Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Dasar!!
Penggambaran Karakter MONA adalah seorang gadis remaja yang lemah, cengeng, Manja dan penakut bodoh akut dan tidak tahu apa-apa. Sehingga tidak bisa melawan saat tertindas. Apabila author buat MONA kuat dan bisa melawan orang yang jahatin, itu akan keluar dari karakter MONA yang sebenarnya. Jadi mohon dipahami tentang penggambaran karakter dari setiap novel. TIDAK SEMUA TOKOH NOVEL HARUS DIBUAT KUAT DAN SEMPURNA
Dan untuk MONA yang bingung akan sebuah lamaran atau pernikahan, itu karena yang MONA tahu hanyalah dimanja tanpa pengetahuan. intinya Mona hanya sibuk dimanja. Satu lagi tentang Mona yang tidak tahu malam pertama, karena MONA sempat syok melihat Aura bercinta dengan pria lain.
Jadi bagi pembaca yang nggak suka karakter tokoh utama yang lemah, hindari membaca novel ini. Dimohon untuk stop sampai di sini, karena alur dan karakter penokohan benar-benar akan menguji kesabaran dan mengundang emosi.
Bagi yang mau lanjut, harap untuk tidak meninggalkan komentar yang menyakitkan. Ingat, kritik dengan cemooh itu dua hal yang berbeda.
Terima kasih.
****
Masih berlanjut di dalam kamar.
Dasar gila! Aku hanya mengecupnya, dia terbangun, lalu apa kabar dengan guncangan dan teriakanku tadi?! Arga justru menggerutu di dalam hati.
“Cepat bangun! Ini sudah sore. Tidak baik tidur di sore hari,” kata Arga masih dengan pandangan datar.
Mona mendengus, bibirnya mengerucut dengan dua tangan mengecek perutnya yang sudah terasa sakit lagi.
“Tadi aku sakit perut, makanya aku tidur.” Mona menjelaskan.
“Sakit??” Arga mendelik. “Kau sakit perut?”
Mona mengangguk. “Iya. Aku sedang datang bulan.”
Arga refleks mendesah. Dua tangannya menjulur, meraih kepala Mona lalu jemarinya mulai merapikan rambut yang berantakan itu. “Mau ku buatkan teh hangat?” tawar Arga dengan lemparan senyum.
Mona yang terpesona ikut tersenyum, tapi kemudian menggeleng. “Tidak usah. Tadi sudah di buatkan Minah,” jawab Mona sambil menunjuk gelas kosong di nakas di samping tas Arga.
“Ya sudah, kemarilah.” Arga membuka kedua tangan, meminta Mona untuk segera mendekat.
“Tidak mau!” Tolak Mona dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Arga membelalak dengan ujung bibir terangkat. “Kak Arga bau asem. Aku tidak mau di peluk.” Mona melengos membuang Muka.
Dasar, bocah sialan! Bagaimana jika kau sudah menjadi istriku? Masihkah seperti ini? Arga menggerutu lagi di dalam hati.
Arga berdecak keras, lalu berdiri. “Cepat mandi! Aku mau mengajakmu makan malam di luar.”
Mendengar ajakan itu, dengan cepat kedua ujung bibir Mona tertarik membentuk senyuman. Mata bulatnya langsung berbinar manja.
“Aish!! Kalau lama-lama di sini, yang ada aku khilaf nanti!” Arga mengibaskan dua tangan di udara lalu segera berlenggak cepat keluar dari kamar Arga. Sementara Mona yang tidak paham, hanya merapatkan bibir dengan kedua pundak terangkat.
“Kemungkinan, besok aku tidak bisa ke kantor,” ucap Meri sebelum masuk ke dalam mobil.
“Kenapa?” Tian bertanya.
“Aku harus pergi ke luar kota untuk mengurus proyekku yang belum selesai di sana,” jelas Meri.
Tian manggut-manggut sambil mengusap janggutnya. “Baiklah... mungkin aku serahkan dulu ke orang kepercayaanku saja.”
“Ya. Lakukan itu sampai proyekku selesai.” Meri masuk ke dalam mobil. Sebelum menutupnya, Meri berkata lagi. “Awasi perusahaan ini dengan baik.”
Sontak Tian langsung tertawa. “Berani-beraninya kau berkata begitu. Memangnya selama ini siapa yang mengurus perusahaan sebesar ini kalau bukan diriku?” Tian mencibir.
Sementara Meri, tanpa peduli dengan kesombongan Tian, langsung menutup pintu mobil dengan cepat. “Dasar sombong!” hardik Meri tanpa di dengar oleh siapapun.
“Lebih baik aku ke butik Santi dulu. Aku mau ngobrol penting dengannya,” celetuk Meri sebelum mobilnya melaju.
Sementara di butik, Santi terlihat sedang di sibukkan dengan beberapa gaun pengantin yang akan di pesan seseorang. Di dalam butik juga hari ini nampak begitu ramai. Mungkinkan sedang musim pernikahan? Entahlah!
Selesai melayani para pengunjung, Santi memilih menepi dahulu ke sudut ruangan. Kemudian Santi duduk di sofa panjang sambil menyender sesudah meraih ponselnya yang semula berada di dalam tas.
“Iya ibu. Ada apa?” suara di seberang langsung menyahut begitu Santi menekan tombol panggil di layar ponselnya beberapa detik.
“Apa kau sudah baikkan?” tanya Santi.
“Sudah ibu... sudah mendingan. Ibu jangan khawatir,” jawab Mona sambil memandangi beberapa pakaian yang menggantung di dalam lemari.
“Ya sudah, kau baik-baik di rumah.” Santi hendak menutup panggilan, tapi Mona langsung berkata lagi.
“Ibu... Kak Arga mengajakku makan malam di luar, apa boleh?” Mona meminta ijin.
Santi nampak berpikir. Kalau tidak di ijinkan, pasti Arga yang akan mengamuk seperti anak kecil, tapi kalau di ijinkan, takutnya perut Mona sakit lagi.
“Apa perutmu benar-benar sudah enakkan?” tanya Santi memastikan.
“Iya ibu. Aku baik-baik saja. Perutku sudah tidak sakit lagi.”
“Ya sudah, hati-hati.”
“Terimakasih, Bu.” Mona menutup ponsel dengan senyum sumringah lalu bergegas fokus kembali dengan pakaian yang tak kunjung di temukan untuk di pakainya malam ini.
Di belakangnya, seseorang berdecak keras. Mata elangnya sudah menatap tajam, wajah tampannya yang harusnya terlihat mempesona justru saat ini nampak sedikit mengerikan. Arga melipat kedua tangan, tanpa berhenti mengamati Mona yang tak kunjung selesai memilih pakaiannya.
Merasa di pandangi, Mona justru semakin bingung harus memilih baju yang mana. Apalagi ketika melirik tatapan mata itu, Uh! Rasanya ingin sekali meringsut di bawah baju-baju yang menggantung di hadapannya saat ini. Setelah itu menutupnya rapat-rapat, dan mengatur napasnya sejenak.
Hust! Gila! Tentu saja Mona tak mungkin melakukan hal itu. Bukannya masalah selesai, tapi justru kemungkinan akan membuat Pria yang masih setia mengamati dirinya itu, berdecak kesal.
“Cepatlah!” gertak Arga hingga membuat Mona terjungkat kaget.
“Ish!!” Mona menghentakkan kedua kakinya bergantian. Kemudian berbalik dengan berkacak pinggang. “Aku kan bingung harus memakai baju apa! Sabar, Kak!”
Arga yang sudah tak sabar langsung mendekat. “Kau pakai saja yang menurutmu bagus. Lagian sebagus apapun bajumu, kau akan tetap terlihat jelek. Huh!” sembur Arga hingga kepala Mona tertarik mundur dengan dua bola mata mengatup.
“Huuh!!” Kali ini Mona yang menggerutu. “Aku kan juga mau terlihat sebagai wanita dewasa. Harusnya kakak sabat menungguku memilih pakaian dan berdandan!” lanjut Mona dengan bibir mengerucut.
Arga yang mulai frustrasi, langsung memutar bola mata, membuang muka lalu mengacak rambutnya yang semula sudah tertata rapi.
“Baiklah... aku menunggumu.” Akhirnya Arga menghela napas lalu memilih duduk di tepi ranjang.
“Cepat!!” perintah Arga usah pantatnya mendarat di ranjang empuk.
“Iya, iya!” Mona mendengus, lalu dengan asal menjambret dress yang tergantung kemudian membawa masuk ke dalam kamar mandi.
“Apa semua wanita seperti itu jika mau bepergian?” Arga bergumam. “Kenapa sangat ribet. bisa-bisa acara keburu selesai kalau harus menunggu wanita selesai bersiap-siap,” Sambung Arga lagi.
Hanya sekitar dua menit saja, Mona sudah keluar dari dalam sana. Masih dengan wajah cemberut, Mona berdiri sambil menatap wajah Arga mengharap ada penilaian baik pria itu.
“Nah, begitu kan cantik!” puji Arga yang sontak membuat senyum Mona mengembang. “Sekarang, rapikan rambutmu.”
Mona bergegas ke arah meja rias. Dengan cepat satu tangannya menggamit sisir lalu mulai merapikan rambut panjangnya. Mona memilih membiarkan rambut itu di gerai. Dengan dress ketat di bagian atas, berenda dan wiru di bagian pinggang sampai ke lutut, membuat tampilan Mona terlihat imut dan menggemaskan.
Mau di rubah penampilan sedewasa mungkin, tetap saja wajahnya masih terlihat bocah. Hanya bagian tubuhnya saja yang terlihat mengembang, dan salah satu dari perubahan itulah ada yang membuat Arga selalu tergiur hingga hasrat kelaikannya muncul. Apa lagi kalau bukan bulatan-bulatan kenyal itu.
Sialan!! Aku malah berpikiran kesana! Arga bergidik membuang pikiran gila itu.
***
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...