya, tangannya ditahan oleh Abrisam dan seketika ia menoleh menatap Abrisam merasa terkejut saat Abrisam menggenggam tangannya seolah tidak menginginkannya pergi.
"Duduklah disini!" Ucap Abrisam masih menggenggam tangan Zefanya sambil menoleh dan menatapnya.
Jantung Zefanya lagi-lagi berdegup dengan kencang dan ia mencoba menormalkannya. Darahnya berdesir dan ia merasakan seperti terkena aliran listrik saat Abrisam menggenggam tangannya.
Tanpa bersuara, Zefanya menganggukan kepalanya lalu membenarkan posisi duduknya kembali.
Ya Tuhan, kenapa dia menahanku dan menggenggam tanganku?? Apa maksud semua ini??
Gumam Zefanya dalam hati dengan jantung yang masih berdegup kencang.
Chintya mengamati sikap Abrisam kepada Zefanya yang seperti memiliki hubungan spesial.
"Sam, sebenarnya apa yang telah terjadi selama ini?" Tanya Chintya kembali sambil menatap putra kesayangannya.
...***************...
...Hallo Readers! 😍😍😍...
...Jangan lupa ikuti, Like, Comment & Vote juga ya! 🙏😍😍😍...
...Terimakasih banyak atas semangat dan dukungan kalian semua! 🙏😍😍😍...
Demi apa, sesusah itu nyari novel yang seru. Btw, mau sekalian rekomendasiin novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib search pakek tanda kurung.
Bagus banget novelnya, tapi ya gitu minim pembaca😈